Palestina, Sebuah Negara Khayalan

palestine-flag-tshirtKeraguan yang muncul sejak awal akhirnya terbukti. Proses perundingan yang kembali digelar pascakonferensi perdamaian di Annapolis, Maryland, Amerika serikat, pada 27 November tahun lalu mandek. Sejatinya, komitmen yang dibuat oleh Presiden Otoritas Palestina Mahmud Rida Abbas dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert pada pertemuan itu memang dipaksakan. Konferensi itu hanya muslihat Presiden Amerika George Walker Bush yang berniat mencuci dosanya akibat perang di Irak dan Afganistan.

Kegagalan ini sekaligus membuktikan betapa sulitnya mendirikan negara Palestina. Bahkan dapat dibilang sebuah khayalan. Padahal hanya ada dua konsep penyelesaian konflik di antara kedua bangsa itu, yakni melebur menjadi satu negara atau dua negara yang hidup berdampingan secara aman dan damai. Dua konsep itu muncul bersamaan dalam konferensi tingkat tinggi Liga Arab di Ibu Kota Beirut, Libanon, pada 2002. Konsep satu negara dengan nama Isratina diusulkan oleh pemimpin Libya, Muammar Qadhafi, sedangkan Raja Abdullah dari Arab Saudi, yang ketika itu masih menjabat putra mahkota, memprakarsai penyelesaian dua negara. Hasilnya, 22 anggota organisasi itu menerima gagasan Abdullah.

Konsep satu negara hanya akan melanggengkan penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina yang sudah berlangsung 60 tahun. Bayangkan saja, bagaimana mungkin warga Yahudi rela berbagi kekuasaan dengan penduduk Arab Palestina dalam menjalankan pemerintahan bersama. Yang terjadi, orang-orang Palestina tidak akan memperoleh hak yang sama dan hanya bakal menjadi warga kelas dua dalam negara Isratina.

Israel bahkan sangat mungkin mengadu domba warga Palestina dengan tetap membiarkan Tepi Barat yang terpisah dari Jalur Gaza sejak pertengahan Juni tahun lalu. Selama ini saja, milisi Fatah yang disokong oleh negara Zionis itu menangkapi anggota Hamas dan Jihad Islam di Tepi Barat. Sedangkan Israel sendiri melaksanakan operasi militer di Gaza dengan serupa. Mereka bakal terus memperluas permukiman Yahudi di Tepi Barat. Artinya, makin banyak tanah warga Palestina yang terampas.

Mobilitas penduduk Tepi Barat yang sudah sangat terganggu dengan berdirinya sekitar 590 pos pemeriksaan juga akan kian tersiksa. Sebab, Israel masih melanjutkan pembangunan tembok pemisah raksasa yang dimulai pada 16 Juni 2002. Panjangnya akan mencapai 750 kilometer dengan tinggi 8 meter, ketimbang tembok Berlin yang mengular 155 kilometer dan tinggi 3,6 meter. Padahal batas Palestina dan Israel hanya 200 kilometer.

Tembok ini tidak mengikuti “Garis Hijau” yang membatasi wilayah kedua pihak saat gencatan senjata pada 1949. Namun, jalurnya masuk 10 kilometer ke wilayah Palestina. Dinding apartheid ini hanya mempunyai satu pintu keluar-masuk di tiap kota yang dilewati. Tembok ini juga dilengkapi dengan menara pengawas, sensor elektronik, kamera video dan pemantau panas, pesawat pengintai tak berawak, kawat beraliran listrik, menara penembak jitu, dan jalan untuk kendaraan patroli. Alhasil, jika proyek ini selesai, setengah dari jumlah warga Palestina di Tepi Barat akan merasa seperti hidup di penjara karena dikungkung oleh tembok. Selain harus berjalan lebih jauh, untuk keluar pun mereka mesti memperoleh izin dari militer Israel.

Israel memang sudah menciptakan krisis kemanusiaan di Gaza dengan membuat sel raksasa. Mereka menutup semua pintu perbatasan di Erez dan Sofia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Mesir), dan Karen Shalom (Gaza-Mesir-Israel). Akibatnya, pasokan bahan makanan, air, listrik, obat-obatan, dan material lainnya menipis. Negara Yahudi itu juga amat membatasi lalu lintas orang dan jasa.

Konsep dua negara juga sulit menjadi penyelesaian. Selama ini perundingan antara Abbas dan Olmert mentok di tiga isu utama: status Yerusalem, batas wilayah sebelum Perang Enam Hari 1967, dan pemulangan pengungsi Palestina. Israel selalu beralasan berdirinya negara Palestina akan membuat mereka tidak aman, lantaran Fatah yang moderat tidak dapat merangkul Hamas yang tidak mau mengakui negara itu.

Dua isu terakhir masih mungkin dirundingkan, namun status Yerusalem adalah harga mati bagi Israel. Mereka telah menetapkan kota suci tiga agama–Islam, Yahudi, dan Nasrani–itu sebagai ibu kota abadi dan tidak dapat dibagi dua dengan bangsa Palestina. Yerusalem juga sangat menguntungkan secara ekonomi. Saban tahun, 2,24 juta wisatawan asing melancong ke sana. Persis seperti Mekkah dan Madinah di Arab Saudi, Israel tidak perlu membuang uang untuk promosi.

Sulitnya melepas Yerusalem Timur tampak dari pergulatan politik dalam negeri Israel. Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, yang sebenarnya berpeluang menjadi perdana menteri perempuan kedua setelah Golda Meir, gagal membentuk pemerintahan koalisi. Partai Shas berhaluan ultra-ortodoks menolak bergabung lantaran Livni menolak syarat untuk tidak mengutak-atik status Yerusalem. Bahkan, Nir Barakat, yang ultra-sekuler, juga berpendapat sama. Ia baru saja menang dalam pemilihan Wali Kota Yerusalem setelah mengalahkan tiga calon dari kelompok religius.

Alhasil, tidak berlebihan jika menyebut negara Palestina hanyalah sebuah mimpi. Kedua pihak harus berkorban amat sangat besar, yakni melepas Yerusalem. Artinya, negara Palestina bisa berdiri jika mereka tidak ngotot menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota atau Israel bersedia membagi kota itu. Meski sebatas angan, semoga saja khayalan rakyat Palestina untuk merdeka tidak hilang. Hanya mimpi itu yang terus membuat mereka dan pihak-pihak yang peduli tetap bersemangat berjuang. *

Faisal Assegaf, wartawan Tempo

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • TNI AL bangun dermaga di Sangihe
      Komandan Pangkalan TNI AL Tahuna, Kolonel Pelaut Setyo Widodo, menyatakan, mereka akan segera membangun dermaga di Kabupaten Kepulauan Sangihe.Menurut dia, di Tahuna, Selasa, pembangunan dermaga TNI AL di sana menjadi kebutuhan ...
    • Korban tewas akibat lonsor di Kongo mencapai 140 orang
      Jumlah korban tewas akibat tanah longsor yang melanda sebuah desa nelayan di tepi danau di Republik Demokratik Kongo mencapai 140 orang, kata pemerintah pada Senin (21/8)."Kami perkirakan bahwa sedikitnya ada seratus jenazah ...
    • Negeri gila sepeda ini bikin tempat parkir sepeda terbesar di dunia
      Kota Utrecht di Belanda yang gila sepeda, kemarin membuka apa yang disebut sebagai tempat parkir sepeda paling besar di dunia yang jika rampung tahun depan bisa menampung 12.500 sepeda.Langkah pemerintah kota berpenduduk 344.000 ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: