Kesaksian Sjam

Ia duduk di kursi saksi di pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang mengadili Sekretaris Jenderal Partai Komunis Indonesia Sudisman, Juli 1967. Itulah untuk pertama kali ia, Sjam Kamaruzaman, muncul di depan publik. Sebelum Gerakan 30 September terjadi, Sjam lebih dikenal sebagai pengusaha, komisaris PT Suseno, perusahaan penjual genting di Pintu Air, Jakarta Pusat.

Setelah G30S gagal, selama satu setengah tahun ia bergerak di bawah tanah sebelum akhirnya ditangkap pada sebuah malam, Maret 1967, di Cimahi, Jawa Barat. Tak seorang pun di antara pengunjung yang hadir di pengadilan Sudisman pernah melihat Sjam sebelumnya. Hari itu ia seperti pesulap—datang tiba-tiba, entah dari mana.

Di pengadilan Sudisman, sudah beredar kabar bahwa seorang bernama Sjam memainkan peranan kunci dalam G30S. Pembela dan saksi-saksi dalam sidang Mahmilub sebelumnya telah pula menyebut bahwa Sjam adalah seorang sipil, bagian dari kelompok inti G30S yang bertemu di Halim, 1 Oktober 1965. Namun banyak yang berasumsi bahwa ”Sjam” adalah nama samaran dari petinggi PKI yang sudah dikenal luas. Soalnya, tak seorang pun petinggi PKI bernama Sjam. Tapi hari itu di ruang pengadilan ia muncul dan mengaku sebagai Sjam yang asli dan satu-satunya.

Para pengamat di pengadilan bertanya-tanya kesaksian apa yang akan diberikan Sjam. Akankah ia tutup mulut dan tetap misterius? Atau akankah ia menjelaskan perannya dalam G30S dan menerangkan hubungannya dengan PKI? Akankah ia menjelaskan hubungannya sebagai warga sipil dengan militer dalam merencanakan G30S?

Kesaksiannya sungguh mengejutkan. Ia mengaku ketua badan rahasia di dalam PKI yang bernama Biro Chusus dan bekerja di bawah komando Ketua PKI, D.N. Aidit. Sjam menekankan bahwa Biro Chusus adalah ”aparat ketua partai” dan sama sekali tak punya hubungan dengan Politbiro atau Comite Central PKI. Sebelum kesaksian Sjam itu tak seorang pun pernah mendengar soal Biro Chusus. Dalam propaganda militer sebelum Juli 1967, juga dalam koran dan sejumlah pernyataan di pengadilan G30S, saya tak pernah menemukan nama Biro Chusus disebut-sebut.

Sjam bicara panjang-lebar ketika hakim ketua memintanya menjelaskan tugas Biro Chusus. Ia menjelaskan bagaimana Biro Chusus berhubungan dengan aparat militer. Juga soal bagaimana ia mendapat informasi tentang perwira mana yang pro dan anti-PKI, meminta bantuan tentara dan membujuk sejumlah perwira untuk mendukung PKI. Perusahaan genting yang ia pimpin hanyalah alat untuk mencari uang buat Biro Chusus dan sarana untuk menyamarkan hubungannya dengan perwira-perwira militer.

Sjam juga mengklaim bahwa dialah orang yang mengorganisasi G30S, bukan Letnan Kolonel Untung. Dia menyatakan bahwa dia diperintah oleh Aidit—satu-satunya orang di dalam PKI yang berhubungan dengan dia—untuk mengantisipasi kup oleh Dewan Jenderal dengan memobilisasi perwira militer yang progresif dan pro-Soekarno. Menjelaskan kepemimpinannya ia berkata, ”Saya pegang pimpinan politiknya dan Saudara Untung pegang pimpinan militernya, tetapi pimpinan militer ini di bawah pimpinan politik.” Katanya lagi, ”Saya sebagai pimpinan bertanggung jawab atas segala kejadian yang ada.”

Beberapa pengamat di ruang sidang ragu atas kesaksian ini. Jika Sjam berada pada posisi yang begitu tinggi dan sensitif di dalam partai, ditunjuk dan dipercaya Aidit untuk memimpin operasi rahasia melawan militer, mengapa ia begitu saja membuka rahasia PKI? Untuk menjadi anggota PKI seseorang harus disumpah untuk menyimpan rahasia partai. Dengan posisinya itu, Sjam mestinya menghormati aturan itu lebih dari orang lain.

Jika ia adalah sosok penting dan rahasia dalam partai, mengapa ia tak bicara seperti Sudisman yang mengutuk diktator militer Soeharto seraya memuji-muji PKI? Kesaksian Sjam tidak mengindikasikan bahwa dia adalah pendukung partai yang loyal namun menyesali, seperti yang dilakukan Sudisman, bahwa G30S telah memberikan alasan bagi tentara untuk menghancurkan PKI. Tak sekalipun ia pernah menggunakan forum pengadilan untuk meminta maaf karena tindakannya telah memberikan dampak yang mengerikan pada anggota partai yang lain.

Pengamat yang skeptis seperti Benedict Anderson, yang hadir dalam persidangan Sudisman, curiga bahwa Sjam adalah agen tentara yang menyusup ke dalam PKI. Soalnya, kesaksian Sjam telah membenarkan sebagian dari propaganda tentara perihal kepemimpinan PKI dalam G30S. Sarjana Belanda W.F. Wertheim mencatat bahwa dalam berbagai pengadilan selama bertahun-tahun kemudian Sjam terus memberikan kesaksian yang memberatkan orang lain. Banyak tahanan politik yang percaya bahwa Sjam adalah intel tentara dan bukan anggota PKI.

Pada masa-masa awal penelitian saya tentang G30S, saya menganggap kesaksian Sjam tak bisa diandalkan karena hanya sedikit sumber yang membenarkan kesaksian tersebut. Tapi, belakangan, ketika saya bertemu dengan kalangan internal PKI yang bisa dipercaya, saya menyadari bahwa banyak klaim dalam kesaksian Sjam yang ternyata benar. Misalnya bahwa Biro Chusus benar-benar ada, beroperasi di bawah pengawasan Aidit secara pribadi (bukan di bawah Politbiro atau Comite Central), bahwa Sjam adalah ketua biro itu dan ia adalah pengorganisasi utama G30S.

Kesaksian Sjam yang tak akurat menurut saya adalah tentang peran Aidit dalam melaksanakan G30S. Sjam ingin menunjukkan bahwa ia hanya pelaksana Aidit. Ia tak ingin orang lain di PKI berpikir bahwa ia adalah elemen independen dalam partai. Walaupun mengaku bertanggung jawab penuh atas G30S, ia juga ingin menimpakan sebagian kesalahan kepada Aidit.

Yang tidak digambarkan Sjam adalah perihal seberapa berpengaruh ia pada Aidit dan keputusan-keputusannya. Kita tahu, pada Agustus-September 1965, Aidit dihinggapi sejumlah pertanyaan. Di antaranya, benarkah Dewan Jenderal benar-benar ingin melancarkan kup terhadap Presiden Soekarno. Jika ya, siapa saja anggota dewan itu. Mungkinkah PKI mendahului aksi Dewan Jenderal? Apakah perwira pro-PKI dan pro-Soekarno cukup punya pasukan untuk melancarkan aksi melawan para jenderal antikomunis itu?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Aidit mengandalkan informasi dari Sjam. Aidit telah menunjuk Sjam sebagai ketua Biro Chusus dan ia mempercayai Sjam untuk menyuplai informasi tentang apa saja yang terjadi dengan perwira-perwira militer. Dari sejumlah sumber kita mengetahui bahwa Sjam kelewat yakin dan arogan dalam menyiapkan G30S. Saya mengira Sjam telah meyakinkan Aidit bahwa Dewan Jenderal itu ada, dia tahu siapa saja anggota dewan itu, dan dari sejumlah sumbernya dia yakin bahwa ada perwira militer yang mampu mendahului aksi Dewan Jenderal. Aidit tak akan membiarkan Sjam melaksanakan G30S jika ia tak percaya Sjam akan berhasil.

Sementara itu, Sjam telah membujuk sejumlah perwira (Latief, Untung, dan Sujono) untuk bergabung dalam G30S. Sjam juga meyakinkan mereka bahwa PKI sepenuhnya berada di belakang G30S. PKI tak akan membiarkan aksi mereka gagal. Sjam, sebagai mediator antara Aidit dan perwira militer, telah ”membodohi” kedua pihak untuk berpikir bahwa ada pihak lain yang bakal ambil peranan dalam G30S.

Penjelasan Sjam tentang organisasi G30S tidaklah sama dengan versi yang dikemukakan rezim Soeharto. Sjam hanya melibatkan Aidit dan Biro Chusus. Ia tidak melibatkan Politbiro, Comite Central, dan partai secara keseluruhan. G30S bukanlah revolusi sosial oleh PKI dalam arti luas. G30S hanyalah aksi kecil, terbatas, klandestin yang sebelumnya tidak diketahui oleh anggota dan kebanyakan pimpinan PKI. Soeharto dan kelompoknya membesar-besarkan G30S agar ia punya alasan untuk melaksanakan rencananya sendiri, yakni menghancurkan PKI dan menyingkirkan Presiden Soekarno. Tapi itu cerita lain lagi.

Dalam kesaksiannya di pengadilan, Sjam menyebutkan Polisi Militer telah merampas buku catatan yang ia tulis pada saat menyiapkan G30S. Dalam berita acara pemeriksaan (Agustus 1967) secara garis besar ia telah menyampaikan isi catatan tersebut. Buku ini adalah dokumen utama dan terpenting tentang G30S yang tak pernah dibuka kepada publik. Mengapa buku itu tetap dirahasiakan? Masihkah Polisi Militer menyimpannya? Masyarakat Indonesia berhak melihat buku catatan yang bersejarah itu.

John Roosa, Dosen sejarah di Universitas British Colombia, Kanada, dan penulis buku Dalih Pembunuhan Massal (2008).
TEMPO – 17 November 2008

1 Comment

  1. Semakin jelas bagaimana aidit masuk perangkap dlm operasi militer. Lebih jelas lagi gerakan yang konyol itu dimana aidit sudah merasa arogan untuk mempercayai info2 dari Sjam tidak pernah menganalisa akan apa yang terjadi dng gerakan itu. Pemimpin partai yang membanggakan kehebatannya tapi tanpa isi. Hanya ahli dlm propaganda dan agitasie tanpa ada doelstelling (tujuan yang nyata ).Gembor2 revolusie tapi apa itu revolusie. Yang lebih konyol lagi, gerakan 30 september adalah intern angkatan darat, dan pki diluar dari itu. Tanpa ada persiapan sedikitpun, dari anggauta2nya untuk berbuat apa hanya untuk mlongo, bengong mendengar gerakan yang konyol itu. Pemimpin yang tidak berscenario, kalau jalan a gagal mnungkin ada jalan b, atau a dan b gagal mungkin ada jalan c. Ini sama sekali menunjukkan petualangan yang terbesar dalam memimpin suatu organisasi atau partai. Memang gampang setelah gagal ikut dlm operasi tsb, dan menyatakan tanggung jawab diatas pundaknya. Kehancuran partai tidak terbayangkan oleh aidit, Dia sebagai pembangun partai sekaligus penghancur partai. Pemimpin yang puas diri, padahal dlm partainya sering disinggung jangan puas diri. Pemimpin yang merasa punya nggauta banyak, jutaan tapi hanya untuk siap diamankan dan disembelahin setiap malam di pinggiran sungai2. Penyerahan diri, dan hanya sedikit harapan . Dlm faham komunis/sosialis yang mana internasional juga akan solider atau membantu dng kekonyolan gerakan tsb, dlm hal ini aidit lupa bhw hakekatnya Rusia lebih condong/percaya kpd Nasution daripada aidit. Walaupun Nasution bukan sorang komunis. Cina lebih condong/percaya kepada Jusuf dan Sofjan Wanandi daripada aidit. Sama sekali tiada bantuan sedikitpun dari kubu sosialis untuk membantu komunis/sukarnois di indonesia. Yang di gambor gemborkan hanyalah kata2 yang akibatnya malah menghancur leburkan partai itu sendiri. Partai yang dikatakan besar dan hebat, se mata2 hanyalah macan kertas, atau berkaki lempung. Organ partai. yang tidak bersalah secara hukum ( hanya pemimpin2 sebagian yang bersalah ) tapi dlm kancah politik fatal besar . Itulah yang disebut tumbalnya republik indonesia.
    Hanya sayangnya, kembali kpd chasanah HAM kita keterlaluan memperlakukan mereka 2 yang tidak bersalah itu, menjadi orang2 yang bersalah/berdosa. Yng seharusnya genoside itu tidak terjadi di Indonesia. Yang lebih susah lagi untuk mengingatkan orang bhw kita sudah keterlaluan memperlakukan golongan / orang2 kiri itu yang mana mereka banyak andilnya membuat bingkai RI ini ,tidak dihargai/atau disebut.Malah sebaliknya, disalah2in terus, di maki2 terus, dan dihabisin sampai lembut tanpa berbekas. Mungkin satu atau dua generasi setelah kita2 ini nantinya akan mengatakan atau berbicara bhw kita dulu adalah bangsa yang biadab. Atau mungkin kita malu akan mengatakan bhw kita dahulu diilhami oleh syaitan dan iblis, kok sampai kita tega atau kejam thdp orang2 yang tidak bersalah. Allah yang maha besar itu akan selalu menunjukkan jalan kebenaran.Amin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: