Kekerasan Seksual atau Sama Suka?

Lepaskan diri Anda dari kehebatan sebagai pemimpin, pria dewasa kuat fisik, perempuan berpendidikan tinggi yang asertif, polisi, pejabat, orang berkedudukan dan berpengalaman.

Bayangkan Anda perempuan remaja yang dididik untuk patuh, bersikap manis, menghormati tokoh otoritas, dan tidak bicara buruk tentang orang lain.

Suatu hari seorang yang sangat berkuasa atas Anda, misalnya guru, memanggil Anda ke ruangannya dan ternyata melakukan tindakan-tindakan tidak patut dan sangat menyakitkan. Apakah Anda akan menceritakannya kepada orang lain?

Fenomena tersulit dan ”gunung es”

Kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, yang teridentifikasi dan dilaporkan jauh lebih sedikit dari yang sesungguhnya terjadi. Orang lebih memilih diam karena banyak alasan yang dipelajari dari lingkungan: tidak dipercaya (”Masak sih? Dia kan orang terhormat?’), dianggap ”mengundang”, ”kok mau jalan berdua saja?”, dianggap melebih-lebihkan cerita (yang membuatnya kacau dengan pikiran sendiri), atau dipaksa ”diam” dan ”melupakan”. Mungkin pelaku orang kuat, keluarga tidak ingin berkonflik dan tidak mau mendukung diungkapnya kasus, ini aib yang harus ditutup rapat, atau takut bila orangtua tahu saking kagetnya bisa langsung kena serangan jantung.

Akhirnya sangat sedikit yang bercerita atau melapor segera setelah kejadian. Mungkin satu-dua bercerita berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian, karena suatu faktor pencetus yang mengingatkan dan membuat batin kacau. Misalnya, karena menonton berita di TV tentang kasus serupa, atau obrolan dengan teman membuka luka lama.

Lalu, orang mempersalahkan lagi, ”diperkosa dua tahun lalu kok baru cerita sekarang, kenapa tidak lapor dulu-dulu?” Sang subyek pun mungkin amat menyesal telah bercerita, mulai sibuk mempersalahkan dirinya kembali, dan bertanya-tanya ”apakah aku salah ingatan atau sudah sakit jiwa?”

Sulit dipahami

Fenomena kekerasan seksual, apalagi dalam relasi personal, memang merupakan salah satu yang tersulit dipahami. Ketika kasus kekerasan seksual diungkap korban, yang ternyata tidak hanya sekali terjadi, orang juga ramai bicara. Tidak cuma laki-laki, tetapi juga perempuan. ”Mana mungkin pemerkosaan kalau terjadi berulang. Itu ceweknya saja yang mau. Lha, laki-laki kalau disodori siapa yang menolak?”

Cara paling mudah memahami adalah dengan mencoba melepaskan diri sejauh mungkin dari atribut kita sendiri (yang mandiri, hebat, asertif, serta berpengalaman), dan menempatkan diri pada posisi korban.

Bayangkan kita anak atau remaja yang belum memiliki kemandirian sikap dan kematangan berpikir seperti orang dewasa, tergantung secara finansial, psikologis, atau sosial kepada ayah, paman, atau guru, yang ternyata melakukan manipulasi seksual.

Dalam kasus demikian, kekerasan seksual bisa berulang karena kejadian pertama telanjur tidak dilaporkan. Ini memungkinkan pelaku melakukan berbagai langkah manipulasi dan eksploitasi lanjutan sehingga kejadian seksual berikutnya terjadi lagi. Korban dimanipulasi sedemikian rupa sehingga mulai berpikir pelaku ”mencintainya”. Atau sekadar karena relasi emosional yang ada, bagaimanapun ada rasa ”kasihan” yang membuat korban menutup mulut.

Selain memperoleh pemenuhan kebutuhan seksual, pelaku yang tahu hukum akan sangat senang bahkan makin mantap posisinya mengingat kejadian berulang itu akan membakukan cerita kasus ini ”suka sama suka”. Sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.

Seorang perempuan muda naif yang dibesarkan dengan sosialisasi norma yang mengutamakan ”kesucian” perempuan sangat wajar mengalami kekagetan dan kekacauan psikologis luar biasa akibat pemerkosaan oleh orang yang dikenal dan memiliki kekuasaan besar atas dia.

Kekacauan tersebut dapat membuat ia seolah terobsesi mengejar pertanggungjawaban pelaku. Bagaimanapun, bukan berarti ini ”suka-sama-suka”, dan tetap tidak dapat membenarkan kehendak buruk dan kekerasan seksual yang terjadi.

Betul, dalam kasus khusus, terutama korban anak yang mengalami manipulasi seksual berulang, dapat terjadi traumatisasi seksual yang tampil dalam bentuk ”dis-inhibisi seksual”.

Karena terpapar pada seks terlalu dini dengan cara tidak bertanggung jawab, selain bingung, takut dan merasa bersalah, anak mungkin justru akan mengembangkan obsesi besar pada hal- hal terkait tindakan seksual pelaku.

Kembali, ini tidak dapat menjadi pembenaran. Orang dewasa dan orang dalam posisi wali atau pengampu wajib menjaga pihak yang lebih rentan, bukan justru memanfaatkan.

Bias hukum positif

Hukum positif saat ini sayang sekali mengambil asumsi semua manusia posisi tawarnya sama, dan semua tindakan harus ada rekam jejaknya yang terlihat jelas, obyektif material.

Kita lupa ada banyak relasi kuasa di dunia ini, antara anak dan orang dewasa, perempuan dan laki-laki, mahasiswa dan dosen, pekerja dan majikan, orang biasa dan orang terpandang, atau si orang bisu dan orang yang bisa banyak bicara. Kita juga lupa bukti mudah dihilangkan, atau malah gampang direkayasa oleh ”ahli”-nya.

Untuk penguatan diri akhirnya kita berserah kepada-Nya. Saya sangat senang menemukan hadis Bukhari-Muslim, yang saya sampaikan kepada seorang korban dan rupanya sangat menguatkan dia: ”…ku lagi baca, ada hadis bagus banget, hadis Bukhari-Muslim, yang diulang-ulang Rasulullah SAW, yang mengatakan, dosa besar yang paling besar, salah satunya adalah persaksian palsu. Ku jadi sangat lega. Yang bohong akan celaka. Yang bicara jujur akan dilindungi dan diselamatkan. Bila Mbak jujur, Tuhan bersamamu.”

Ia menjawab, ”Bu saya sangat jujur dan pelaku pasti tahu itu. Saya jujur kepada Ibu.”

Diberkatilah mereka yang masih merawat suara hati, yang bicara dan mau memahami bukan dari kepandaian dan kecanggihan teori, tetapi dari hati nuraninya yang paling jujur.

KRISTI POERWANDARI, psikolog – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: