ARV dan Hak Hidup Pengidap HIV

Obat ARV (antiretroviral drug) adalah terapi yang amat dibutuhkan oleh pasien dengan HIV positif. Ironisnya, sekarang, beberapa rumah sakit yang menangani pasien dengan HIV positif justru kelangkaan ARV. Padahal, obat tersebut berhubungan dengan rencana global penanganan epidemi HIV/AIDS di dunia serta pencegahan penyebaran HIV di setiap negara.

Menurut WHO, sekarang, sebanyak 33 juta orang hidup dengan HIV positif, di antaranya 30 juta berada di negara berkembang. Di Indonesia, menurut laporan UNAIDS (2008), diestimasikan jumlah orang dengan HIV positif mencapai 270.000, anak-anak dan dewasa, meski pengumuman resmi Departemen Kesehatan baru mencatat angka kurang dari 15.000 orang pada 2006.

Penggunaan ARV berhubungan dengan penurunan laju penemuan pengidap baru. Sebagaimana dilansir oleh ScienceDaily (1 Juli 2008), studi di Taiwan menemukan bahwa penurunan 53 persen pengidap HIV terjadi setelah diberikannya akses pengobatan ARV kepada masyarakat.

ScienceDaily juga menuliskan dalam laporannya pada 22 Oktober 2008 bahwa hal yang sebaliknya terjadi, berupa kegagalan implementasi pengobatan di Afrika Selatan selama 2000-2005.

Pada periode tersebut, dilaporkan 330.000 orang meninggal karena HIV/AIDS. Masih pada periode yang sama, 35.000 bayi dilahirkan dengan HIV akibat tidak digunakannya obat ARV untuk mencegah penularan dari ibu kepada bayinya.

Secara keseluruhan, memang hanya sekitar 31 persen dari seluruh pengidap HIV di dunia yang dapat memperoleh akses pengobatan ARV. Dibandingan dengan laki-laki, lebih banyak perempuan yang memperoleh ARV.

Di Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 13.000 orang yang bisa mengakses obat tersebut secara gratis. Dana pemerintah hanya bisa menjangkau jumlah tersebut.

Konspirasi

Pertanyaan penting untuk dijawab adalah mengapa terjadi kesenjangan antara yang seharusnya diberikan pengobatan dengan yang secara aktual menerima pengobatan?

Jawaban mudahnya adalah tingginya biaya membeli obat ARV. Setiap bulan seorang pengidap HIV positif harus merogoh kocek Rp. 6 juta untuk membeli obat paten ARV. Ini bukan jumlah yang sedikit kalau dikalikan dengan seluruh pengidap HIV positif. Sedangkan, untuk pembuatan obat generiknya, masih belum ada peluang. Subsidi untuk obat generik ARV masih besar, mencapai Rp. 500.000 per paket.

Lamanya perjalanan pengobatan yang bisa tahunan menyebabkan beban untuk mendapatkan pengobatan ARV menjadi persoalan pelik yang harus dipecahkan oleh pemerintah, terlebih pengidap yang harus menanggung sendiri biaya pengobatannya.

Salah satu isu aktual yang mempengaruhi pengadaan obat dunia, termasuk untuk pengidap HIV, adalah masih enggannya produsen obat untuk menyediakan akses obat ARV yang murah dan terjangkau oleh setiap negara.

Produsen obat yang menguasai pangsa pasar obat dunia masih mementingkan profit, sehingga subsidi yang mereka berikan untuk menjangkau lebih banyak lagi pengidap masih terlalu besar untuk bisa dijangkau oleh banyak negara.

Namun, perlu kita curigai bahwa dalam penyediaan obat ini terkesan adanya “permainan” antara produsen dan elite negara sebagai pengguna dan penyedia distribusi.

Beberapa informasi menyebutkan adanya perjanjian di bawah tangan di antara kedua pihak tersebut supaya negara yang berkepentingan dengan pengobatan ARV mengalokasikan dana yang terlalu kecil untuk biaya pengobatan, sehingga harga obat juga tidak akan diturunkan oleh produsennya.

Strategi itu biasanya dilakukan di negara berkembang, di mana tingkat kolusi dan korupsi masih tinggi, sehingga kegiatan terselubung para elite negara bisa dibiayai oleh para produsen obat tersebut.

Bagi negara maju, pembelian ARV memang tidak terlalu bermasalah karena negara-negara tersebut memiliki investasi pada pabrik obat besar dunia dan mampu membelinya, baik menggunakan subsidi maupun “senjata” berupa jasa pada perusahaan obat tertentu.

Dari sini kita melihat bahwa ada ketimpangan dalam penanganan masalah pandemi HIV/AIDS, meskipun berulangkali disampaikan bahwa HIV/AIDS adalah masalah global.

Negara-negara maju cenderung telah berhasil mengerem laju penularan HIV, karena mereka bisa melokalisasi masalah secara permanen pada negara-negara berkembang, dengan cara “mengatur” laju produksi pengobatan.

Lagi pula mereka aktif mencari peluang pengembangan pengobatan yang jika berhasil kelak akan dijual kembali kepada negara-negara berkembang yang masih berkutat pada masalah anggaran.

Kesulitan

Di negara dengan keterbatasan anggaran, apalagi dengan resesi ekonomi yang melanda dunia, pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan, pastilah kesulitan memperoleh anggaran untuk dipakai sebagai subsidi pengadaan obat ARV. Dalam situasi iklim ekonomi masih lumayan saja hanya sekitar 5 persen mereka yang HIV positif bisa dijangkau pengobatan.

Ada kesan berkurangnya persediaan obat menjadi tanda-tanda akan dicabutnya subsidi obat ARV, yang selama ini ditanggung pemerintah. Dengan menggunakan strategi kelangkaan, mau tidak mau hanya mereka yang mampu yang akan meneruskan pengobatan. Sedang yang tidak mampu akan berhenti mengonsumsi ARV.

Pemerintah bisa saja berusaha secara diam-diam membebaskan diri dari beban ini. Akan ada ruang bagi penggunaan anggaran untuk sektor atau kebutuhan lainnya. Tetapi, di masa depan, beban negara atas meledaknya kasus HIV/AIDS akan lebih besar, baik atas berkurangnya produktivitas mereka maupun dampak sosial ekonomi.

Mereka yang mengidap HIV positif adalah manusia yang juga memperoleh hak untuk hidup dan bertahan hidup sebagaimana manusia lainnya. Mereka jangan sampai dihakimi untuk kedua kalinya karena mengidap HIV positif. Mereka sudah cukup menderita stigma di masyarakat.

Membiarkan mereka berada dalam kesulitan mendapatkan pengobatan yang terjangkau sama saja dengan membiarkan mereka meninggal secara perlahan-lahan. Kalau pemerintah sampai menggunakan cara pembiaran seperti ini bahkan berkonspirasi dengan produsen obat maka pelanggaran hak asasi manusia semakin lengkap. Bagaimanapun adalah tugas pemerintah memenuhi kewajiban ini sebaik dan secepat mungkin

Fotarisman Zaluchu adalah mahasiswa pada Nuffield Centre for International Health and Development, University of Leeds, Leeds, UK

1 Comment

  1. Dear dokter

    Ingin bertanya, kenapa belum ada pemberitaan resmi dari Depkes bahwa manfaat VCO sungguh luar biasa, mampu mengobati penyakit yang tidak ada obatnya menurut kedokteran, contoh :

    – sakit gula atau diabetes melitus
    – sirosis hati atau kanker hati
    – HIV AIDS

    dll.

    VCO atau virgin coconut oil mudah diperoleh dimana saja dikota2 besar di Indonesia, harnya pun terjangkau. Cukup dengan 2-3x sehari 2-3 sendok makan, anda sudah terbebas dari berbagai penyakit yang tiada obatnya.

    Mohon, mbok ya depkes dari pada me riset obat2 an yang mahal dari amerika sana, kenapa tidak mengembangkan potensi nasional negara kita ini, yang bisa menambah devisa kita.

    Tks. Dan salam hangat.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Patti Smith akan bernyanyi untuk antar Hadiah Nobel bagi Bob Dylan
      Saat pidato penerima Hadiah Nobel Sastra Bob Dylan dibacakan, rekannya sesama penyanyi sekaligus penulis lagu Patti Smith akan menyanyikan salah satu lagu terbaiknya pada selebrasi Hadiah Nobel di Stockholm nanti.Smith akan ...
    • YLBHI ramalkan jaksa akan sulit buktikan kesalahan Ahok
      Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani melihat banyak kejanggalan dalam pengusutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, bahkan Jaksa diyakininya akan sulit ...
    • Malaria sudah ada di zaman kekaisaran Romawi
      Para peneliti mengungkapkan analisis DNA gigi berusia 2.000 tahun yang digali dari satu kuburan di Italia menunjukkan bukti kuat bahwa malaria sudah ada selama Kekaisaran Romawi.Temuan itu berdasarkan pada DNA mitokondria - ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: