Upaya Wartawan untuk “Cover Both Sides”

Peluncuran Buku “Timor Timur Satu Menit Terakhir”

timtim1menit1Sebuah buku baru mengenai berbagai kejadian seputar jajak pendapat di Timor Timur (kini Timor Leste) terbitan Mizan, diluncurkan Kamis (4/12) sore ini, di Jakarta. Timor Timur Satu Menit Terakhir-Catatan Seorang Wartawan adalah karya wartawan senior Harian Kompas Cordula Maria Rien Kuntari, yang akrab dipanggil Rien.

“Tolong baca buku saya dengan saksama, ya,” begitulah pesannya dalam percakapan telepon, Rabu (3/12) petang kemarin, ketika saya memberi komentar pada sejumlah bab dari bukunya. Saya katakan kepadanya, bukunya “medeni” (dalam bahasa Jawa, artinya “menyeramkan”).

Tetapi memang demikianlah adanya, buku yang ditulis Rien berdasarkan pengalamannya meliput di Timor Timur pada masa-masa sebelum jajak pendapat, ketika jajak pendapat, dan pascajajak pendapat (akhir Januari-akhir Oktober 1999), bukan sekadar menuturkan berbagai kesulitan, kengerian, kompleksitas persoalan, dan nuansa-nuansa politik lokal maupun internasional yang berkembang pada masa itu. Dan dalam sebagian proses itu dia terlibat dan hadir, namun juga tidak berusaha menyembunyikan siapa saja yang terlibat dalam aksi-aksi kekerasan pada periode itu.

Sebagai wartawan, Rien mencoba menuturkan secara objektif dan cover both sides (mengambil narasumber secara berimbang dari dua pihak yang bertentangan) menyangkut persoalan-persoalan yang sampai saat ini pun masih kontroversial. Meski kedua negara, yakni Republik Indonesia dan Republik Timor Leste, telah bersepakat menutup buku, ketika pada 15 Juli 2008 lalu menerima laporan hasil kerja Komisi Kebenaran Persahabatan (KKP) yang bekerja sejak Agustus 2005.

Pembentukan KKP sendiri sudah diwarnai kontroversi, sehingga laporannya pun memicu rasa puas atau tidak puas. Karena berdasarkan kerangka acuan yang disepakti kedua negara, rekomendasi-rekomendasinya tidak akan mengarah pada proses pengadilan terhadap individu, serta mendorong upaya-upaya peningkatan rekonsiliasi dan persahabatan kedua negara.

“Cover Both Sides”

Bagian yang saya katakan “medeni” memang terdapat di bab 1-4, di mana di situ banyak ditulis soal kasus-kasus kekerasan, intimidasi, penganiayaan, bahkan yang bermuara pada pembunuhan kaum sipil (termasuk masyarakat biasa, rohaniwan, dan wartawan). Dan Rien bersama dua rekannya sesama wartawan Kompas, termasuk kelompok yang masuk “target untuk dihabisi”.

Misalnya, kutipan percakapan telepon antara Brigjen (kini Mayjen Purnawirawan) Glenny Kairupan yang berada di bandar Udara Komoro, Dili, dengan Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoedin (kini letnan jenderal, Sekjen Dephan) yang berada di Jakarta mengenai informasi yang beredar di lapangan bahwa ada instruksi pembunuhan dari Jakarta.

“Frie, benar lu menginstruksikan itu…mereka kan orang kita, masak harus dihabisi,” kata Brigjen Glenny Kairupan. Pak Sjafrie menjawab tegas, “Tidak, Bang.” (halaman 167).

Atau kutipan percakapannya dengan Kol (inf) FX Suhartono Suratman (kini berpangkat mayor jenderal, Pangdam VI Kodam Tanjungpura) yang pernah menjadi Komandan Korem Wiradharma di Timor Timur semasa jajak pendapat. “Saya orang Katolik Rien. Tidak mungkin melakukan hal seperti itu.” Kutipan itu adalah upaya Rien mencari konfirmasi terkait dugaan militer di balik aksi pembunuhan terhadap sejumlah rohaniwan Katolik di Timor Timur (halaman 181-182).

Termasuk kesaksiannya mengenai anggota “Brimob” yang dengan dingin menembak mati seorang mahasiswa Timtim yang lari tunggang langgang ketakutan ketika “polisi” datang. Atau Aitarak Jawa, yang berbahasa dialek Jawa Timuran dan dilengkapi wig gimbal berambut panjang. Atau juga peran Dr Dewi Fortuna Anwar, yang ketika itu salah satu penasihat Presiden BJ Habibie, dalam proses lepasnya Timor Timur, provinsi ke-27 Indonesia.

Cover both sides, itulah prinsip yang diperjuangkannya ketika meliput di Timor Timur pada tahun 1999 itu. Dan karena inilah kerap nyawanya berada di ujung tanduk, termasuk saat dirinya ditodong pistol di kepala oleh salah seorang anggota milisi pro integrasi yang kalap pada masa itu.

Dalam buku ini, yang pengantarnya ditulis oleh anggota Dewan Penasihat Presiden mantan Menlu RI Ali Alatas (tokoh yang sangat gigih membela nama Indonesia di kancah internasional khusus untuk soal Timor Timur), PM Timor Leste Xanana Gusmao, dan Letjen (purn) Agus Widjojo (mantan komisioner dari Indonesia di KKP), Rien membuka sedikit hal-hal yang selama ini tidak pernah diungkap di media, khususnya mengenai dugaan unsur-unsur militer berada di balik sebagian kekacauan di Timor Timur pasca pengumuman hasil jajak pendapat.

“Buku ini memang sudah lama ditunggu-tunggu. Akhirnya menjadi kenyataan juga: buku tentang Timor Timur yang ditulis bukan sebagai analisis politik semata, bukan pula sebagai paparan sejarah diplomasi, tetapi sebagai penuturan berdasarkan pengalangan langsung seorang wartawati Indonesia,” tulis mantan Menlu RI Ali Alatas dalam prakata, yang menilai buku ini “cover both sides.”

Ali Alatas sendiri sudah menulis pengalamannya lebih dari dua dekade berdiplomasi mengurus Timor Timur di berbagai forum internasional dalam bukunya The Pebble in the Shoe: The Diplomatic Struggle for East Timor.

Xanana Gusmao terlibat memberi masukan dan catatan terhadap buku ini. Komentarnya “buku ini bukan isapan jempol dan bukan pula kepiawaian seorang wartawan oportunis untuk merangkai berbagai cerita fiktif dan kepahlawanan, melainkan pengalaman nyata seorang perjuang pers dan patriot bangsa, yang ingin dibagikan kepada kita semua, terdorong oleh kecintaannya kepada dua bangsa bersaudara, yakni Indonesia dan Timor Leste.”

Wartawan Perang

Rien Kuntari menjadi wartawan Kompas sejak tahun 1991, sebelumnya dia juga pernah menjadi wartawan di harian Sinar Indonesia yang terbit di Malang, Jawa Timur. Dia meliput masalah-masalah diplomasi di Departemen Luar Negeri hingga tahun 2004. Pada periode itu dia meliput Istana Kepresidenan, ketika Soeharto masih menjadi presiden sampai akhir pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Semasa meliput masalah-masalah internasional inilah Rien berkesempatan mengunjungi lebih dari 50 negara. Dia meliput sejumlah konflik dan perang, seperti Perang Teluk di Irak (1991), konflik antaretnis di Rwanda (1994), referendum di Irak (1995 dan 2002), proses perdamaian di Kamboja (1996), dan meliput di Timor Timur sampai meraih kemerdekaan (1992, 1999-2002).

“Diculik” adalah bagian dari banyak pengalamannya, antara lain ketika meliput referendum di Irak, karena hal itu merupakan cara “paling aman” untuk bertemu dengan pihak oposisi tanpa harus dicurigai pihak yang berkuasa. Atau naik mobil PBB yang melindasi mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan ketika meliput konflik dan genosida di Rwanda. Dalam hal ini dukungan dari berbagai perwakilan RI di luar negeri sangat memfasilitasi tugas-tugas jurnalistiknya.

Oleh karena itulah, ketika Rien menyiratkan kecemasan atas risiko yang bisa terjadi atasnya karena terbitnya buku ini, saya katakan kepadanya bahwa dia sudah pernah melewati periode terburuk.

Kristanto Hartadi – SinarHarapan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: