Jakarta Bukan Satu-satunya!

Ya, Jakarta bukan satu-satunya pilihan. Masih banyak kota lain. Namun, Jakarta ibarat gula, serba ada, serba mungkin. Arus balik lebih besar dibanding arus mudik.

Gubernur Fauzi Bowo jauh-jauh hari memberi peringatan. Pemohon kartu tanda penduduk harus mempunyai jaminan pekerjaan, tempat tinggal jelas, dan surat pengantar dari daerah asal. Seperti biasa, ultimatum itu tidak akan digubris.

Pendatang masuk Jakarta tidak untuk urusan KTP. Urusan mereka adalah mencari pekerjaan, meningkatkan taraf hidup, dan menyambung hidup. Singkatnya cari makan, bukan cari KTP atau kartu identitas!

Tanpa mengantongi tiga syarat itu mereka tetap masuk Jakarta. Operasi yustisi sedikit mengerem nafsu masuk, tetapi sebenarnya hanya mengobati simptom. Yang lebih serius adalah bagaimana diusahakan agar kota-kota selain Jakarta pun jadi pusat pertumbuhan.

Jakarta jangan dibebani tanggung jawab membereskan kelangkaan lapangan kerja dan kemiskinan daerah. Ketika Jakarta bukan ”kota tertutup”, seperti pada era Gubernur Ali Sadikin, sanksi terkena operasi yustisi (Perda No 4 Tahun 2004) hanya imbauan. Daya tarik Jakarta tetap besar.

Menipisnya daya dukung Jakarta diabaikan. Jumlah penduduk sekitar 8,5 juta menempati lahan 675 kilometer persegi hanya tinggal data matematis, bukan tantangan. Identitas Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian menjadi magnet bagi ribuan orang. Itu terlihat, antara lain, dari lonjakan urbanisasi yang besarnya rata-rata 200.000-250.000 orang per tahun.

Persoalan jumlah penduduk, faktor terpelik dari seabrek persoalan Ibu Kota. Kedudukan peringkat kelima kota terpadat dunia setidaknya memberi angin segar, dalam arti Jakarta memang bukan satu-satunya. Seloroh ini dalam konteks urgensi, merujuk pada keharusan kota-kota lain sebagai pusat-pusat pertumbuhan.

Berlakunya UU tentang Otonomi Daerah dengan ikutan anggaran mengalir ke daerah, logikanya pusat- pusat pembangunan berpindah ke daerah. Jakarta akan lebih longgar dalam menangani kepadatan penduduk.

Sulitnya lapangan kerja di pedesaan yang selama ini jadi push factors urbanisasi ke Jakarta dan daya tarik kota sebagai pull factors bisa beralih ke kota-kota di daerah. Mengapa? Karena di daerah pun kota-kota pusat pertumbuhan muncul!

Kita memaklumi kesulitan Fauzi Bowo dan Pemprov DKI Jakarta. Operasi yustisi pilihan ”terbaik dari yang terjelek”. Kita titip pesan, jangan sampai mengabaikan sopan santun seperti terjadi pada tahun 1996, ketika petugas memasuki rumah penduduk di tengah malam.

Operasi yustisi yang berjalan seminggu sebelum Idul Fitri, 1 dan 2 Oktober, akan lebih sibuk pada pekan depan. Arus mudik, baik yang pulang mudik maupun calon penghuni baru, masuk Jakarta.

Jakarta memang bukan satu-satunya! Tetapi, Koes Plus toh berdendang, ”… ke Jakarta aku, kan kembali…! Itu tahun 60-an! Sekarang lain lagi ceritanya!

KOMPAS

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • SIPG kalahkan Guangzhou di Liga Champions Asia
      Wu Lei mencetak dua gol ketika Shanghai SIPG menang 4-0 atas juara Liga Champions Asia sebanyak dua kali Guangzhou Evergrande pada Selasa, pada pertandingan leg pertama perempat final kejuaraan klub level benua tersebut. ...
    • Tim WFQR Lanal Batam tangkap 27 TKI ilegal tujuan Malaysia
      Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) 4 Lanal Batam, Selasa sekitar pukul 02.30 WIB menggagalkan pengiriman 27 TKI Ilegal di perairan Karang Galang saat hendak menuju Malaysia. "Sebanyak 27 TKI yang berhasil diamankan ...
    • Sea Games 2017 - Luis Milla bangga dengan perjuangan Timnas U-22
      Pelatih tim nasional U-22 Indonesia Luis Milla merasa bangga dengan perjuangan anak-anak asuhnya yang mampu menahan imbang Vietnam 0-0 walau bermain dengan 10 orang di laga Grup B sepak bola SEA Games ke-29 2017, Malaysia. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: