Rekonsiliasi: Yang Beludru dan Yang Tersendat

Prague Old City.jpg“Suatu hari kita harus akui D.N. Aidit bermaksud baik”

Banyak bangsa mengalami masa kelam di masa silam. Nelson Mandela berupaya mengatasi trauma Afrika Selatan lewat KKR, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, dengan mendengar kesaksian para korban apartheid. Di bekas negara fasis Spanyol, rekonsiliasi datang terlambat, tapi bergerak maju. Di Republik Ceko, rujuk bangsa dapat tercapai semulus beludru, meski tanpa KKR. Selepas Orde Baru, Indonesia pun memerlukan KKR, namun sampai kini masih tersendat-sendat.

Banyak negara mengalami halaman-halaman hitam. Selepas kediktaturan, beban masa silam harus ditanggung. Yang dulu kalah, tertindas dan kemudian berkuasa, dan yang dulu jaya, kini tersingkir, perlu kedamaian dan keadilan. Setidaknya semacam rujuk demi keselamatan bangsa ke depan.

Di Eropa Barat setelah Perang Dunia II, mau pun setelah runtuhnya Tembok Berlin tahun 1989 berlaku Victor Justice, keadilan menurut pihak pemenang politik. Di Belanda, ini terungkap dari pemisahan tajam antara mereka yang pernah mendukung dan melawan Nazi dalam kategori “goed en fout“, benar, dan salah, dan yang salah, dihukum.

Akibatnya, rezim baru tak perlu membangun lembaga khusus untuk menata rujuk bangsa. Tapi bagaimana kalau peralihan politik itu tidak tajam dan tanpa kekerasan, sehingga warisan masa silam mudah teratasi – seperti di Ceko? Dan, bagaimana pula kalau sebaliknya, jika luka-luka masa lalu membekas seperti di Spanjol dan Indonesia, misalnya?

Rezim
Ceko atau Cekoslowakia adalah contoh di mana victor justice tidak menjadi isu besar, karena perubahan dari rezim komunis menuju rezim baru berlangsung damai, tanpa setetes darah. Ceko bahkan tak memerlukan upaya rujuk. Sejak dulu dikelilingi kekuatan kekuatan besar, dari Soviet, Polandia, Jerman sampai Austro-Hongaria. Bahkan lorong-lorong ibukota Praha mencerminkan keperluan pertahanan. Pola perangai publik dan elitnya pun selalu was was, dan waspada. Dan pola rezim yang menang dan berkuasa cenderung moderat. Semua itu, agar tetap selamat. Vaclav Havel, presiden pertama Ceko pasca komunis, mempertahankan perdana menteri dari Partai Komunis yang kalah dan menganggapnya guru. Dengan kata lain, negeri David yang kecil harus pintar bermain di tengah sejumlah raksasa Goliath.

Di Eropa Barat, Spanyol adalah satu-satunya negara yang perlu berupaya rujuk. Luka luka akibat Perang Saudara dan kekuasaan diktatur Franco, membekas dan rekonsiliasinya dimulai sejak lima tahun lalu. Kini, publik dan penguasa menggali riwayat dan jasad para korban tersebut.

Perubahan beludru di Ceko membuktikan tak semua bangsa membutuhkan upaya rekonsiliasi meski berganti rezim dan tatanan politiknya. Sebaliknya Mandela di Afrika Selatan justru memerlukan dan melakuka rekonsiliasi dengan sukses. Spanjol adalah jenis ketiga, dan upayanya dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia.

Beban luka masa silam akibat rezim Orde Baru, dari peristiwa 1965-66 sampai kasus Timor Timur, ternyata tak mudah diatasi. KKR untuk berbagai kasus pelanggaran HAM akhirnya macet, atau menanti upaya revisi UU KKR. Tapi peneliti Priyambudi Sulistiyanto menunjuk, KKR sudah kehilangan momentum sejak lima tahun lalu. Di bawah Presiden Megawati, momentum reformasi pudar. Kasus TimTim akhirnya diselesaikan tanpa peradilan yang adil bagi pihak korban.

Prospek upaya rekonsiliasi semacam KKR menjadi indikasi tingkat dan trayek peradaban. Upaya rujuk tak perlu menanti penyelenggara negara. Di Yogyakarta dua tahun lalu ada upaya Tarekat mempertemukan pihak pelaku dan korban peristiwa 65.

Upaya semacam ini kecil tapi penting. Dutabesar RI untuk Republik Ceko, Salim Said, berkomentar “Suatu hari, kita harus mengakui bahwa orang seperti DN Aidit (Ketua Partai Komunis Indonesia, PKI), (Sekarmaji) Kartosuwirjo (pemimpin Darul Islam DI/TII), dan lain lain itu bermaksud baik bagi bangsa, namun (mengambil jalan yang) salah dan kalah,” Menurut Salim yang juga pengamat politik militer itu, “salah dan kalah” itu karena memilih menggunakan kekerasan terhadap negara. Dan itu menunjukkan “tingkat peradaban kita.” Demikian simpulnya.

Namun arah kekerasan seringkali sebaliknya, dari negara terhadap masyarakat, seperti di TimTim, Aceh, dan Papua. Seperti Ceko, geopolitik mendikte nasib bangsa. Dari situ, Indonesia dapat belajar: tidak perlu menjadi Goliath, menindas David.

Aboeprijadi Santoso – Ranesi

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Sering terbang? Ini alasan kulit harus dirawat ekstra
      Menghabiskan waktu berjam-jam di dalam pesawat terbang bisa jadi berita buruk bagi kulit Anda. Kelembaban rendah dan terpaan pendingin udara membuat kulit jadi kering.Dr. Radityo Anugrah yang memiliki spesialisi di bidang kulit ...
    • Yogyakarta kukuhkan Satgas Saber Pungli
      Kota Yogyakarta kini memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar setelah dikukuhkan secara resmi oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Yogyakarta Sulistiyo, Selasa. "Kami akan segera melakukan koordinasi internal untuk ...
    • Pemerintah keluarkan harga patokan ayam
      Kementerian Pertanian mengeluarkan harga patokan ayam ras pedaging melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menandatangani revisi ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: