Rano Karno, Dede Yusuf, Dewi Yull, Aji Masaid, Marissa Haque, Wanda Hamidah, Syaiful Jamil…para artis ini beramai-ramai mencalonkan diri menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, ataupun wakilnya. Kini muncul lagi Primus Yustisio yang mendaftarkan dirinya sebagai calon bupati Subang Jawa Barat.
Salahkah mereka. Jawabannya tidak salah, karena demokrasi memberi garansi hak mereka untuk mencalonkan diri. Tetapi kenyataan ini makin menguatkan asumsi yang perlahan-lahan mekar seperti ini: ”ah…gampang kok menjadi birokrat”. Tidak dibutuhkan bekal dan kemampuan khusus. Jabatan politik menjadi terkesan murahan.
Masuknya para selebritis, mulai dari artis film dan sinetron, penyanyi, model, perancang busana, dan sebagainya ke dunia politik bukanlah fenomena unik. Di negara maju, berkembang dan bahkan negara miskin sekalipun, banyak selebritis yang merambah dunia politik. Coba kita lihat Ronald Reagan yang sukses sebagai Presiden AS ke 40, Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur California (dua kali), Evita Peron yang menggantikan suaminya sebagai Presiden Argentina, di kawasan Asia ada Joseph Estrada yang menjadi Presiden Filipina walaupun pada akhirnya dipenjara seumur hidup karena korupsi.
Para artis di Indonesia ini sudah tidak asing lagi dengan dunia politik. Pada era Orde Baru, bahkan sampai sekarang para bintang film, penyanyi, pelawak selalu tampil di panggung-panggung kampanye dan digunakan sebagai pendulang suara (vote getter). Kini, mereka mulai tampil ke depan, bahkan beberapa partai politik berlomba-lomba merekrut para selebritis, baik yang beraliran nasionalis maupun Islam.
Walaupun dari sekian artis yang mencoba memasuki dunia ini, hanya Rano Karno dan Dede Yusuf saja yang berhasil, hal ini menjadi sesuatu yang menarik. Kita hampir tidak dapat lagi membedakan antara selebriti yang menjadi politisi dan politisi yang menjadi selebriti. Lihat saja gaya politisi di hotel-hotel dan cafe-cafe mewah, lagaknya tidak beda dngan selebriti (tapi akhirnya ditangkap KPK).
Secara jujur, banyak orang meremehkan kemampuan mereka, apalagi banyak diantaranya yang belum pernah ditempa di Senayan. Tetapi, apakah benar Senayan masih menjadi ’kawah candradimuka’ untuk menggodok politisi yang handal, sementara hari-hari ini kita semua asyik menyaksikan para cowboy Senayan ditangkap KPK karena skandal uang dan perempuan.
Ketakutan sebagian pengamat politik yang mengatakan bahwa politik ini berhubungan dengan pemenuhan aspirasi dan kepentingan warga, seharusnya ditepis jauh-jauh. Karena ternyata hal tersebut diperjual belikan para politisi di lorong-lorong gelap cafe dan tempat karaoke. Kedepannya mungkin kita menunggu para pengamat politik untuk maju seperti Rizal Malarangeng yang akan maju sebagai kandidat presiden pada pemilu 2009 nanti. Nah, ternyata politik itu memang mudah kan…
No Comments
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment





















