“Si Kancil” Agen CIA?

Tulisan Julius Pour, mantan wartawan Harian Kompas yang telah menghasilkan beberapa biografi politik sejumlah tokoh, dalam rubrik “Buku” (Kompas, 23/11, hal 11) dengan judul Membaca Indonesia dari Laporan CIA telah menggelitik perhatian masyarakat.

Tulisan tersebut menyoroti sebuah buku berjudul (di kulit luar) Membongkar Kegagalan CIA – Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya. Di halaman dalam judulnya Kegagalan CIA – Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya (833 hal, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama – Jakarta, 2008).

Terbitan ini adalah terjemahan (alih bahasa oleh Akmal Syamsuddin) dari buku berjudul Legacy of Ashes (Warisan Puing-puing), karya Tim Weiner, wartawan harian terkemuka The New York Times, yang diterbitkan oleh Penguin Group (London – New York 2007), 700 hal dengan Index.

Buku ini menjadi menarik dan habis terjual di beberapa toko buku Gramedia, karena Julius Pour menyoroti bagian tentang peranan almarhum Adam Malik (wartawan, aktivis politik, duta besar, menko pelaksanaan ekonomi terpimpin, Menteri Luar Negeri, Ketua DPR, Wakil Presiden, kolektor keramik kuno Tiongkok, kamera antik, dan lain-lain). Di buku orisinal uraian tentang Bung Adam dapat dibaca di hal 258 s.d 262 (4 hal dari 700 hal) dan di buku terjemahannya di hal 329 s.d 334 (5 hal dari buku setebal 832 hal, tanpa Index).

*

Penulis Tim Weiner bercerita tentang pertemuan antara Adam Malik dan seorang petugas CIA (Central Intelligence Agency – Badan Intelijen Pusat yang didirikan pada 1947 dengan SK Presiden Harry Truman), Clyde Mc Avoy, “di sebuah tempat rahasia dan aman di Jakarta” (hal 330). McAvoy berpengalaman dalam menghubungi dan membina tokoh-tokoh politik dan pemerintahan tingkat tinggi, seperti pernah dilakukannya di Jepang. Salah seorang “binaan”-nya kemudian menjadi Perdana Menteri Jepang.

Weiner mewawancarai McAvoy pada 2005 melalui telepon. Dengan bangganya, dia berkata tentang pengalamannya 41 tahun (!) sebelumnya: “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik”. (Beberapa terjemahan istilah oleh Akmal Sjamsuddin tidak begitu “kena”. Umpamanya “CIA Station” yang merupakan sebutan khas, sebaiknya menjadi “kantor perwakilan CIA” dan bukan “Stasiun CIA”. Kutipan ini orisinalnya: “I recruited and ran Adam Malik”. Kata kerja “to run (ran)” di sini adalah idiom Inggris/AS sebaiknya diterjemahkan “membina” dan bukan “mengontrol” yang menimbulkan citra Bung Adam menjadi sangat negatif. Lagi pula siapa yang mampu “mengontrol” Bung Adam dengan julukan Si Kancil itu?

Dalam hal 258 s.d 262 sebenarnya Weiner menulis hanya sekilas saja tentang hubungan perwakilan CIA dan Kedutaan Besar AS (khususnya Dubes Marshal Green) dengan Adam Malik.

Setelah kabinet pertama purna-Supersemar (11 Maret 1966) terbentuk dengan Presidium Kabinet, 5 tokoh (Ketua Jenderal Soeharto, HB IX, Sanusi Hardjadinata, Idham Khalik, Adam Malik), perwakilan CIA Jakarta dan Kedutaan Besar AS dengan persetujuan atasan mereka di Washington DC menyalurkan bantuan melalui Adam Malik untuk mengkonsolidasikan organisasi-organisasi pendukung Orde Baru.

Jumlah yang disebut adalah US$ 10.000, suatu jumlah yang menurut ukuran pada waktu itu juga tidaklah begitu besar, jika diperhitungkan apa yang menjadi pertaruhan pada waktu itu.

Julius Pour dalam tulisan tersebut (Kompas Minggu, 23/11 hal 11) mendesak supaya “dilakukan klarifikasi mutlak agar pembaca tidak ikut-ikutan menebar fitnah”. “Klarifikasi mutlak” adalah sesuatu yang mendekati ketidak mungkinan. Namun, klarifikasi awal atau sementara berdasarkan rekonstruksi situasi kondisi politik pada 1964, 1965, dan awal Orde Baru, serta pengenalan tentang tokoh kepribadian Adam Malik dalam konteks historisnya, perlu diusahakan.

*

Di bawah ini diurutkan beberapa catatan. Pertama, tahun 1964 dan 1965, ketika semakin jelas betapa Presiden Soekarno dan Partai Komunis Indonesia beraliansi untuk menata ulang RI sebagai negara yang “progresif nasionalis”, sedangkan berbagai organisasi dan partai politik sudah dilarang, tokoh-tokoh independen, seperti Adam Malik, yang masih mendambakan Indonesia yang bebas dan aktif, amat resah.

Ia kenal betul Bung Karno dan khawatir melihat pandangan politiknya yang semakin irasional serta naivitasnya dalam menganggap bahwa PKI dapat dia manfaatkan sebagai instrumen pribadi. Bung Adam juga mengenal baik tokoh-tokoh PKI, seperti Aidit dan Nyoto, karena bersama-sama mengikuti kursus-kursus politik di Asrama Pemuda Jakarta selama pendudukan militer Jepang di Jawa (1942-1945).

TNI sebagai satu-satunya organisasi yang independen dan Pancasilais, karena struktur dan hierarki militer, sebenarnya dipaksa bersikap pasif. Presiden Soekarno, yang memaksimalkan jabatannya sebagai Panglima Tertinggi dan memakai seragam dengan berbagai bintang jasa yang tidak jelas asal usulnya, berhasil memecah-belah jajaran perwira tinggi AD-TNI. Sementara itu, ekonomi tambah parah dengan inflasi mendekati 600 persen! Penderitaan rakyat di pedesaan semakin berat.

Kedua, dalam situasi kondisi demikian di mana ruang gerak bagi organisasi dan tokoh-tokoh independen semakin sempit, sudah dapat diperkirakan bahwa seorang, seperti Adam Malik membuka setiap saluran yang tersedia yang mungkin dapat mendobrak penyempitan politik di Jakarta, serta keterisolasian RI di dunia internasional. Kalau Bung Adam mengadakan pertemuan dengan petugas CIA di Jakarta pada tahun 1964, mengingat hidupnya sebagai seorang aktivis politik yang selama tahun-tahun Revolusi di Yogyakarta keluar masuk penjara, maka dugaan saya, dia juga mengadakan hubungan dengan agen dinas intel Inggris di Jakarta (MI 6).

Juga hampir dapat dipastikan bahwa sebagai mantan Duta Besar RI di Moskwa, ia mengenal wakil senior KGB (dinas intel Uni Soviet ) di Jakarta.

Hubungan ini semakin penting, karena PKI telah menunjukkan indikasi secara ideologis lebih berkiblat ke Beijing ketimbang Moskwa. Sudah logis kalau para agen KGB di Jakarta mengamati gerak-gerik PKI secara cermat bahkan mungkin saja menyusupkan orang-orangnya ke dalam tubuh PKI. Sudah dapat diduga kalau Bung Adam memanfaatkan hubungan dengan pejabat senior KGB di Jakarta untuk mengorek informasi tentang perkembangan intern PKI.

Ketiga, dalam konteks persaingan memperoleh informasi yang paling akurat dan paling komplit tentang aliansi antara PKI dan Presiden Soekarno, perkembangan intern PKI dan menelusuri kemungkinan memperoleh bantuan untuk kelompok dan tokoh-tokoh independen yang masih mampu menyelamatkan diri, patut kita tempatkan pertemuan antara Adam Malik dengan petugas CIA, Clyde McAvoy (terjemahan “CIA Officer” menjadi “Perwira CIA” tidak begitu tepat) pada tahun 1964. Kedua belah pihak ingin saling mengorek informasi dan menelusuri kemungkinan untuk saling membantu dengan sasaran jangka pendek yang kongkret.

Kalau 41 tahun (!) setelah pertemuan itu McAvoy melalui telepon secara bombastis menyampaikan kepada wartawan Tim Weiner: “Saya yang merekrut dan membina Adam Malik”, sungguh diragukan bobot dan kualitas ucapan itu. Weiner sebenarnya harus bertatapan muka, mewawancari McAvoy mengenai sesuatu hal yang secara jurnalistik adalah informasi penting dan peka.

Wawancara melalui telepon memungkinkan seorang narasumber bicara seenaknya dan si wartawan tidak dapat menilai dari wajahnya, apakah dia serius atau ngibul.

Keempat, karena itu, konklusi yang ditulis Weiner (hal 330) bahwa kantor perwakilan CIA di Jakarta “memiliki seorang agen yang punya posisi baik, Adam Malik dan seterusnya”, adalah konklusi gegabah dan perlu dianalisis secara teliti kualitasnya.

Kalau yang dimaksud bahwa kantor perwakilan CIA berhasil mempunyai, kasarnya, “Spion Melayu” bayaran yang digaji setiap bulan, maka siapa yang mengenal tokoh kepribadian Bung Adam sebagai aktivis dan insan politik, akan menilai kualitas konklusi itu rendah sekali. Juga disebut suatu “bantuan besar” sejumlah US$ 10.000 yang disalurkan melalui salah satu pembantu Bung Adam ke organisasi-organisasi pendukung Orde Baru. Mungkin patut dipertimbangkan bahwa mereka harus menghadapi PKI yang dapat diperkirakan mendapat bantuan dari pendukungnya di luar negeri, dan Presiden Soekarno yang memanfaatkan alat-alat negara yang masih loyal – maka setiap bantuan yang dapat dimanfaatkan perlu segera diterapkan.

Konklusi yang ditulis Weiner bahwa kantor perwakilan CIA di Jakarta “memiliki seorang agen yang berposisi baik, Adam Malik…dan seterusnya” menimbulkan suatu kecurigaan tentang kemungkinan terjadinya korupsi. Untuk memperkuat hasil wawancaranya per telepon itu, Weiner menulis di catatan kaki (hal 765) bahwa – “Peran penting Mc Avoy sebagai perwira (mestinya “pejabat”, Ssg) CIA di Indonesia dibenarkan oleh tiga orang rekanya yang ada di Dinas”.

Keterangan tambahan ini tidak mendukung konklusinya. Seperti juga dilaporkan Weiner di bagian lain bukunya, kasus-kasus korupsi para pejabat CIA di lapangan, apalagi seorang kepala perwakilan yang biasanya dialokasikan dana operasional cukup besar tanpa harus dipertanggungjawabkan dengan bukti tanda terima, bisa saja terjadi.

Melaporkan bahwa kantor perwakilan memiliki agen lokal dengan posisi baik bisa saja disalahgunakan bahwa si agen telah di bayar X dolar setiap bulan, padahal tidak benar. Dan uang tersebut masuk kantong si pejabat – kemungkinan demikian patut juga dipertimbangkan mengingat di dunia persaingan intelijen di mana hal-hal aneh bisa saja terjadi.

*

Akhirnya, kunci persoalan terletak dalam penilaian kita tentang sosok kepribadian dan karakter seorang Adam Malik. Mengingat perjuangan politik yang dilakukannya selama kolonialisme Belanda dekade 1930-an, pendudukan militer Jepang (1942-1945), tahun-tahun Revolusi di Yogya, apakah dia tipe seorang “Spion Melayu” yang bersedia menerima bayaran sebagai imbalan atas laporannya?

Para wartawan sering menjuluki Adam Malik sebagai “Si Kancil”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (Edisi Ketiga, Jakarta 2000) ada tiga pengertian diberikan pada kata “Kancil”. (1. Binatang pemakan tanaman yang cepat larinya, berbadan langsing, dan seterusnya. 2. Tokoh utama binatang yang cerdik di cerita rakyat di Asia Tenggara. 3. Orang yang cerdik dan licik (banyak akal).

Semua elemen yang disebut dalam tiga pengertian itu: badan langsing, cepat bergerak, cerdik, banyak akal, sekali-sekali licik – semua itu dimiliki Bung Adam. Apakah pernah tersirat di benak para pembaca buku Weiner bahwa sebenarnya Adam Malik-lah yang memanfaatkan CIA demi tujuan perjuangan nasional ?

Dalam buku memoarnya Mengabdi Republik Jilid III: Angkatan Pembangunan, Adam Malik bercerita tentang pengalaman yang amat berkesan bagi dia, yakni pada saat kunjungannya yang pertama sebagai Wakil Presiden ke daerah Jawa Timur, Juli 1978. Pada spatbord sebuah Colt dekat Songgoriri dia baca tulisan: “Apa yang kau mau, apa yang kau rindu, pasti jadi, asal kau mau”.

Malamnya dia renungkan makna kata-kata sederhana itu. Bung Adam menulis: “….(kata-kata itu) menunjukkan sikap mental yang tegas dan dinamis, dan selama masih ada semangat yang menggerakkan tangan untuk mencoretkan gambaran dinamika batin yang bunyinya semacam itu, saya yakin rakyat kita tidak kehilangan arah untuk maju”.

Agaknya ungkapan tulus demikian bukanlah kata-kata seorang “spion bayaran” yang tega menjual kepentingan bangsanya.

Sabam Siagian adalah pengamat perkembangan nasional –  SuaraPembaruan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: