Ketika Budaya Ikut Bersalah

humaniora1Pada pertengahan tahun 1970-an, Koentjaraningrat pernah menulis secara populer tentang beberapa sikap mental bangsa Indonesia. Pertama, ”suka menerabas”, yakni tindakan untuk mencapai tujuan sesegera mungkin tanpa berusaha setahap demi setahap.

Pada periode 70-an itu mulai bermunculan saudagar-saudagar baru yang besar. Namun, kemunculan mereka itu terjadi lewat hubungan kolusif dengan para pejabat negara. Pada birokrasi pemerintahan juga terlihat banyak pegawai negeri yang ingin segera naik pangkat dan mendapat fasilitas melalui hubungan kroniistik dengan atasan mereka.

Kedua, tidak disiplin, tidak taat peraturan atas dasar kesadaran pribadi. Kalaupun tampak berdisiplin, sifatnya sangat temporer, karena takut kepada atasan, tetapi saat pengawasan dari atas kendur, hilanglah hasrat untuk menaati peraturan. Ketiga, tidak bertanggung jawab, mengingkari janji. Dan kalaupun kemudian terlihat ada tanggung jawab, lagi-lagi sifatnya temporer, umpamanya karena ada teguran dan kontrol dari atas.

Satu dekade kemudian, Mochtar Lubis dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki juga melihat sifat manusia Indonesia yang jauh dari disiplin, tidak bertanggung jawab, serta tidak memiliki rasa penyesalan atau malu ketika berbuat salah. Bahkan, Lubis menambahinya dengan sifat-sifat munafik, otoriter, egoistik, hipokrit, materialistik, mendahulukan prestise daripada prestasi, hipokrit, dan oportunistik.

Dalam menjelaskan kenapa masyarakat Indonesia seperti itu, Koentjaraningrat dan Lubis ”menyalahkan” nilai budaya masyarakat sendiri yang berorientasi vertikal. Tergantung dari pihak yang di atas sehingga tidak membuka dan memberi peluang untuk tumbuhnya ragam organisasi yang pola hubungannya egaliter serta adanya saling kepercayaan dan pengendalian di antara warganya.

Itulah mungkin suatu bentuk budaya yang berstruktur longgar (loose structure) yang tidak banyak memiliki norma dan mekanisme yang mengatur relasi sosial horizontal yang memungkinkan di antara warga masyarakat saling mengontrol. Siapa yang berbuat salah atau benar tidak mendapat hukuman (punishment) dan ganjaran (reward) yang jelas.

Dengan kuatnya posisi lapisan atas dalam pengawasan inilah bentuk masyarakat paternalistik, yang dicirikan oleh relasi patron-klien, hubungan bapak-anak buah, yang menempatkan bapak sebagai patron yang berposisi dominan termasuk dalam juga penguasaan sumber daya ekonomi dan politik. Sementara itu, anak buah hanya menjadi subordinat yang dalam kebutuhan ekonomi dan kedudukan sosialnya tergantung dari patron.

Berlangsung hingga kini

Membuka hasil penelitian mengenai masyarakat Indonesia mutakhir, di antaranya dari Hans-Dieter Ever (2000), Robert Hefner (1999, 2002), Niels Mulder (1999, 2000), Donald K Emerson (2000), Hans Antlöv (2000), Henk Schulte (2002), dan James Siegel (2001), ternyata budaya yang berstruktur longgar dan hubungan sosial yang paternalistik di negeri ini masih menonjol. Bagi mereka umumnya, peran historis negara ikut memperkuat hubungan patronase itu. Bahkan, negara secara sengaja menempatkan diri sebagai patron masyarakat.

Meski pada pertengahan 1950-an ada embrio untuk berkembangnya masyarakat sipil yang relatif egaliter, kekuatan politik dominan di masa itu beranggapan bahwa bentuk masyarakat demikian kurang sesuai dengan budaya Indonesia sehingga dalam waktu singkat dibalikkan kembali ke corak paternalistik.

Apalagi saat rezim Orde Baru menggenggam kekuasaan, negara langsung menempatkan diri sebagai patron yang otoriter. Memang secara formal ada lembaga sosial, ekonomi, dan politik yang mewadahi pengelompokan masyarakat—seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia/Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HKTI/HNSI), atau Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (Korpri)— tetapi institusi-institusi itu dibentuk secara korporatis dan tunggal.

Reformasi pada akhir 1990- an pun ternyata tidak memunculkan sikap-sikap kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghargaan atas proses pada lembaga- lembaga kemasyarakatan dan kenegaraan. Otonomi daerah yang sudah berlangsung delapan tahun belum menelurkan kebijakan strategis yang mengubah budaya yang longgar dan hubungan sosial yang paternalistik.

Penguatan modal sosial

Saat ini, hidup di negeri ini masih ditandai oleh hal-hal yang stigmatik di atas. Kita masih tetap dihadapkan pada tindakan hyper-pragmatis, mediokeritas, atau aji mumpung. Tak hanya di jalan raya, di institusi pendidikan, di instansi pemerintahan, legislatif dan yudikatif, tetapi juga di lembaga keagamaan dan kemasyarakatan. Bahkan, dalam keluarga.

Dalam terminologi sosiologis, modal sosial yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini sangat lemah. Di sini modal sosial menunjuk pada nilai, norma, dan mekanisme yang ada dalam kebudayaan yang berfungsi sebagai rujukan dan pegangan untuk saling bekerja sama, memercayai, dan mengendalikan di antara warga masyarakat.

Terutama dalam kaitannya dengan pengendalian, modal sosial yang kuat, berarti nilai, norma, dan mekanisme kontrol yang ada dalam kebudayaan itu efektif, dan ini akan memunculkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa malu. Sebaliknya, modal sosial yang lemah menunjuk pada nilai, norma, dan mekanisme kontrolnya yang tidak aplikatif sehingga menampakkan ketidaktertiban dan tidak adanya saling percaya.

Mungkin untuk bisa sampai pada modal sosial yang kuat, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Pertama, negara mesti konsisten dalam menerapkan aturan bagi aparatnya: melanggar atau yang patuh serta yang berkinerja jelek atau yang berprestasi harus mendapat sanksi dan ganjaran setimpal. Hubungan patronase di lembaga-lembaga negara harus dikikis, prestasi aparat dinilai atas dasar meritokrasi, bukan loyalitas kepada atasan.

Kedua, aparat hukum di lapangan mesti bertindak konsisten. Bila ada yang melanggar jangan diselesaikan ”di bawah tangan”, tetapi agar penegak hukum mau menerapkan aturan perlu ganjaran. Salah satu penyebab mereka enggan berlaku konsisten karena reward material dan sosialnya kurang memadai. Tentu reward harus diperbaiki sebagaimana punishment mesti tegas diterapkan.

Ketiga, berbagai lembaga, semacam ornop atau LSM, berperan tidak hanya melakukan pengawasan kerja dan kinerja negara, tetapi perlu pula mendorong perubahan budaya masyarakat ke arah yang egaliter, meritokratis, disiplin, dan toleran. Dan akhirnya adalah pendidikan, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, menjadi perangkat dasar dalam pembentukan modal sosial yang kuat. Terutama pada sisi afektif. Di mana generasi muda tak hanya mengenal, tetapi juga menjalankan nilai-nilai budaya dasar di atas, respek pada kreasi dan prestasi, dan kejujuran di atas semuanya.

Dengan itu semua, mungkin Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis dapat tersenyum di alam ”sana”. Dan lirih berterima kasih, ”usahaku tidaklah sia-sia”.

Budi Rajab Staf Pengajar Jurusan Antropologi, FISIP UNPAD – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kediaman Wiranto sepi jelang pengumuman kabinet
      Kediaman Jenderal TNI (Purn) Wiranto di komplek perumahan Palem Kartika No. 21 Bambu Apus, Jakarta Timur, sepi pada Sabtu pagi. Pada pukul 07.37 WIB, Wiranto meninggalkan kediaman dengan mobil Camry bernomor plat B 1251 ...
    • Dua tewas, empat cedera dalam penembakan di Washington
      Polisi Washington mengatakan dua siswa tewas dan empat lagi cedera dalam penembakan pada Jumat pagi waktu setempat (24/10), di Marysville Pilchuck High School, di Seattle Utara. Pihak berwenang sebelumnya mengkonfirmasi ...
    • Mesir umumkan keadaan darurat di Sinai
      Mesir, Jumat malam (24/10), mengumumkan keadaan darurat tiga-bulan di beberapa bagian wilayah bergolak Sinai Utara, setelah satu pemboman mobil bunuh diri menewaskan 30 prajurit di semenanjung itu pada Jumat siang, kata Istana ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: