Lypsinc BPS

Michel Nostradamus meramal dengan kekuatan magis, dimana akan sulit dimengerti dan membingungkan sebelum kejadian yang diramalkan terjadi, tetapi menjadi sejernih dan sejelas kristal setelah kejadian yang diramalkan terjadi. Ramalan Nostradamus ini termuat pada rangkaian 942 puisi yang penuh teka-teki, yang disebut The Centuries.

Nostradamus diyakini jauh-jauh hari sudah meramalkan kebakaran besar London (1666), Revolusi Prancis (1789-1799), awal dan kebangkitan kekuasaan Hitler (1933), bahkan pembunuhan Presiden AS John F Kennedy (1963), serta kecelakaan yang menimpa pesawat ulang-alik angkasa Challenger (1986).

Berbeda dengan Nostradamus dengan terawangan masa depan, Gottfried Achenwall (1719-1772) menjalani hidup dengan angka-angka “masa lalu”. Ia adalah seorang pengacara merangkap ekonom asal Jerman yang dikenal sebgai Bapak Statistika. Pada tahun 1749, untuk pertama kalinya Achenwall menggunakan statistik dalam kajiannya dan mengartikannya sebagai ilmu negara. Pada abad ke-19, arti ilmu tentang negara bergeser menjadi ilmu tentang pengumpulan data. Sejak saat itu statistik tidak pernah lepas dari angka-angka dan data historis.

Badan Pusat Statistik (BPS) pun, sesuai namanya “hidup dari ilmu ini. Setiap bulan BPS mengumumkan laju inflasi, bersama bank sentral dan departemen-departemen terkait mereka rutin merumuskan target inflasi dan pertumbuhan yang ditetapkan dalam APBN.

Awal Juli ini, BPS menerbitkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2008 yang menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia sampai Maret 2008 mencapai 34,96 juta orang (15,42%), jadi turun 2,21 juta orang (1,16%) dari data Maret 2007 yang mencapai 37,17 juta orang (16,58%). Menurut Deputi Statistik Sosial BPS Arizal Ahnaf, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah penduduk miskin, yaitu inflasi umu relatif stabil, turunnya harga beras periode Maret 2007- Maret 2008 sebesar 3,01%, dan naiknya rata-rata upah riil buruh tani sebesar 0,9%.

Yang lucu adalah, jumlah penduduk miskin hasil survey BPS ini persis sama dengan “terawangan” Presiden dan sejmlah menteri ekonominya, bahkan sebelum BPS merampungkan survey sudah berkali-kali menargetkan penurunan tingkat kemiskinan menjadi 15%. Ini yang namanya lypsin BPS atas lagu yang dinyanyikan Presiden dan sejumlah menterinya dengan judul “Racuun” (mirip lagunya The Changchuters).

Ketimbang menyerupai kerja statistik Achenwall atas rangkaian data historis, apalagi terawangan Nostradamus lewat puisi-puisi misteriusnya, perhitungan BPS mengingatkan saya pada cara berhitungnya mahasiswa saya yang sedang menyusun skripsi, yang takut monster statistik akan menelannya.

Mahasiswa saya ini sudah menetapkan output pada langkah awal perhitungan, barulah kemudian memilih metodologi yang sedemikian rupa agar dapat menghasilkan output yang telah lebih dulu ditetapkan.

Pada saat negara-negara di seluruh dunia merevisi target pertumbuhan ekonominya, Menteri Keuangan/Menko Perekonomian Sri Mulyani tetap tegus kalau Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi melampaui 6% tahun ini. Kita siap-siap saja menunggu dan menyaksikan single baru yang akan diterbitkan BPS dengan teknik lypsinc …”pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008 berhasil mencapai enam koma sekian persen…sya la la la la..dum..dum!”… Racuun (2)

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment

  • RSS ANTARA – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”



  • Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

  • RSS PERSPEKTIF – WIMAR


  • Subscribe in Bloglines


  • Flickr Photos

    With Juragan Wetiga

    Waiting for someone

    Maskotnya Green Festival

    More Photos
  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • "B A L E J A A A..."