Anne-Sophie Bonefeld, Juru Bicara Palang Merah Internasional di Palestina: Israel Menyerang Petugas Kemanusiaan

Di tengah deru mesin perang Israel yang menggempur Gaza, pekerja medis dan relawan kemanusiaan berkejaran dengan waktu. Sedaya-upaya, mereka mencoba menyelamatkan korban. Kesulitan yang mereka hadapi tak terkira: dana terbatas, sarana hancur-lebur, tiada jaminan keamanan. Rumah sakit pengap dan sesak—hingga Sabtu pekan lalu korban tewas mencapai 1.335 orang, luka-luka 5.500 orang lebih. Para relawan dan petugas medis harus ”berani mati” menerabas medan perang untuk menyelamatkan korban yang terjebak dalam reruntuhan.

Kesulitan itu kian bertambah karena giatnya Israel menggempur hampir semua rumah sakit, gedung PBB yang menyimpan obat dan pasokan makanan, bahkan ambulans petugas medis. Tak heran, sejumlah dokter dan petugas medis ikut tewas. Padahal, dalam kondisi perang, mereka wajib dijamin keselamatannya.

Komisi Internasional Palang Merah (ICRC) yang bertugas di Palestina geram bukan main. ”Tidak dapat dipahami naluri manusia,” kata Jakob Kellenberg, Presiden ICRC.

Anne-Sophie Bonefeld, juru bicara ICRC untuk Palestina, mengecam keras sikap Israel yang tidak menghargai tugas pekerja medis dan relawan kemanusiaan di Gaza. Bermarkas di Yerusalem, Bonefeld adalah salah satu manusia tersibuk di tengah perang. Rabu pekan lalu, wartawan Tempo Angela Dewi berhasil mengontaknya via sambungan internasional.

Seperti apa kondisi terakhir di Gaza?

Kami masih sibuk mengevakuasi korban luka bakar ekstrem serta cedera parah dari reruntuhan bangunan. Sulit sekali! Sebagian besar korban sudah terperangkap beberapa hari. Anda bayangkan saja kondisi mereka yang tanpa obat-obatan, makanan, listrik, air. Kami juga mengirim petugas untuk memperbaiki fasilitas air minum yang hancur.

Apa kendala utama tim Anda di lapangan?

Kami sulit menyalurkan bantuan ke rumah sakit dan lokasi pengungsian. Situasi di lapangan amat buruk. Serangan bisa menghantam dari mana pun. Kami harus berkejaran dengan waktu karena kondisi kritis korban. Tenaga kami serta obat-obatan terbatas. Sebagian besar korban luka bakar ekstrem sukar ditangani karena fasilitas tidak mencukupi. Ancaman serangan ketika bertugas membuat kami kesulitan menyalurkan bantuan. Saat ini pasokan peralatan medis dan obat-obatan tidak bisa kami teruskan ke rumah sakit. Sudah 32 truk pengangkut bantuan kami kirim ke Gaza sejauh ini.

ICRC sempat menghentikan evakuasi korban beberapa hari lalu. Apa alasannya?

Itu sikap protes kami terhadap ketidakpedulian pasukan Israel. Peraturan internasional melarang pihak yang terlibat konflik menyerang fasilitas dan petugas kesehatan. Tapi Israel bersikap membabi buta pada saat menyerang—termasuk menyerang petugas medis dan relawan. Seorang sopir kami terluka ketika mobil berisi obat-obatan yang kami kirim ke Gaza disasar serangan. Pasukan Israel mengepung lokasi evakuasi untuk memperlambat pekerjaan petugas medis.

Wah.…

Ya, dan beberapa hari yang lalu petugas kami menemukan pemandangan yang di luar batas kemanusiaan. Empat anak kecil meringkuk dekat mayat ibunya yang hangus terbakar di antara reruntuhan bangunan. Kami tidak bisa masuk ke lokasi. Kami tidak bisa mentoleransi sikap militer Israel. Mereka berdalih menggempur wilayah musuh. Tapi di lapangan (lokasi perang—Red.) Israel tidak menghargai peraturan internasional.

Bagaimana akses keluar-masuk petugas medis dan tim relawan di perbatasan?

Kami masih terus menunggu akses dibuka. Banyak sekali bantuan internasional menumpuk di Mesir dan Yordania yang harus segera disalurkan. Kami mendesak agar para ahli bedah yang masih tertahan di perbatasan dapat diberi akses masuk. Tim medis yang bertugas di sejumlah rumah sakit di Gaza merasa kewalahan. Ada yang sudah tiga hari tidak tidur sama sekali karena menangani korban luka parah.

Tolong, gambarkan kondisi para pengungsi.

Sama buruknya. Ratusan pengungsi tertahan di Rafah tanpa obat-obatan. Menurut laporan Nada Doumani, petugas kepala (ICRC) di Gaza, sejumlah pengungsi yang cedera parah akhirnya meninggal karena tertahan di perbatasan.

Presiden ICRC menyebut yang terjadi di Gaza adalah krisis kemanusiaan yang mengerikan. Apa komentar Anda?

Saya pernah bekerja sebagai perwakilan pers ICRC di Sarajevo, 12 tahun lalu. Bertahun-tahun saya berada di wilayah konflik. Tapi belum pernah saya merasa seputus asa dan semarah seperti saat ini.

TEMPO (19 Januari 2009)

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Putra ikon tinju Muhammad Ali ditahan di bandara Florida
      Seorang anak lelaki legenda tinju Muhammad Ali ditahan untuk diinterogasi selama dua jam di bandara Florida setelah kembali dari Jamaika karena namanya yang terdengar seperti nama Arab menurut laporan media Amerika Serikat pada ...
    • Natalie Portman tidak akan hadiri Oscar
      Natalie Portman telah membatalkan kehadirannya di Independent Spirit Awards dan Oscar karena kehamilannya. Portman masuk nominasi dalam dua penghargaan tersebut berkat perannya dalam film "Jackie"."Karena kehamilan saya, saya ...
    • Presiden Peru pilih jembatan daripada dinding pembatas
      Presiden Peru Pedro Pablo Kuczynski menjadi pemimpin Amerika Latin pertama yang mengunjungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih, dan mengaku menyampaikan lebih memilih menyukai jembatan daripada dinding ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: