Koran Cetak Akan Tamat?

sk-matiAda yang menyebutnya mediapocalypse. Yang terjadi di Amerika Serikat belakangan ini memang seperti kiamat buat media: koran-koran cetak besar dan kecil mati bergelimpangan. The Chicago Tribune menyatakan bangkrut Februari lalu karena tak sanggup bertahan didera krisis global. Mereka menutup edisi koran cetak dan hanya menerbitkan versi online.

Langkah seperti itu juga dilakukan Philadelphia Inquirer. Lalu menyusul Post-Intelligencer, koran Seattle yang sudah berusia 176 tahun. Sekitar sepuluh koran lain diperkirakan akan bangkrut dalam beberapa bulan mendatang. Apakah ini berarti koran cetak sudah sekarat dan riwayatnya akan segera tamat?

Bertumbangannya koran lokal itu sebenarnya sudah bisa diduga. Hasil survei Pew Research Center, sebuah lembaga survei terkemuka di Amerika Serikat, akhir Desember lalu merupakan peringatan dini. Menurut penelitian itu, 40 persen dari responden mengatakan mereka memperoleh berita nasional dan internasional dari internet, naik dari hanya 24 persen pada survei September 2007.

Ini berarti untuk pertama kalinya lebih banyak orang Amerika bergantung pada internet sebagai sumber berita dibanding surat kabar (35 persen). Sedangkan televisi tetap merupakan sumber utama berita nasional dan internasional (70 persen). Yang menarik, sekitar 59 persen orang berusia di bawah 30 tahun menyatakan mereka memperoleh berita nasional dan internasional dari berita online, dan sekitar jumlah yang sama mendapatkannya dari televisi.

Hasil survei itu menunjukkan, generasi muda Amerika sudah mulai meninggalkan koran cetak dan makin mengandalkan berita elektronik. Media online tidak saja lebih cepat dan praktis karena bisa diakses lewat ponsel, tapi yang lebih penting, berita-berita itu bisa didapat secara gratis. Kecenderungan orang tak mau membayar guna memperoleh berita tampaknya makin kuat.

Jadi, apa yang harus dilakukan media cetak untuk tetap eksis di zaman internet? Lantas, bagaimana media cetak di Indonesia menyikapi ancaman ini?

Mungkin banyak orang di sini yang masih meremehkan ancaman tersebut. Alasannya, pengguna internet di Indonesia saat ini masih sekitar 25 juta (dari jumlah penduduk 240 juta) dengan tingkat penetrasi yang rendah, sekitar 10,5 persen. Bandingkan dengan jumlah pengguna internet di Amerika yang 223 juta (data Juni 2008) dengan penetrasi 71 persen.

Tapi para penerbit media cetak Indonesia tampaknya perlu menyiapkan strategi menghadapi ancaman tersebut. Hanya mengandalkan pada jumlah penduduk yang besar jelas sia-sia. Minat membaca generasi muda kini sudah kalah dengan budaya menonton akibat serbuan media televisi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memungkinkan orang membeli media cetak juga belum akan melonjak dalam waktu dekat. Padahal belanja iklan, sumber utama hidup media, juga sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi. Belanja iklan 2009, yang diperkirakan sekitar Rp 41 triliun, sekitar tiga perempatnya akan tersedot televisi. Jumlah itu tercapai mungkin karena tahun ini adalah tahun pemilu hingga belanja iklan politik membengkak. Tapi seusai pemilu, berita politik akan berkurang dan iklan politik juga surut. Maka koran cetak yang tak berakar pasti akan terkapar.

Hal ini berarti para penerbit media cetak perlu menyiapkan jurus-jurus khusus. Beberapa hal memang telah dilakukan. Para pemilik kelompok media besar telah melakukan konvergensi antara media cetak dan elektronik yang mereka miliki (multimedia: radio, televisi, internet) agar dapat lebih efisien dan hemat. Mereka juga merangkul pembaca, terutama pembaca muda, dengan membentuk komunitas, mengembangkan citizen journalism (jurnalisme warga) termasuk mempublikasikan pesan pendek pembaca serta merangkul para blogger. Beberapa koran bahkan telah mengembangkan e-paper.

Koran digital bukan satu-satunya bahaya terhadap eksistensi koran cetak. Di banyak negara, termasuk Singapura, munculnya koran gratis (free paper) juga mulai mengancam. Di Indonesia koran gratis belum muncul.

Beberapa koran sore di sini tampaknya akan merupakan korban pertama serangan media digital (berupa siaran berita sore televisi). Di seluruh dunia kecenderungan surutnya koran sore semakin nyata. Sirkulasi koran sore yang sepuluhan tahun lalu masih agak seimbang dengan koran pagi kini hanya tinggal sepertiganya.

Tampaknya belum semua media cetak telah mengubah paradigma mereka dengan konsep baru. Berita yang disajikan sudah harus lebih audience focus, berorientasi pada pembaca. Media harus mengembangkan berita dan informasi yang tailored and relevant, artinya khusus disiapkan untuk pembacanya. Sedangkan untuk commodisized content, berita dan informasi yang lebih bersifat umum, bisa diperoleh lewat outsourcing.

Informasi umum itu memang selama ini disuplai kantor berita atau sindikasi berita. Beberapa koran luar negeri telah mulai mengandalkan kantor berita untuk liputan internasional hingga mereka tidak perlu mengirim sendiri wartawan mereka, demi penghematan biaya.

Kini nilai berita (news value) juga berubah. Pengelola media harus tahu kehidupan sehari-hari pembacanya, gaya hidup dan perilaku mereka, serta informasi apa yang ingin mereka dapatkan. Dengan begitu survei secara berkala tentang pembaca merupakan suatu keharusan.

Secara singkat, agar bisa terus hidup dan berkembang, pengelola media harus lebih inovatif serta mampu mengembangkan budaya manajemen baru. Budaya baru ini tidak hanya memikirkan batasan pemberitaan, tapi juga cara-cara pemasaran baru, mengembangkan komunikasi dengan pembaca, dan pengembangan penjualan produk yang lebih menguntungkan.

Buat para pengelola media, serangan teroris di Mumbai, India, akhir tahun lalu perlu menjadi pelajaran. Laporan pertama tentang terjadinya serangan itu muncul dari orang-orang yang menyaksikannya dalam bentuk blog. Kemudian para citizen journalist memperkaya laporan itu dengan tulisan mereka. Media konvensional baru melaporkannya setelah itu.

Hal ini berarti para blogger dan para penulis jurnalisme warga perlu lebih dirangkul. Kata kuncinya adalah partisipasi. Keikutsertaan para pembaca atau warga tersebut sangat menguntungkan karena sejauh ini mereka tidak pernah diberi imbalan. Dari sisi lain, makin besarnya partisipasi publik dalam pemberitaan media juga berarti makin berkembangnya demokratisasi jurnalisme. Masalahnya kemudian adalah bagaimana meningkatkan kualitas jurnalisme warga itu hingga bisa, paling tidak, mendekati para profesional.

Salah satu kelemahan media digital yang sangat bisa dimanfaatkan media cetak adalah kenyataan berita dan informasi yang tersiar secara online jumlahnya sangat besar, mirip rimba raya. Ini menyulitkan pembaca. Di sinilah media cetak bisa menjalankan perannya sebagai gate keeper, penyeleksi informasi, buat memudahkan pembaca memperoleh berita yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan.

Di Indonesia, media cetak juga masih diuntungkan dengan pemberitaan media elektronik, terutama televisi, yang masih sangat banyak kelemahannya. Tapi peluang terbesar bagi media cetak tentu saja pada penekanan berita-berita yang in-depth, feature, dan analisis. Selain itu masih ada celah yang dapat dimanfaatkan media cetak, yakni berita lokal. Media online pasti akan terkonsentrasi pada berita nasional dan internasional.

Masalah lain, bagaimana koran online dapat “memaksa” pembacanya membayar. Sebab, bila mereka hanya mengandalkan iklan, pastilah tidak cukup. Saat ini ada beberapa pemikiran, misalnya micro-payments, dengan mengembangkan suatu sistem, pembaca hanya membayar sangat murah untuk artikel yang mereka baca. Cara lain, seperti yang telah dilakukan Rupert Murdoch pada koran miliknya Wall Street Journal: para pembaca website korannya harus membayar biaya langganan bulanan. Cara ini terbukti sukses. Pada 2008 penghasilan dari pelanggan ini naik tujuh persen.

Susanto Pudjomartono, Wartawan senior – TEMPO (30 Maret 2009)

About these ads

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Dua polisi New York ditembak mati pria bersenjata
      Seorang pria bersenjata menembak hingga tewas dua polisi New York saat mereka duduk di dalam mobil patroli pada Sabtu (20/12) lalu menembak dirinya sendiri.Petugas terbunuh tanpa peringatan dan dalam jarak dekat ketika mereka ...
    • Polisi kerahkan penjinak peledak untuk amankan Natal
      Kepolisian Resor (Polres) Pekalongan, Jawa Tengah, akan mengerahkan tim penjinak peledak untuk mengamankan perayaan Natal 2014. Kepala Polres Pekalongan AKBP Indra Krismayadi di Pekalongan, Minggu, mengatakan tim itu akan ...
    • BNP2TKI kirim tim ke Mesir untuk pulangkan TKI ilegal
      Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengirimkan tim untuk mengurus pemulangan tenaga-tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja ilegal di negara itu. Menurut siaran pers BNP2TKI, tim ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: