Bukan Zaman Seragam

Baju dan cara berpakaian adalah cermin paling jujur perubahan gaya hidup. Perubahan terkini adalah gaya berpakaian lebih kasual dan nyaman karena pergeseran jenis lapangan kerja, lahirnya teknologi digital, dan perubahan geopolitik dunia.

Cerminan perubahan gaya hidup ke arah yang lebih kasual paling kelihatan pada sepatu karet (sneaker) yang desainnya semakin bermacam-macam, bahkan ada yang ujungnya lancip mirip pantofel. Desain tersebut mengakomodasi kebutuhan akan suasana kerja yang lebih nyaman dan tetap mendukung produktivitas kerja.

Denim yang secara populer disebut jins adalah contoh lain. Sejak tahun 1990-an denim sudah menjadi salah satu ladang garapan desainer dari Donna Karan, Giorgio Armani, sampai Karl Lagerfeld. Pergi sudah masa denim sebagai celana untuk pekerja kasar, seperti ketika pertama kali diciptakan akhir abad ke-17.

Belakangan, kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan teknologi digital dan internet mengubah konsep tentang kerja. Bangkitnya era kewiraswastaan secara global—ilmu kewiraswastaan adalah salah satu ilmu yang berkembang paling cepat di berbagai universitas dunia—juga mengubah cara orang bekerja.

Menolak diseragamkan

Sudah lebih 20 tahun terakhir konsumen tidak mau lagi didikte industri, mereka menentukan sendiri gaya berpakaian sesuai dengan kebutuhan individual.

Tidak zaman lagi dari ujung rambut hingga ujung kaki memakai satu merek sama yang memperlihatkan pengaturan selera dan penyeragaman. Masuki toko pakaian bermerek apa pun, yang ditawarkan kepada konsumen adalah potongan-potongan pakaian—blus, kemeja, jaket, rompi, celana panjang, rok—yang sangat beragam.

Lahirnya generasi yang sangat sadar teknologi digital (komputer dan internet) yang oleh Don Tapscott dalam buku terbarunya, Grown Up Digital (2009), dikelompokkan ke dalam Generasi X (mengikuti penamaan oleh Douglas Coupland, lahir Januari 1965-Desember 1976) dan Generasi Net (disebut juga Generasi Y, lahir Januari 1977 sampai Desember 1997) membentuk kebiasaan dan tuntutan baru.

Tiga dari delapan ciri Generasi Net, menurut Taspcott, adalah tuntutan pada kebebasan, apa pun disesuaikan kebutuhan individual (customized), dan inovasi terus-menerus. Mereka ingin menjadi diri mereka sendiri dan bebas memilih.

Generasi yang kini umur tertuanya 31 tahun itu menyesuaikan apa pun dengan kehidupan mereka, termasuk dalam hal kerja. Mereka memakai teknologi untuk ”menghindar” dari bentuk dan jam kantor tradisional; mereka menentukan sendiri waktu dan di mana mereka bekerja serta menggabungkan antara dunia kerja, rumah, dan kehidupan sosial.

Generasi Net yang dikelilingi teknologi internet, telepon seluler yang memungkinkan mereka mengirim pesan dan mendapat informasi apa pun termasuk hiburan, juga menuntut inovasi terus-menerus. Di ruang kerja, itu artinya menolak cara tradisional yang secara kaku menerapkan hierarki perintah dan kontrol. Sebagai gantinya, mereka mengubah proses kerja yang mengutamakan kolaborasi dan kreativitas.

(X)S.M.L, Zara, Guess

Perubahan perilaku konsumen tersebut tentu saja harus direspons oleh bisnis mode dan pakaian. Director of Fashion Division PT Mitra Adi Perkasa Tbk yang membawahi merek, antara lain, Zara dan Top Shop di Indonesia menyebutkan, di bagian perempuan 70 persen penjualan berasal dari pakaian nonformal atau kasual, seperti blus yang memakai banyak hiasan (fancy), kemeja kasual, kardigan, kaus oblong, kemeja polo, denim, dan celana kasual. Sedangkan di bagian laki-laki, kenaikan juga terjadi pada penjualan produk yang lebih kasual, seperti kaus oblong, kemeja polo, kemeja kasual, dan celana kasual.

Kecenderungan yang sama juga tampak pada (X)S.M.L, produk mode lokal yang menyasar anak-anak muda dan yang berjiwa muda. Jaclyn, penanggung jawab pemasaran dan promosi (X)S.M.L, mengatakan, kecenderungan terakhir memang pembeli lebih mencari baju yang lebih kasual dan dapat dipadu padan.

”Hasilnya tetap layak dipakai ke kantor, hanya saja gayanya tidak kaku,” kata Jaclyn. Karena itu, padu padan menjadi konsep utama untuk memberi pilihan sebanyak-banyaknya kepada konsumen.

Guess yang memosisikan diri sebagai penyedia busana urban untuk orang muda dan berjiwa muda mengalami permintaan kenaikan denim berwarna gelap, jas pendek (cropped jacket) yang fancy, rok pensil yang meruncing di bagian bawah, maupun kemeja kasual.

”Kecenderungan ini terjadi di semua toko Guess di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali,” kata Marketing and Communication Guess Indonesia Didiet Maulana.

Perubahan demografi, sosial-politik, dan teknologi juga mengubah gaya hidup. Ria Hanityo menyebut, semakin banyaknya perempuan bekerja di ruang publik menyebabkan meningkatnya kebutuhan barang praktis di rumah tangga, termasuk baju yang mudah diurus. Hal ini didukung perkembangan teknologi serat yang memungkinkan baju terasa lebih nyaman dan tidak rewel perawatannya.

”Hal itu membuat perubahan gaya berpakaian ke arah yang lebih praktis dan cepat sehingga permintaan akan pakaian yang lebih kasual ikut meningkat,” ujar Ria.

Membesarnya proporsi orang-orang usia muda, menurut Ria yang telah berpengalaman dengan produsen seperti Inditex yang mengeluarkan Zara, GAP, dan Arcadia Group yang memproduksi Top Shop dan Miss Selfridge, grup-grup raksasa itu semakin memberi perhatian pada kebutuhan orang muda yang membutuhkan gaya lebih kasual dan lebih muda.

”Bahkan, Marks & Spencer yang biasanya menyasar konsumen berusia matang dengan gaya konservatif kini juga berubah, semakin memberi perhatian pada gaya yang lebih kasual dan muda,” kata Ria.

”Kalau saya ke toko dan ngobrol dengan beberapa pelanggan, tidak sedikit dari mereka adalah entrepreneur,” kata Didiet. ”Mereka membutuhkan baju yang praktis dan lebih kasual karena mereka bekerja dari rumah atau di kantor sendiri.”

Meski kasual, bukan berarti tidak gaya. Selain para wiraswastawan dan wiraswastawati, mereka di bidang ekonomi kreatif seperti periklanan dan media, menurut Didiet, memilih antara lain jaket pendek, rok pensil atau rok dengan pinggang tinggi di dada, celana berpipa lurus, dan denim warna gelap. Selain gaya, juga gampang dipadu padan dengan baju lain yang sudah ada dan bila diperlukan, bisa ditampilkan lebih formal sesuai dengan kebutuhan.

Ini memang masa gaya individual yang lebih kasual dan nyaman.

Ninuk Mardiana Pambudy – KOMPAS

1 Comment

  1. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com%3c/a>. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://fashion.infogue.com/bukan_zaman_seragam


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: