Mereka Bukan Syuhada

Ribuan orang menyambut keranda jenazah Amrozi, terpidana mati yang telah dieksekusi karena kasus Bom Bali I, di sebuah pekuburan di Lamongan dengan teriakan takbir, atau uluran tangan yang membopong keranda, atawa ekspresi tubuh yang bergetar. Peristiwa itu tentulah bisa disaksikan manusia sedunia melalui layar kaca atau video YouTube ruang mayantara. Mereka yang tak mengerti psikologi umat niscaya geleng-geleng kepala menyaksikan emosi massa yang tumpah dalam halaman takziah. Bagaimana bisa jenazah teroris menyihir ribuan orang untuk bertakziah dan menyambutnya bagai seorang tokoh agama, semacam Kiai Ahmad Sidiq dari Jember, yang memang layak dimuliakan.

Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra, trio pelaku Bom Bali I, wajarlah bila berpendapat bahwa tindakan mereka mengebom Sari Club di wilayah Kuta, Denpasar, yang menewaskan ratusan orang (termasuk muslim), sebagai tindakan jihad. Wajar jika mereka mengajukan alasan-alasan teologis untuk membenarkan tindakan mereka karena mereka membela diri di depan dakwaan melakukan tindakan pidana yang membuat mereka akan dieksekusi dengan tembakan mati. Namun, bagaimana dengan mereka yang tak tersangkut-paut dengan kepentingan itu, mengapa mereka membenarkan tindakan pembunuhan ratusan orang yang tak punya sangkut-paut dengan permusuhan dengan apa pun dan dengan siapa pun?

Memang, kerumunan ribuan orang yang melayat penguburan jenazah Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra tentu tidak dalam maqam (koordinat) sentimen keagamaan yang sama. Seperti kata Profesor Azyumardi Azra, mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, di televisi bahwa ribuan orang tersebut tak bisa disamaratakan sebagai pendukung Amrozi dan kawan-kawan secara ideologis. Di antara mereka mungkin ada yang sekadar memiliki kedekatan sebagai tetangga, teman, kenalan, atau sekadar tinggal dekat. Atau mungkin banyak yang terpiuh oleh berita-berita televisi tentang para pelaku Bom Bali I yang ditayangkan secara massif. Atau mungkin motif lain yang beragam.

Namun, harus diakui bahwa banyak di antara para pentakziah itu yang menyambut jenazah trio pelaku Bom Bali I layaknya martir suci yang tewas. Bahkan Ustad Abubakar Ba’asyir, mantan Amir Majelis Mujahidin Indonesia, sebuah kelompok Islam pendukung penerapan syariat sebagai ideologi, berani menyatakan bahwa kematian Amrozi dan kawan-kawan sebagai mati syahid. Mati syahid adalah prestasi positif bagi pejuang Islam yang wafat di medan perang. Sementara itu, Ustad Abu, seperti diketahui, pernah dikait-kaitkan sebagai bagian dari konspirasi terorisme di Indonesia.

Mata sebagian penduduk dunia niscaya menyaksikan peristiwa eksekusi trio pelaku Bom Bali I sebagai peristiwa penting karena para korban dari berbagai negara, sedangkan masalah terorisme berlatar radikalisme agama sedang menjadi sorotan dunia pascapenyerangan gedung kembar Word Trade Center, New York. Mata sebagian penduduk dunia tentu akan merasa lega setelah hukum positif berupa eksekusi mati terhadap trio pelaku Bom Bali I dilaksanakan. Terlepas dari keberatan sejumlah aktivis hak asasi manusia atas pelaksanaan hukuman mati, pesan kepada dunia telah disampaikan: terorisme tak mendapat tempat di Indonesia.

Adanya histeria pendukung Amrozi secara ideologis adalah sebuah pertanda. Pertama, sebagian muslim di Indonesia belum bisa membedakan antara sebuah tindakan dikategorikan pembunuhan dan bukan. Kedua, telah terjadi kerancuan logika dalam beragama karena domain teologi bertabrakan dengan domain sosial. Ketiga, di kalangan muslim muncul kecenderungan cara-cara Machevialistis (tujuan menghalalkan cara), padahal dalam ushulfiqih Islam diajarkan bahwa tujuan tak bisa menghalalkan segala cara.

Kerancuan dalam cara memandang tindakan peledakan Bom Bali I ini tentu menyisakan ancaman bagi dunia bahwa ternyata sebagian muslim masih menganut nilai-nilai yang berbahaya bagi pergaulan kemanusiaan. Kalangan ulama mestinya bertanggung jawab mengajarkan kepada umat Islam bahwa pengeboman di Bali itu merupakan tindakan terorisme dan tak bisa dikategorikan jihad karena dilakukan di Indonesia yang bukan wilayah perang.

Majelis Ulama Indonesia pada 2003 memang pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan terorisme. Dalam banyak kesempatan Kiai Ma’ruf Amin, Ketua Dewan Fatwa Majelis Ulama Indonesia menyatakan, karena Indonesia bukan wilayah perang, terorisme merupakan perbuatan haram. Fatwa itu jelas dan eksplisit. Toh, fatwa MUI ini tampaknya kalah populer dibanding pernyataan-pernyataan Imam Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra di televisi, seperti terbukti dengan banyaknya pelayat yang menyambut jenazah mereka dengan takbir.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah membentuk tim sosialisasi pemahaman jihad, yang salah satunya melibatkan cendekiawan Komaruddin Hidayat, yang sekarang menjabat Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta. Tim ini lama tidak terdengar programnya. Apakah masih aktif? Pemandangan histeria dalam upacara penguburan jenazah Amrozi dkk harus menjadi pengingat tim ini bahwa tugas mereka belum selesai. Masih diperlukan sosialisasi dan pendidikan yang panjang untuk mengembalikan cara berpikir sebagian umat yang salah, yang berjumlah mungkin ribuan orang.

Mereka yang berpendapat bahwa pengeboman yang dilakukan Amrozi dkk sebagai jihad perlu merenungkan komentar Khusnul Khotimah, korban Bom Bali I yang cacat seumur hidup. “Saya juga seorang muslim. Ketiganya (Amrozi dkk) salah menganggap bahwa perbuatan mereka jihad. Itu pembunuhan,” kata Khusnul di televisi. Mereka yang masih ngotot berkeyakinan bahwa perbuatan Amrozi dkk sebagai jihad mungkin perlu belajar menjadi korban pengeboman dulu untuk memahami arti jihad.

Kelik M. Nugroho (wartawan Tempo) – TempoInteraktif.com

8 Comments

  1. i love ISLAM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ALLAHUAKBAR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!3x

  2. ALLAHU AKBAR!!!!!

    Ya marilah kita sama-sama berjihad dan menjadi terroris demi menegakkan ISLAM.

  3. Bismillah ar rahman ar rahim…
    Heheheeh… banyak bener org islam yang masih nggak paham konsep JIHAD.
    Kalau nggak tahu konsep jihad, jangan asbun. Kesian diri ente2 pada nuduh Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra ( semoga ALLAH SWT meridhai mereka ) yang bukan-bukan. Lebih baik diam, dari pade ngomong tapi nggak ada dasar yang kuat.

    Saya sokong ente Hamba ALLAH…. Jangan kita gentar dengan cemo’ohan orang-orang yang nggak tahu konsep JIHAD. Kalau memang kita harus habisi nyawa mereka demi tegaknya Daulah Islamiah, kita habisi.

    Kalau sekirany perbuatan untuk menegakkan kaliimah LAA ILAHA ILLALLAH dicap TERORIS, saya siap dan bangga jadi TERORIS.

    ALLAHU AKBAR…!!!
    Wal Izzatul Islam wal muslimin wal mujahidin.

    Al faqir illallah
    Abu Jihad

  4. salam kenal… dan terimah kasih atas articlenya
    http://tradersukses.site90.net

  5. dasar bajingan tengik amrozi cs. kl mau jihad sana di palestina.

  6. Tidak banyak ingin aku nyatakan di sini bahwa kalian yang menentang Mujahidin itu akan dilaknat Allah Azza Wajalla. Apa kamu buta pada apa yang telah dilakukan oleh orang kafir, thaghut itu telah menzalimi umat Islam??? Apa tuli telinga kamu tentang kejian dan hinaan yang dilemparkan pada umat Islam ketika ini??? Apa bodoh kah kamu dengan menjadi yang pengecut lantas melontar kejian kepada Mujahid Islam??Nau’zubillah! Bukan kamu yang menentukan para Mujahid ini bukan syuhada…diri kamu itu perlu dilihat bahwa sudah cukupkah amalan jika dibandingkan dgn ketiga-tiga kekasih Allah ini? !!
    Sia- sia sahaja kamu hidup di bumi Allah sekiranya kamu menentang Mujahidin Islam yang tentunya mereka ini akhirnya menjadi kekasih Allah.

  7. Yth. sdr. Victor George Siahaya

    Terim kasih atas pemuatan artikel saya di blog Anda.
    Untuk menjaga etika bersama, mohon sumber pemuatan disebutkan juga untuk menjaga akurasi dan kredibilitas.

    Kelik M. Nugroho
    penulis artikel Mereka Bukan Syuhada

  8. Ini sebuah anomali …. Wajarkah jika yang salah dibenarkan ?? Jika tidak mengapa banyak orang (yang sudah teramat-sangat sadar bahwa Amrozi cs adalah terorisme) justru membela mereka ?? Dimanakah akal sehat mereka ?? Lalu bagaimana perasaan mereka melihat duka banyak orang yang kehilangan keluarganya, pekerjaan bahkan berujung pada munculnya isu Indonesia adalah sarang terorisme pada waktu terjadi peristiwa itu ?? Apa mereka masih bisa beranggapan demikian jika mereka berada pada posisi para korban ??
    Semua agama-apapun itu mengajarkan kita hidup rukun, saling mengasihi dan menghargai kepelbagaian… Kita ini bangsa yang plural yang menganut asas Bhineka Tunggal Ika.. Dengan demikian janganlah suka menilai sesuatu dari sebelah mata karena pemaknaannya menjadi sangat sempit dan kitapun akan menjadi orang yang kerdil. Jadi Amrozi cs adalah tersangka utama dan pantas jika dihukum seberat-beratnya, jangan malah dianggap sebagai pahlawan kesiangan ….
    Last but not least, jadilah anak-anak Maluku yang kritis..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: