50 Persen Dokter Tidak Kompeten

Lebih dari 50 persen dokter yang memperoleh izin praktik, ternyata tidak mempunyai kompetensi untuk melayani pasien. Ini terjadi karena pemerintah tidak melakukan kontrol terhadap praktik dokter. Oleh sebab itu, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) harus bekerja sama dengan Departemen Kesehatan (Depkes) menciptakan tenaga medis berkualitas.

Selain itu, Depkes harus membentuk Gugus Tugas Tata Kelola Kesehatan yang dipimpin Menteri Kesehatan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan utama. Tugasnya untuk menyusun rencana nasional mengenai tata laksana pelayanan kesehatan.

”Lebih dari 50 persen dokter kurang kompeten. Meskipun sudah mempunyai sertifikat Continuing Medical Education (CME), belum tentu dia dokter yang baik, karena bagaimana dengan kompetensinya?” kata Profesor Hasbullah Thabrany dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), kepada SH, Kamis (27/11), seusai memaparkan hasil penelitiannya bersama peneliti dari Australia tentang Tata Kelola Pelayanan Medis di Indonesia.

Penelitian diadakan Maret-September 2008 di Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Utara, dengan menggali narasumber dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), perhimpunan rumah sakit, masyarakat konsumen, Departemen Kesehatan, dan Dinas Kesehatan.

Hasilnya, ada ancaman bagi dunia kesehatan. Pertama, kini makin banyak fakultas kedokteran yang kualitasnya tidak standar sehingga kualitas lulusannya juga tidak bagus. Hasbullah menilai Depdiknas begitu mudah memberikan izin pendirian fakultas kedokteran tanpa menetapkan standar baku, seperti harus ada kelengkapan peralatan kedokteran dan rumah sakit, serta jumlah dan mutu pengajar yang memadai.

”Banyak fakultas kedokteran yang didirikan hanya demi uang. Ini sangat berbahaya. Celakanya lagi, perguruan tinggi negeri (PTN) ikut-ikutan. Yang tidak punya kompetensi tapi punya uang diterima jadi mahasiswa, tapi sebaliknya yang punya kompetensi tapi tidak punya uang tidak diterima,” tegasnya.

Kedua, belum ada kontrol terhadap dokter yang sudah mendapatkan izin praktik. Belum ada audit medis bahwa dokter yang bertugas di rumah sakit kompeten, meskipun sudah memeroleh akreditasi rumah sakit.

Ketiga, distribusi tenaga medis terutama dokter spesialis, cenderung di kota besar saja sehingga daerah terpencil kekurangan dokter. ”Ini terjadi karena dokter PNS cuma mendapatkan gaji PNS, tanpa ada insentif tugas di daerah terpencil. Jadi, se-harusnya ada keseimbangan,” tambahnya.

Hasbullah mengakui Depkes memang sudah mengadakan program beasiswa bagi dokter spesialis sejak dua tahun lalu. Tetapi ini berarti mereka baru bisa dikirimkan ke daerah empat tahun lagi.

Tarif Semaunya

Kesalahan lainnya adalah sistem dilepaskan sesuai mekanisme pasar. Akibatnya, dokter dan rumah sakit menarik tarif semaunya. Menurut Hasbullah, ini terjadi karena tarif yang diatur pemerintah hanya untuk perawatan rumah sakit di kelas III, padahal banyak warga masyarakat golongan ekonomi lemah yang terpaksa memilih kelas II.

”Semestinya, tarif dokter dan rumah sakit tidak bisa ditentukan seenaknya. Oleh karena itu harus diproteksi, harus ada strong government,” tegasnya.

Sampai tahun 1997, dokter yang baru lulus ditugaskan di kecamatan di seluruh Indonesia untuk 1-3 tahun. Namun, setelah krisis keuangan Asia, sistem yang dibangun berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Tahun 1974 itu diganti dengan sistem kontrak, di mana dokter ditawari kerja di pedesaan dan daerah terpencil dengan tambahan gaji. Meski demikian, dokter-dokter masih terkonsentrasi di perkotaan, sebab dokter pemerintah diizinkan menambah penghasilan dengan membuka klinik dan praktik swasta.

Hasbullah mengadakan penelitian tersebut bersama Prof Stephanie Doris Short (Sosiologist and Health Policy Analyst and Curriculum Consultant di The University of Queensland), Yaslis Ilyas (Senior Lecturer and Manager of Training FKM UI), Firman Lubis (dosen senior Fakultas Farmasi UI), Robyn Iredale (peneliri), serta Valentin Dimitrov Hadjiev (Senior Research Assistant in International Law, The University of Queensland).

Hasil penelitian itu akan dipresentasikan bersama delapan penelitian lainnya dalam Policy Research Forum (PRF) pada 1 Desember 2008 di Jakarta, yang rencananya dibuka oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Boedinono. PRF merupakan wadah untuk mendiskusikan hasil penelitian Australian Indonesia Governance Research Policy (AIRP).

Wahyu Dramastuti – Sinar Harapan

2 Comments

  1. Wah… ini berarti izin praktek asal diberikan saja yah….
    Disisi lain ada wacana baru…. Para pengamat dunia farmasi mulai bertanya, pemberian obat kepada pasien di RS tidak memanfaatkan kehadiran farmasis yang ada disana. Bukankah hanya mereka yang tahu jika obat, satu…atau lebih dari satu itu kapan, bagaimana, harus dimakan agar khasiatnya diperoleh dengan benar ? bukankah itu bukan sekedar makan 3 kali sehari 1 tablet ?? apakah obat-obat yang beragam itu bukannya meracuni penderita ?? mengapa bukan mereka yang ditanya sebelum dan sesudah memberikan obat ?? dimanakah batas kewenangan profesi bisa diketahui??
    penderita jadi korban… haruslah dikurangi…jangan menyeberang tembok.. baiknya kerjasama biar pasien dapat yang terbaik.

  2. memang distribusi dokter di Indonesia masih blm seimbang. memang ide menyekolahkan pend.spesialis dokter daerah yg diikat kontrak cukup baik. krn masih bnyk dokter yg ingin sekolah, tp terbentur biaya. Sementara untuk menydiakan doktr spesialis di daerah, biasanya perlu kontrak yg ckp besar.
    Dari Pengalaman PTT sy, dearah tertentu, krn pelitnya, enggan menjamin kelayakan hidup dr.spesialisnya, alhasil, dr.spesialisnya pada kabur, soalnya lebih menjanjikan di t4 lain.
    nah, klo udah diikat (10-15th) kan ga mungkin kabur…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: