Leo Suryadinata: Orang Tionghoa Belum Merasa Sepenuhnya Menjadi Orang Indonesia

Pakar studi etnis Tionghoa Leo Suryadinata menilai etnis Tionghoa masih terpinggirkan. Konsep berbangsa dan bernegara kita belum matang. Studi mengenai etnik Tionghoa memang tak bisa dilepaskan dari sosoknya. Direktur Chinese Heritage Center (CHC) yang mengajar di Universitas Rajaratnam, Singapura, ini mendapat anugerah Nabil Awards di Jakarta pada 15 November lalu.

Ketua Yayasan Nabil Eddie Lembong mengatakan, pihaknya memberikan penghargaan kepada Leo karena dedikasinya dalam studi etnis Tionghoa. ”Kegiatan ini sudah dua kali kami adakan. Tujuannya, untuk meningkatkan pemahaman antar etnis dan intra etnis yang dapat memajukan proses nation building Indonesia,” ujarnya.

Apa yang Leo kerjakan dengan CHC-nya? ”CHC memiliki museum kebudayaan etnik Tionghoa, perpustakaan mengenai Chinese overseas, pusat penelitian, penerbitan buku, dan organizer konferensi. Publikasi kami yang terakhir yaitu Ensiklopedia of The Chinese Overseas diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Mandarin, dan Prancis,” katanya saat dihubungi Stella Kemala dari Media Indonesia, Selasa (25/11).

Usia kemerdekaan Indonesia boleh dikatakan tua, tapi urusan berbangsa dan bernegara belum mencapai kedewasaan, terutama terkait dengan posisi etnik Tionghoa. ”Gap masih tajam,” ujarnya.

Ia juga mengkritik masih digunakannya surat bukti kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) bagi etnik Tionghoa. ”Itu juga yang membuat kesenjangan semakin nyata. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warga negaranya,” tuturnya. Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Selamat pak, Anda telah memperoleh Nabil Awards atas sumbangsihnya dalam studi etnis Tionghoa…

Terima Kasih.

Bisa dijelaskan kesibukan Anda sekarang?

Saat ini saya mengajar di Universitas Rajaratnam, Singapura dan juga menjadi direktur dari Chinese Heritage Center (CHC).

Apa saja kegiatan dari CHC tersebut?

CHC memiliki museum kebudayaan etnis Tionghoa, perpustakaan mengenai Chinese Overseas, pusat penelitian, penerbit buku dan organiser konferensi. Publikasi kami yang terakhir yaitu “Ensiklopedia of The Chinese Overseas” diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Mandarin dan Perancis.

Kenapa Anda tertarik untuk mengkaji  etnis Tionghoa?

Pertama-tama, karena saya juga merupakan orang Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia. Saya baru keluar negeri untuk menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi. Setelah selesai saya kembali lagi ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Indonesia dengan jurusan sejarah. Sejak dulu saya memang sudah tertarik dengan sejarah, terutama sejarah etnis Tionghoa. Hal tersebut juga saya tuangkan ke skripsi dan thesis saya yang kesemuanya mengenai studi etnis tionghoa.

Jadi, apakah semua tulisan Anda mengenai studi etnis Tionghoa saja?

Tidak juga, saya juga banyak menulis mengenai politik, sejarah, antropologi dan hubungan internasional. Seperti misalnya buku saya mengenai Soeharto dan Partai Golkar.

Dari kajian etnis yang Anda teliti, bagaimana posisi etnis Tionghoa di Indonesia pada masa kini?

Posisi etnis Tionghoa pada masa kini masih sarat akan warisan dari masa Soeharto, dimana orang Indonesia diidentifikasikan sebagai pribumi dan kedudukan etnis Tionghoa menjadi tidak jelas. Pada masa itu, Soeharto mengharuskan asimilasi total bagi orang Tionghoa. Jadi yang terjadi sekarang ada gap antara orang pribumi dan Tionghoa yang makin dipertajam dengan cap “kaya” bagi etnis tionghoa, padahal banyak sekali orang Tionghoa yang berada di bawah garis kemiskinan.

Solusinya bagaimana untuk menyelesaikan masalah tersebut?

Salah satu kunci dari penyelesaian masalah Tionghoa di Indonesia, tidak hanya terletak pada sistem ekonomi yang lebih adil dan merata, tapi juga konsep bangsa Indonesia. Konsep bangsa Indonesia yang ketat yaitu konsep bangsa pribumi-non pribumi, yang merupakan suatu rintangan yang besar untuk masuknya orang peranakan tionghoa, ke dalam wadah bangsa Indonesia. Keadaan konkrit yang saya harapkan adalah ketika orang Tionghoa di Indonesia dapat diakui menjadi sebuah suku sendiri yaitu suku Tionghoa, seperti halnya dengan suku Jawa, atau suku Sunda.

Bagaimana komitmen pemerintah Indonesia dalam mengakui eksistensi etnis Tionghoa?

Sejauh ini sudah cukup merangkul, tapi konsep yang kuat itu belum ada. Konsep nasionalisme belum dicetuskan secara nyata. Jadi masih banyak orang Tionghoa di Indonseia yang belum sepenuhnya merasa sebagai orang Indonesia. Juga dari pihak pemerintah ada kesalahan pengertian bahwa China itu bangsa yang homogen, padahal sama sekali bukan. China itu sama saja dengan Indonesia yang heterogen, terdiri dari banyak suku.

Kalangan etnis Tionghoa masih terganjal Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) ketika akan mengurus surat-surat penting, padahal SBKRI sudah dihapus pada masa Gus Dur jadi presiden. Tanggapan Anda?

Menurut saya hal tersebut hanyalah warisan lama yang masih digunakan oleh beberapa oknum untuk mencari rejeki saja. Tapi hal ini bisa membuat status kewarganegaraan di Indonesia menjadi simpang siur. Sehingga membuat gap yang saya bicarakan tadi jadi semakin nyata. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warganegaranya.

MediaIndonesia

3 Comments

  1. saya sedang mencari refrensi ataupun data2 tentang tokoh-tokoh tionghoa di bandung maupun di indonesia guna menyusun materi untuk persiapan galeri/museum poster tokoh2 tsb, kerjasama dengan yayasan dana sosial priangan (pengelola rumah duka nana rohana) di bandung. saya minta tolong bapak jika berkenan punya referensi atau data2 yg berkaitan dgn itu. terima kasih sebelumnya

  2. Pak Leo, maaf saya kurang mengerti dua pengertian antara Cina dan Tinghoa. Saya sempat mem-posting ke blog saya sebuah artikel tentang masyarakat etnik tersebut. Hal ini juga didasarkan karena kepedulian saya terhadap keluarga saya yang melakukan kawin-pinak dengan masyarakat etnik tersebut, mulai dari Pakde, Om, hingga kakek-buyut saya. Adapun artikel yang saya posting tersebut diangkat dari tugas matakuliah (penelitian) semasa saya kuliah di S2 lalu. Terima kasih.

  3. saya sedang menyusun thesis dan judul yang saya angkat adalah ” penyelundupan hukum dalam NATURALISASI dan dampaknya terhadap hak-hak keperdataan seorang anak di bidang hukum perdata”.
    dalam hal ini saya menitik beratkan pada masalah kewarganegaraan,sehingga banyak anak-anak keturunan tionghua yang pinjam nama orang pribumi sehingga tidak adanya kejelasan secara hukum garis keturunannya.
    mohon bantuannya untuk referensi buku-buku, makalah-makalah atau artikel-artikel yang dapat mendukung thesis saya..
    xie-xie ni..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: