2009: SBY-JK Vs Mega-HB X?

Pada hari Kamis (4/12), mantan cawapres 2004 Gus Solah, alias Salahuddin Wahid didampingi Nathan Setiabudi, menggelar jumpa pers di Gedung Joang 45, Jakarta, memperkenalkan konvensi capres Dewan Integritas Bangsa (DIB). Hadir pada acara itu capres Sri Sultan Hamengkubuwono X, Fadel Muhammad, Rizal Ramli, Marwah Daud Ibrahim, Yuddi Chrisnandy, dan Taufikurahman Ruki. Belakangan Ruki mundur dan diganti oleh putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo yang mengundurkan diri dari Tim 45 DIB. Gagasan DIB ini merupakan respons masyarakat terhadap fenomena golput yang telah sering diwacanakan. Reaksi parpol bervariasi, mulai dari dukungan sampai peringatan bahwa konvensi DIB tidak berdampak apa pun karena capres hanya bisa diajukan oleh parpol.

Tapi sebenarnya, di balik formalisme yang dilontarkan dalam polemik, sedang terjadi pendekatan ke arah transaksi politik di antara para tim sukses, yang tentu saja mempergunakan buku Sun Tzu, Machiavelli, dan Sorensen, serta mendalami riwayat Brutus dan Ken Arok. Jika Megawati rela menjadi wapres, maka duet Hamengkubuwono X – Megawati akan menjadi pasangan alternatif yang kuat dan bisa mengalahkan duet incumbent SBY-JK. Tetapi duet ini sulit disusun sekarang karena secara psikologis Megawati masih merasa mempunyai mandat PDIP, sedang Sultan adalah pendatang baru dari luar PDIP. Sultan sendiri sudah all out hanya mau jadi capres dan bukan cawapres. Bagaimana kalau duetnya adalah Mega-HB X? Apakah akan sekuat HB X-Mega? Tentu akan berbeda kualitasnya, bila duet ini dibolak-balik, ada nuansa kualitatif yang pasti mempengaruhi elektabilitas duet HB X-Mega dibanding duet Mega-HB X.

Mungkinkah JK melamar Sultan dengan duet JK- HB X? Jarang orang membuat skenario duet ini sebab, tidak bakal laku jika orang Bugis menjadi raja sedang raja Jawa hanya menjadi wakil. Bagaimana kalau di balik, JK bersedia jadi wakil seperti Hillary bersedia jadi Menlunya Obama, walaupun secara struktural lebih senior. JK adalah ketua umum dan incumbent wapres, jika Sultan menang lewat Golkar, maka itu mirip Obama mengalahkan Hillary.

Skenario status quo duet incumbent SBY-JK dinilai tetap paling strategis dan aman bagi kedua tokoh. Kalau mereka bersatu padu, maka relatif dianggap “terbaik” ketimbang pasangan baru yang mesti diuji coba lagi di tengah krismon global yang mengancam kita. Sebenarnya, paling aman bila duet ini memproklamasikan koalisi permanen Golkar Demokrat. SBY sebagai pemimpin koalisi, serta JK sebagai “campaign manager”. Tapi barangkali juga ada pertimbangan ketidakpopuleran kebijakan sekitar Lapindo dan citra Bakrie yang penuh konotasi money politics bisa membuat duet ini kurang laku. Karena itu, harus ada pemurnian dan penjauhan SBY dari keracunan “malfungsi Lapindo”. Suksesnya SBY melampaui krismon global yang diperkirakan baru akan teratasi 18 bulan mendatang, memang menjadi kartu taruhan oleh pesaing capres yang bisa mengeksploitasi dampak krismon sebagai nilai negatif bagi incumbent.

Tampaknya, para capres kurang begitu antusias berbicara tentang krismon, karena sadar bahwa tantangan akan berat sekali sehingga lebih baik membiarkan SBY memikul beban itu dan menarik manfaat bila “gagal”. Sebab, sadar kalau mereka menjadi presiden juga harus memikul beban berat tantangan krismon itu yang tidak gampang atau ringan.

Capres lain yang memikul beban bagasi politik pelanggaran HAM Orde Baru tampaknya tidak akan berpeluang besar dalam pilpres 2009 di tengah krismon global dan opini publik terhadap para diktator pelanggar HAM yang semakin mengkristal.

Christian Amanpour menyajikan dokumentasi film CNN tentang genoside di Nazi Jerman, Pol Pot Kamboja, Irak Saddam, Rwanda, Bosnia, Darfur, dan mewawancarai tokoh seperti Richard Holbrooke, mantan Dubes AS di PBB, Presiden Rwanda Paul Kagame, dan pegiat pengekspos Darfur. Hari Sabtu, pemenang hadiah Nobel, Uskup Desmond Tutu menyerukan Robert Mugabe untuk mundur dari jabatan Presiden Zimbabwe atau akan diseret ke Mahkamah Internasional di The Hague karena kejahatan terhadap kemanusiaan, kelaparan, dan pembunuhan oposisi di Zimbabwe. Menlu AS Condoleeza Rice mondar-mandir Islamabad-New Delhi untuk mencegah serangan balasan India atas teror Mumbai terhadap Pakistan. Presiden Pakistan Zardari menyatakan bahwa teroris yang berasal dari Pakistan adalah rogue non state actor, pelaku bukan negara, tapi oknum. Zardari menekankan bahwa istrinya, Benazir adalah juga korban teroris, dan hari Sabtu (6/12), sebuah mesjid di Peshawar (Pakistan) dibom.

Indonesia belum sepenuhnya steril dari bom waktu konflik SARA, dan bagasi politik otoritarian Orde Baru masih akan membebani figur capres masa lalu. Bahkan polemik pro dan kontra pemasangan gambar Soeharto oleh PKS bisa mengurangi suara PKS karena dianggap mengejar akses dana ke Cendana.

Dua hari setelah acara DIB, polemik tentang efektivitas wadah dan gebrakan DIB merebak. Dalam drama musikal Sujiwo Tejo, “Pengakuan Rahwana”, Sabtu malam (6/12), artis menyanyikan lagu pemilu ditutup dengan bait Mari Kita Memilih Barack Obama. Dunia memang terpesona oleh terobosan Obama yang mengukuhkan AS sebagai global state pertama sedunia. Tokoh minoritas yang didukung pendapat umum sedunia, menjadi the best untuk memimpin AS berdasar meritokrasi.

Apakah DIB bisa menjadi mesin pengorbit “Obama Indonesia”? Apakah DIB akan bisa berperanan menggerakkan golput memilih Sultan atau capres alternatif 2009? Dapatkah DIB mengumpulkan suara langsung dari rakyat pemilih mulai sekarang sampai 5 April? Dalam 4 bulan atau 120 hari, voters boleh langsung mengajukan capres alternatif melalui email ke website. Misalnya, sehari ada 100.000 suara pemilih, maka tanggal 5 April DIB bisa menyatakan bahwa 12 juta pemilih mendukung capres Sultan atau alternatif lain. Dengan dukungan itu, maka parpol yang mengusung capres melalui internet voting harus memenangkan paling sedikit 15 juta suara dari mesin konvensi DIB yang harus sekualitas dengan mesin kampanye Obama. Suatu kampanye yang mengutamakan substansi kapabilitas dan profil kenegarawanan sang capres dalam menghadapi krismon global. Kepada capres lain, terobosan konvensi DIB bisa menjadi cermin, serta alarm agar tidak mengabaikan golongan putih, yang sudah muak dan jenuh dengan oligarki parpol. Kalau golput bergabung, oligarki parpol harus mawas diri bila tidak ingin dilanda tsunami voters. Final segiempat SBY-JK, Mega-HB X bakal menarik mirip final sepakbola Piala Dunia.

Christianto Wibisono pengamat masalah nasional dan internasional – SuaraPembaruan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: