Lawan Korupsi, 5 Dekan Dukung Kejaksaan

Lima orang dekan di lingkungan Universitas Pattimura menyambut gembira, mendukung dan memberikan apreasiasi terhadap Kejaksaan Tinggi Maluku yang telah mulai melakukan penyelidikan terhadap kasus genset Unpatti yang belakangan disita oleh lembaga itu.

‘’Kami memberikan apreasiasi penuh terhadap kinerja kejaksaan. Bahwa sebelumnya saya bersama empat orang dekan telah menemui Kajati terkait masalah itu. Nah, kalau saat ini kejaksaan telah menyita, tentu kami memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kejaksaan,’’ terang Dekan Fakultas Hukum Unpatti George Leasa MH kepada Koran ini, kemarin.

Sebelumnya, Leasa bersama empat orang dekan menemui Kajati untuk mempertanyakan penanganan kasus tersebut.

Dia menyebutkan, kejaksaan tidak hanya melihat kasus genset semata tapi persoalan di Unpatti seperti kasus suap atau gratifikasi. ‘’Bagi kami Unpatti sebagai lembaga akademis yang memproduksi sumber daya manusia di daerah ini, kedepan harus benar-benar bersih dan berwibawa dari segala bentuk KKN dan kepentingan,’’ paparnya.

Menurutnya, untuk kasus genset dimana dilakukan penyitaan dan pemeriksaan saksi-saksi mengindikasikan kalau apa yang dicanangkan Kejagung tentang pemberantasan korupsi di Maluku sudah berjalan baik pada semua lini termasuk lembaga akademik.

Khusus tentang dugaan kasus suap saat pemilihan Rektor Unpatti, dia mengingatkan kalau dari aspek pidana, kasus ini telah memenuhi pasal 53 KUHP yang mengatur tentang percobaan melakukan penyuapan.

Perbuatan ini, lanjutnya, tidak selesai karena ada tindakan pencegahan. Kalau demikian, lanjutnya, Rektor sebagai orang berniat melakukan suap (gratifikasi) terhadap anggota senat harus diperiksa. ‘’Rektor harus diperiksa termasuk didalamnya orang yang bertindak sebagai penyandang dana, begitupun mereka (anggota senat) yang menerimanya. Nah, disinilah bisa dilihat unsur yang memenuhi pasal 53 ini dinyatakan lengkap,’’ tegasnya.

Dalam kasus gratifikasi, tambahnya, yang sudah masuk dalam kategori korupsi maka pasal 53 itu menjadi tidak berlaku dan dengan demikian unsur suap sudah lengkap. ‘’Itu berarti perbuatan gratifikasi itu sudah lengkap,’’ imbuhnya.

Disinggung tentang pernyataan Louhenapessy yang mengelak atas pernyataannya saat diperiksa di kejaksaan, dia menyatakan kalau hal itu justru bisa membahayakan Louhenapessy sendiri. ‘’Itu berbahaya, sebab sebuah pernyataan yang ditarik begitu saja maka ada kepentingan apa disana,’’ tegasnya.

Meski begitu, Leasa yang selama ini dekat dengan Louhenapessy menyatakan yakin benar kalau Louhenapessy tidak akan menarik pernyataannya yang sudah dipublikasikan ke media massa dan laporannya sudah disampaikan ke Menteri dan Dirjen Dikti Diknas RI.

‘’Saya percaya pak Louhenapessy tidak akan menarik kesaksiannya dan pernyataannya. Saya tahu jiwa Louhenapessy adalah konsisten dan menurut saya tidak akan mundur,’’ tandasnya.  Sementara itu, paska penyitaan terhadap tiga unit genset di Universita Pattimura (Unpatti) Ambon, Rabu (11/12) lalu, tim jaksa penyidik langsung melakukan pemeriksaan terhadap Ketua Panitia Pelelangan pengadaan masing-masing Doni Nanlohi dan Sekertaris Tim Pemeriksaan Barang Ismail Nawawi, kemarin.

Nanlohy dan Nawawi hadir di Kejati sekitar pukul 09.00 WIT dan langsung menuju ruang pemeriksaan tim jaksa di lantai dua Kejati Maluku. Mereka berdua diperiksa sebagai saksi. Pemeriksaan dilakukan secara terpisah di dua ruangang berbeda selama delapan jam, mulai sekitar 09.00 WIT sampai 17.00 WIT.

Nanlohy diperiksa oleh dua jaksa penyidik, Marvie de Queljoe SH, dan Chrisman Sahetapy SH. Sementara Nawawi diperiksa oleh jaksa YE. Al Mahdali SH. Pantauan koran ini di Kejati, keduanya hanya beristirahat pada saat jam makan siang.

Ketua Tim Jaksa yang juga Wakil Kepala Kejati (Wakajati) Maluku, Babul Khoir Harahap membenarkan panggilan dan pemeriksaan terhadap Doni Nanlohy dan Ketua Tim Pemeriksaan Barang. Hanya saja Ketua Tim Pemeriksaan Barang tidak menghadiri pemanggilan. “Yang datang itu sekertarisnya, tapi kita tetap melakukan pemeriksaan. Karena dia juga dari Tim Pemeriksaan Barang,” kata Harahap kepada Ambon Ekspres di ruang kerjanya, Jumat (12/12).

Pemeriksaan masih terus berlanjut, karena hasil pemeriksaan belum bisa dipublikasikan, begitu juga dengan materi pemeriksaan. “Pemeriksaan masih berlanjut, silahkan ikuti dan kawal prosesnya tahap demi tahap. Kita akan mengusut kasus ini hingga tuntas. Rabu lalu kita juga sudah sita gensetnya,” cetus mantan Asisten Pidana Khusus Kejati Banten itu.

Dia menjelaskan dalam melakukan penyidikan terhadap kasus ini pihaknya masih fokus pada pemeriksaan terhadap para pejabat Unpatti yang diduga terlibat. “Setelah mereka selesai, baru kita fokus pada rekanan, jadi ikuti saja perkembangannya,” katanya lagi.

Dalam kasus ini tim jaksa menemukan indikasi berat kalau tiga mesin genset tersebut bukan mesin baru melainkan mesin bekas. Harahap sebelumnya juga telah menyatakan mereka akan memburu tersangka dalam kasus proyek senilai lebih Rp 7 miliar dari APBN tahun 2006 itu.

Jaksa Sulit Usut

Menyangkut dugaan suap saat pemilihan rektor Unpatti, tim jaksa penyelidik mengaku kesulitan mengusut tuntas kasus tersebut.

Kesulitan ini diperoleh setelah tim jaksa yang diketua Sinarta Simbiring melakukan pemeriksaan terhadap guru besar Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Prof. DR. J. E. Louhenapessy, Jumat (12/12).

Informasi yang dihimpun koran ini di Kejati menyebutkan, saat pemeriksaan yang dilakukan langsung oleh Ketua Tim Jaksa Sinarta Simbiring, Louhenapessy memberikan pernyataan yang berbeda atau tidak sesuai dengan isi suratnya yang dilaporkan kepada Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) di Jakarta soal dugaan suap.

Informasinya, Louhenapessy saat pemeriksaan mengatakan kepada jaksa kalau Rektor Unpatti H.B. Tetelepta mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenal untuk menawari uang senilai Rp 1,1 Miliar. Saat itu rektor kemudian memanggil Louhenapessy untuk memberitahukan tawaran itu, namun Louhenapessy langsung menolaknya dengan mengatakan kepada rektor jangan diterima.

Sebelumnya, Louhenapessy kepada koran ini juga mengatakan demikian. “Suap itu tidak terjadi, karena waktu itu saya langsung menolak. Ceritanya, rektor waktu itu mendapat telepon dari seseorang yang menawari beliau sejumlah uang, rektor kemudian memanggil saya dan menceritakan bahwa beliau baru ditelepon. Kala itu saya langsung mengatakan kepada rektor jangan diterima. Kepentingan kita saat ini adalah mengembangkan Unpatti ke depan agar lebih maju,” kata Louhenapessy, via telepon seluler, kepada koran ini, saat dikonfirmasi, Kamis (11/12) sore lalu.

Louhenapessy mengatakan bahwa menurut rektor orang yang menelpon tersebut mungkin pengusaha Ahu, “rektor waktu itu mengatakan yang menelpon itu mungkin Ahu. Tapi belakangan rektor kembali mengatakan bahwa bukan Ahu. Dan Ahu sendiri juga telah melakukan klarifikasi bahwa dia tidak terlibat,” katanya.

Hanya saja pernyataan yang disampaikan Louhenapessy kepada jaksa maupun kepada koran ini kontroversi dengan pernyataannya yang terterah pada kopian surat pribadi Louhenapessy kepada Rektor Unpatti, H.B. Tetelepta yang diperoleh koran ini.

Pada poin empat surat yang berlabel sangat pribadi itu, Louhenapessy menuliskan bahwa dirinya teringat pada hari pemilihan yaitu hari Jumat tanggal 6 Juli 2007 kira-kira pukul 13.00, rektor memanggilnya masuk sendiri ke ruang terpisah dan menyatakan bahwa ada orang mau mengirim Rp1,1 Miliar untuk dibagi-bagikan kepada pendukung Tetelepta (satu orang Rp50 Juta).

“Bapak tanya pendapat beta dan beta tidak setuju apalagi setelah bapak katakan kiriman itu dari Ahu,” tulis Louhenapssy dalam surat tertanggal 12 Agustus 2008 itu.

Sementara itu Simbiring saat diwawancarai koran ini usai pemeriksaan mengatakan, Louhenapessy dalam pemeriksaan menerangkan bahwa saat itu rektor ditelepon oleh orang tak dikenal untuk menawari uang Rp 1,1 Miliar.

Simbiring mengatakan, berdasarkan keterangan Louhenapessy orang yang menelpon itu tidak diketahui oleh rektor dan Louhenapssy karena yang menelpon memakai nomor rahasia. “Makanya saya menyuruh Pak Louhenapessy untuk menandatangani kopian surat yang disampaikan ke Dikti tersebut karena surat itu benar dia yang membuatnya,” katanya.

Keterangan Louhenapessy yang tidak mendukung, menyebabkan pemeriksaan berlangsung sangat cepat. “Sekitar 30 menit WIT Louhenapssy diperiksa,” ungkapnya.

Simbiring menjelaskan, dalam proses hukum ada lima alat bukti yakni, keterangan saksi, surat, keterangan ahli, petunjuk, dan keterangan tersengka, “Nah dalam kasus ini keterangan saksi tidak cukup. Karena Pak Louhenapessy hanya menjelaskan seperti itu. Bahkan nomor telepon yang menelepon saja tidak diketahui Louhenapessy,” katanya.

Ambon Ekspres

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: