Transformasi

telur-natalKetika Kristus lahir
dunia jadi putih
juga langit yang semula gelap oleh darah dan jinah
jadi lembut seperti tangan bayi sepuluh hari

Subagio Sastrowardoyo mengerti transformasi yang ajaib dalam kisah Natal. Ia bukan seorang Kristen, tapi sajak itu datang dari sebuah Indonesia sekian puluh tahun yang lalu, yang dengan serta-merta mengerti apa yang universal dalam cerita yang luar biasa tapi juga bersahaja itu: Yesus lahir, tapi hanya satu bintang di langit yang tampak terang di atas Bethlehem. Tak ada suara dahsyat atau guncangan bumi yang mengubah geografi. ”Malam sunyi…,” kata lagu yang berulang kita dengar itu. Begitu biasa, tapi kelahiran itu diterima sebagai isyarat: Tuhan tak meninggalkan manusia sendirian.

Maka,
manusia berdiri dingin sebagai patung-patung mesir
dengan mata termangu ke satu arah

Dalam imaji yang muncul dari larik sajak ini, manusia tak bergerak, bahkan tanpa perasaan lagi. Tapi suatu ketika terasa ada daya lain yang mengambil peran. Dari sesosok kekuatan yang dalam Perjanjian Lama digambarkan bisa ganas, cemburu, dan destruktif, hadir sebuah pesona yang diasosiasikan dengan ”tangan bayi sepuluh hari”. Dan manusia termangu.

Pertanyaan besar sejarah—yang sebenarnya tiap akhir tahun diungkapkan dengan cara yang banal—adalah bagaimana keajaiban seperti itu mungkin. Dengan kata lain, bagaimana harapan bisa hidup. Bisakah dunia dan kehidupan diperbaiki, ketika riwayat manusia telah demikian panjang, juga deretan kekecewaannya.

Nabi-nabi datang, petuah dan perintah dimaklumkan, dan kemudian dicoba revolusi dan diperkenalkan penemuan teknologi—tapi tiap kali kita mengalami perbaikan dalam hidup, tiap kali ada mala yang terjadi. Mungkin sebab itu di sebuah buku yang terbit pada 1990 Agamben menulis: ”Kita dapat mempunyai harapan hanya dalam apa yang tak punya penyembuhan” (rimedio).

Tentu saja ada paradoks dalam ucapan itu. Berharap kepada sesuatu yang tak bisa disembuhkan atau tak dapat diperbaiki sama saja dengan tak berharap. Namun barangkali di situ bekerja iman, sebuah dasar sikap yang dalam agama Kristen dan Islam dicontohkan dalam diri Ibrahim. Kita ingat ia dititahkan Tuhan menyembelih anak kesayangannya sendiri. Kita bayangkan ia berjalan sedih, tak paham, lunglai, ke Gunung Moria dan cuma percaya kepada sesuatu yang tak bisa diperhitungkannya.

Ada semacam sikap tawakal (yang tak selalu terkait dengan agama) ketika manusia berjalan terus, walaupun sejarah penuh dengan kebengisan, kegagalan, dan kesengsaraan. Tak henti-hentinya kita mengarungi l’irreparabile, yang tak dapat diperbaiki.

Dalam keadaan itu manusia memang kelihatan heroik. Namun ada yang kosong: baginya, tak akan ada transformasi di dunia. Manusia dengan gagah menanggungkan langit yang ”gelap oleh darah dan jinah”, tanpa tahu bahwa sesuatu bisa mengubah itu jadi ”lembut seperti tangan bayi yang sepuluh hari”.

Kita bisa mempersoalkan tepat-tidaknya metafora dalam sajak Subagio itu (bagaimana langit jadi seperti ”tangan bayi”?). Tapi kita tak akan luput menangkap radikalnya perubahan yang terjadi ketika kita tahu bahwa Tuhan, atau apa pun namanya bagi yang mengutamakan cinta kasih, bisa begitu dekat. Tak mengherankan bila Paulus dikutip mengatakan bahwa di antara tiga hal yang tinggal—iman, pengharapan, kasih—maka kasih itulah yang terbesar. Iman dan pengharapan bisa menggusur gunung. Kasih tak merasa perlu untuk itu. Ia merayakan adanya gunung, membuka diri kepada liyan, yang lain, yang bukan dirinya.

Sajak Subagio menyebut ”mata” (manusia) yang ”termangu ke satu arah”. Kata ”termangu”—dan bukan ”terpaku”—menyarankan sikap visual yang lebih pasif. ”Satu arah” itu bukan sesuatu yang disasar, melainkan sesuatu yang seakan-akan justru menarik kita ke arahnya, meskipun tak jelas benar.

”Kita mengharapkan apa yang tak kita lihat,” kata Paulus, ”kita menantikannya dengan tekun.” Artinya, yang penting bukanlah yang tampak, tempat kita meletakkan fokus. Yang penting bukanlah sesuatu yang dapat dipastikan, yang bisa dikuasai. Bahwa kita bisa tekun menantikannya itu karena kita terpesona ketika sesuatu yang seakan-akan mukjizat hadir: ada cinta kasih, ternyata.

Sebab itu harapan tak sepenuhnya penting untuk membuat hidup berharga. Kesadaran akan ini kurang meluas di sebuah babakan kehidupan yang oleh Agamben disebut sebagai ”waktu yang tinggal”. Ini bukan lagi waktu para ”nabi”, kata Agamben. Dalam tradisi Yahudi, ”nabi” didefinisikan ”oleh hubungannya dengan masa depan”. Bagi Agamben, ”waktu yang tertinggal” adalah waktu yang sekarang. Dan itu adalah waktu para ”utusan”, apostel, yang dalam peristilahan Kristen disebut ”rasul”. Sabda, kata Agamben, ”diberikan kepada sang rasul, utusan sang juru selamat, yang waktunya bukanlah masa depan, melainkan sekarang.”

Di ”waktu yang tersisa” sekarang ini, harapan, iman, dan cinta kasih tak selalu cocok—bahkan terkadang yang dua pertama disebut diunggulkan di atas yang lain. Sajak Subagio mengingatkan, Natal tak datang tanpa kejutan.

Terutama ketika iman bisa begitu keras dan harapan jadi optimisme yang buta dan menghalalkan segalanya. ”Dunia jadi putih” bukan tanda musim dingin yang hanya terjadi di sebagian muka bumi. ”Dunia jadi putih” adalah bagian dari transformasi ketika kita menyadari bahwa kita tak selamanya hidup di bawah kekerasan dan pelanggaran, ”darah dan jinah”. Di waktu yang tersisa ini, kelembutan terkadang menyelip—dan unggul.

Hanya dalam ritual agama, yang aturannya ditaati tiap kali, dan hanya dalam kalender iklan, Natal dapat direncanakan.

Goenawan Mohamad – TEMPO (29 Desember 2008)

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • TNI AL bangun dermaga di Sangihe
      Komandan Pangkalan TNI AL Tahuna, Kolonel Pelaut Setyo Widodo, menyatakan, mereka akan segera membangun dermaga di Kabupaten Kepulauan Sangihe.Menurut dia, di Tahuna, Selasa, pembangunan dermaga TNI AL di sana menjadi kebutuhan ...
    • Korban tewas akibat lonsor di Kongo mencapai 140 orang
      Jumlah korban tewas akibat tanah longsor yang melanda sebuah desa nelayan di tepi danau di Republik Demokratik Kongo mencapai 140 orang, kata pemerintah pada Senin (21/8)."Kami perkirakan bahwa sedikitnya ada seratus jenazah ...
    • Negeri gila sepeda ini bikin tempat parkir sepeda terbesar di dunia
      Kota Utrecht di Belanda yang gila sepeda, kemarin membuka apa yang disebut sebagai tempat parkir sepeda paling besar di dunia yang jika rampung tahun depan bisa menampung 12.500 sepeda.Langkah pemerintah kota berpenduduk 344.000 ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: