Limbah Medis

Pagi ini saya mencari informasi sebagai bahan tulisan di blog ini, mulai membuka situs-situs berita, blog walking, atau tag surfing di WordPress untuk topik-topik tertentu. Kriiing…hp saya berbunyi, dan diujung sana ada teman yang memberi informasi “coba dengerin Green Radio di 89.20 FM yang lagi membahas topik ‘Pengelolaan Limbah Medis’, seru deh”…wah, setelah saya mendengarnya, bukan seru lagi…merinding bulu kudukku…hi…

Limbah medis itu terdiri (seharusnya dipisahkan) dalam tiga kelompok, yaitu: limbah padat organik (non infeksius), limbah padat non organik (infeksius), dan limbah cair. Limbah padat non infeksius sebenarnya sama saja dengan limbah rumah tangga yang berupa sisa makanan atau sisa pembungkus makanan ataupun minuman…kalau ini sih tidak jadi masalah dok. Limbah padat infeksius itu misalnya jaringan tubuh yang terinfeksi kuman, bahkan juga bagian tubuh manusia…(jangan-jangan potongan tangan atau kaki yang biasa ditemukan di tempat sampah berasal dari rumah sakit…), botol infus, jarum suntik,.

Berdasarkan peraturan (nggak tau nomornya?), limbah nonmedis dibungkus dengan plastik berwarna hitam, sementara limbah medis dibungkus dengan plastik berwarna kuning dan merah. Tetapi yang terjadi di lapangan, karena mahalnya harga plastik, sudah tidak ada lagi pembedaan kemasan limbah rumah sakit, sehingga limbah medis pun bercampur dengan limbah non medis. Limbah nonmedis diperlakukan sama dengan limbah padat lainnya. Artinya, semua limbah tersebut dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah seperti di Bantar Gebang Bekasi.

Pencampuran limbah medis yang akhirnya dibuang ke TPA, pasti akan menciptakan satu rantai panjang yang sangat mengerikan. Bagi pemulung, plastik limbah medis itu akan dikumpulkan karena dianggap dapat didaur ulang, termasuk jarum suntik bekas. Sedangkan hewan yang berkeliaran di sekitar TPA, misalnya kucing akan memakan limbah medis yang mengandung berbagai kuman yang akan berisiko pada manusia bila kucing tersebut menggigit.

Lalu bagaimana cara penanganan limbah medis yang tepat? Yang pasti ada peraturannya… karena dalam wawancara di Green Radio tadi juga yang dijelskan oleh pihak-pihak RS yang berwenang hanya sekitar nomor peraturan yang dihafal mati. Teknologi pengelolaan limbah medis yang sekarang jamak dioperasikan, hanya berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator. Keduanya sekarang juga terbukti memiliki nilai negatif besar.

Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan air dari tangki yang dikhawatirkan dapat mencemari tanah. Dan kadang ada beberapa rumah sakit yang membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke sungai-sungai. Sehingga dapat dipastikn sungai tersebut mulai mengandung polusi zat medis. Sedangkan insenerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah medis, juga bukan berarti tanpa cacat. Badan Perlindungan Lingkungan AS menemukan bahwa teknik insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa zat dioksin inilah yang menjadi pemicu tumbuhnya kanker pada tubuh.


Hal menarik dalam masalah ini adalah ditemukannya teknik pembakaran baru dengan menggunakan sinar matahari. Selain menutup kemungkinan timbulnya asap penyebab dioksin, juga menghemat ongkos operasi yang perlu dikeluarkan. Modelnya sederhana. Berupa kotak serupa microwave, terdiri dari dua buah kotak saling mengisi yang dilapisi aluminium foil. Selembar kaca mika transparan menjadi penutup dan dua buah cermin saling berhadapan menjadi reflektor yang paling sukses mengantarkan panas ke kotak. Dengan waktu 20 menit, temperatur yang tercipta bisa mencapai 150 0C. Sebuah titik panas yang dianggap bisa memusnahkan bakteri. Di India, teknologi pembakaran menggunakan tenaga surya seperti ini juga sudah dilakukan.

Kekacauan pengelolaan limbah di rumahsakit-rumahsakit Indonesia adalah minimnya dana yang dikucurkan pemerintah sebagai alasan utama. Saya tidak tahu apakah sistim pengelolaan rumahsakit swasta jauh lebih baik (seharusnya!) atau tidak, karena mereka memungut biaya yang tinggi dari para pasiennya.

Bagaimana dengan para pekerja di rumahsakit, pasien yang berobat nginap ataupun jalan, pengunjung dan masyarakat yang tinggal di sekitar rumah sakit tersebut? Karena kalau melihat sistim pengelolaan limbah medis yang semrawut setelah keluar dari area rumah sakit, tentu berisiko tinggi pula sebelum keluar dari area tersebut.

Jadi, mulai sekarang kalau ada teman atau keluarga yang dirawat di rumah sakit, bezoek-nya bisa lewat sms saja, kecuali bos Anda. Saran saya, sebelum dan sesudah ke rumah sakit, berdoa yang banyak supaya dilindungi dari racun limbah medis ini. He..he.. 😆

Advertisements

3 Comments

  1. Pak, sekedar informasi saja sebenarnya apa yang diuraikan diatas itu benar bahwa dampak dari sistem pengelolaan limbah medis baik padat ataupun cair baik sedit ataupun banyak tetap saja yang namanya limbah membawa dampak yang sangat besar.

    Kami selaku distributor tunggal, memahami hal itu oleh karenanya kami mempunyai produk dengan teknologi microwave yang ramah lingkungan untuk mengatasi hal itu, produk kami ini untuk sistim pengelolalaan limbah medis infeksius.

    Jika para pembaca ingin mengetahui lebih details mengenai produk kami, silakan mengunjungi produk2 kami ini di : http://ptgiwangkanaka.indonetwork.net atau ingin lebih jelasnya kami siap untuk memberikan paparan mengenai produk2 kami ini.

    wassalam
    Basuni

  2. Apa kabar Bapak. Lama tak ada kabar.
    Salam

  3. Pak. Limbah itu kan dibuang ke luar RS., jadi ri RS sudah gak ada lagi. Malah di luar sana itu yang masalah.
    Memang perlu TIM audit limbah bergerak untuk menjamin keamanan dan ketaatan pada soal limbah RS. saya hanya membaca secuil dari uraian Bapak terlintas sesuatu yang membuat merinding… Bahaya lingkungan.
    Di Gowa, jaman tahun 70an pernah dikuburkan DDT yang diambil dari gudang Kesehatan. Jumlahnya segudang-gudang dan tak dapat dirusak rantai kimianya secara mudah… maka dibuanglah disatu tempat entah dimana kini… tak ada lagi yang ingat kecuali mereka yang ada saat itu. Kini pembangunan rumah mulai merebak kemana-mana… siapa yang peduli dengan racun yang dikubur itu ??? Di Gowa kini telah dibangun DAM yang memperlancar aliran air tanah….
    Dari satu bahaya ke bahaya yang lain tak henti-hentinya mengancam… Ulah siapa ??

    :mrgreen: Orang Ambon bilang begini: “makan seng mati, seng makan mati”, semua penuh dengan racun, tapi kadangkala kita makan pake kacamata hitam (atau pake kacamata kuda) saja, biar tidak kelihatan racunnya… 😆


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Senegal negara Afrika tertinggi dalam peringkat FIFA
      Tim nasional  Senegal menjadi negara Afrika yang memiliki posisi tertinggi pada peringkat FIFA bulan November yang dirilis Kamis waktu setempat, dengan menempati peringkat 23 besar dunia.  Tim berjuluk 'Teranga Lions' ...
    • Aksi Bakpao Mendukung KPK
      Sejumlah pegiat menggelar aksi unjuk rasa bertema bakpao di depan gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/11/2017). Mereka mendukung KPK untuk mengusut tuntas kasus korupsi KTP Elektronik yang merugikan negara Rp2,3 triliun. (ANTARA ...
    • SMIIC segera rilis standarisasi halal
      Lembaga standarisasi halal  yang terafiliasi dengan Organisasi Kerja sama Islam (OKI), Institut Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam (SMIIC), segera merilis standarisasi halal untuk produk kosmetik."Kami akan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: