Bintang Bethlehem, Orang Majus, dan Teleskop

Banyaklah sisi yang muncul ketika umat Kristiani menyambut Natal. Selain sukacita, dengan puji-pujian melalui musik yang melahirkan rasa bahagia tetapi juga kudus, ada pula sisi yang senantiasa menggugah bagi pencinta alam, jagat perbintangan, atau sains. Ini adalah teka-teki tentang apa sebenarnya Bintang Bethlehem yang mengiringi Kelahiran Sang Juru Selamat seperti dikisahkan dalam Injil Mateus.

Sepanjang tahun Masehi, Bintang Bethlehem banyak menjadi bahan kajian dan penelitian, tidak saja astronomi, tetapi juga astrologi. Salah satu buku yang tergolong mendalam mengupas Bintang Bethlehem adalah The Star of Bethlehem: The Legacy of the Magi karya Dr Michael Molnar (Rutgers, 1999). Molnar adalah astronom dan pendidik yang mendapatkan PhD dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, tahun 1971.

Tentang apa dan bagaimana persisnya ”bintang” yang dimaksud, program komputer modern, yang dapat divisualisasikan dalam planetarium bisa digunakan untuk menghadirkan kembali keadaan langit pada masa sekitar Yesus lahir.

Seperti digambarkan Molnar, setting waktu yang diduga kuat adalah 17 April tahun 6 sebelum Masehi, yakni dua tahun sebelum Raja Herodes meninggal. Saat itu Planet Jupiter muncul di langit timur sebagai bintang pagi di rasi Aries. Saat itu Matahari juga ada di Aries. Bulan juga sangat dekat dengan konjungsi dengan Jupiter. Planet Saturnus juga hadir, yang berarti bahwa ketiga penguasa Aries (Matahari, Jupiter, dan Saturnus) sedang singgah di Aries. Untuk era modern, situasi tersebut bisa disebut biasa (trivial). Namun, bagi pengamat bintang zaman dahulu, konfigurasi di atas sungguh mencekam (Molnar, situs eclipse.net).

Apakah Bintang Bethlehem adalah komet? Komet menurut keyakinan orang pada waktu itu dikaitkan dengan raja yang bertakhta akan wafat atau pratanda akan datangnya perang atau kekacauan, jadi dipercayai juga bukan obyek yang pas untuk satu kelahiran agung.

Lalu, apakah bintang itu sebuah supernova (bintang raksasa yang meledak)? Di sini pun Molnar mengatakan tidak ada bukti sejarah dari zaman dahulu bahwa supernova menandai kelahiran seorang raja. Seperti halnya komet, supernova merupakan ide zaman modern.

Lalu, apakah Bintang Bethlehem merupakan bintang keajaiban? Astronom besar, Johannes Kepler, mengira bintang itu adalah sebuah keajaiban disertai dengan fenomena alam, seperti konjungsi tripel, bahkan juga supernova yang ia amati tahun 1604. Namun, Molnar menyatakan, untuk menjelaskan Bintang Bethlehem tak perlu menghadirkan bintang ajaib.

Tentu saja akan ada penjelasan lebih lengkap jika ada catatan lebih rinci dari orang- orang Majus tentang Bintang Bethlehem. Mereka inilah orang yang dikenal sebagai orang bijak yang amat berpengetahuan. Majus (magus, jamaknya magi) asalnya dari kasta pendeta Zoroaster. Karena pandai, menguasai ilmu perbintangan dan ketabiban, cakap menyembuhkan orang sakit, menafsir mimpi, dan menyampaikan ramalan, mereka ini lalu dikenal sebagai orang yang punya keahlian magic—kata yang diturunkan dari nama mereka.

Seandainya ada teleskop

Seandainya ketiga orang Majus yang melihat Bintang Bethlehem saat itu sudah dilengkapi dengan teropong bintang (teleskop) pastilah deskripsi mereka akan lebih gamblang lagi. Namun, seperti kita tahu, teleskop baru muncul pada tahun 1608 atau enam abad setelah kelahiran Kristus.

Teleskop dalam perkembangannya lalu menjadi instrumen demikian vital bagi ilmu astronomi, bahkan sebetulnya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa astronomi modern lahir tahun 1608 ketika penemuan teleskop disampaikan kepada dunia. Untuk menandai 400 tahun teleskop yang digunakan untuk astronomi ini pula, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional.

Memang peristiwa yang terjadi 400 tahun silam ini amat bersejarah. Teleskop dipatenkan di Belanda. Orang yang diakui sebagai penemu teleskop adalah Hans Lippershey. Teleskop saat itu dijelaskan sebagai alat ”untuk melihat benda-benda jauh sehingga tampak dekat”. Sebenarnya, selain Lippershey, ada juga orang lain yang mendaftarkan paten untuk alat serupa, yakni Sacharias Jansen dan Jacob Metius.

Pemanfaatan teleskop sendiri mendapatkan momentum setelah ilmuwan Italia, Galileo Galilei, mulai melaporkan temuan menghebohkan dengan bantuan teleskop tahun 1609. Pada November 1609, ia mengarahkannya ke langit malam.

Galileo, yang merupakan seorang pendukung Teori Heliosentrik Kopernikus, meneguhkan dukungannya setelah ia puas menikmati dengan teleskopnya kawah-kawah Bulan dan empat satelit/bulan utama planet Jupiter, yakni Io, Europa, Ganymede, dan Callisto—yang kini disebut sebagai bulan-bulan Galilean. Galileo yakin Kopernikus benar dan bahwa sistem benda langit saling mengelilingi satu sama lain dan Bumi mengelilingi Matahari, bukan sebaliknya. (Mengenai pengguna pertama teleskop untuk astronomi sebenarnya ada Thomas Harriot asal Inggris yang mengalahkan Galileo karena ia sudah beberapa bulan lebih dulu, tetapi ia tidak pernah menerbitkan penemuannya.)

Teleskop yang jejak awalnya bisa ditelusuri sejak abad ke-2 Masehi, yaitu ketika matematikawan dan astronom Claudius Ptolomeus menerbitkan Optics, yang menjelaskan fenomena refraksi cahaya dari satu zat ke zat lain, terus mengalami perkembangan penting (Astronomy Now, 10/08). Perkembangan setelah teleskop Galileo antara lain lahirnya teleskop reflektor ciptaan Sir Isaac Newton (1666), lalu teleskop ciptaan rohaniwan Katolik dari Perancis, Laurent Cassegrain, yang dikenal hingga kini. Teleskop juga makin bertambah besar, dipelopori oleh teleskop William Herschel (1789).

Abad ke-20 pun menyaksikan munculnya teleskop penting untuk menyelidiki bintang-bintang jauh dan galaksi, seperti yang ada di Gunung Wilson dan Gunung Palomar di AS. Selain untuk panjang gelombang visual, astronom juga membuat teleskop radio, juga teleskop untuk menangkap gelombang inframerah.

Tak puas dengan teleskop yang berbasis di Bumi karena banyaknya gangguan atmosferik, astronom pun meluncurkan teleskop Hubble (1990) untuk dipangkalkan di ruang angkasa. Dengan teleskop angkasa ini, pandangan pun lalu menjangkau tepian alam semesta pada jarak sekitar 12 miliar tahun cahaya. (Satu tahun cahaya = 9.500.000.000.000 kilometer).

Teleskop memang ditemukan enam abad setelah dilaporkannya Bintang Bethlehem sehingga orang Majus belum berkesempatan menggunakannya untuk melihat lebih jelas bintang terang di Timur. Namun jelas, laporan ketiga orang Majus, selain bermakna religius, juga secara ilmiah menghidupkan minat penyelidikan alam.

KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: