‘Hadiah Natal’ untuk Soekarno

Suruhlah seorang Soekarno menulis tentang Belanda. Ia bakal butuh 50 tahun untuk melakukannya dengan tulisan setebal dan setinggi pohon kelapa. Tiap kata akan ia rangkai menjadi kalimat yang penuh perlawanan, kebencian dan kemarahan, yang dia rasakan selama hidupnya.

Bagi seorang Soekarno, Belanda adalah sebuah kata yang berarti perampas, pencuri, pembungkam dan tentunya penjajah. Namun uniknya, justru dari Belanda Soekarno mendapat ‘bingkisan’ paling romantis dalam hidunya. Gadis pertama yang diciumnya, ya gadis Belanda. Namanya Rika Meelhuysen. “Aduh, aku mencintai gadis itu mati-matian”, kenang Soekarno yang menciumnya dengan gugup.

Ketika remaja Soekarno banyak menelan pelajaran tentang hidup, justru dari Belanda. Melalui dari perenungan, pemahaman yang dalam, Soekarno mempelajari tentang masyarakat dari buku-buku berbahasa Belanda, yang ia lahap seperti menyantap mi instant panas. Mulai dari ajaran komunis yang dipengaruhi tokoh-tokoh lokal, seperti Alimin dan Moeso. Sampai pada ajaran nasionalisme radikal, yang dia tiru dari Tjipto Mangoensoesoemo dan Douwes Dekker. Juga ajaran-ajaran moral yang dia terima dari tokoh yang sangat dikaguminya, Haji Oemar Said Tjokroamninoto. “Dialah orang kelak mengubah seluruh hidupku”, komentar Soekarno tentang tokoh yang juga menjadi mertuanya,

Begitu fasihnya Soekarno berbahasa Belanda, ia sering dimarahi petugas perpusatakaan waktu muda, karena selalu memberi coretan tambahan yang panjang pada buku-buku yang dipinjamnya dengan bahasa Belanda. Hingga buku jadi lecek (lusuh) dan kotor. Tentunya coretan hasil pemikirannya yang meledak-ledak.

Pengetahuan Soekarno tentang bahasa Belanda sangat baik dan santun. Kelak, ketika jadi presiden, di dunia hanya ada dua kepala negara yang fasih berbahasa Belanda, yaitu Ratu Wilhelmina dan Presiden Soekarno. Ada juga sich, Presiden Afrika Selatan, sebuah negeri yang kuat pengaruh Belandanya, yang cas-cis-cus bahasa Belandanya. Tapi bahasa Belanda ‘gak murni, karena tercampur unsur lokal, yaitu bahasa Afrikaans. Sedang waktu itu, jajahan Belanda yang lain ‘gak ada yang berani merdeka, seperti Suriname dan Antillen Belanda yang dijajah Belanda dengan ogah-ogahan, tapi dikeruk hartanya habis-habisan. Kelak Suriname baru merdeka tahun 1975, telat 30 tahun dibanding Indonesia, karena mereka ‘gak punya orang seperti Soekarno. Bahkan Antillen Belanda, kampungnya group disko 1980-an Boney M, masih menjadi koloni Belanda sampai detik ini.

Bingkisan menyakitkan

Hubungan Belanda dengan Soekarno sangat unik. Keduanya saling berinteraksi dengan penuh dinamika, kadang-kadang dibumbui dendam. Hubungan itu bukan saja antara Indonesia dan Belanda, tetapi bisa dilihat hubungan dendam antara dia pribadi dengan Wilhelmina, wanita yang mengendalikan Belanda sejak  sepuluh tahun sebelum Soekarno lahir, hingga tahun 1948.

Wilhelmina sangat benci pada orang yang bernama Soekarno, yang mulai nakal menggugat kekuasaan negeri miskin Eropa itu, bercokol di Indonesia selama 3 abad. Makanya, sebagai Ratu Belanda, dia mengirim ‘bingkisan’, yaitu seorang yang bernama Bonifacius de Jonge. Dia datang ke Hindia Belanda tahun 1931 untuk mewakili sang ratu memimpin jajahan terbesar dan terkaya Belanda, yaitu menjadi Gubernur Jendral dari 1931 hingga 1936.

Berkat tangan besi de Jonge, Soekarno dijeblaskan-jebloskan ke sel tahanan, bukan karena kriminal, tapi karena “coba-coba melawan” keserakahan imperium Belanda. Belum puas juga, de Jonge membuang jauh-jauh Soekarno, juga keluarganya, ke daerah “terra incognito”, negeri entah berantah nan jauh di Endeh. Kota sunyi di pantai selatan pulau Flores, yang membuat Soekarno dilupakan teman-teman seperjuangannya. “Flores bagiku seperti ujung dunia”, kenangnya. Di pulau itu tak ada perpustakaan. Tak ada bioskop. Nggak ada hiburan apa-apa. Sesuatu yang dibutuhkan oleh orang seperti dia.

Begitu sombongnya de Jonge, dia berani berkoar, “kita sudah berada di Hindia selama 300 tahun, kita pasti harus bisa berada di sini selama 300 tahun lagi!” Yaah, jangankan 300 tahun, belum 10 tahun umur ucapannya saja, Belanda sudah terusir dari Indonesia, dengan penuh rasa malu dan kekalahan yang menyakitkan.

Selama de Jonge berkuasa dia mengobok-obok kekuatan pergerakan nasional. Hatta, Sjahrir dan banyak pejuang lainnya dibuang jauh-jauh, bagai sampah busuk. Seperti ke Digul di pedalaman Papua sarang malaria, dan ke Banda di Maluku (ada Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir di kawasan Banda untuk menghormati kedua tokoh tersebut). Ketika de Jonge tak menjabat lagi, Wilhelmina mengirim ‘bingkisan’ sejenis, yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer sebagai wakilnya di Hindia Belanda dari tahun 1936 sampai 1942. Orang ini yang membuang Soekarno ke Bengkulu, setelah diasingkan di Flores. Lucunya, ketika Soekarno dibebaskan Jepang tahun 1942 dari Bengkulu, kebalikannya justru Tjarda gantian yang ditahan dan diasingkan oleh Jepang. Karma!

Akibat dari pengucilannya oleh Belanda, Soekarno bukan jadi kerdil terkucil, justru menjadi kerikil Belanda yang bikin negeri cuma nyempil di Eropa itu, makin dicibir dunia. Ya, mirip-mirip Nelson Mandela, yang dipenjara malah jadi raksasa. Selama diasingkan, Soekarno justru makin berubah benci terhadap Belanda. Dalam kurun 4 tahun lebih di Ende, Flores, Soekarno mengisi waktu luang dengan menciptakan 13 tonil, sejenis sandiwara yang dimainkan dibawah sinar bulan karena tak ada listrik. Satu dari judul tonil ciptaannya ada yang sangat prophetic (ramalan). judulnya “Tahun 1945”. Isinya tentang tentang kebebasan Indonesia. Padahal saat itu baru tahun 1930-an. “Dugaan ternyata benar!”, kenang Djae Bara, seorang pria sepuh Flores yang biasa berperan dalam sandiwara ciptaan Soekarno.

Kurungan dan pengasingan yang menyakitkan dialami Soekarno itu, justru menjadi bingkisan berharga, karena setelah itu dia menjadi pemimpin dari negeri yang luasnya 45 kali luas Belanda.

Bingkisan memalukan

Nah, ini dia ‘bingkisan’ paling berkesan dalam hidup Soekarno. Bukan hanya dia, juga bangsanya. Pagi hari, di hari Minggu saat sebagian kecil penduduk Jogjakarta bersiap ke gereja, Belanda menjatuhkan bom diberbagai sudut kota yang strategis. Ketika itu Jogjakarta adalah ibukota negara. “Belanda memberiku ‘hadiah Natal’”, ejek Soekarno tentang serangan brutal yang dilakukan tanggal 19 Desember 1948 itu, 60 tahun silam.

Gimana ‘gak brutal, tanpa persiapan apa-apa Soekarno diserang kedua kalinya oleh Wilhelmina. Hari Minggu dini hari itu, anaknya yang balita, Guntur, menggigil. Sahabatnya, Hatta sedang di Kaliurang, sebuah resort di utara Jogjakarta dan lagi sakit dipteri (maaf, berak darah). Ditambah lagi, banyak tentara nasional sedang di luar kota latihan perang-perangan. Padahal, malam hari sebelum serangan jahat itu, Soekarno berpidato di radio mau pamitan ke India (PM India J. Nehru, sobat kental Soekarno, marah sekali dengan serangan itu). Untungnya rakyat Jogjakarta bersama tentara mati-matian bertahan. Bahkan Panglima Soedirman nekad mengajak Soekarno bergerilya. “Ikutlah Bung Karno dengan saya”, Pak Dirman memohon tapi ditolak.

Akibat ‘bingkisan’ menjelang Natal itu, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Mr. Asaat, Ali Sastroamidjojo dan tokoh-tokoh nasional lainnya ditawan. Bayangkan, seorang presiden sebuah negara berdaulat ditangkap dan diasingkan! Beruntunglah, Soekarno yang sempat-sempatnya sidang kabinet saat penyerangan, buru-buru menyerahkan kekuasaan kepada Menteri Sjarifuddin Prawiranegara yang berada di Sumatera Barat, melalui Menteri Perhubungan Djuanda Kartawidjaja, yang mendiktekan sendiri lewat telepon ke kantor telegram. Kalau ‘gak bisa juga, alihkan pemerintahan di luar negeri, yaitu di India. Saat itu di sana ada Mr. A. Maramis dan Dr. Soedarsono (ayahanda Menteri Pertahanan Juwono Soedarsono), yang kebetulan sedang mewakili Indonesia dalam Konferensi Pan Asia pertama di New Delhi, India.

‘Bingkisan’ dari Wilhelmina ini sangat memalukan, tapi bukan kekalahan. Meski diasingkan di Bangka bersama Hatta dan teman-temannya selama beberapa bulan, melalui tak tik perundingan dengan Belanda yang kadang menyakitkan, akhirnya Soekarno kembali ke Jogjakarta dan Belanda mundur. Dia kembali bukan hanya tetap sebagai presiden, tapi juga sebagai pemenang.

Bingkisan kemenangan

Dua kali Ratu Wilhelmina memberi ‘bingkisan’ kepada Soekarno. Pertama, bulan Juli 1947 melalui serangan ke Jawa (tidak ke ibukota Jogjakarta) dan Sumatera, yang merupakan sumber perekonomian Belanda dengan sumur-sumur minyak melimpah ruah. Kala itu Wilhelmina adalah satu dari wanita terkaya di muka bumi, kaya karena hasil rampokan ladang minyak itu. Kedua, Wilhelmina memberi ‘bingkisan’ berupa serangan yang mematikan ke ibukota Jogjakarta, tanggal 19 Desember 1948.

Nah, gantian sekarang Soekarno yang memberi ‘bingkisan’ yang mematikan kepada Belanda, yang bukan lagi dipimpin Wilhelmina, tapi anaknya, Ratu Juliana yang bertahta sejak tahun 1948. Akibat seringnya berunding dengan Belanda yang penuh tipu daya, wilayah Irian Barat secara hukum belum bisa masuk ke Indonesia. Selama sepuluh tahun lebih dari tahun 1950, Soekarno gregetan ingin mengembalikan wilayah kaya raya itu ke wilayahnya.

Klimaksnya, di hadapan sejuta rakyat, 27 menteri, 50 duta besar, Soekarno memberi komando ke seluruh rakyatnya untuk mengambil kembali Irian Barat dari Belanda. “Sebelum ayam berkokok pada fajar 1 Januari 1963, Merah Putih harus berkibar di bumi Irian Barat!”, perintahnya. Janji itu ditepati! Tahun Baru 1963, bendera Belanda diturunkan dan bendera Indonesia dikibarkan. Inilah simbol hengkangnya Belanda terakhir kalinya dari negeri yang pernah dijajahnya selama lebih 300 tahun.

Anehnya, komando itu diumumkan di Jogjakarta pagi hari. Tepatnya tanggal 19 Desember 1961, pas sekali 13 tahun setelah Belanda menyerbu dan menahannya di kota yang sama. Inilah dendam Soekarno kepada Belanda yang terlampiaskan. Kota Wilhelmina (dari nama Ratu Wilhelmina) yang menjadi ibu kota Dutch New Guinea (nama Irian Barat untuk Belanda), diganti namanya menjadi Sukarnapura, yang diambil dari namanya sendiri. Dan anehnya, Wilhelmina yang menjadi musuhnya bertahun-tahun wafat di tahun 1962, saat Soekarno getol-getol dan berhasil merebut Irian Barat. Kali ini Soekarno kembali lagi menjadi pemenang.

Begitu historisnya hari 19 Desember bagi Soekarno (dan juga Indonesia), hingga membekas sampai sekarang. Penggantinya, Soeharto, menganggap hari itu sangat bersejarah dan menjadikannya sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial. Ketika Sultan Jogjakarta yang juga Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY), Hamengkubowono IX wafat bulan Oktober 1988, pengganti Paku Alam VIII dilantik menjadi Gubernur DIY juga tepat pada tanggal 19 Desember 1988.

Bingkisan mematikan

Rangkaian kemenangan Soekarno atas Belanda, tidak menjamin dia selalu menang dalam segala hal. Terhadap bangsanya sendiri, Soekarno tidak demikian. Setelah dia diturunkan kekuasaannya dengan mengenaskan, Soekarno kembali mendapat ’bingkisan’. Kali ini bukan dari musuh bebuyutannya, Belanda. Tapi dari bangsanya sendiri. Dia diturunkan, dikucilkan, diasingkan, dibiarkan dan dimatikan secara perlahan. Inilah ‘bingkisan’ paling menyakitkan yang pernah diterimanya. Bahkan setelah dia wafat pun, dia tetap “dibunuh” berkali-kali dengan mencoba menghilangkan peranannya dalam sejarah Indonesia. Fotonya sewaktu proklamasi 17 Agustus 1945 di rumahnya, dicropping (dihilangkan) oleh pemerintah untuk buku pelajaran sejarah di sekolah dasar.

Soekarno boleh menang lawan Belanda, atau lawan apa saja. Tapi dia tak pernah menang lawan bangsanya sendiri.

Iwan Kamah, JakartaKoKi

2 Comments

  1. Sukarno memang tak pernah menang dengan bangsanya sendiri, namun tanpa jasa2nya mungkin indonesia bukan sebagai negara yg merdeka ttp negara persemakmuran, untk kedepannya t’gantung kita sebagai WNI mencari jalan keluar untk menjadi negara yg maju & dihormati. Suwun.-

    Bangsa yang besar adalah bangsa yg peduli akan sejarah bangsanya.

  2. […] Excerpted from:‘Hadiah Natal’ untuk Soekarno […]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: