Pemimpin Indonesia Mestinya Berusia 35 – 45 Tahun

Iwan Fals adalah denting gitar yang menyerukan protes. Itu citra yang melekat pada dirinya sejak menekuni dunia musik pada akhir era 1970-an. Kadang ia terlihat rapi, kadang dengan misai amburadul. Konser-konsernya pernah membuat penguasa Orde Baru tak nyenyak tidur sehingga pernah pada suatu masa ia tak bisa menggelar konser sama sekali. Semua itu hanya berakibat satu hal: penggemarnya terus bertambah. Album-albumnya laris seperti kacang goreng.

Majalah Time pernah menjulukinya Asian Hero. Sebagai superstar, lelaki kelahiran Jakarta 47 tahun silam ini hanya berbagi dengan sedikit nama, seperti Rhoma Irama atau, yang lebih muda, grup musik Slank. Tak seperti Rhoma yang sempat mencebur ke dunia politik praktis, Iwan tetap menjaga jarak. “Sejak zaman tiga partai (Orde Baru) saya dilamar terus,” katanya.

Bagaimana pendapatnya tentang kegandrungan kalangan artis memasuki dunia politik menjelang Pemilu 2009? Apa saja kegelisahannya sekarang? Dan mengapa ia emoh membuat lagu-lagu yang disebut kalangan industrialis rekaman sebagai “lagu religius” yang justru sedang laku di masyarakat sekarang?

Kepada tim wartawan Tempo yang mewawancarai di rumahnya yang asri di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada pekan kedua Ramadan, Iwan yang ditemani istrinya, Rosana, memaparkan sejumlah hal.

Kini semakin banyak selebritas yang masuk dunia politik. Bagaimana Anda melihat ini?

Sekarang saja saya sudah ngomong politik, ngapain lagi mesti terjun? Buat musik saja sudah sibuk saya. Saya pikir sibuk betul kalau ada di partai. Mesti “perang” di dalam, kemudian dengan partai lain. Sebelum semua itu, perang lebih dulu dengan diri sendiri.

Tapi banyak para artis yang mencebur ke dunia politik itu jauh lebih junior dari Anda?

Iya, mungkin mereka mampu, dan lebih bisa total dengan seninya. Ada teman saya sesama artis yang bilang, politik juga seni tuh, tapi saya nggak tertarik.

Yang melamar Anda untuk masuk partai masih banyak?

Sejak zaman tiga partai saya dilamar terus. Satu ketika bahkan pernah di Kalimantan sama Golkar, di Sumatera sama PPP, di Jakarta sama PDI. Saya juga didatangi orang dari sebuah partai di rumah saya untuk minta kaus. Saya bilang, “Bagaimana sih minta kaus ke gue?” (tertawa). Ada lagi yang nyerempet-nyerempet sedikit, nama saya dijual. Ya, alhamdulillah juga, nama saya masih bisa dijual. Berkah buat dia, buat saya juga (tertawa).

Kalau ada yang mendukung Anda jadi calon independen presiden, bagaimana?

Saya tetap nggak berniat. Memangnya (menjadi) presiden itu segala-galanya? Seorang bidan yang baik tidak perlu membuat si ibu tahu bahwa dia ditolong oleh bidan itu. Saya menghayati itu. Kalau mau lahir, lahirlah. Kalau mau jadi presiden, sudah dari dulu saya jadi presiden (tertawa kecil).

Dari 40 partai tak ada yang menarik?

Seru juga melihatnya. Soetrisno Bachir dengan slogannya, Prabowo tidak bilang dia maju sebagai presiden, tapi dengan HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) dia langsung menusuk jantung rakyat (petani). Terus Wiranto dengan Hati Nurani Rakyat. Kalau semua ini betul, wah benar-benar tertolong rakyat. Artinya saya tidak bisa bilang ini jelek. Belum lagi partai-partai lain, bagus betul. Saya pikir, seharusnya tidak perlu banyak-banyak begitu. Lima partai saja, seperti Pancasila. Pancasila itu kan tengah-tengah, gabungan sosialis dan kapitalis. Kalau ini jadi kesepakatan, ya tinggal dipecah saja, ada partai ketuhanan dan sebagainya. Ya kalau ada yang anti-Tuhan, tinggal bikin jadi enam. Paling nggak ada tujuh. Atau, ada yang waria, itu kan perlu juga (diakomodasi), bikin juga jadi delapan. Semua bekerja untuk ketuhanan, kemanusiaan. Jadi, nggak banyak tenaga terbuang.

Lewat mana dong aspirasi politik Anda kalau emoh dengan partai politik?

Lewat wawancara seperti ini kan bisa. Lewat media massa. Fungsi media itu kan hiburan, informasi, kritik, pendidikan. Ini kekuatan keempat. Lebih enak justru saya, jadi presiden abadi (tertawa).

Kalau pemilu itu Anda sebetulnya nyoblos atau nggak sih?

Saya selalu ikut pemilu, karena nggak enak dengan Ketua RT saya. Namanya juga tetangga, nanti terkucil dari pergaulan. Dan karena (memilih) itu, saya punya kesempatan untuk merahasiakan kan?

Pada 2004, Anda pernah bilang pemimpin Indonesia itu mesti yang “setengah dewa”. Sekarang masih dengan kriteria itu?

Masih. Cuma persyaratannya ditambah dengan: usia mesti 35-45 tahun. Jangan lebih. Ini serius. Seorang sarjana itu lulus pada umur berapa sih, segoblok-gobloknya 25 tahun kan? Masak, nggak cukup pengalaman 10 tahun untuk menjadi pemimpin? Nah, yang umurnya 46 tahun ke atas itu jadi anggota DPR saja, untuk mengawasi (sang presiden) yang berumur 35-45 tahun itu. Yang lebih tua lagi menjadi sesepuh. Masih disegani dan dihormati kok.

Mengapa yang tua harus minggir?

Seumur saya saja sudah asam urat, apalagi yang umur 50 tahun atau lebih? Kalau yang muda masih harus menunggu (sampai) 2014, itu terlalu lama. Sayangnya, memang, budaya kita ini ewuh pekewuh. Jadi, orang tua maunya maju terus. Kebetulan lagi orang tuanya juga kurang tahu diri (tertawa).

Kok, tiba-tiba jadi bintang iklan sepeda motor. Apa karena lelah memperhatikan dunia politik?

TVS (merek sepeda motor yang diiklankan Iwan) mengatakan tertarik dengan pendidikan, lingkungan hidup, dan bencana alam. Investasi mereka lumayan, kalau tidak salah US$ 50 juta, kemudian jadi US$ 100 juta. Cukup menampung tenaga kerja yang banyak. Mereka punya pabrik seluas 20 hektare, bangunan yang sehat. Saya diundang melihat bangunannya, dealer-dealer-nya. Mereka tidak akan buka sebelum ada suku cadang. Saya lihat, booming industri sepeda motor ini. Berarti ada perputaran kegiatan manusia yang lebih cepat, proses ekonomi, hubungan antarmanusia. Kebetulan saya juga senang sepeda motor, tidak pintar-pintar amat sih. Yang pasti, mereka bisa menarik tenaga kerja lokal, paling tidak, 100 ribu orang. Ini lumayan bagi Indonesia yang memiliki persoalan tenaga kerja. Kemudian, siapa tahu, dengan kerja sama ini ide manajemen saya dan mereka ketemu. Paling tidak, kami tidak perlu capek-capek cari sponsor lagi.

Bukankah selama ini banyak juga perusahaan yang ingin menggaet Anda sebagai bintang iklan mereka. Mengapa perusahaan sepeda motor yang dipilih?

Desember lalu saya bikin pertunjukan bertema “Ini Bukan Mimpi”, tentang global warming. Mereka sponsori kami. Saya bingung, kok perusahaan motor? Kan (produknya) mengeluarkan karbon dioksida? Mereka bilang, “Oh nggak, standar kami sudah jauh lebih aman. Bahkan kalau Mas Iwan melihat pabrik kami di India, burung-burung tidak diundang, datang sendiri.” Saya memang belum ke sana untuk melihat benar-tidaknya, tapi kalau burung-burung datang, berarti (lingkungannya) baik.

Anda pernah bilang tak mau pakai sponsor di setiap pertunjukan. Ini sebuah perubahan sikap?

Perlu saya luruskan, saya tidak pernah menolak orang lain karena saya tidak mungkin menolak orang lain. Saya cuma ingin panggung saya bersih. Gedung mau diberi umbul-umbul, silakan, tapi setelah sekian meter jaraknya dari panggung. Nah, ini diterjemahkan Iwan tak mau terima sponsor. Orang memang malas mencari detail (penjelasan) seperti ini ya. Nah, TVS ini bersedia membuat panggung saya bersih.

Memangnya sudah mau konser besar lagi?

Saya latihan rutin Senin, Selasa, Kamis, tapi dari sekian lagu yang sudah dibuat, mana yang perlu dikeluarkan, itu merupakan persoalan yang lebih sulit dari sekadar bikin lagu. Kalau bikin lagu sih tiap hari bisa, tapi apa yang penting nih di situasi sekarang ini? Perlu pemikiran. Ada 40 partai politik, ekonomi rakyat semrawut, ada pemanasan global. Saya baca di koran ada bapak yang menusuk anaknya, lalu istrinya, lalu dirinya sendiri. Karena nggak mati, dia gantung diri. Lalu ada berebutan zakat sampai tewas. Kalau sudah begini, album seperti apa yang mesti saya keluarkan?

Dari sekian masalah itu, isu mana yang perlu diutamakan?

Di tingkat dunia, PBB mesti serius memperhatikan alam. Buat Indonesia, kalau memang sudah sepakat dengan 40 partai itu, ya seriuslah memilih, supaya tidak tertipu.

Maksud serius memilih itu bagaimana?

Jangan terlibat politik duit. Cuma Rp 50 ribu tapi bisa membeli suara. Saya nggak setuju dengan yang terima uangnya, sekaligus juga jangan coblos partainya karena mengajarkan yang nggak benar.

Sekarang juga sedang ada kegandrungan musisi kita membuat lagu-lagu rohani, yang juga digemari masyarakat. Kelihatannya Anda tidak tertarik ya?

Memang nggak pernah terpikir oleh saya. Setiap lagu saya sejak tahun 1980-an itu sudah kental nuansa rohaninya. Sehingga sampai sekarang saya bisa yakin dengan pilihan hidup musik sebagai jalan hidup. Saya nggak mau nyebrang ke yang lain.

Anda dikenal membuat lagu dari suara hati. Lagu-lagu Anda dulu betul-betul seperti di tengah masyarakat, sekarang posisi Anda di mana?

Ada teman yang bilang, lu mesti mewakili suara hati orang-orang yang tertindas. Saya tidak bisa menjanjikan itu–saya pun tertindas. Bagaimana mewakili orang lain (kalau) saya pun demikian? Dalam proses ini, saya tidak bisa setenang orang lain ketika melihat persoalan. Ya sudah, saya bawakan yang menjadi kegelisahan saya sajalah. Yang jelas, saya tidak suka orang ditindas, dan saya suka berkelahi (tertawa). Untuk tujuan seperti itu (berkelahi) tidak apa-apa. Tapi, tujuan jelas untuk mendapatkan kemurnian diri, seperti saat saya tahun 1970-an itu. Saya coba di album Manusia Setengah Dewa (2004) tapi belum berhasil juga. Kesastraannya masih belum sampai.

Mengapa ingin kembali ke masa itu?

Kalau tahun 1979 dulu, gairah hidup saya besar, walau sastranya kacau. Semacam pernyataan pribadi “Ini lho gue!” Serasa dunia milik gue. Sekarang ini kan banyak persoalan, penuh pertimbangan. Padahal, tanggung jawab seorang seniman justru menghilangkan pertimbangan-pertimbangan itu, memasuki dunia yang seliar-liarnya.

Gairah seperti apa? Bukankah segalanya sekarang sudah bergairah, musisi bikin band sukses, tema cinta, tak pusing memikirkan soal lain?

Gairah tidak harus cinta, gaya hidup mewah. Gairah menuju kuburan juga perlu. Kita semua akan ke situ juga. Nah saat kita hidup, yuk kita rawat hubungan kemanusiaan ini walaupun kita tak berkehendak dilahirkan. Kadang-kadang kita ini kan bosan melakoni hidup. Saya, misalnya, selama tiga puluh tahun dari pagi sampai ketemu pagi kena gitar lagi. Makan, tidur, buang air, gitar lagi, begitu terus. Dalam kondisi begini kita mesti terus hidup. Sementara itu, kita juga semakin membusuk. Maksud saya, kenapa orang bisa berjalan di atas api dengan gembira. Kenapa musisi atau wartawan nggak bisa? Bukan gairah dengan selingkuh atau hidup mewah. Bayangan saya, ketika main gitar, inilah kegembiraan saya. Inilah lautku, gunungku, masjidku. Bergembiralah dengan pilihan hidupmu. Saya dalam posisi ini, berharap seperti biksu, yang berjalan di atas api dengan senang, tenang. Dia tahu sedang berjalan di atas api, tapi dia lakukan itu dengan senang. Kalau dunia punya sikap seperti ini, selesai semua persoalan.

Jika melihat perjalanan Anda ke belakang, apa lagi yang masih Anda inginkan?

Latihan yang rutin. Latihan ini susah lho. Ini saja saya sudah kena asam urat (sambil memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya). Main gitar bagaimana nih? (tertawa). Tapi, masak, sih (saya) bisa diam melihat orang protes di televisi? Indonesia ini punya banyak orang pintar, tapi manajemen negara kok begini? Ketika SMP cita-cita saya ingin jadi tukang sayur. Punya mobil Colt, habis mengantar sayur ke pasar, saya main gitar genjreng-genjreng. Ternyata, syukurlah, ada rezeki, saya punya lahan. Ada kolam ikan, main gitar di sawung. Suasana ini yang saya rindukan. Heran juga saya, kenapa Indonesia nggak fokus ke pertanian ya sekarang?

Lalu apa lagi?

(Transportasi) kereta api juga diperkuat. Maksudnya, mal yang ada nggak perlu dihancurkan juga. Nah tentara, yang jagoan perang, sebaiknya menjaga orang yang punya perhatian membangun pertanian ini. Kalau lambung nggak beres juga nggak bisa menang perang, kan? Daripada sekarang, kesannya Super Toy (Super Toy HL2) hanya dijadikan sebagai alat politik.

Film Kantata Takwa yang sudah 18 tahun terbengkalai, kini akhirnya diputar untuk umum. Apakah ada rencana reuni band itu dalam waktu dekat?

Baru ngobrol-ngobrol sama Mas (Setiawan) Djody dan Yockie (Suryoprayogo), tapi belum dengan (Sawung) Jabo. Untuk menghadapi 2009, mungkin kami perlu mengeluarkan statement soal kebangsaan. Belum tahu kapan tepatnya, tapi kalau terjadi, saya mau latihan di Bengkel Teater Mas Willy (W.S. Rendra).

Seyakin apa Anda dengan kekuatan lagu?

Yakin sekali. Contohnya Indonesia Raya, Maju Tak Gentar. Saya hidup sampai sekarang, fans saya banyak tetapi ke mana pun saya pergi tidak perlu dikawal, nggak dikerubutin dibandingkan artis lain. Saya masih bebas, cenderung lebih bebas dibanding Ivan Gunawan, Mulan Jameela, Dhani Dewa. Alhamdulillah. Saya yakin, lagu bisa mengubah dunia. Saya yakin kebenaran pasti merembes (ke telinga pendengar). Bagaimana caranya saya nggak ngerti.

Anda seperti tak pernah tersentuh isu negatif. Perkawinan juga terlihat harmonis. Resepnya apa?

Ya, itu tadi, pembicaraan seperti ini. Dia (menunjuk istrinya, Rosana) juga pasti ada ketidaksetujuan tertentu selama kita bicara. Buat saya ketidaksetujuan itu menjadi kompos. Saya menghargai perbedaan. Alhamdulillah, nggak sampai bentak-bentakan, selain sudah capek juga sih. Kalau bentak-bentakan nanti kesehatan terganggu, entah migrain, pusing, vertigo (Rosana tersenyum). Justru karena ada itu, syukurlah. Ada tuntutan dari dia supaya saya lebih realistis.

Misalnya?

Contohnya, walau saya nggak suka pakai jins yang dia belikan ini, ya saya pakai juga (tertawa). Rambut saya juga dicat (hitam) lagi. “Lu itu barang jualan,” kata istri saya. Tapi ternyata kan numbuh lagi rambut putihnya (tertawa).

* * *

BIODATA

Nama lahir: Virgiawan Listanto 
Nama populer: Iwan Fals 
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 3 September 1961 
Tinggi/berat: 171 cm/75 kg 
Istri: Rosana 
Anak: 
1. Galang Rambu Anarki (meninggal pada April 1997) 
2. Annisa Cikal Rambu Bassae
3. Raya Rambu Rabbani

Pendidikan:
Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) 
Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (sekarang Institut Kesenian Jakarta) 

Album: 
Solo 20 buah, kelompok (grup) 12 buah, di album orang lain 5 buah 

Penghargaan:
(Beberapa di antaranya) 
1. Juara pertama Festival Country Music (1980)
2. Penyanyi pujaan BASF Award (1989)
3. Penyanyi solo terbaik kategori Country/Balada versi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award 1999 dan 2000
4. "Most Favorite Male Artist" <I>MTV Indonesia</I> (2003)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: