Selamat Datang “Wali Nanggroe”

Dua pekan menjelang akhir November 1999, tersebar isu di Aceh bahwa Dr Teungku Hasan di Tiro akan kembali ke Aceh menghadiri peringatan HUT ke-23 Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Menurut isu tersebut, Hasan Tiro transit di Singapura dan melanjutkan perjalanan ke Aceh dengan mencarter pesawat terbang kecil.

Sebelum mendarat di Aceh, pesawatnya akan berkeliling lebih dulu. Di atas Meulaboh-Lamno pesawat itu akan terbang rendah agar ia dapat melihat lebih jelas, apakah masyarakat masih mengibarkan bendera GAM sebagai bukti dukungan terhadap perjuangan Aceh merdeka.

Tidak jelas siapa yang menyebarkan informasi ini. Aparat pemerintah maupun keamanan mengimbau agar masyarakat tidak terpengaruh isu tersebut. Sebaliknya, masyarakat justru menuding aparat pemerintah gemar berbohong.

Warga yang bermukim di tepi jalan antara Meulaboh dan Lamno, khususnya Calang-Panga sepanjang puluhan kilometer, kontan membabat segala tanaman di pekarangan rumahnya maupun pohon-pohon di pinggir jalan. Mereka kemudian mengibarkan bendera GAM dengan harapan Hasan Tiro dapat jelas melihatnya dari udara.

Peristiwa ini menunjukkan betapa besarnya skala wibawa Hasan Tiro di Aceh. Dan, peristiwa ini hanyalah salah satu dari sederet kejadian yang pernah terjadi. Padahal, pemimpin GAM itu sendiri tidak muncul di Aceh, bahkan pada 4 Desember 1999, karena memang tidak ada rencana untuk itu.

Melampaui wibawa pemerintah.

Namun, hal yang luar biasa, kendati harus kerja bakti dan tanaman mereka ludes dibabat, sedikit pun tidak ada rasa kecewa masyarakat yang bermukim di sepanjang jalan Calang-Panga. Sebaliknya, mereka justru menyalahkan diri sendiri dengan mengatakan, perjalanan Hasan Tiro dibatalkan akibat persiapan pengamanan oleh rakyat belum memadai.

Inilah sosok karisma Teungku Hasan Tiro di Aceh. Walaupun sejak awal 1950 bermukim di AS dan kemudian kembali ke Aceh selama periode 1976-1979, ia adalah orang yang paling berpengaruh dan dihormati. Wibawanya bahkan mengalahkan pemerintah daerah maupun pusat.

Saat ini saja menjelang keberangkatannya ke Aceh dari Malaysia, berjubel tokoh masyarakat Aceh maupun warga biasa yang menjenguknya di salah satu hotel di Shah Alam, Selangor. Sebagian besar dari mereka datang secara khusus dari Aceh.

Di antaranya termasuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, para bupati, Ketua MUI NAD Prof Dr Muhibuddin Wali, dan para ulama seperti Teungku Muhammad Ali Basyah, Teungku Marhaban, dan seterusnya.

Antara ada dan tiada

Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro adalah sosok imajinasi dalam kesadaran masyarakat Aceh. Mereka hanya mendengar kisah sepak terjang cicit Teungku Chik di Tiro ini dan tidak pernah melihat atau bertemu wujud aslinya. Kalaupun ada beberapa orang yang pernah bertemu, ini menjadi status sosial dalam masyarakatnya.

Selaras dengan doktrin kerahasiaan yang ditanamkannya dalam GAM, Hasan Tiro memang menutup diri. Ia hanya menerima kunjungan tokoh-tokoh kunci dalam organisasi. Dalam pandangan Hasan Tiro, kerahasiaan adalah metode mempertahankan keberadaan organisasi bawah tanah.

Alhasil, Hasan Tiro muncul dalam imajinasi masyarakat sebagai sosok misteri, antara ada dan tiada. Maka, tidak mengejutkan jika setiap menjelang HUT GAM kerap muncul dalam berbagai versi isu akan kembalinya Hasan Tiro. Celakanya, masyarakat Aceh selalu percaya karena isu tersebut mereka produksi sendiri di bawah sadar.

Masalahnya menjadi jelas jika diletakkan dalam konteks Aceh. Masyarakat di pedalaman khususnya, sejak lama mendengar kisah perjuangan dan pengorbanan Hasan Tiro. Wajar jika di tengah suasana konflik bersenjata yang begitu keras selama 29 tahun, mereka mendambakan kehadiran pemimpin demikian.

Disadari atau tidak, akumulasi memori yang terpendam ini lama-kelamaan berproses dan melahirkan sejenis khayalan mengenai kehadiran sang pemimpin. Contoh lainnya adalah Hikayat Perang Sabil yang hidup dalam alam kesadaran masyarakat Aceh, memproduksi imajinasi dan nilai-nilai kepahlawanan yang membangkitkan perlawanan.

Dari New York belantara

Akan halnya Hasan Tiro sendiri adalah sosok rasional dengan otak cemerlang. Lahir di Pidie tahun 1925 dan dalam usia 20-an tahun sudah menulis beberapa buku. Antara lain, Mencapai Perjuangan, isinya membandingkan perjuangan revolusi di negara-negara Amerika Selatan dan Turki. Selain itu, ia juga menulis buku tentang agama Islam dan Perang Aceh.

Sempat kuliah ilmu hukum di UII, Hasan Tiro melanjutkan pendidikan di AS tahun 1950-an. Ia memperoleh gelar doktor dalam bidang hukum internasional dari Colombia University. Selama kuliah di AS, ia sempat menjadi pejabat penerangan KBRI Washington.

Perubahan besar terjadi dalam pandangan hidupnya setelah PM Ali Sastroamidjojo menolak menghentikan peledakan bom desa-desa di Aceh dan provinsi lain, dalam operasi militer menumpas perlawanan DI/TII. Hasan Tiro akhirnya memutuskan keluar dari KBRI dan menyatakan dirinya sebagai Menlu DI/TII.

Selama menetap di New York, Hasan Tiro banting setir menjadi pengusaha dan sukses. Ia menikah dengan wanita AS serta dikaruniai seorang putra. Dalam bukunya, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro (1984), ia menulis, walaupun hidup di tengah kemewahan bersama anak dan istri yang cantik, usaha bisnis yang sukses, terbang ke berbagai negara menemui rekan-rekan bisnis, pikirannya selalu melambung ke Aceh. Dan, tidak satu pun rekan bisnisnya maupun keluarga yang tahu hal ini.

Hasan Tiro akhirnya memutuskan kembali ke Aceh. Dengan menumpang perahu nelayan dari Malaysia, ia mendarat di pantai utara Aceh, 30 Oktober 1976 sekitar pukul 08.30. Dari sini ia berangkat ke kawasan hutan di Gunung Seulimeun, dekat kampung halamannya di Tiro, untuk memimpin belasan orang gerilyawan.

Ia mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh, 4 Desember 1976, dan mendirikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bentuk pemerintahan darurat. Ia cedera dalam suatu penyergapan TNI di kawasan hutan antara Tangse dan Tiro. Namun, ia berhasil diselamatkan pendukungnya dari penangkapan TNI saat itu.

Pada tahun itu juga Hasan Tiro meninggalkan Aceh menuju Malaysia melalui jalur laut. Ia kecewa terhadap AS yang tidak memenuhi janjinya mengirim senjata. Hasan Tiro kemudian pindah ke Swedia. Rezim Soeharto sedikitnya tiga kali mengumumkan Hasan Tiro tewas. Dua kali dalam operasi militer TNI dan sekali karena sakit di AS.

Direncakan akan tiba

Pada masa maraknya konflik, tidak satu warga pun berani mengucapkan nama Hasan Tiro di tempat umum. Mereka hanya berbisik menyebut ”Wali Nanggroe’’ (wali negara, posisi kepemimpinan Hasan Tiro). Pada masa hidupnya, untuk menunjukkan rasa hormat, Panglima Perang GAM Teungku Abdullah Syafei malah selalu menggunakan kata ”Paduka yang Mulia Dr Teungku Muhammad Hasan di Tiro”.

Badai konflik telah berlalu di Aceh. Perdamaian berhasil menghentikan nyalak senjata selama tiga tahun ini. Kini kehidupan berjalan normal setelah 29 tahun tercabik-cabik oleh rangkaian kontak senjata, pembunuhan, pembakaran rumah-rumah penduduk, penangkapan, dan penyiksaan.

Akan tetapi, sebagian masyarakat masih tetap waswas, bahkan ada yang masih menyimpan senjata api. Sebelum menyaksikan secara langsung kehadiran Hasan Tiro, mereka tidak sepenuhnya percaya perdamaian itu akan abadi.

Sikap demikian akan lenyap karena Hasan Tiro direncanakan akan tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, siang ini. Memang, masih banyak warga tidak percaya dan mengatakan itu bukan Hasan Tiro asli, melainkan duplikatnya. Bisa dipastikan mereka akan terperanjat jika melihat kenyataan.

Dalam hal ini Pemerintah Indonesia seharusnya bersyukur atas kembalinya Hasan Tiro yang menyatakan kewajiban setiap warga Aceh mempertahankan perdamaian. Pernyataan bahwa Hasan Tiro adalah warga negara asing dan tidak diperlukan pengamanannya secara khusus jelas tidak pada tempatnya, provokatif, dan dapat mencederai perasaan rakyat Aceh.

Selamat datang Wali Nanggroe.

MARULI TOBING

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: