Palestina-Israel: Secuil Pandangan

Dalam salah satu artikelnya baru-baru ini bertajuk “Tentang Bangsa Yahudi dan Konflik Palestina-Israel”, Ulil Abshar Abdalla mengajukan pandangan yang menarik. Ketika justru banyak kecaman dan demonstrasi dicecarkan banyak pihak kepada Israel atas serangan udara ke wilayah Palestina, Ulil malah mengajak untuk melihat konflik “abadi” ini dalam jangkauan perspektif yang lebih luas. Tulisan ini tidak hendak membahas artikel Ulil, tetapi terinspirasi untuk mengajukan suatu perspektif yang lain lagi. Harapannya semoga dengan berbagai sudut pandang yang muncul kita makin jeli menghindari lubang-lubang ideologis yang bermaksud menjerat kita dalam sikap tuding-menuding pihak lain. Atau, malah lebih parah, terseret dalam emosionalitas vandalistik dengan klaim solidaritas terhadap rakyat Palestina.

Dalam salah satu bagiannya secara eksplisit nampak bahwa Ulil membangun asumsinya dari sudut pandang “korban” atau “kambing hitam”, dalam hal ini bangsa Yahudi sebagai salah satu kelompok ras manusia yang paling mengalami penindasan sistematis sepanjang sejarah umat manusia. Penindasan dan permusuhan yang berlangsung berabad-abad terhadap komunitas Yahudi telah membentuk semacam kesadaran internal super-protektif terhadap segala tendensi yang mengancam identitas mereka. Maka tidaklah mengherankan jika kemudian komunitas Yahudi (Zionis) berhasil mendirikan negara Israel, entitas politik yang berabad-abad tidak mereka miliki, mereka menjadi sangat sensitif dengan segala bentuk ancaman. Dan karena itu mereka akan melakukan apa saja untuk mempertahankannya.

Pandangan Ulil dalam artikel itu secara keseluruhan, seperti yang diakuinya, memang bukanlah pandangan yang populer di kalangan Islam. Bahkan, saya bisa menambahkan bahwa pandangan semacam itu juga tidak populer di kalangan tertentu Kristen, yang lebih menekankan superiotas Israel berdasarkan legitimasi teologis bahwa Israel adalah “umat pilihan Tuhan”. Dalam pandangan Kristen semacam itu, umat Israel (Yahudi) mengalami penderitaan sebagai sebentuk hukuman Allah karena ketidaktaatannya. Namun Yahweh tetap mengasihi Israel dan tetap “memilih” Israel sebagai umat kesayangan-Nya. Ideologi semacam inilah yang memengaruhi sejumlah pemikiran teologi Kristen yang lebih mendukung eksistensi Israel di Palestina dan dominasi Israel atas rakyat Palestina, semata-mata karena di dalam Alkitab tertulis “Allah telah memilih Israel sebagai umat kesayangan-Nya”, kendati dengan konsekuensi mesti memberangus bangsa-bangsa lain.

Jika kita mengamati pencitraan konflik Palestina-Israel oleh media massa di Indonesia, maka dengan segera kita melihat bahwa konflik tersebut telah mengalami pembebanan makna yang berlebihan. Pembebanan makna tersebut pada gilirannya mendistorsi realitas konflik itu. Pembebanan makna dan pembingkaian berita secara sengaja makin merangsang sentimen anti-Israel, serta membentuk semacam aura solidaritas terhadap Palestina. Tentu jelas, dalam bacaan orang Indonesia pada umumnya yang membaca/mendengar pemberitaan media, solidaritas terhadap Palestina adalah solidaritas terhadap Islam yang dikonotasikan sebagai “rakyat Palestina”. Pencitraan semacam ini lantas membentuk persepsi publik: Mereka yang bersikap “lembek” terhadap Israel adalah antek Yahudi atau antek Zionis. Dan dengan demikian juga berarti beroposisi langsung dengan kekuatan “solidaritas Islam”. Maka tak mengherankan jika kemudian pasca penyerangan Israel ke Gaza, jalan-jalan protokol di Jakarta dan beberapa kota besar Indonesia disesaki oleh para demonstran yang lebih dominan mengusung spirit solidaritas Islam tersebut.

Tetapi benarkah Palestina identik dengan Islam? Sebuah buku yang ditulis Naim Stifan Ateek, Justice and Only Justice: A Palestinian Theology of Liberation, mematahkan pandangan keliru bahwa Palestina identik dengan Islam. Dan oleh karena itu, saling serang antara tentara Israel dan Hamas tidak bisa secara simplistik dikristalkan sebagai pertempuran “Yahudi vs Islam”. Konflik Palestina-Israel adalah suatu konflik yang amat kompleks. Di dalamnya terlebur berbagai dimensi yang masing-masing telah menjadi katalisator independen untuk memicu timbulnya percikan-percikan kemarahan dengan skala yang berbeda namun punya intensitas yang hampir sama tinggi.

Dalam buku itu, Ateek secara gamblang menyatakan bahwa rakyat Palestina secara keseluruhan merupakan korban dari bangkitnya gerakan nasionalisme Zionis yang mendapat inspirasi dari spirit kolonialisme Eropa abad ke-19. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Edward Said dalam bukunya The Question of Palestine bahwa ada hubungan antara Zionisme dan kolonialisme bangsa Eropa. Menurut Said, Zionisme jelas-jelas tidak pernah menyatakan dirinya sebagai gerakan pembebasan Yahudi, melainkan sebagai suatu gerakan Yahudi untuk pemukiman kolonial. Implikasi lanjutan dari gerakan tersebut adalah berdirinya negara Israel, yang secara sistematis melakukan segregasi sosial, mencaplok tanah, menggusur warga dan merelokasinya. Gejolak sosial yang muncul sebagian besar lebih disebabkan karena kerancuan kognitif (cognitive dissonance) masyarakat karena seluruh konsep-konsep sentral kehidupan seperti “tanah”, “komunitas”, “budaya lokal”, “ikatan kekerabatan”, “ruang”, mengalami penghancuran secara sistematis dan cepat.

Ateek sendiri mengawali tulisannya dengan suatu pertanyaan eksistensial “Who am I?”. Lantas, ia mulai memetakan dirinya dalam 4 identitas: (1) Orang Kristen. Banyak orang yang spontan menanyakan “apakah ia pindah agama?” atau “benarkah ada orang Kristen di Timur Tengah?”; (2) orang Palestina. Yang selalu dicecar dengan pertanyaan “bagaimana mungkin ada orang Palestina yang Kristen?”; (3) orang Arab. Dalam pandangan banyak orang Barat, orang Arab identik dengan Muslim. Padahal, Kristen Arab sudah ada sebelum Islam. Kekristenan sudah ada 600 tahun di Timur Tengah sebelum Islam; (4) orang Israel (Israeli). Istilah Israeli menunjukkan cap kewarganegaraan dari negara Israel. Dilema atau ambiguitas kesadaran yang terpecah-pecah semacam ini secara psikologis memperlihatkan betapa tercabik-cabiknya rasa identitas bangsa Palestina – seluruh rakyat Palestina. Sehingga dapat dipahami bahwa frustrasi-frustrasi yang lahir karena situasi penindasan dan ketidakadilan itu membentuk generasi-generasi Palestina (Islam dan Kristen) yang militan. Pada titik kesadaran itulah, Ateek merefleksikan suatu bentuk perlawanan terhadap dominasi pemikiran teologis (Kristen) yang terlampau mengagungkan dan menganakemaskan Israel tanpa membedah realitas penderitaan manusia di Palestina.

Buku Naim Stifan Ateek ini pada gilirannya juga menohok jantung teologi Kristen yang mendasarkan doktrinnya pada otoritas kitab suci. Israel yang menjadi aktor utama dalam Alkitab sering kali dipahami secara dangkal sebagai representasi “umat pilihan Allah” yang mewujud dalam entitas negara Israel modern. Ini juga dialami oleh banyak orang Kristen Indonesia. Bisnis perjalanan wisata yang cukup bergairah adalah “wisata rohani ke tanah suci Israel”. Saya tidak tahu apakah ini semacam counter-culture terhadap ritual haji dalam Islam, tetapi beberapa pihak memang sempat mengatakan bahwa wisata ke Israel memberikan nuansa spiritual-emosional yang besar dalam diri mereka. Karena itu, mereka (yang berduit tentunya) akan melakukan perjalanan yang sama berkali-kali. Perjalanan ke Israel seperti “membasuh dosa-dosa” dan membuat mereka menjadi “manusia baru” – apalagi kalau sempat dibaptis di Sungai Yordan, tempat Yesus dulu dibaptis (menurut apa yang tertulis dalam Alkitab). Lagi-lagi, menurut seorang yang bekerja di salah satu travel, orang Kristen Indonesia yang paling banyak melakukan ritual baptisan di Sungai Yordan dan ritual perkawinan di Kana.

Gereja-gereja sebenarnya menyadari keluncaspahaman semacam ini. Namun tidak banyak yang berani bersuara untuk menyatakan bahwa penderitaan rakyat Palestina adalah penderitaan kemanusiaan. Jika kekristenan berdiri di atas spirit Injil yang “membebaskan” dan “memberitakan sukacita” maka pada galibnya spirit itu pula yang mesti mendorong gereja-gereja di Indonesia menyatakan kecaman keras atas serangan militer Israel dan menunjukkan solidaritas pada kemanusiaan Palestina yang porak-poranda. Tentu dengan cara terorganisir sehingga dampaknya menyata.

Hanya yang menjadi ganjalan, menurut saya, tepatkah kritik dan aksi demonstrasi itu ditujukan pada pihak-pihak tak langsung, misalnya kedubes Amerika? Apakah memang suara Indonesia didengar mengingat Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel? Bagaimana menekan Israel jika Indonesia tidak punya kontrak politik apa-apa dengan Israel? Sejauh ini, kita hanya seperti orang yang berteriak di padang gurun. Bergema saja tapi tidak memberi efek apapun. Jika demikian, secara sederhana, rasanya jika komitmen solidaritas terhadap rakyat Palestina diharapkan menjadi efektif, mungkin sudah saatnya Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Saya kira, cara itu bisa menjadi salah satu kekuatan penekan bagi sepak-terjang Israel. Ataukah memang kita lebih suka berpanas-ria, berkoar-koar dalam arak-arakan demonstrasi di bundaran HI, meskipun kita tahu tidak ada hasil apa-apa dari semuanya itu? Atau memang cuma segitu doang maksud kita… yang penting demo dan masuk tipi… Walahuallam.

Steve Gaspersz

11 Comments

  1. Peace for Palestine and Israel. Saya berdoa untuk rakyat Palestina semoga Allah menguatkan hati mereka dalam menjalani cobaan hidup. Demi nama Sang Bapa, Sang Putra, serta Sang Roh Kudus. Amin.

  2. Saya juga setuju dengan pandangan Bpk. Ulil. Bila bandingkan antara orang Yahudi yang beragama Kristen. Justru lebih banyak orang Palestina yang beragama Kristen. Orang Palestina yang beragama Kristen juga tidak luput dari serangan-serangan Israel. Tetapi sangat disayangkan bahwa peristiwa serangan Israel selalu dikaitkan dengan agama Islam dan dipakai oleh partai tertentu sebagai ajang kampanye. Sangat disayangkan pula bahwa umat Kristen yang juga sebenarnya harus miris karena Gereja-gereja Pribumi Palestina juga banyak yang hancur akibat serangan tentara Israel, tetapi umat Kristen di Indonesia lebih memilih tidak ambil pusing. Saya juga sangat percaya bahwa masih ada orang-orang Musliim, orang-orang Kristen, maupun orang-orang Yahudi yang tidak menginginkan peperangan. Mereka ingin hidup berdampingan secara damai. Mengapa kita tidak mencoba menjadi martir/syuhada dalam misi perdamaian ketimbang memilih perang.

  3. Masalah persengketaan tanah antara warga Muslim & Yahudi di Pelestin bermula pada saat Daulah Khilafah Usmaniyah di Turki mengalami kehancuran akibat propaganda kafir Barat.
    Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Teodhore Hertz dkk yang menghasut warga Yahudi agar menguasai tanah Palestin.
    Cara paling efektif untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah mengembalikan hak pengelolaan tanah tersebut kepada pemilik terakhir yang sah, yaitu Daulah Khilafah.
    Tanah Palestin adalah tanah wakaf yang diserahkan secara ikhlas dari pemilik sebelumnya kepada Khalifah Umar ra. & kemudian dibebaskan kembali dari tangan penjajah oleh Khalifah Muhammad al Fatih.
    Bisa saja saudara Muslim kita di Pelestin lari & mengungsi ke negara lain agar selamat, namun hal itu tidak mereka lakukan, karena mereka telah bersumpah untuk merelakan jiwa mereka guna melindungi tanah wakaf milik Daulah Khilafah, hingga Daulah Khilafah bangkit kembali.
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, relakah kalian berlama-lama membiarkan penderitaan saudara muslim kita di Palestin terus berlarut-larut?
    Wahai Saudara Muslim di manapun juga, marilah kita tegakkan Khilafah sekarang juga!
    Agar Saudara kita, baik umat Muslim maupun Yahudi, dapat kembali berdamai seperti sedia kala!
    Agar berbagai masalah yang melanda kita saat ini dapat teratasi!
    Dan yang terpenting, agar hukum Allah dapat ditegakkan kembali di muka bumi ini!

  4. Ini bukan perang antara 2 agama yg berbeda, tetapi ini adalah bentuk wujud iblis yg berbentuk manusia yg memimpin suatu kelompok atau negara. Tidak ada agama yg menghalalkan terjadinya perang yg mengakibatkan kehancuran.. Saya sebagai manusia yg tidak ada artinya merasa miris melihat anak2, wanita dan org2 yg tak berdosa dikedua belah pihak meninggal dgn sia2. Apapun itu airmata, darah dan nyawa tidak bisa dibandingakan dgn apa yg sekarang mereka lakukan (israel & hamas). Mereka yg mempunyai kesombongan yg amat tinggi membutakan mata hati mereka. Wahai teman2 kalau kalian adalah manusia yg berTuhan tolong jangan memprofokasi atau terprofokasi, mari kita berdoa semoga perang segera berakhir dan mata hati mereka yg bertikai dapat dibukakan.. Semoga semua makhluk dapat hidup damai dan bahagia karena Tuhan menciptakan perbedaan untuk membuat warna yg indah didunia ini bukan malah menjadi pertikaian.

  5. sudah jelas bahwa ISRAEL adalah pembantai berdarah dingin… dan emang benar jika mati dalam perang melawan kekafiran (penjajahan) merupakan mati syahid… apapun yang terjadi, ISRAEL harus ditiadakan dari muka bumi untuk menciptakan perdamaian dunia. keyakinan mati syahid ,merupakan keyakinan tingkat tinggi pada diri umat islam… lebih baik mati dari pada harus di jajah… Negara Konstantinopel pernah ditaklukan dengan keyakinan ini..

    doaku untuk mu PALESTINA

  6. Dari segi manapun kaum HAMAS harus segera menyerah…
    karena korban sudah semakin banyak..
    itu semua demi rakyat sipil..
    coba hamas tidak memiliki keyakinan “mati syahid”.
    ini adalah perang permusuhan tahunan..
    jika tak ada yang menghentikan dari salah satu pihak..
    maka GAZA akan selalu jadi medan perang yang tak berkesudahan

  7. dari segi agama manapun, israel tetap tidak benar..!! walaupun perang, itu sudah benar2 kejahatan perang yang jelas. berapa bayi yang mati?

  8. Salam wordpress mania…

    Setujukah para wordpress mania bahwa:

    Perang Selalu Menimbulkan penderitaan kedua belah pihak yang berperang, terutama warga sipil: wanita dan anak-anak.

    Tanggapan dan tulisan di blog yang bernada emosional dan sarat kebeancian hanya akan mendatangkan dan memancing iblizz laknat memercikkan benih benih kebencian dan memencing timbulnya perang.

    Dukungan terhadap salah satu atau beberapa negara yang berperang justru menambah semarak dan meriahnya perang itu sendiri, lama waktu perang menjadi lebih lama, dan tentuya jumlah korban perang semakin banyak, karena waktunya lebih lama dan manusia bodoh dan emosional yang ikut terlibat semakin uakehhh.

    Propaganda-propaganda tentang semboyan-semboyan perang yang menurut saya kurang benar, conto Mati di Peperangan Mati SahiD, pasti masuk SuarGo. Banyak ormas dan organisasi elemen islam sedang diadu oleh kuasa iblis, mereka berpikir tidak sehat dan cenderung emosional. Pemimpin pemimpin dalam ormas islam tersebut hanya cari nama yang memanfaatkan momentum semboyan dan emosional yang berdasarkan soladeritas agama. Wagunya neng kene Mereka bilang Mati dimedan perang masuk surga tetapi mereka tidak berani berangkat tu.., mereka hanya ngomong ngedebus dan terus merekrut laskar perang berani mati. Mereka ndak peduli jika kita mati dan anak, istri, orangTua kita menangisi kita.

    Berpikirlah Sehat.. Jangan emosional… Sing Sabar diSayang Gusthi Allah
    dan suarakan paerdamaian serta hindari tulisan yang menimbulkan semarak PePerangan

    Say no to war
    Peace to Our World.

  9. rangkuman dari blog saya :

    1. Perampasan tanah, pengekangan, embargo ekonomi, penculikan dan penyiksaan orang-orang Palestina adalah pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan tentara zionis Israel yang merupakan fakta-fakta yang tidak tebantahkan. Krn ini pemerintah dan bangsa Indonesia membela Palestina. Kalaulah ada yang mengangkat masalah ini dengan nama sentimen agama, saya pikir wajar-wajar saja, bukankah agama islam sendiri menantang yang namanaya penjajahan? dan ini senada dengan ungkapan : dimana ada ketidakadilan di situ umat islam akan “berbicara”.
    2. Kita ketahui bahwa Hamas memenangkan pemilu di Palestina, akan tetapi tidak satupun negara-negara barat mengakui kemenangan Hamas ini. Ini merupakan batu ujian demokrasi yang diagung-agungkan negara barat. Kita melihat ambivalensi negara-negara barat dalam menanggapi kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina.
    3. Tahukah (Ulil) bahwa tidak semua orang Yahudi setuju dengan gerakan zionis? Gerakan “antizionism jews” sekarang menggema di berbagai negara. Senada juga, sekarang umat kristiani dan muslim Palestina bahu membahu menentang penjajahan israel

    Salam

  10. Assalamu’alaikum wr wb

    Telah jelas permusuhan mereka (yahudi) kepada Palestina (Islam). Dari sisi apapun israel telah menjajah habis-habisan! 60 Tahun Israel yang awalnya tidak memiliki tanah di Palestina dapat menjajah dan mendirikan pemukiman bahkan membuat sebuah negara (hadiah dari inggris). Bagaimana mungkin Hammas mau berdamai??? kalau tanah mereka telah habis di lahap oleh yahudi bertopi panjang dan berjenggot. Damai ada jika semua tanah palestina yang dijajah di berikan kembali kepada Palestina. Tapi Mungkinkah???

    Kita Saja (Indonesia) tidak sudi memberikan secuil tanah kita kepada para penjajah!!!

    Israel bisa membunuh bangsa Palestina dengan senjata illegal rudal cluster
    dan bom kimia yang diluncurkan dari pesawat dan helikopter tempur yang
    diberikan oleh pemerintah AS. Israel bisa membunuh bayi dan anak-anak
    Palestina sebanyak mereka mau tanpa sanksi apa pun dengan dukungan
    pemerintah AS.

    Pemerintah AS memberikan milyaran dollar uang pembayar pajak AS ke Israel.

    Pemerintah AS akan memveto semua resolusi yang mengutuk kekejaman Israel
    sebab tidak ada seorang pun yang bisa jadi presiden AS tanpa dukungan dana
    jutawan dan media massa Yahudi AS (contohnya: CNN).

    Israel membom sekolah PBB yang menewaskan 34 anak tanpa sanksi invasi yang
    dilakukan AS di Irak dan Afghanistan. Bahkan sanksi ekonomi AS seperti yang
    diterima Iran pun tidak.

    Siapa yang akan menolong bayi dan anak-anak Palestina dari kebiadaban
    Israel?

    Ahli propaganda Israel begitu mahir. Mereka membantai bangsa Palestina.
    Tetapi mereka bisa meyakinkan dunia bahwa bangsa Palestina yang mereka
    bantai adalah teroris.

    Wa’alaikum salam wr wb

  11. akan tiba saatnya nanti dimana dosa-dosa Israel akan dibalaskan oleh Allah Swt, dgn ummatnya yang kuat, dan ikhlas, serta senantiasa menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan.
    Semoga saudara-saudara muslim yg melakukan aksi simpatik dengan menyuarakan isi hatinya yg menolak keras serangan brutal Israel terhadap muslim Palestina, menjadi amal shaleh dan sebagai saksi (ucapannya) pembelaan mereka terhadap saudaranya seiman, dihadapan Allah.
    Tentu Allah memandang berbeda terhadap muslim yg menyuarakan pembelaan atas saudaranya, ketimbang muslim yg hanya cuek dan diam, apalagi yg malah membela musuhnya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: