Tanggapan atas tulisan Mohamad Sobary: Pemimpin Kelas Salon
Bang Sobary dalam bagian awal tulisannya (Harian Kompas, 6 September 2008) secara sinis memandang kemajuan ilmu komunikasi dan teknologi komunikasi yang diasosiasikan sebagai salon kecantikan yang mampu membuat citra buatan – yang mungkin sangat berlawanan dengan sifat sejatinya – sebagai penyebab lahirnya pemimpin kelas salon yang merupakan tragedi bangsa abad ini.
Pedang bermata dua
Telah banyak contoh betapa ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pedang bermata dua dalam sejarah panjang kebudayaan manusia. Alfred Nobel sangat frustasi ketika dinamit temuannya yang didedikasikan untuk mempercepat proses penggalian dalam pertambangan akhirnya membunuh banyak orang ketika digunakan dalam peperangan. Begitu pula internet yang merupakan lompatan besar dalam teknologi informasi ternyata lebih banyak digunakan untuk mengakses pornografi. Faktor (moral) manusia ternyata menjadi penentu manfaat maupun penderitaan yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu dan teknologi bagi umat manusia.
Persekongkolan yang dilakukan oleh oknum ahli ilmu pencitraan dengan para tokoh yang bersedia berjualan wajah dan jiwa palsu dimungkinkan untuk melahirkan pemimpin kelas salon karena dua hal, yaitu kelemahan sistem demokrasi dan kualitas rakyat yang lemah.
Kritik terhadap demokrasi
Sistem pemerintahan demokrasi sendiri yang diklaim merupakan kemajuan kebudayaan manusia tidak lepas dari kelemahan. Demokrasi merupakan perbaikan dari sistem kerajaan yang lebih otoriter. Meskipun faktanya dalam sejarah banyak kerajaan yang membawa kemajuan budaya dan kemakmuran bagi rakyatnya. Begitu pula banyak pemimpin otoriter yang menyengsaraan rakyat dilahirkan dari sistem pemerintahan demokrasi seperti yang pernah kita alami.
Demokrasi dalam praktek awalnya juga tidak memilih kaisar melalui pemilihan langsung oleh rakyat, tetapi diwakilkan kepada Senat yang dipilih oleh rakyat. Mirip dengan pemilihan presiden oleh MPR yang kita anut dahulu. Meletakkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat kebanyakan melalui pemilihan langsung juga menyalahi aksioma dua pencilan (two tail) yang terkenal dalam ilmu statistik. Dalam suatu kurva distribusi normal, kualitas yang tinggi hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari populasi. Pemain bulu tangkis terbaik hanya satu orang Rudi Hartono dari seratus juta orang penduduk Indonesia pada masa itu. Mayoritas populasi akan memiliki kualitas yang “biasa-biasa saja”. Pemilihan pemimpin langsung oleh rakyat berdasarkan suara terbanyak sangat mungkin juga hanya akan menghasilkan pemimpin dengan kualitas yang “biasa-biasa saja”.
Rakyat yang lemah
Nasib suatu bangsa tidak akan berubah sebelum rakyatnya berusaha untuk berubah. Suatu bangsa akan mendapatkan kualitas pemimpin yang sepadan dengan kualitas rakyatnya, apapun sistem pemerintahan yang dianutnya. Desa petani akan dipimpin oleh pemimpin yang mengerti pertanian. Kota pedagang akan dipimpin oleh pedagang yang berjiwa pemimpin. Pesantren akan dipimpin oleh ulama. Sedangkan departemen yang korup akan dipimpin oleh menteri yang korup pula.
Dengan kondisi rakyat yang lemah di berbagai bidang (intelektualitas, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya) haruskah kita mendapatkan pemimpin yang lemah? Semoga tidak. Masih ada kekuatan moral, budaya, dan agama yang bisa melahirkan pemimpin yang bermoral, berbudaya, dan taat beragama. Ataukah kesemuanya juga telah mengalami dekadensi?
Beruntunglah pada kenyataannya sepanjang sejarah rakyat kita – yang sekarang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa – belum pernah dipimpin oleh pemimpin (presiden) kelas salon. Tetapi fenomena maraknya iklan calon presiden yang mengumbar kebohongan dan kepalsuan harus menjadi perhatian kita. Jangan sampai kelemahan sistem demokrasi dan kondisi rakyat yang serba lemah mengantarkan pemimpin kelas salon ini ke istana.
Para pemimpin bangsa harus berani berintrospeksi dengan sistem demokrasi yang sudah memboroskan banyak biaya di tengah kesulitan ekonomi masyarakat. Apakah memang demokrasi ini yang sesuai bagi bangsa kita, ataukah hanya pemaksaan kehendak dari negara adidaya pemberi hutang.
Sikap kritis dari segenap rakyat juga diperlukan agar tidak mudah termakan oleh slogan, kebohongan, dan kepalsuan yang dikampanyekan oleh politisi nakal.
Bangsa kita juga sering melupakan sejarah. Sejarah suatu bangsa merupakan asset tak ternilai bagi umat manusia. Sejarah merupakan pengalaman kolektif dari seluruh pelakunya, dan pengalaman adalah guru terbaik. Termasuk bagian dari sejarah adalah rekam jejak dari tiap-tiap calon pemimpin. Melupakan sejarah berarti kehilangan pelajaran berharga dengan kemungkinan terburuk terperosok ke lubang yang sama. Dengan mengingat sejarah maka tidak akan ada lagi mantan tokoh partai yang mendapatkan kekuasaan lewat partai yang baru dengan kampanye yang mendiskreditkan bekas partainya sendiri.
Hedonisme dalam bentuk konsumerisme dan materialisme akan membentuk masyarakat yang mengejar kehidupan duniawi dan menganggap uang sebagai tujuan utama. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan melakukan apapun demi uang. Tidak heran serangan fajar sebelum pemilihan masih terjadi di mana-mana.
Semuanya harus diperjuangkan kalau kita tetap ingin menjadi bangsa yang besar. Jika bukan kapasitas kita sebagai rakyat untuk mengubah sistem demokrasi yang lemah, setidaknya tiga hal yang dapat kita lakukan yaitu: selalu mengasah sikap kritis terhadap segala hal, tidak mudah amnesia terhadap sejarah, serta tidak terjebak dalam hedonisme yang menumbuhsuburkan suap dan politik uang.
ANTON IKHNATON
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment











