Operasi Tanpa Batas Waktu

Penertiban Preman

Suasana sedikit berbeda terasa di kawasan pasar dan Terminal Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sepanjang pekan lalu. Kesan tertib lebih menonjol dibandingkan dengan pekan-pekan sebelumnya. Sejumlah lelaki dekil dengan tatapan liar, mungkin copet atau preman pemalak, tak tampak lagi berkeliaran. Tukang parkir pun lebih sopan dan ramah. Tak pula ada lagi cerita orang ditodong, dijambret, atau kecopetan.

Pada saat ini, kawasan itu boleh dibilang tertib atau bahkan aman. Setidaknya tak menyeramkan. Ini turut dirasakan para pedagang kaki lima dan sopir angkutan umum, yang cukup happy karena untuk sementara ini tak perlu membayar ”uang keamanan” kepada preman. Biasanya mereka membayar kutipan Rp 2.000-Rp 6.000 per hari sebanyak tiga kali: pagi, sore, dan malam.

Penumpang angkutan juga merasa lebih tenang. ”Beberapa hari ini, saya merasa lebih aman meski pulang malam,” ujar Yanto, warga Depok yang bekerja di Jakarta. Setiap hari, ia pergi-pulang kerja lewat terminal itu.

Suasana serupa terpancar di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Preman berkedok calo kendaraan sudah jarang beraksi. Kalaupun masih beraksi, mereka terkesan tak terlalu mencolok dan ngotot. Bila calon penumpang menampik tawarannya, si calo langsung berlalu. Pantauan Ahmad Alfajri dari Gatra, gelandangan dan pengemis, yang biasanya berkeliaran, telah dibersihkan pula dari terminal.

Perubahan cukup menggembirakan ini tak lain adalah dampak operasi penertiban yang digelar Mabes Polri sejak 2 November lalu. Operasi dengan sasaran memberantas kejahatan jalanan yang kian meresahkan masyarakat ini awalnya dilaksanakan secara gegap gempita di lima kepolisian daerah (polda) yang menjadi prioritas karena tingkat kejahatannya dianggap tinggi. Kelima polda itu adalah Metro Jaya, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera Utara.

Setiap hari –pagi, siang, dan malam– operasi tak henti digelar, menggaruk ratusan orang yang dicurigai. Mulai ”pak ogah”, bandar judi jalanan, pengamen, juru parkir liar, hingga pemalak. Tak ayal, setiap hari pula ruang tahanan dan ruang penyidik di sejumlah polda dan kepolisian resor yang agresif melakukan razia itu penuh sesak. Setelah diidentifikasi dan mendapat pengarahan, sebagian besar dari mereka dilepas karena tidak cukup bukti. Sebagian lainnya ditahan karena terindikasi kuat melakukan kejahatan.

Memasuki hari keempat saja, sebanyak 1.024 orang ditangkap, 172 di antaranya ditahan sebagai tersangka. Para preman yang ditahan itu tidak masuk dalam DPO (daftar pencarian orang). ”Inilah preman-preman yang selama ini mengganggu masyarakat,” kata Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Inspektur Jenderal Susno Duadji, yang memegang kendali operasi itu. Susno menegaskan, aparat yang menjadi beking preman juga akan disikat.

Tapi, sejauh ini, belum ada aparat polisi yang tergaruk razia tersebut. Mereka semuanya kalangan sipil. Para preman itu ditahan dengan berbagai tuduhan, seperti pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, penjambretan, dan pemerasan. Dari para tersangka, polisi menyita empat pucuk senjata api, 10 amunisi, 20 senjata tajam, dua sepeda motor, minuman keras, kapak, dan uang tunai Rp 1,67 juta yang diduga hasil kejahatan.

Dari hasil tangkapan tadi, porsi terbesar disumbang oleh jajaran Polda Metro Jaya yang menciduk 780 orang, 143 di antaranya ditahan. Susno mengatakan, wilayah Jakarta paling tinggi tingkat kejahatan jalanannya. Pantaslah aparat jajaran Polda Metro begitu gencar beraksi. Ratusan personel dikerahkan untuk mengobok-obok terminal, stasiun, dan berbagai kawasan yang ditengarai menjadi tempat aksi premanisme.

Memasuki hari keenam, aparat Polda Metro menambah jumlah tangkapannya menjadi 1.500 orang, 167 di antaranya ditahan. Kabid Humas Polda Metro, Komisaris Besar Zulkarnain, menjelaskan, agar operasi lancar dan tepat sasaran, pihaknya membuka hotline untuk masyarakat yang ingin melaporkan adanya aksi premanisme. ”Setiap laporan pasti ditindaklanjuti,” katanya.

Sejumlah polda lainnya, meski pada waktu itu belum masuk wilayah prirotas operasi, turut berpartisipasi. Polda Sumatera Selatan, misalnya, menggelar ”Operasi Sikat Musi”. Pada hari pertama saja, 6 November, langsung ditahan sembilan preman yang terjaring di sepanjang Jalan Sudirman. Mereka umumnya tukang palak dengan sasaran para sopir dan kondektur bus.

”Kami akan all out, tetapi tidak membabi buta. Di mana pun di wilayah Sumatera Selatan, preman tetap akan kami tindak,” kata Kapolda Sumatera Selatan, Inspektur Jenderal Ito Sumardi, kepada Gatra. Operasi ini mendapat dukungan dari Alex Noerdin, yang baru saja dilantik menjadi Gubernur Sumatera Selatan. Alex minta semua pihak tidak memelihara preman untuk dijadikan beking.

Polda Jawa Barat juga ambil bagian dengan terus menggelar penertiban rutin yang digariskan kapolda sebelumnya, Susno Duadji. Kapolda yang sekarang, Inspektur Jenderal Timur Pradopo, bertekad melanjutkan kebijakan itu. ”Penanganan kejahatan street crime mejadi prioritas pertama saya,” ujar Timur Pradopo.

Operasi serupa digelar di wilayah Polda Riau. Malah, menurut Kabid Humas Polda Riau, AKBP Zulkifli, akan ditertibkan pula preman yang berkedok wartawan. Modus preman model ini, kata Zulkifli, berlagak hendak melakukan wawancara tapi ujung-ujung minta duit, bahkan dengan memaksa dan mengancam. ”Itu sudah preman namanya,” kata Zulkifli kepada Luzi Diamanda dari Gatra.

Gencarnya operasi itu berdampak cukup nyata. Para preman yang biasanya petantang-petenteng kini tiarap. Ada yang ngumpet, banyak pula yang pulang kampung. ”Biasanya, kalau sudah aman, mereka muncul lagi,” tutur Oman, preman yang menjadi calo angkutan umum di Terminal Leuwipanjang, Bandung.

Bagong Suyanto, sosiolog dari Universitas Airlangga, Surabaya, menilai upaya Polri memberantas premanisme yang meresahkan masyarakat ini cukup bagus. Ia menyarankan, selain dengan pendekatan represif, juga dilakukan upaya persuasif, termasuk memanfaatkan tokoh preman yang sudah tobat, seperti Anton Medan. ”Mereka bisa digunakan setidaknya untuk memberi penyadaran kepada para preman agar tidak kembali menjadi preman,” ujarnya.

Bagong berharap, operasi polisi ini dapat dilakukan terus-menerus agar mencapai hasil yang optimal. Ia mencermati, sejumlah operasi serupa yang sudah dilakukan memang menekan premanisme, tapi hanya sesaat. Setelah operasi dihentikan, para preman yang tiarap tadi bermunculan lagi. ”Kalau mau berhasil, operasi itu tidak boleh berhenti. Polisi harus adu stamina dengan preman,” kata Bagong kepada wartawan Gatra M. Nur Cholish Zaein.

Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, cukup tanggap atas kondisi di lapangan. Memasuki hari kelima operasi, ia menginstruksikan agar operasi itu dilaksanakan di seluruh polda dengan waktu tidak terbatas dan akan dievaluasi tiga bulan sekali. ”Tak ada batasan (waktu). Tolok ukurnya, masyarakat merasa aman,” ujar Kapolri. Baguslah.

Taufik Alwie, Deni Muliya Barus, Noverta Salyadi (Palembang), dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung) – GATRA

1 Comment

  1. kalo gw liat banyaknya premanisme ini lebih karena kurangnya lapangan pekerjaan dan tingkat pendidikan si preman itu yang rendah… padahal si preman kan punya potensi misalnya jadi satpam di pabrik apa-gitu…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Belanja di Apple Store bisa lewat Apple Watch
      Pembaruan Apple Store kini membuat pengguna Apple Watch dapat membeli item langsung dari pergelangan tangan.Fitur baru tersebut dapat dinikmati setelah pembaruan versi 4.1 aplikasi tersebut, tapi, tidak semua katalog bisa ...
    • Wapres: bela negara bukan hanya saat perang
      Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan semua harus mempersiapkan diri untuk bela negara, bukan hanya pada saat terjadi perang. "Bela negara bukan hanya perang, tapi juga memajukan negeri ini dengan baik dan berkeadilan," ...
    • Polda Kepri benarkan pesawat Polri jatuh
      Polda Kepri membenarkan pesawat M-28 Sky Truck dengan nomor regristrasi B-4201 hilang kontak dan diketahui jatuh di perairan Kabupatan Lingga pada sisi selatan Provinsi Kepri. "Iya benar, pesawat sempat hilang kontak. ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: