Perunding Tangguh Itu Telah Tiada

Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas telah meninggalkan kita semua. Hari Jumat ini pukul 09.30, jenazahnya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Indonesia dan negara-negara sekawasan merasa kehilangan atas kepergiannya.

Keandalan Ali Alatas dalam berdiplomasi menjadikan pemerintah tidak pernah melepaskannya. Ali Alatas pada masa Presiden Soeharto menjabat sebagai Menlu selama dua periode (1988-1998). Jabatan itu dipegangnya selama satu tahun lagi ketika Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh BJ Habibie.

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, Alatas ditunjuk sebagai penasihat presiden untuk urusan luar negeri. Jabatan yang sama juga dipegangnya pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Dan, oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Alatas diangkat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden pada tahun 2007. Reputasinya melampaui batas negara. Ia pernah diangkat menjadi Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Reformasi PBB pada tahun 2005.

Karier Ali Alatas, yang akrab disapa Alex, diawali di Departemen Luar Negeri pada tahun 1954, dua tahun sebelum menamatkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dan, sampai tahun 1972, Alex beberapa kali menduduki jabatan Direktur Penerangan dan Hubungan Kebudayaan. Tidak diketahui apakah itu ada hubungannya dengan pengalaman yang pernah dijalaninya sebagai redaktur di kantor berita Aneta (1953-1954).

Alex dikenal sebagai orang yang sangat supel dan rendah hati, itu menjadikannya sangat luwes dalam berdiplomasi. Jalan ke puncak kariernya yang tertinggi di Deplu menjadi semakin jelas terlihat ketika ia ditunjuk menjadi Duta Besar RI merangkap Kepala Perwakilan Tetap RI untuk PBB yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1982-1988.

Pada waktu itu, Alex menjadi orang kepercayaan Menlu Mochtar Kusumaatmadja (1978-1988) dalam setiap perundingan internasional, baik pada tingkat regional maupun tingkat internasional.

Serangan terhadap Pemerintah Indonesia dalam kaitannya dengan integrasi Timor Timur di fora internasional dijawab Alex dengan tangkas dan cerdas. Demikian juga saat ia menjelaskan sikap Indonesia terhadap masalah Kamboja.

Pada saat itu, Indonesia mengambil sikap yang berbeda dari negara-negara anggota ASEAN lain, yang hanya mengekor Khmer Merah yang tersingkir dari Kamboja serta mengambil sikap konfrontatif terhadap pemerintahan Hun Sen yang berkuasa di Phnom Penh. Kamboja dan Vietnam mendukungnya. Daripada bersikap konfrontatif, Indonesia berusaha mengajak pihak-pihak yang terlibat dalam masalah Kamboja untuk bertemu dan duduk bersama-sama membahas penyelesaian yang terbaik.

Kemampuannya membuat pihak-pihak lain mengerti, dan akhirnya menerima dengan baik sikap yang diperjuangkan demi kepentingan nasional Indonesia, menjadikan Alex dijuluki sebagai perunding tangguh (tough negotiator). Alex tidak pernah putus asa, dengan tekun dan saksama, ia selalu mencoba mencari celah yang dapat dimasuki dan dimanfaatkan. Dan, sikap itu tetap dipegang saat ia diangkat menjadi Menlu, menggantikan Mochtar Kusumaatmadja.

Alex kemudian berhasil mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa di Kamboja dan berdialog di dalam Jakarta Informal Meeting I di Istana Bogor. Pertemuan di Istana Bogor itulah yang kemudian merintis jalan menuju perdamaian di Kamboja pada tahun 1991.

Walaupun sudah menjabat sebagai Menlu, tidak menjadikan hubungan Alex dengan wartawan menjadi jauh. Ia membuka diri lebar-lebar terhadap wartawan, dan dengan sabar membimbing wartawan yang bertugas di Deplu, hingga mengerti duduk perkara suatu masalah dengan jelas. Untuk itu, wartawan yang bertugas di Deplu sangat berterima kasih.

Pada saat mengikuti konferensi internasional, Alex masih menyempatkan diri meladeni pertanyaan wartawan menjelang masuk ke kamar hotelnya pada pukul 01.15. Bahkan, saat Alex baru sembuh dari operasi bypass di jantungnya, ia tetap menerima wartawan di kamarnya. Hingga istrinya, Junisa, turun tangan dan meminta agar tanya jawab tak lebih dari 15 menit.

Rasanya sulit mencari diplomat sekelas Alex. Selamat jalan Pak Alex…. (JL)

KOMPAS

1 Comment

  1. turun berduka cita atas meninggalnya salah satu diplomat ter baik indonesia..

    carpe diem..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: