Tahun 2008, Obama, Kita

Kita persis berdiri di pengujung tahun 2008. Sambil terus melangkah ke depan, ada baiknya kita tengok ke belakang dan belajar darinya.

Mari kita namai dulu tahun 2008. Setiap penamaan sebuah tarikh, entah tahun, abad, atau milenium, tentu saja tak bisa menghindarkan diri dari penyederhanaan. Apa boleh buat, saya hendak menamai tahun 2008, dengan alasan yang akan saya urai belakangan, sebagai ”Tahun Obama”.

Kemenangan Barack Husein Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 4 November 2008 adalah kemenangan sang pemimpi. ”Menjadi Presiden AS” adalah mimpi yang dipelihara Obama sejak usianya masih dini.

Bukan hanya itu. Itu juga merupakan kemenangan kerja keras. Melihat Obama berpidato di hadapan sekitar 150.000 pendukungnya di Grand Park Chicago malam itu, saya makin yakin bahwa mimpi adalah setengah cita-cita, cita-cita adalah setengah rencana, rencana adalah setengah kerja keras, dan kerja keras adalah setengah keberhasilan.

Obama sampai pada kemenangannya melalui jalan yang tak mudah. Bagian dari kemenangannya yang paling mendebarkan justru ketika ia mengalahkan bakal kandidat Partai Demokrat lainnya, Hillary Clinton, sang pemilik ”kendaraan politik terbaik abad ke-20”. Obama mengalahkannya menggunakan ”kendaraan politik terbaik abad ke-21”, tulis The Atlantic (Desember 2007).

Basis dari kendaraan politik Obama, di luar Partai Demokrat, adalah jutaan rakyat biasa. Sekitar 750 juta dollar AS dapat dikumpulkan tim kampanye Obama dan lebih dari setengahnya adalah ”uang recehan” yang terkumpul dari rakyat biasa yang merasa terpanggil berteriak, ”Ya, kita bisa!”, di belakang Obama.

Kampanye Obama, di bawah kepemimpinan bertangan dingin David Axelrod, diorganisasi oleh jutaan sukarelawan di seantero negeri. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda yang merasa terpanggil untuk merebut masa depan lebih baik.

Majalah Time dalam edisi ”Person of the Year” (29 Desember 2008-5 Januari 2009) menyebut tiga kunci di balik kemenangan Obama: tetap fokus, tetap tenang, dan terorganisasi. Dengan kunci inilah, bukan sekadar menjadi Presiden Amerika berkulit hitam pertama, Obama membuka halaman baru sejarah Amerika.

Halaman pertama sejarah baru Amerika sendiri sebetulnya telah dibuka segera setelah tragedi 11 September 2001. Namun, George W Bush menuliskan prolog yang tak terlalu menyenangkan untuk diingat. Obama berpotensi memainkan peranan penting karena mengubah nada dan pilihan kata dalam tuturan sejarah baru itu.

Terlepas bahwa dalam isu-isu klasik semacam konflik Israel-Palestina ia tak berbeda jauh dengan umumnya politisi Amerika lainnya, Obama menawarkan Amerika dengan cita rasa berbeda. Tawaran program substitusi energinya yang ramah lingkungan, misalnya, terasa melegakan. Sebagai politisi berusia relatif muda, ia menawarkan harapan sekaligus kemungkinan-kemungkinan baru.

Jangan salah sangka. Saya tak hendak mengagungkan Amerika atau Obama. Saya hanya ingin menggarisbawahi betapa nilai-nilai dalam fenomena Obama di atas adalah sesuatu yang lintas batas negara atau geografis. Nilai-nilai itu merupakan pelajaran berharga bagi siapa saja, termasuk kita.

Kita

Ada baiknya kita jemput tahun 2009 dengan kesadaran penuh bahwa sebagai sebuah ”demokrasi elektoral”—yang menumpukan dirinya pada penyelenggaraan pemilihan umum di berbagai level—Indonesia adalah sebuah demokrasi yang begitu maju dan sibuk. Namun, kesibukan demokrasi elektoral ini sekadar membuktikan betapa luasnya kebebasan, kompetisi, dan partisipasi.

Kesibukan itu tak serta membuktikan bahwa kita sudah berhasil mempraktikkan keterwakilan, akuntabilitas, dan mandat. Demokrasi kita sejauh ini masih tertatih-tatih mengejar tujuan besar demokrasi: kesejahteraan publik dan keadilan.

Dalam kerangka itulah kita bisa tengok fenomena Obama. Apa yang ditawarkan fenomena Obama adalah sesuatu yang di Indonesia terasa hilang dan kita rindukan: generasi baru politisi, kemudaan yang berpadu padan dengan kematangan, pemenangan politik berbasis keterlibatan orang banyak, politik berbasis lokalitas, politik dengan substansi, harapan yang tak kosong, pembaruan yang tak berhenti sekadar jargon, dan politik yang membuka peluang bagi para pemimpi yang mau bekerja keras.

Tentu saja, sekali lagi, menyebut 2008 sebagai ”Tahun Obama” adalah sebuah penyederhanaan. Ada banyak fenomena dan warna lain yang kita sua sepanjang tahun. Namun, kadang-kadang, untuk tujuan-tujuan positif, sebuah penyederhanaan sekaligus pembelajaran (dari negeri yang jauh sekalipun) kita perlukan.

Pembaca, selamat tahun baru! Mari kita rebut besok yang lebih baik daripada hari ini!

EEP SAEFULLOH FATAH Pengajar Ilmu Politik pada Universitas Indonesia – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Tim pencari lanjutkan evakuasi korban gempa dari reruntuhan
      Tim pencari dan penyelamat melanjutkan upaya mengevakuasi korban gempa dari bangunan-bangunan yang runtuh akibat gempa 6,5 Skala Richter (SR) yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya kemarin pagi, menewaskan lebih ...
    • Kekuatan gempa 6,5 SR setara empat bom Hiroshima
      Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut kekuatan gempa bumi 6,5 Skala Richter (SR) yang kemarin pagi mengguncang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dan sekitarnya setara dengan kekuatan empat hingga enam ...
    • Penyertaan Modal Negara untuk PT SMI perlu diaudit BPK
      PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) hampir setiap tahun memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) yang secara total telah tersalurkan Rp24,3 triliun.Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan, dalam keterangan tertulis, Kamis, ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: