Laskar (Jihad) Pelangi

Seorang kawan korban tindak kekerasan peristiwa Monas beberapa waktu lalu bertanya pada Edu. “Edu, dari perspektif pendidikan, adakah hubungan antara peristiwa kekerasan di Monas dan gaya mengajar (teaching style) seorang guru?” “Wah, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab secara sederhana, tetapi dapat dijelaskan secara teoritis berdasarkan gaya mengajar seorang guru,” kata Edu kemudian. Guru, lanjut Edu, sebagaimana orang tua, adalah orang yang paling mungkin memengaruhi jalan pikiran dan perilaku seorang murid karena mereka mempunyai daya pikat tersendiri ketika mengajar.

Dari perspektif psikologi pendidikan, paling tidak ada empat tipe pendekatan pola asuh dan pola mengajar yang umum diketahui, yaitu lalai (negligent), otoritatif (authoritative), terlalu berhati-hati (indulgent), dan otoriter (authoritarian). Jika digabung dengan unsur kehangatan (warmth) dan kontrol (control) seorang guru, keempat kecenderungan tipe mengajar tersebut dapat diidentifikasi secara mudah pada setiap guru. Contohnya, jika seorang guru tidak memiliki kehangatan dan kontrol terhadap siswanya, dapat dipastikan guru tersebut adalah seorang yang lalai (negligent).

Akibatnya, seorang murid menjadi nakal, tidak patuh, cepat frustrasi, dan tak dapat mengendalikan diri. Sebaliknya, jika seorang guru memiliki kehangatan sekaligus kontrol yang kuat dan baik terhadap anak didiknya, guru tersebut bersifat otoritatif sehingga efek terhadap siswanya juga positif. Anak akan memiliki kecenderungan untuk selalu percaya diri, mampu mengendalikan diri, selalu gembira, mampu bekerja sama, dan bersahabat dengan setiap orang.

Jika seorang guru memiliki kehangatan, tetapi tidak dapat mengontrol siswanya dengan baik, guru tersebut dapat dikategorikan guru yang terlalu berhati-hati (indulgent). Akibatnya, siswa mudah memiliki kecenderungan agresif dan impulsif, tidak dewasa, kurang perhatian, dan tidak patuh. Tipe keempat adalah tipe guru otoriter. Ia memiliki kontrol yang kuat terhadap siswa-siswanya, tetapi tidak memiliki kehangatan dalam berinteraksi dengan muridnya. Akibatnya, anak-anak akan memiliki kecenderungan mudah marah, tidak stabil, cemas, gelisah, khawatir, tidak merasa aman sekaligus agresif.

Pertanyaannya kemudian, mungkinkah para laskar jihad yang melakukan tindak kekerasan di Monas tersebut, ketika bersekolah dulu, diajar guru yang paling tidak mempunyai karakter otoriter dan indulgent? Sangat mungkin itu terjadi. Masalahnya adalah sulit untuk membuktikan secara satu-persatu di mana para anggota laskar jihad itu dulu bersekolah. Bisa jadi mereka bersekolah di lingkungan yang kurang kondusif, miskin fasilitas dan sarana belajar, serta guru-guru yang tertekan secara emosional sehingga tak dapat mengerahkan kemampuan terbaik mereka karena tingkat pendidikan dan gaji yang kurang sehingga mereka tertekan seperti kebanyakan situasi umum sistem pendidikan kita.

Pertanyaan selanjutnya adalah adakah contoh tipe guru yang otoritatif dan penuh keikhlasan dalam mengajar mampu menciptakan anak didik yang berhasil secara emosional dan material? Menurut Edu, sangat banyak tipe guru seperti itu, salah satunya adalah sosok Harfan Efendy Noor dan Muslimah Hafsari atau Bu Mus yang digambarkan secara kasatmata oleh Andrea Hirata dalam buku Laskar Pelangi. Bagi Andrea, kedua sosok gurunya itu selalu tampak berbahagia ketika mengajar, pandai bercerita, tegas, dan berwibawa. “Mereka adalah kesatria tanpa pamrih, pangeran keikhlasan, dan sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan. Sumbangan mereka laksana manfaat yang diberikan pohon filicium yang menaungi atap kelas… dan memberi napas kehidupan bagi ribuan organisme dan menjadi tonggak penting mata rantai ekosistem.”

Terhadap peristiwa Monas, Edu hanya dapat mengelus dada, prihatin dengan kondisi kekerasan yang kian marak di Indonesia. Terlepas dari adanya pertentangan ideologis dan etnis yang pasti kelirunya, semua pihak termasuk pemerintah jelas harus memperbaiki kondisi pendidikan kita, agar masyarakat menjadi cerdas dan tak mudah termakan isu. “Whenever the people are well-informed, they can be trusted with their own government,” sebuah imbauan bijak Thomas Jefferson yang patut dianut pemerintah kita.

Achmad Baedowi, Academic Director, Executive Director Sukma Foundation, Jakarta

Advertisements

1 Comment

  1. salam kenal semua …..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • IKM furnitur dan kerajinan siap sokong bisnis pariwisata dan hotel
      Industri kecil dan menengah (IKM) sektor furnitur dan kerajinan nasional siap memasok berbagai produk unggulan untuk memenuhi kebutuhan bisnis pariwisata dan perhotelan di Indonesia yang kian tumbuh. "Bahan baku dan desain ...
    • Anak Setya Novanto tak penuhi panggilan KPK
      Dwina Michaella, anak Ketua DPR Setya Novanto, hari ini tidak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam penyidikan kasus korupsi dalam proyek pengadaan KTP-elektronik ...
    • Prancis dan Polandia berusaha perbaiki hubungan
      Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Polandia Beata Szydlo berusaha memperbaiki hubungan antara kedua negara, Kamis (23/11), menyusul perselisihan mengenai berbagai isu mulai dari regulasi Uni Eropa hingga patung ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: