Malam Simalakama

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan pada 30 September 2008 pukul 24.00 (detik.com, 5 September 2008).

Acara itu dimajukan karena tanggal 1 Oktober bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, sedangkan pada 30 September seusai shalat maghrib dan isya biasanya umat Islam melakukan takbiran. Jadi, peringatan Kesaktian Pancasila diapit dua ritual religius. Hal ini tentu amat merepotkan. Bila biasanya pada malam takbiran orang sudah berada di kampung halaman atau sedang bercengkrama di tengah keluarga setelah sebulan berpuasa, kini terpaksa pergi ke Lubang Buaya untuk melakukan upacara di tengah malam.

Selain itu, terasa paradoks karena malam takbiran merupakan malam kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. Sementara itu, malam 30 September merupakan malam kekerasan sekaligus ”kekalahan pahit” bagi tentara nasional karena demikian banyak perwira tinggi sekaligus hilang nyawanya tidak dalam peperangan.

Simalakama

Tertangkapnya sekaligus enam jenderal dalam suasana damai memperlihatkan bahwa fungsi intelijen militer lumpuh. Ironisnya, seorang mayor jenderal yang kemungkinan besar mengetahui rencana penculikan itu tak memberitahukan atasannya. Seandainya hal ini dilaporkan, tentu penangkapan yang berujung tragedi nasional itu bisa dicegah.

Malam itu jelas amat menyakitkan, terutama bagi keluarga korban. Sejarawan senior, Taufik Abdullah, menjulukinya ”Malam Jahanam”, meminjam judul karya Motinggo Busye. Sekarang malam ini menjadi buah simalakama.

Setelah era reformasi, peringatan Kesaktian Pancasila dari tahun ke tahun kian kehilangan magnet dan semakin dilematis. Di satu sisi, ada keengganan sebagian masyarakat, termasuk pejabat, untuk melakukan upacara, terutama pada era Megawati Soekarnoputri. Hal ini dapat dimaklumi karena malam itu merupakan awal kejatuhan Bung Karno dari kekuasaannya yang berlangsung liat dan menyayat perasaan. Di sisi lain, peringatan ini menjadi kewajiban bagi militer.

Penetapan 1 Oktober

Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat tertanggal 17 September 1966 (Kep 977/9/1966) menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila yang harus diperingati Angkatan Darat. Tanggal 24 September 1966, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian mengusulkan agar hari itu diperingati seluruh jajaran Angkatan Bersenjata. Itu sebabnya keluar Keputusan Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan Jenderal Soeharto (Kep/B/134/1966) tertanggal 29 September 1966 agar hari itu diperingati ”seluruh slagorde angkatan bersenjata dengan mengikutsertakan massa rakyat”.

Sesungguhnya tidak ada keharusan pejabat tinggi negara dan menteri menghadiri acara itu meski pada era Orde Baru, peringatan itu seakan seremoni wajib.

Masyarakat mempertanyakan apakah relevansi peristiwa 30 September 1965 dikaitkan dengan Kesaktian Pancasila. Gerakan 30 September termasuk upaya perebutan kekuasaan, tidak ada hubungan dengan kehebatan Pancasila. Aksi itu gagal karena kecerobohan pelakunya dalam merancang strategi militer dan menerapkannya di lapangan.

Pada era Orde Baru, bendera dinaikkan setengah tiang pada 30 September dan secara penuh esoknya. Namun kini sebagian besar masyarakat sudah tak peduli, kecuali instansi militer. Bahkan, orang mempertanyakan, enam jenderal dibunuh pada 1 Oktober 1965 dini hari mengapa bendera berkabung dimajukan sehari sebelumnya. Mungkin jalan keluarnya, bendera dipasang setengah tiang pada 1 Oktober pukul 06.00-12.00 dan dikibarkan penuh pukul 12.00-18.00. Namun, ini jelas merepotkan.

Pancasila dan pahlawan

Penamaan ”malam jahanam” terhadap malam 30 September 1965 menimbulkan efek psiko-dramatis karena enam jenderal tewas seketika. Mungkin tidak ada di negara lain di dunia, jenderal sebanyak itu gugur bersama bukan di medan perang. Namun, yang lebih penting, bukankah malam-malam setelah peristiwa itu yang menyebabkan kematian lebih dari 500.000 warga Indonesia tidak kalah sadisnya?

Penetapan atau sebaliknya penghapusan hari bersejarah menjadi kebijakan politis suatu rezim. Semasa Soeharto berkuasa, bukan hanya peringatan lahirnya Pancasila yang dilarang, tetapi juga hari buruh 1 Mei. Saat Awaluddin Djamin menjadi Menteri Tenaga Kerja tahun 1966, ia belum berhasil menghapus acara kaum buruh itu karena kuatnya serikat pekerja. Pelarangan baru terjadi setahun kemudian. Meski reformasi telah berjalan 10 tahun, upaya menetapkan hari buruh sebagai hari libur nasional belum tercapai hingga sekarang.

Pada 1 Juni 1945 Soekarno berpidato tentang dasar negara yang dinamai Pancasila. Sejak tahun 1970, peringatan hari lahirnya Pancasila dilarang Kopkamtib sampai pemerintahan Soeharto berakhir. Pada diorama Monas, saat dirancang sebelum tahun 1965, ada bagian hari lahir Pancasila 1 Juni. Namun, ketika pembangunannya diselesaikan tahun 1970, diorama ”khusus” itu dihilangkan. Hampir tiga dekade kelahiran Pancasila tabu diperingati. Namun larangan itu tidak mangkus lagi setelah era reformasi.

Sebagai jalan keluar dari upacara yang bagai memakan buah simalakama, diusulkan dua opsi yang bisa dilakukan. Pertama, menggeser peringatan itu bila dimaksudkan mengenang tujuh Pahlawan Revolusi pada 10 November. Jenazah ketujuh orang itu telah dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, 5 Oktober 1965. Semua sudah diangkat sebagai pahlawan nasional. Karena itu, selayaknya mereka dikenang bersamaan pejuang lain justru pada peringatan hari pahlawan.

Bila aspek ”kesaktian” Pancasila yang ingin ditonjolkan, lebih tepat bila upacara itu digabungkan dengan peringatan lahirnya Pancasila setiap 1 Juni.

Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: