“Jadi Presiden itu Gampang”

Singa podium ini tak lekang oleh usia. H. Abdul Madjid mengawali karir politiknya di panggung kampanye Partai Nasional Indonesia (PNI) pada Pemilihan Umum 1955. Pada usia senjanya, sekarang 82 tahun, ia masih “mengaum” garang. Kali ini sebagai juru kampanye reinkarnasi PNI–Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan–di sebuah ajang yang juga merupakan penjelmaan pemilu multipartai pertama itu.

Madjid adalah potret utuh salah satu aliran politik di negeri ini: nasionalis. Jelas, ia amat memuja Bung Karno. Mantan Sekretaris Jenderal PNI itu piawai menirukan langgam dan gaya presiden pertama itu berpidato. Pada awal Orde Baru, meski semula menentangnya, ia adalah salah satu penanda tangan deklarasi fusi PNI, Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik, dan Murba menjadi PDI, pada 1973. Ketika Megawati Soekarnoputri naik ke pucuk pimpinan PDI dan sempat dicoba digulingkan Soeharto, ia teguh membelanya.

Keras memegang prinsip adalah salah satu sifatnya. Semasa sekolah, pada usia 15 tahun, Madjid muda memimpin pemboikotan Hari Oranye untuk menghormati Ratu Belanda. Ia juga tanpa tedeng aling-aling mengakui keterlibatannya di PNI Asu (Ali Sastroamidjojo-Surachman), yang dicap komunis?padahal menurutnya bukan. Sikap kerasnya terhadap Soeharto membuat penanda tangan Petisi 50 ini kerap digusur dari daftar pengurus PNI dan PDI. Pada 1979, ia di-recall dari Senayan.

Pada pemilu mendatang, kakek 25 cucu ini dicalonkan PDI Perjuangan sebagai calon legislatif nomor satu di Lumajang, Jawa Timur. “Saya mengkhawatirkan perpecahan di PDI Perjuangan,” katanya kepada Karaniya Dharmasaputra, Raju Febrian, Kelik M. Nugroho, dan fotografer Rully Kesuma. Berikut petikan wawancara dengannya, di ruang kerjanya yang tua dan dipenuhi berbagai pipa cangklong dan tongkat antik.

Apa benar Pemilu 1955 paling demokratis?

Benar. Paling demokratis, paling tenteram. Padahal, waktu itu ada 51 tanda gambar dari sekitar 30 partai, organisasi biasa, dan perorangan. Tiap individu boleh ikut, asal didukung sekurangnya 20 orang.

Bagaimana suasana kampanyenya?

Meriah, seperti pesta rakyat. Masyarakat berjalan kaki datang ke tempat kampanye, seperti piknik. Mereka membawa makanan dari rumah. Di sepanjang jalan juga disediakan kendi untuk minum. Pokoknya tertib. Padahal kampanye bareng berbagai partai.

Bukankah pertentangan antarpartai cukup tajam?

Ya. PNI, Masyumi, NU, dan PKI itu rival, bersaing ketat.Tapi, meski demikian, saya tidak pernah mendengar ada bentrokan antarpendukung.

Tidak ada sama sekali?

Di tempat yang saya datangi, tidak ada. Paling hanya saling mengolok-olok. Barangkali waktu itu orang masih baik-baik, he-he-he?. Padahal, tidak ada pengawas pemilu seperti sekarang. Sepertinya yang jadi pelaksana itu rakyat. Semua serba sederhana. Suara dihitung pakai papan tulis atau sipoa.

Kalau kecurangan pemilu?

Saya tidak pernah dengar ada partai yang protes. Memang, banyak pegawai negeri yang PNI. Tapi tidak ada instruksi model Golkar. Bebas-bebas saja. Saya ingat ada dua orang staf saya yang pengurus PKI. Tidak apa-apa.

Tapi, menurut Indonesianis Herbert Feith, sejumlah lurah di Jawa minta warganya memilih PNI?

Memang ada. Karena PNI, ya, otomatis dia minta warganya memilih PNI. Tapi tidak menggunakan tekanan. Saya tidak membantah kalau ada pegawai yang memilih PNI karena takut pada atasannya. Tapi, tak ada itu monoloyalitas atau Korpri.

Seberapa tajam pertentangan antarpartai itu?

Tajam dari segi ideologi. Umpamanya, PNI terang-terangan menolak Darul Islam. Begitu pula antara Masyumi dan NU dengan nasionalis atau komunis. Dan semuanya diungkapkan secara gamblang, termasuk dalam rapat akbar untuk menggaet pemilih. Tapi, ya itu, sebatas mencela saja. Pedas tapi relaks. Yang paling sering, saling mengejek tanda gambar. Kita bilang, PKI itu kan tukang aritnya banteng. Juru kampanye Masyumi bilang, PNI itu memuja banteng, berhala. Kita jawab, lha menyembah bulan bintang itu kan juga berhala, he-he-he?. Jadi, sambil guyon. Tidak ada yang marah. Paling-paling bilang: kurang ajar!

Program juga dikampanyekan?

Tidak terlalu mendalam. Yang utama menerangkan tanda gambar dan ideologi. Figur juga tidak ditonjolkan untuk menggaet suara.

Benarkah pertentangan ideologi itu lalu mempertajam konflik sosial?

Saat pemilu 1955, tidak. Sebab, di tataran masyarakat, perbedaan ideologi itu tidak terlalu mendasar.

Dari mana sumber dana partai waktu itu?

Donatur, iuran, atau sumbangan. Tiap pengurus daerah mencari dana sendiri-sendiri, swadaya. Kita juga tidak pernah digaji. Paling-paling uang transport. Perlu dicatat, waktu itu partai tidak mendapat sepeser pun bantuan pemerintah. Pemerintah hanya membiayai pelaksanaan pemilu. Panitia pelaksana pemilu sepenuhnya dari wakil partai. Tidak ada wakil pemerintah.

Bagaimana sumbangan dari pengusaha Cina?

Sebagian pengusaha keturunan Cina menyumbang PKI. Dulu, pengusaha dengan nama belakang kan atau chan mesti bendahara PKI. Yang lain, ada juga yang masuk PNI. Dari kalangan pribumi, yang banyak menyumbang PNI adalah Markam (konglomerat pribumi semasa Program Benteng, pribumisasi ekonomi).

Siapa yang menentukan calon legislatif?

Partai. Calon tingkat pusat oleh DPP, tingkat daerah oleh DPD, atas permintaan cabang. Waktu itu, kita tidak bicara soal pemilihan presiden, tapi bagaimana menguasai parlemen.

PNI akhirnya memenangkan pemilu.

Ya. Perolehan kursinya sama dengan Masyumi: 57kursi. Tapi jumlah suara PNI lebih besar. Setelah itu, NU 45 kursi, PKI 39, Parkindo delapan, Partai Katolik enam, IPKI empat, dan Murba dua kursi.

Dan itu karena dukungan Bung Karno?

Sama sekali tidak. Waktu itu, Bung Karno bahkan berseberangan dengan ketua PNI Ali Sastroamidjojo.

Tapi, nama Bung Karno kan amat berpengaruh?

Itu kan boleh-boleh saja. Apa dosanya PNI besar karena nama Bung Karno?

Bung Karno pernah ingin menjadikan PNI sebagai partai negara.

Benar. Pada waktu proklamasi, saya mendengar Bung Karno ingin menjadikan PNI sebagai partai negara, tapi tidak jadi karena ditentang Bung Hatta. Menurut pemikiran Bung Karno, dalam revolusi kita harus menggunakan sistem komando. Tidak jalan kalau dengan demokrasi. Bung Karno kan selalu berpikir revolusi belum selesai.

Anda begitu mengagumi Bung Karno. Apa kesalahan terbesarnya?

Saya tidak tahu. Tapi, mengagumi kan tidak harus seluruhnya. Masa, sampai kentutnya juga harus dikagumi. Salah satunya kekurangannya, ya, itu, soal wanita.

Kalau merangkul PKI?

Saya percaya, Bung Karno merangkul PKI bukan karena membutuhkan dukungannya. Tapi, ia justru ingin mempancasilakan PKI. Tapi, Soeharto malah menyatakannya sebagai kesalahan terbesar Bung Karno. Pikirannya kok cuma sampai di situ?

PDI Perjuangan lebih mudah bergandengan dengan PKB ketimbang PAN. Dari sejarah, PNI juga lebih mudah bekerja sama dengan NU daripada Masyumi?

Barangkali iya.

Anda optimistis koalisi PDI, PAN, dan PKB bisa terwujud?

Lo, sekarang kan sudah terjadi. Tekadnya kan baik, tidak mau Orde Baru kembali.

Anda yakin PDI akan mengulang kejayaan PNI?

Mudah-mudahan.

Tapi, bagaimana tradisi konflik internal di PNI maupun PDI?

Perpecahan itu kan karena campur tangan pemerintah. Strategi Orde Baru adalah de-Soekarno-isasi dan depolitisasi. Itu sudah dimulai sejak Agustus 1965, ketika PNI pecah menjadi PNI Osa-Usep (Osa Maliki-Usep Ranawidjaja) dan PNI Asu (Ali Sastroamidjojo-Surachman).

Anda kan termasuk PNI Asu.

Iya. Saya dulu anggota PNI Asu. Dan saya tidak pernah menyembunyikannya. Menteri Dalam Negeri Amir Machmud pernah bilang, “Wah, PDI masih banyak ‘asu’-nya”. Saya bilang, “Pak, jangan begitu. Saya ini juga asu.” Terus, dia bilang, “Pak Madjid kan lain.” Tapi, saya tidak setuju kalau PNI Asu dibilang berafiliasi dengan PKI. Pada 1950-an saya ini sudah dianggap musuh nomor satu oleh pimpinan PKI Minahasa.

Surachman kan memang PKI?

Dia menyusup dengan misi mem-PKI-kan PNI. Banyak yang terpengaruh, tapi banyak juga yang menentang, termasuk saya. Jangan dipukul rata. Buat saya, PNI di bawah pimpinan Ali Sastroamidjojo itu sah karena merupakan hasil Kongres 1963 di Purwokerto. Nah, kalau mau mengubahnya, ya, juga harus melalui kongres. Apalagi, Pak Ali itu sangat nasionalis. Jangan disalahkan, kita kan tidak punya intelijen sehingga tidak tahu kalau disusupi. TNI saja tersusupi kok.

Bagaimana Anda tahu Surachman PKI?

Saya mengetahuinya setelah dia menjadi Menteri Pengairan Rakyat. Anak buahnya rata-rata dari CGMI, yang berafiliasi ke PKI. Seorang tentara pembantunya juga sering datang ke pertemuan PKI.

Apa yang menyebabkan perpecahan PNI Asu dan PNI Osa-Usep?

Pertama, soal ideologi. Surachman ingin memasukkan marxisme ke dalam marhaenisme. Yang kedua, intervensi Angkatan Darat. Paling tidak, Kolonel Ali Moertopo melihat unsur komunis di tubuh PNI bisa digunakan untuk menghancurkan PNI. Saat kongres 1971 di Semarang, Hadi Subeno, yang direstui pemerintah, didudukkan sebagai ketua umum. Saya tahu persis saat itu ada aparat Bakin bernama Bidut Suharto. Dia itu orangnya Ali Moertopo. Sejak itu, PNI terus dikerdilkan.

Termasuk saat harus fusi menjadi PDI?

Fusi itu artinya apa? Eksistensi partai-partai berakhir. Bayangkan saja perbandingan jumlah kursi PNI dengan empat partai lain (Parkindo, Partai Katolik, IPKI, dan Murba) pada Pemilu 1955 itu 4:1. Dengan fusi, komposisi suara itu tidak diperhitungkan. Semula kita menuntut komposisi pengurus PDI harus proporsional. Ketua umum, sekjen, dan bendahara harus dari PNI.

Lalu?

Akhirnya kompromi. Kesepakatan fusi menjadi PDI ditandatangani di kantor PNI di Salemba, pada 10 Januari 1973, pukul 12 malam. Pada rapat pembentukan DPP keesokan harinya, wakil PNI yang berunding adalah almarhum Sunawar Sukowati. Keputusannya: cuma ketua umum dari PNI, sekjen, dan bendahara lepas. Massa PNI lalu marah. Saya tidak menyalahkan Sunawar. Soalnya, jelas ada tekanan dari Pangkopkamtib waktu itu, Sudomo. Di susunan pengurus PDI, unsur PNI hanya tiga orang. Empat partai lain delapan orang. Jadi, suara kami yang awalnya besar, ya, habis!

Bukankah Anda semula menentang fusi?

Memang. Tapi waktu itu kami digiring dari bawah. Aparat mendesak pengurus daerah berfusi terlebih dahulu. Tambahan lagi, sebagian DPP PNI, seperti Mohammad Isnaeni dan Sunawar, sangat menyetujui fusi. Akhirnya, saya kalah. Saya tidak melihat alternatif lain selain fusi untuk berpolitik.

Bukankah konflik PDI lebih karena pertentangan pribadi antarunsur PNI?

Memang, ada pertentangan pribadi antara Sunawar dan Isnaeni. Cuma, konflik intern itu berkembang setelah pemerintah ikut campur memasukkan Sanusi Hardjadinata dan Usep. Isnaeni dan Sunawar diganti. Ketika Kongres I 1976, perpecahan makin menjadi-jadi. Begitu pula sebelum Kongres II 1981. Waktu itu, Sanusi, Usep, dan saya ditendang. Tapi kami melawan terus. Rupanya, ini menarik perhatian Bakin. Kita semua dipanggil ke Kantor Bakin dan dirujukkan Pak Yoga (Soegama). Akhirnya pemecatan dicabut. Anehnya, pemerintah tidak juga mengizinkan kongres. Sanusi lalu dipanggil Sudomo. Menurut ceritanya, Sudomo mengajukan syarat: saya dan Usep tidak boleh duduk di DPP. Karena Sanusi bukan tipe orang yang bisa diajak bermain seperti itu, ia lalu mengundurkan diri.

Bagaimana jalannya Kongres II itu?

Kongres berlangsung dengan tekanan dari pemerintah. Mereka takut unsur Madjid masuk lagi. Waktu itu ada dua kelompok. Ada yang lunak kepada Soeharto. Saya, Usep, dan Sanusi dianggap garis keras. Waktu kongres berlangsung, unsur PNI dikumpulkan Sudomo di Ancol. Dia terang-terangan bilang, ada tiga orang yang tidak boleh dipilih: Sanusi, saya, dan Usep. Yang boleh dipilih: Isnaeni, Ardjanto, dan Sunawar. Akhirnya Sunawar yang terpilih.

Pemerintah selalu masuk dengan memanfaatkan konflik internal?

Ya, tapi juga ada kepentingan menyingkirkan unsur yang vokal. Banyak orang yang ingin karir politiknya maju di atas kejatuhan orang lain. Sampai-sampai, waktu Kongres III 1986, itu murni campur tangan pemerintah. Direkayasa sedemikian rupa. Karena buntu tidak bisa menyusun DPP, lalu seolah-olah floor menyerahkannya ke pemerintah. Waktu itu DPP disusun Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam. Yang terpilih sebagai ketua umum adalah Soerjadi. Mereka bilang, memang pemerintah yang menyusun, tapi yang mengesahkan kan kongres. Yah, iya saja, lah!

Lo, PDI kok mau?

Yang mau itu oknumnya, dengan segala iming-iming fasilitas.

Begitu pula saat operasi menggulingkan Megawati?

Rekayasa menjatuhkan Mega jelas lebih kasar dan terang-terangan. Waktu Kongres Luar Biasa di Surabaya, tiap pengurus kabupaten didampingi pejabat sospol. Tapi toh bendungan itu jebol juga oleh arus bawah.

Tapi kan juga ada campur tangan Badan Intelijen ABRI (BIA) melalui Agum Gumelar dan Hendropriyono?

Ya. Meskipun munas di Jakarta berhasil dilaksanakan, susunan pengurus yang diinginkan Mega banyak yang diganti. Jadi, masih direkayasa. Mereka memasukkan orang semacam Soerjadi dan Fatimah Achmad.

Menurut Anda, Megawati mampu jadi presiden?

Banyak yang menanyakan soal itu. Saya selalu bilang, jadi presiden itu gampang. Itu kan soal pengelolaan saja, bagaimana memilih menteri yang pintar.

Kok Mega begitu tertutup?

Mega tertutup dalam forum universitas dan semacamnya. Tapi, dia tidak tertutup ke rakyat bawah. Dulu, waktu dia masuk PDI, dia bilang, “Pekerjaan pertama saya adalah bertemu dengan rakyat dan mengajak mereka berani bicara.”

Lalu, apa bedanya dengan Soeharto yang juga cuma mau berdialog dengan petani?

Ya lain, dong.

Pers, kalangan universitas, kan rakyat juga?

Yah, itu memang salah satu kekurangannya. Saya tidak bisa mengubah watak orang. Banyak yang bilang, Mega itu kok diam terus, sih?

Mega tidak berani mengikuti debat calon presiden?

Saya bilang pemikiran konyol kalau yang enggak mau ikut debat berarti tidak layak jadi presiden. Apa kalau pintar berdebat kemudian bisa jadi presiden?

Lo, kita kan tidak mau lagi “beli presiden dalam karung”?

Memang. Saya juga tidak mau mengatakan debat calon presiden itu bukan kebudayaan Timur. Tapi, kalau dia enggak mau, itu hak dia. Bung Karno pernah bilang, “Perjuanganku jangan hanya dilihat dari sepak terjang dan omonganku. Perjuanganku juga harus dilihat dari meneng (diam)ku.”

TEMPO

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: