Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional

Dosen Fakultas Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, Suharyanto (31), berhasil meraih penghargaan Japan Prize-Best Paper Award dalam International Symposium on Discharge and Electrical Insulation in Vacuum atau ISDEIV. Penelitian Suharyanto dinilai sebagai terobosan baru di bidang isolator listrik hampa udara.

Dalam simposium yang berlangsung di Bucharest, Romania, 15-19 September lalu, Suharyanto terpilih sebagai penulis makalah ilmiah terbaik. Makalah ilmiahnya yang berjudul Influence of Mechanical Finishing in Secondary Electron Emission of Alumina Ceramics berhasil menyingkirkan 222 makalah ilmiah dari ratusan peneliti lainnya.

Dalam penelitiannya, Suharyanto menyelidiki aktivitas elektron dalam lapisan isolasi dengan lima tingkat kehalusan permukaan. Dari hasil penelitian ini, Suharyanto berhasil menemukan tingkat kehalusan permukaan paling ideal untuk isolator listrik hampa udara.

Isolator listrik adalah komponen penting dalam instalasi elektronika. Komponen ini banyak digunakan dalam berbagai alat listrik, di antaranya, circuit breaker di gardu PLN, mikroskop elektron, alat rontgen, dan satelit ruang angkasa. Isolator listrik hampa udara tengah menjadi topik penelitian oleh banyak peneliti internasional.

Selain untuk meningkatkan efektivitas dan umur komponen, isolator listrik hampa udara terus berusaha diciptakan untuk menggantikan penggunaan gas SF6 yang berbahaya bagi lingkungan karena bisa mengakibatkan efek rumah kaca.

Selain ramah lingkungan, pengembangan teknologi ini bisa menghasilkan circuit breaker dengan ukuran 30 persen lebih kecil dari ukuran sekarang dengan biaya 30 persen lebih murah karena tidak banyak membutuhkan perawatan. ”Dengan gas SF6, harus dilakukan pengecekan berkala. Dengan isolator listrik hampa udara, tidak ada yang perlu pengecekan,” kata Suharyanto.

Pengembangan teknologi ini, di Indonesia dan negara tropis lainnya, sangat penting. Dengan memproduksi isolator listrik sendiri, isolator listrik dapat lebih awet dan efisien. Selama ini, Indonesia masih menggunakan isolator listrik impor yang didesain untuk udara sub-tropis sehingga sebenarnya kurang cocok jika digunakan untuk daerah tropis. Isolator buatan Eropa ini cenderung cepat rusak karena kelembaban tinggi.

Ketua Jurusan Teknik Elektro FT-UGM, Tumiran, mengatakan, jumlah peneliti bidang listrik di Indonesia masih sangat minim. Padahal, Indonesia memiliki sumber daya peneliti yang melimpah. (IRE)

KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: