Tantangan CAPRES di Mata Pakar

Presiden terpilih 2009 akan menghadapi tantangan berat di bidang ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Di bidang ekonomi, harus dilakukan intermediasi antara sektor finansial dan sektor industri. Sektor riil mesti diprioritaskan untuk mengatasi pengangguran.

Perhelatan akbar pemilihan presiden tinggal tujuh bulan lagi. Nama-nama bakal calon bermunculan. Ada jago yang dielus partai politik besar. Ada pula yang sekadar bermodalkan kepedulian terhadap nasib bangsa, tanpa bekal kendaraan politik. Mereka siap berebut tugas nakhoda bahtera negeri ini dalam mengarungi lautan tantangan.

Seperti apa masalah yang akan dihadapi pada periode 2009-2014 dan figur pemimpin bagaimana yang bisa mengatasinya? Berikut pandangan para pengamat.

Fachry Ali, Pengamat Politik: Kemampuan Pemimpin Mengembangkan Soft Power

Untuk mengatasi tantangan bagi para calon presiden (capres) pada tahun-tahun ke depan, jawabannya sangat sederhana. Sejak tahun 2001-2004 dan kemudian 2004-2008, saya lihat, tantangan ada pada soal stabilitas. Tantangan atau ancaman stabilitas ini muncul secara non-konvensional atau non-militer dan sedikit non-politik.

Misalnya munculnya gerakan militan dan terorisme akibat overmodernisasi. Kedua hal itu tidak bisa dilawan secara militer karena melibatkan aktor-aktor non-negara (non-state actor). Dalam konteks politik, misalnya, ada tantangan yang muncul akibat berjalannya proses demokrasi, yaitu munculnya pihak-pihak oposisi yang kuat. Ketika ingin berkuasa atau ingin beroposisi, orang bisa mudah bergabung dengan suatu partai atau mendirikan partai baru.

Karena itu, 80% ketidakstabilan politik akan muncul dari proses-proses seperti ini. Untuk menghadapi situasi seperti itu, dibutuhkan seorang presiden yang punya kemampuan mengembangkan soft power. Yaitu kemampuan mengembangkan kekuatan atau pengaruh non-konvensional serta kekuatan ide.

Modalnya adalah memiliki otoritas budaya dan moral, sehingga dia bisa punya otoritas mengatakan ya atau tidak terhadap suatu hal. Otoritas budaya bisa berarti kemampuan mengembangkan budaya demokrasi, Juga bisa berarti budaya dalam arti seni, seperti sastra, film, dan seni-seni yang konstruktif, yang lahir dari rekayasa pemimpin politik.

Karena itu, ke depan, bagi seorang calon pemimpin, inteligensia lebih penting dan lebih dituntut daripada mengandalkan sosok. Tanpa latar belakang kreativitas dan kemampuan mengembangkan soft power, agak sulit untuk bisa terpilih karena ancaman ke depan sangat inkonvensional. Tantangan bisa muncul dari hal-hal yang tidak terduga.

Akibatnya, tak bisa lagi seseorang hanya mengandalkan karisma. Juga tidak bisa lagi seseorang mengandalkan ia anak siapa dalam bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan. Basisnya adalah kemampuan imajinatif dan inteligensia dalam mengembangkan soft power.

Dengan demikian, siapa yang punya kans? Pertama adalah SBY-JK. Pasangan ini punya potensi mengembangkan soft power. Contoh kasus, ketika Aulia Pohan yang notabene besan SBY ditahan KPK, sama sekali tidak ada intervensi kekuasaan untuk menghalanginya. Itu bagian dari soft power, yakni moral.

Kedua adalah Prabowo. Dia punya kekayaan imajinasi yang baik sepanjang belum memasuki kekuasaan. Kita bisa lihat dari iklan-iklan politiknya yang sangat imajinatif dan eye catching, enak dilihat. Tema yang dia ambil betul-betul tema sosialisme kerakyatan yang meneruskan gagasan ayahnya, Prof. Sumitro Djojohadikusumo.

Ketiga adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sosok ini memiliki semua otoritas budaya sebagai seorang sultan. Sayang, dia tidak punya kreativitas yang dibutuhkan dalam dunia soft power.

Januar Rizky, Pengamat Ekonomi: Intermediasi Sektor Finansial dan Industri

Tantangan ekonomi ke depan adalah bagaimana melakukan intermediasi antara sektor finansial dan sektor industri yang selama ini berjarak. Ekonomi Indonesia selama ini sangat ditopang oleh sektor finansial yang bersifat non-tradeable. Inilah yang menjadi pangkal krisis finansial yang melanda Indonesia, yang kemudian diperparah oleh imbas krisis keuangan dunia.

Dalam catatan akhir tahun 2001-2002, banyak ekonom menyatakan bahwa SBI berbunga tinggi adalah penyebab tidak berjalannya intermediasi, karena manajemen bank lebih tertarik (aman) menempatkan dana di SBI dengan tingkat suku bunga yang tinggi. Kontraksi kompetisi seperti itu menciptakan suku bunga pinjaman sektor riil yang tinggi. Dengan kata lain, tidak ada kemampuan daya kembali investasi dari sektor riil yang dapat menyamai tingginya perolehan pendapatan bunga SBI.

SBI adalah instrumen dari bank sentral untuk menanggulangi inflasi, yaitu penyerapan uang yang beredar di masyarakat. Karena itu, SBI secara tidak langsung akan di-hedging oleh cadangan devisa negara yang terkena dampak kurs mata uang. Sistem pasar mendorong kurs mata uang menjadi produk yang cukup likuid di pasar uang.

Idealnya, pasar uang ini merefleksikan ekspor-impor antar-negara yang mencerminkan kebutuhan mata uang antar-negara untuk transaksi ekspor-impor. Artinya, untuk menurunkan tingkat suku bunga SBI, mau tidak mau kurs mata uang di pasar uang harus dikendalikan terlebih dahulu.

Sepanjang tahun 2003, operasi moneter dan kebijakan makro yang simultan berhasil menstabilkan kurs mata uang rupiah terhadap dolar, sehingga suku bunga SBI dapat diturunkan. Pendek kata, kita perlu mengakui keberhasilan Bank Indonesia dan pemerintah menjaga stabilitas makro yang boleh dikatakan cukup berhasil. Namun kita perlu merenungkan “apakah benar muara kebijakan makro berupa turunnya bunga SBI berhasil mendorong pembiayaan ke sektor riil?”.

Menurut data statistik, korelasi di sektor riil menunjukkan, angka pengangguran (terbuka) pada 2003 kembali meningkat 12% setelah tahun sebelumnya meningkat sebesar 14%, bahkan dari masa krisis (1997) meningkat 100%. Belum lagi bertambahnya pengangguran terpaksa (PHK), misalnya kasus PT Dirgantara Indonesia yang makan korban 6.000 karyawan.

Angka muram statistik pengangguran yang mencapai 40 juta angkatan kerja mengarahkan kita pada kenyataan bahwa stabilitas makro yang tercapai barulah pada tahap stabilitas (“intervensi”) di pasar keuangan.

Hal itu tercermin dengan rendahnya alokasi investasi langsung ke sektor riil terhadap nilai PDB total (17,8%), yang juga berada dalam tren menurun pada saat PDB mengalami tren pertumbuhan. Jelas, topangan ekonomi masih bertumpu ke konsumsi. Sedangkan untuk menyehatkan ekonomi, yang dibutuhkan adalah investasi produktif. Merujuk pada fenomena itu, dapat dikatakan bahwa pada saat ini di Indonesia, perekonomian sangat dikuasai oleh sektor jasa keuangan dan terjadi proses deindustrialisasi.

Untuk itu, ke depan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan sektor riil dan membangun industri untuk menyerap tenaga kerja. Tantangan presiden ke depan: ia harus mampu memainkan fungsi intermediasi ini.

Karena itu, pemerintah harus mampu menghilangkan faktor-faktor risiko tinggi investasi di bidang industri. Misalnya soal pembebasan lahan dan biaya ekonomi tinggi. Sektor yang produktif digerakkan adalah pertanian. Presiden ke depan harus mampu menumbuhkan investasi lokal.

Dalam konteks ini, belum ada calon presiden yang mampu memberikan tawaran kongkret untuk menumbuhkan sektor riil. Meski Prabowo, misalnya, memberikan sinyalemen untuk meningkatkan sektor pertanian dan memperkuat produksi dalam negeri, ia belum memberikan penjelasan kongkret bagaimana melakukannya.

Hikmahanto Juwana, Pakar Hukum: Ketidakpuasan Hukum Dilawan dengan Gugatan

Tantangan terbesar bagi para calon presiden pada 2009 adalah di bidang penegakan hukum. Sebab, pada saat ini, proses legislasi atau pembuatan peraturan perundang-undangan dari tingkat undang-undang sampai aturan di bawahnya sudah berjalan, bahkan makin tumpang tindih antara aturan yang satu dan aturan yang lainnya.

Karena itu, kepentingan-kepentingan yang berbenturan akan didasarkan pada aturan hukum. Misalnya kasus-kasus korupsi, sengketa politik seperti sengketa pemilu, pilpres, atau pilkada akan diserahkan mekanisme penyelesaiannya pada jalur hukum. Semakin maju sebuah negara, hukum akan semakin penting.

Oleh sebab itu, dibutuhkan aparat penegak hukum yang tegas, yang bisa melaksanakan aturan hukum dengan baik. Jika tidak, bukannya kepastian hukum yang didapat, malah akan timbul kekacauan hukum.

Kondisi pada saat ini, kalau orang tidak puas dengan hukum, masih dilawan dengan gugatan hukum juga. Yang mengkhawatirkan, jika hukum tak tegas, ketidakpuasan ini dilawan dengan cara anarkis. Untuk itu, ke depan, diperlukan pemimpin yang tegas, yang bisa mengajak aparat hukum untuk melaksanakan aturan hukum yang tegas dan argumentatif. Sehingga, jika suatu putusan sudah diambil, masyarakat puas karena landasan argumentasinya kuat.

Argumentasi yang kuat akan membuat putusan hukum lebih diterima publik. Karena itu, presiden ke depan tidak boleh orang yang peragu dan irit bicara serta tidak punya kemampuan argumentatif untuk mengartikulasikan sebuah dalil yang melandasi keputusan hukum. Tidak juga bisa pemimpin ke depan terlalu normatif.

Intinya, pemimpin harus tegas dan argumentatif. Melihat kondisi sekarang, capres-capres yang ada masih memiliki kekurangan. SBY, misalnya, adalah pemimpin yang terlalu normatif dan kurang argumentatif. Karena itu, dia harus didukung oleh menteri-menteri dan Jaksa Agung yang mampu memberi argumentasi hukum yang kuat.

Megawati juga memiliki kekurangan lantaran sosoknya terlalu pendiam dan irit bicara. Kalaupun didukung aparatnya, seperti para menteri atau mungkin wakil presiden yang lebih bisa argumentatif, akan timbul pertanyaan, siapa yang sebenarnya memerintah.

Prabowo adalah sosok yang bisa bertindak tegas. Namun, sebagai militer, ia memiliki kekurangan dalam hal argumentatif. Sri Sultan mungkin memiliki potensi untuk bertindak tegas dan bisa argumentatif. Namun ia terlalu sering berputar-putar dan tidak langsung ke poin permasalahan. Ini akan menyulitkan jika ia berhadapan dengan masyarakat kalangan bawah yang butuh kejelasan.

Hidayat Gunadi dan M. Agung Riyadi – GATRA (6/XV 31 Des 2008)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: