Terorisme Itu Nyata

Hari-hari ini, para terpidana mati pelaku aksi bom Bali I, Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas alias Ali Ghufron, menunggu detik-detik eksekusi. Publik internasional pun menanti momen ini sebagai suatu cermin pemantul sejauh mana hukum ditegakkan di republik ini, terutama dalam kasus-kasus yang “sensitif” seperti terorisme, yang dari perspektif yuridis dikategorikan sebagai “kejahatan luar biasa” (extraordinary crime).

Model hukuman berupa eksekusi mati memang debatable. Para pakar hukum dapat meniliknya dengan beragam sudut pandang, apalagi dari kacamata kaum moralis dan agamawan atau aktivis HAM yang pro vita (menolak hukuman mati demi nilai kehidupan). Namun, yang terpenting, apakah — dan bagaimana — terorisme dapat diredam, bahkan dipupus tuntas.

Pascatragedi 911 yang meluluhlantakkan gedung kembar WTC, simbol supremasi ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2001, terorisme tidak lagi dipandang sebagai ancaman terhadap masyarakat AS melainkan serangan terhadap kemanusiaan dan peradaban umumnya. Kurang-lebih seperti itu pulalah bangsa-bangsa lain di dunia niscaya memandang tragedi bom Bali dan aksi-aksi teror lainnya dengan optik serupa.

Aksi-aksi peledakan bom dan isu-isu teror yang marak itu menggambarkan dengan kuat betapa terorisme sungguh merupakan ancaman riil. Sinyalemen “teroris sudah berada di depan mata kita dan hadir di tengah kita” tidaklah bersifat hiperbolis dan metaforis semata, melainkan amat realistis karena jaringan terorisme de facto terus menggurita serta mengembangbiakkan tindak kekerasan di tengah kita.

Dalam perspektif regional dan nasional, rangkaian aksi teror di Tanah Air, beberapa tahun lalu, sempat menggambarkan bahwa jaringan teroris di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) sudah sangat terorganisasi secara rapi, solid, dan kuat. Setelah Satgas Bom Bareskrim dan Densus 88/Antiteror Mabes Polri berhasil menyingkapkan jaringan teroris di balik kasus bom Bali, rangkaian aksi teror lainnya di wilayah Indonesia seakan menyuratkan “cara bertindak” para teroris untuk memperlihatkan sinyal kehadiran dan soliditas jaringannya.

Sangat keliru jika terorisme dibedah dan dipahami dari satu sudut pandang atau disiplin ilmu tertentu saja. Sama naifnya jika menganggap terorisme hanya merupakan “kerjaan” polisi semata. Oleh karena penyebabnya bersifat multi-faktor dalam belitan tali-temali persoalan yang harus diurai secara multi-aspek, maka penanggulangan dan penanganan terorisme tidak hanya dapat secara simplistis ditimpakan pada satu institusi saja.

Dengan demikian, dapat dipahami jika definisi tentang terorisme pun beraneka. Pentagon mengartikan terorisme sebagai kekerasan yang diperhitungkan untuk menimbulkan rasa takut atau untuk mengintimidasi pemerintah atau masyarakat untuk mencapai tujuan yang bersifat politis, religius, atau ideologis.

Sosiolog Thomas O’Connor dalam tulisannya A Neofunctional Model of Crime and Crime Control (1994) memakai framework neofungsionalis untuk mengupas terorisme yang berdampak amat luas bagi keseluruhan proses evolusi suatu masyarakat. Ada masyarakat yang menjadi tambah rapuh atau kian melempem mentalitasnya setelah mengalami dampak terorisme, tetapi ada juga komunitas yang malah menjadi teguh dan solid.

Para teroris hampir selalu bekerja sebagai kelompok gerakan bawah tanah yang sulit dilacak. Oleh karena itu, para psikolog tidak mempunyai data memadai tentang status psikologis mereka. Namun, kombinasi studi psikologis dan sosiologis, serta kriminologi tentang aksi teroris yang dilakukan sejumlah pakar (Russel and Miller 1977; Bell 1982; Galvin 1983; Strentz 1988; Hudson 1999), diperoleh suatu titik peluang untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya para teroris itu.

Ada pula teori bahwa terorisme, termasuk yang dihayati oleh kelompok fundamentalis agama, sesungguhnya juga merupakan produk ideologi. Fanatisme, fundamentalisme, dan radikalisme merupakan ladang subur bagi berkecambahnya benih-benih terorisme, setidaknya kekerasan religius. Namun, perlu dicatat, terorisme religius tidak boleh dilabelkan hanya pada agama tertentu, karena benih terorisme hidup di semua agama, budaya, dan etnis.

Kapitalisme pun dipandang sebagai “pembuka pintu” bagi berkembangnya terorisme. Kaum kapitalis justru menciptakan iklim dan peluang bagi aksi-aksi terror. Apalagi, menurut Nassar (2004), yang melakukan studi khusus tentang terorisme dikaitkan dengan globalisasi, pelaku teror bukanlah orang yang dilahirkan atau dibesarkan dengan kondisi khusus untuk itu. Para teroris terdorong untuk melakukan aksi teror karena tekanan hidup dan beban ketidakadilan sosial yang terlampau berat mengimpit.

Solusi Kontekstual

Jika demikian, apakah dapat ditemukan formula ampuh untuk melenyapkan terorisme? Tentu saja tidak. Seperti jenis kejahatan apapun, penyebab dan pemicu terorisme sangat kompleks, sehingga menihilkannya ke titik nol sama muskilnya dengan mengenyahkan segala jenis kejahatan dari muka bumi ini. Namun, setidaknya kita dapat menginventarisasi langkah-langkah yang mungkin efektif untuk meminimalkan potensi dan dampak terorisme.

Sebelum menawarkan solusi jangka pendek dan jangka panjang, perlu dipahami dua hal ini. Pertama, terorisme tidak mungkin bergerak tanpa uang. Hanya dengan sumber dana yang kuat barulah terorisme bisa hidup dan beraksi. Biasanya sumber daya finansial bagi teroris berasal dari perdagangan narkoba, money laundering, prostitusi, perjudian, perampokan bank, serta sumber uang haram lainnya.

Kedua, terorisme lebih subur tumbuh di negara atau kawasan yang lemah identitasnya (terutama secara ekonomi), rapuh dignity-nya, dan rendah tingkat kemakmurannya. Kalau suatu negara semakin maju dan kuat, alertness dan kesadaran bela negaranya niscaya tinggi, sehingga potensi terorisme kian menipis.

Selain itu, semakin demokratis dan adil penyelenggara/pemerintah suatu negara, semakin kecil pula ruang bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan (marginalized groups) yang berpotensi melakukan human terrorism. Secara teoretis dan empiris, teroris global masuk ke Asia Tenggara dan berkembang menjadi state terrorism (misalnya oleh negara adikuasa atau negara kuat lainnya) yang memancing reaksi perlawanan kelompok-kelompok marjinal dengan aksi-aksi human terrorism.

Formula solusi adalah sebagai berikut. Berupaya keras mengatasi perdagangan narkoba, pencucian uang, dan sebagainya yang merupakan mesin uang terorisme. Harus dibangun kerja sama internasional (misalnya antarlembaga intelijen, kepolisian, dan seterusnya). Mungkin perlu dibentuk Badan Antiteror Nasional yang langsung di bawah kendali presiden. Lembaga ini bersifat lintas-institusi dengan domain otoritas yang kuat untuk merancang, mengkoordinasi, melaksanakan langkah-langkah preventif maupun koersif-represif terhadap terorisme. Sementara itu harus ditingkatkan alertness seluruh warga bangsa dan antar-bangsa karena teroris bergerak dalam “senyap”, sehingga sulit terdeteksi lebih awal jika kewaspadaan rendah.

Secara taktis, tim antiteror dan seluruh masyarakat perlu hati-hati terhadap “upaya pengelabuan” (deception move) teroris. Misalnya, dengan “sengaja” mereka membiarkan suatu elemen teroris “kacangan” ditangkap, sehingga petugas dan warga lega dan lengah.

Last but not least, negara harus mengakomodasi kepentingan dan kebutuhan sebagian besar masyarakat guna menghindarkan terlalu banyak kelompok marjinal yang rawan (menjadi) teroris. Ada pakar yang menawarkan “harapan” (hope) sebagai “obat” untuk menenangkan kaum marjinal agar tidak melancarkan human terrorism (yang biasanya diredam dengan state terrorism). Namun, langkah yang lebih fundamental meski butuh waktu panjang adalah mewujudkan kehidupan rakyat yang sejahtera dan berkeadilan sosial. Dalam tatanan masyarakat seperti inilah, benih terorisme dapat mati sendiri tanpa dimatikan.

Valens Daki-Soo, pengamat masalah keamanan, melakukan studi khusus tentang terorisme.

2 Comments

  1. teroris tidak akan ada apabila,negara penguasa tidak merendahkan umat islam.
    karena didalam negara penguasa itu islam dianggap sebagai musuh besar!!!!!!!!!!!

  2. Dalam hal ini pemerintah dan Masyarakat harus lebih peka terhadap islam. pemerintah hendaknya peduli terhadap syi’ar-syi’ar islam, supaya keamanan terus terjaga. teroris tidak ada kaitannya dengan islam. islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan. apabila setiap insan dapat menjaga diri dan keluarganya masing-masing dalam hal menaati perintah Allah, sosial dan ekonomi insyaallah tidak ada yang namanya kekerasan.
    bagaimana menurut kamu mengenai eksekusi Amrozi?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: