Sidang Perdana

sidang-susila”Diam….diam….!” sambil memukulkan palu berkali-kali,hakim sidang perdana kasus pornografi itu mencoba menenangkan pengunjung yang ribut dan saling caci maki antarmereka.

”Saya minta pengunjung tenang dan bisa menjaga kelancaran jalannya sidang ini. Saudara Terdakwa, Anda harus fokus pada pertanyaan jaksa, jangan melebar ke persoalan yang lain. Nanti ada waktu bagi Saudara untuk menjelaskan keberatan Saudara pada pembacaan eksepsi pembelaan pada sidang berikutnya.

Silakan Saudara Jaksa melanjutkan pertanyaan Anda, ”hakim mencoba mengendalikan situasi sidang. ”Terima kasih, Yang Mulia! Saudara Terdakwa, apakah Anda sengaja melakukan goyang erotis saat pertunjukan dangdut itu?” ”Mmm…..Sengaja dalam tanda petik, Pak.” ”Silahkan jawab saja pertanyaan saya,  ya atau tidak, ”jaksa mengejar. ”Saya harus menjelaskan duduk persoalannya dulu, Pak.”

”Yang Mulia, Bapak Hakim. Saya minta Saudara Terdakwa diberi kesempatan untuk mengutarakan argumentasinya, dan untuk Saudara Jaksa supaya tidak memaksa terdakwa menjawab pertanyaan yang bersifat biner,” penasihat hukum menyela perselisihan antara jaksa dan terdakwa.

”Tapi saya butuh jawaban tegas, supaya sidang ini dapat dilanjutkan dengan baik,” jaksa mencoba mengutarakan alasannya. ”Huuuuuuuu……..,” dari arah belakang, puluhan aktivis dan pendukung terdakwa menyoraki jaksa.

”Baik, silakan Saudara Terdakwa menjelaskan arti kata sengaja dalam petik tadi. Untuk Saudara Jaksa,supaya memberi kesempatan terdakwa mengutarakan argumentasinya terlebih dahulu. Setelah itu, Saudara bisa melanjutkan ke pertanyaan berikutnya,” hakim mengendalikan situasi.

”Begini,Pak….,” sambil membetulkan posisi duduknya, penyanyi dangdut yang sedang sial berada di kursi pesakitan itu mulai mengutarakan maksud pernyataannya. ”Saya kira, negara kita yang sama-sama kita cintai ini tidak melarang warganya untuk bekerja dan mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.

Demikian juga dengan profesi penyanyi dangdut. Tidak ada aturan yang menegaskan bahwa saat ini tidak boleh ada lagi konser dangdut di lapangan terbuka. Saya sebagai penyanyi dangdut hanya menjalankan tugas sebagai penyanyi menghibur para penonton dengan kemerduan suara yang saya punya.”

”Dan juga dengan goyangan erotis!….,” jaksa tampak emosi dan memojokkan terdakwa. ”Keberatan Yang Mulia.Saya minta Saudara Jaksa bisa menghormati terdakwa yang sedang mengutarakan alasan-alasannya,” ujar penasihat hukum tidak kalah gesit. ”Keberatan diterima. Silakan Saudara Terdakwa melanjutkan lagi,” hakim menenangkan suasana.

”Musik dangdut tanpa goyang itu bagaikan sayur tanpa garam, Pak. Saya kira, siapa pun tidak bisa memisahkan dangdut dengan goyangannya. Apa yang saya lakukan di pertunjukan kemarin adalah semata-mata tuntutan profesi. Bukan saya yang mau, Pak. Namun, panitia dan penonton yang memintanya.

Bahkan kalau saya tidak goyang, panitia tidak mau membayar, Pak, karena penonton pasti kecewa. Itulah yang saya maksud dengan sengaja dalam tanda petik, Pak. Sengaja tapi karena tuntutan profesi, Pak. Sebagai tuntutan profesi, goyang dangdut adalah hal yang wajar.” ”Tapi masalahnya, Anda mengeksploitasi gerakan seksual,” jaksa sudah tidak sabar.

”Dan itu melanggar pasal 4 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual.” ”Huuuuuuu……,” para aktivis pun menyahut. ”Betul…betul………!” tak mau kalah, para pendukung jaksa ikut memberikan semangat.

”Dan juga melanggar pasal 10 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya,” jaksa melanjutkan pembacaan pasal-pasal.

”Dalam bab penjelasan disebutkan bahwa yang dimaksud dengan mempertontonkan diri adalah perbuatan yang dilakukan atas inisiatif dirinya atau inisiatif orang lain dengan kemauan dan persetujuan dirinya.Dengan penjelasan ini, apa yang diperbuat terdakwa telah mencukupi syarat untuk dimasukkan pada pelanggaran terhadap undang-undang pornografi,” tegas jaksa.

Untuk membuktikan bahwa goyangan terdakwa mengandung gerakan-gerakan seksual, jaksa memohon izin agar video rekamannya diputar. ”Saya mohon kepada Yang Mulia untuk memperkenankan kami memutar video hasil rekaman pementasan dangdut Saudara Terdakwa,” jaksa bersemangat.

”Baik,silakan,” hakim menyetujui. Sejurus kemudian, pemutaran video dimulai. Dentuman keras suara musik dangdut segera mengalun. Hakim, jaksa, dan penasihat menyaksikan video rekaman. Terdakwa menatap ke depan dan menghela napas panjang-panjang. Sementara para pengunjung sidang kasak-kusuk saling berdiskusi, mengiyakan, dan menafikan.

Pada akhir pemutaran video, jaksa dengan cepat meraih pengeras suara yang ada di depannya. ”Ini sudah jelas dan tak dapat dielakkan lagi,Yang Mulia. Terdakwa telah melanggar Pasal 4 dan 10 Undang-Undang Pornografi. Maka itu, saya minta Yang Mulia untuk menjatuhkan hukuman ….”

”Sebentar-sebentar….!” penasihat terdakwa angkat bicara. ”Kita harus membaca kasus ini dengan melihat pasal-pasal yang ada di Undang-Undang Pornografi secara keseluruhan, tidak parsial,dan asal main comot.” Sambil membetulkan posisi duduknya, penasihat hukum melanjutkan argumentasinya. ”Begini, kalau kita baca pasal 1 tentang definisi pornografi, apa yang dikatakan Saudara Jaksa, jelas tidak tepat. Siapa sekarang yang bisa memutuskan bahwa apa yang dilakukan Saudara Terdakwa dapat membangkitkan hasrat seksual? Siapa yang berhak menilai?

Ukuran hasrat seksual itu berbedabeda tiap individu.Menurut kami,apa yang dilakukan Saudara Terdakwa masih dalam batas kewajaran. Kami melihat pertunjukan dangdut itu tidak dengan nafsu seksual dan biasabiasa saja. Kecuali mungkin Saudara Jaksa yang memang mempunyai hasrat seksual tinggi, sehingga…..”

”Keberatan Yang Mulia. Saudara Penasihat telah menyerang kepribadian kami. Itu tidak etis diungkapkan dalam sidang yang agung ini,” jaksa membela diri. ”Keberatan diterima. Saudara Penasihat, saya ingatkan Saudara untuk tidak menyerang kepribadian Saudara Jaksa. Kita tidak sedang membahas hal-hal pribadi di sini,” hakim menengahi.

”Tapi urusan hasrat seksual adalah urusan pribadi, Yang Mulia. Kalau suatu kasus dianggap mengandung unsur seksual oleh Saudara Jaksa, belum tentu menurut kami. Yang menjadi persoalan adalah, siapa yang berhak menentukan bahwa suatu perbuatan dapat membangkitkan hasrat seksual,” lanjut penasihat.

”Keputusan itu ada di tangan hakim. Dialah yang menentukan apakah perbuatan Saudara Terdakwa dapat membangkitkan hasrat seksual atau tidak,”timpal jaksa. ”Tapi itu pelanggaran kode etik. Hakim tidak boleh memutuskan sesuatu berdasarkan selera pribadinya. Selera seksualitas itu berbeda-beda. Apakah kita mau menggeneralisasi selera, sehingga hanya selera para hakim yang paling benar?

Hakim hanya boleh memutuskan berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan!” suara penasihat mulai meninggi ”Justru berdasarkan fakta di lapangan, perbuatan Saudara Terdakwa dapat membangkitkan hasrat seksual….” ”Menurut siapa?” ”Menurut kita semua.Anda jangan munafik!” ”Tapi bagi kami tidak.” ”Anda jangan munafik!” ”Tidak, saya tidak munafik. Bagi kami, urusan hasrat seksual itu adalah urusan pribadi yang tidak bisa digeneralisir.” ”Huuuuuuuu…..,” pengunjung sidang gemuruh.

”Diam…diam….!” hakim melerai adu argumentasi itu dengan memukulkan palu berkali-kali ke meja sidang. ”Saya minta Saudara Jaksa dan Saudara Penasihat bisa menjaga kesopanan dan kelancaran jalannya sidang ini. Jangan saling serang kepribadian masing-masing.Saya minta semuanya fokus pada kasus terdakwa.” Suasana mulai tenang kembali. ”Silahkan Saudara Penasihat melanjutkan.” ”Begini Yang Mulia….,” penasihat segera menuju ke argumentasi berikutnya.

”Di samping kasus hasrat seksual yang tidak dapat dinilai dan diukur, apa yang dilakukan Saudara terdakwa adalah termasuk perbuatan seni,yaitu seni musik.Saya kira semua yang hadir di persidangan ini setuju bahwa musik dangdut adalah musik asli bangsa Indonesia dan sudah menjadi budaya yang melekat pada seluruh warga Indonesia.

Sekarang musik dangdut tidak hanya milik kaum miskin dan papa, tapi telah merambah ke semua lapisan masyarakat. Apakah kita akan menghapus musik dangdut dari khazanah budaya bangsa Indonesia? Apakah kita akan melarang seluruh pertunjukan dangdut setelah diberlakukan UU Pornografi ini? Apakah kita akan…..” ”Tapi Saudara Terdakwa tidak sedang bernyanyi musik dangdut,” jaksa memotong.

”Musik itu dengan suara, tidak dengan gerakan tubuh. Saudara terdakwa sengaja telah membungkus gerakan-gerakan seksualnya dengan tameng seni. Atas nama seni, Saudara Terdakwa menyebarkan pornografi dan meracuni para penonton dengan imajinasi-imajinasi gerakan seksual. Demi memenuhi rasa keadilan, saya minta Bapak Hakim segera…..”

”Saudara Jaksa harap melihat kembali UU Pornografi secara utuh. Perhatikan pasal 14 poin a.Pada poin itu tertulis: Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi seksualitas dapat dilakukan untuk kepentingan dan memiliki nilai seni dan budaya. Berdasarkan pasal ini, apa yang dilakukan Saudara Terdakwa tidak melanggar aturan sama sekali, bahkan terlindungi.Dengan pasal 14 poin a ini, pertunjukan musik dangdut yang dilakukan Saudara Terdakwa dapat dikategorikan sebagai bentuk kesenian, dan itu sah secara hukum,” penasihat menyerang.

”Tapi yang dimaksud seni di pasal itu adalah untuk mengakomodasi kepentingan teman-teman seniman yang memang menggunakan materi seksualitas dalam mengekspresikan naluri keseniannya, sedangkan yang dilakukan Saudara Terdakwa adalah mengumbar hawa nafsu dan merangsang hasrat seksual para penonton,” jaksa menanggapi. ”Tapi musik dangdut adalah salah satu bentuk seni,” penasihat tidak kalah sengit. ”Saudara Terdakwa tidak sedang berkesenian,tapi…..”

”Tidak berkesenian bagaimana?! Kan sudah jelas dia sedang bernyanyi dangdut.” ”Musik itu dengan suara merdu, bukan dengan goyangan erotis.” ”Tapi tetap saja itu seni dan sah secara hukum.” ”Itu bukan seni!” jaksa mulai meninggi. ”Siapa yang bisa menilai bahwa itu bukan seni? Tidak ada satu pun yang bisa….” ”Anda jangan munafik!” ”Anda juga tidak boleh memakai kacamata kuda.”

”Siapa yang kuda?! Mungkin Anda sendiri yang kuda dan kusirnya adalah kapitalis-kapitalis itu,” sambar jaksa tak terkendali. ”Anda jangan picik pikiran.” ”Justru Anda yang telah teracuni oleh pemikiran-pemikiran Barat.” ”Anda tidak memahami budaya sendiri.” ”Justru saya ingin menyelamatkan budaya Indonesia.” Argumentasi pun semakin melebar tidak terkendali.

Hakim tidak lagi memakai palu untuk melerai. Dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Sambil mengernyitkan dahi, hakim bergumam, ”Produk hukum, kok gini ya. Di pasal yang satu melarang, eh di pasal yang lain ada pengecualian. Ahhhhh,bingung aku.” Helaan napas hakim menandakan bahwa dia sedang berada pada titik kebingungan.Samar-samar terdengar suara dengkuran dari arah tengah. Dan ternyata, suara itu berasal dari hidung terdakwa.

ABDULLOH FUADI,  Pengampu subjek religious study di Singapore Piaget Academy Solo Raya.

SINDO

1 Comment

  1. blognya bagus … salam kenal dari bandung ya


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: