Menjaga ‘Kado Indah’ dari Wallace

150 Tahun Surat dari Ternate

Sekitar 150 tahun lalu, Alfred Russel Wallace, seorang naturalis petualang, “menemukan surga” di sebuah kawasan di Indonesia. Hasil temuannya itu ia catat sembari bersakit-sakit karena terkena malaria di Ternate, Maluku Utara, dan dia kirim kepada Charles Darwin dalam bentuk surat. Kini surga itu disebut kawasan Wallacea sesuai dengan nama sang penjelajah, dan suratnya kepada Darwin tersohor sebagai “Ternate Paper“.

Belakangan, para ilmuwan pendukung Wallace yakin bahwa surat-surat itulah yang melandasi teori evolusi yang dicetuskan Darwin. Bagi Indonesia, klaim itu memiliki arti besar, yakni teori evolusi yang hingga sekarang menjadi acuan ilmuwan dunia ternyata berasal dari satu kawasan unik di Tanah Air. Teori besar yang selama ini diyakini dunia untuk menjelaskan evolusi penghuni bumi itu ternyata berasal dari kawasan seluas 350 ribu kilometer persegi di timur Indonesia.

Surga Wallace di sini adalah pulau-pulau kecil di kawasan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Wallace menemukan dan meneliti kawasan itu saat menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862). Wallace mendapati bahwa antara satu pulau kecil dan pulau kecil lainnya terdapat variasi biota yang begitu menakjubkan.

Salah satu yang mengusik rasa penasaran Wallace dan menginspirasinya untuk menyusun cikal bakal teori evolusi adalah adanya burung curik bali (Leucopsar rothschildi) di Bali. Sedangkan di Lombok, yang hanya dipisahkan selat selebar 32 kilometer, burung itu tidak ada.

Menurut catatan Burung Indonesia, di kawasan Wallacea hidup sedikitnya 697 jenis burung penetap dan migran. Dari jumlah itu, 249 jenis di antaranya adalah burung endemis yang tidak dapat dijumpai di belahan bumi lainnya. Itu artinya, di antara semua tempat di Indonesia, di kawasan Wallacea-lah ditemukan banyak burung endemis. Soal paras, hampir semuanya adalah burung-burung cantik.

Tak bisa dipungkiri, Wallacea adalah surga kecil keanekaragaman hayati Indonesia. Setidaknya terdapat tiga hal yang mendukungnya: kekayaan spesies, endemisitas, dan kekhasan habitat atau ekosistem. tapi, apakah surga itu mampu lestari selamanya tanpa dijaga? Akankah kita biarkan harta karun itu keropos 1,5 abad setelah terdeskripsi (oleh Wallace)?

Salah satu penyebab tingginya ancaman bagi kelestarian alam kawasan Wallacea adalah kondisi geografisnya yang terdiri atas pulau-pulau kecil. Pulau kecil berarti juga sumber daya alam yang terbatas, termasuk luas hutan yang tak seberapa. Padahal penduduk yang menghuni pulau-pulau itu terus bertambah dan mereka menggantungkan hidup pada hutan serta segala sumber daya alam yang ada.

Secara umum, indeks pembangunan manusia di kawasan Wallacea tergolong di bawah rata-rata. Jadi, segala bentuk eksploitasi hutan di kawasan Wallacea, baik untuk pertambangan, penebangan kayu, maupun pembukaan hutan untuk peruntukan lain sering sekali mendapat pembenaran. Padahal, tanpa mereka sadari, sumber daya alam di pulau kecil yang sangat terbatas itu akan habis jika terus-menerus dieksploitasi tanpa memikirkan keberlanjutannya.

Ambil satu contoh, misalnya air. Semestinya semua orang mengerti bahwa sumber resapan air adalah hutan. Hutan adalah bank penyimpanan air yang terbesar. Artinya, jika hutan terus dirambah dan pepohonan ditebang, tak ada lagi tempat untuk menyimpan air. Akibatnya, krisis air bersih akan terjadi. Sayangnya, tak semua orang paham tentang hal ini. Tak banyak yang mengerti bahwa masa depan mereka sebenarnya ada di hutan.

Perlu dukungan semua pihak untuk membangun kesadaran banyak orang untuk menjaga kelestarian alam pulau-pulau kecil di Wallacea. Sebuah lembaga seperti Burung Indonesia, yang sudah 10 tahun terakhir fokus di sana, tak akan mampu melakukannya sendiri. Warga, pemerintah daerah, dan investor juga harus sepaham.

Tentunya kita semua berharap kado indah dari Wallace untuk Indonesia dan dunia itu akan terus lestari. Tak hanya berhenti pada tahun ke-150 yang jatuh tepat pada tahun ini atau 200 tahun nanti. Jangan sampai surat dari Ternate itu hanya tinggal cerita belaka.

RACHMA TRI WIDURI, Penggiat konservasi kawasan Wallace – KoranTempo

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Patti Smith akan bernyanyi untuk antar Hadiah Nobel bagi Bob Dylan
      Saat pidato penerima Hadiah Nobel Sastra Bob Dylan dibacakan, rekannya sesama penyanyi sekaligus penulis lagu Patti Smith akan menyanyikan salah satu lagu terbaiknya pada selebrasi Hadiah Nobel di Stockholm nanti.Smith akan ...
    • YLBHI ramalkan jaksa akan sulit buktikan kesalahan Ahok
      Koordinator Bantuan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Julius Ibrani melihat banyak kejanggalan dalam pengusutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, bahkan Jaksa diyakininya akan sulit ...
    • Malaria sudah ada di zaman kekaisaran Romawi
      Para peneliti mengungkapkan analisis DNA gigi berusia 2.000 tahun yang digali dari satu kuburan di Italia menunjukkan bukti kuat bahwa malaria sudah ada selama Kekaisaran Romawi.Temuan itu berdasarkan pada DNA mitokondria - ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: