Obama 44, SBY 10

44 atau 43 … Sejarah tak selalu sepaham dengan anggapan kebanyakan orang. Sejarah ya sejarah. Mau terasa getir, pahit atau manis harus diterima dan diakui sebagai bagian masa kini. Publik semua tahu, bahwa Barack Hussein Obama resmi menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) tanggal 20 Januari 2009 tengah hari: Presiden AS ke 44.Angka 44 telah dicatat resmi sebagai bilangan yang menunjuk Obama sebagai orang yang ke 44, menduduki jabatan paling tinggi di AS. Bahkan paling bergengsi di dunia.

Majalah mingguan internasional Newsweek memajang gambar Obama dalam sampul depannya, dengan judul pendek: 44. Artinya dia presiden baru. Ketika itu dia terpilih sebagai presiden AS, dalam pemilu awal November lalu. Benarkah Obama presiden ke 44? Apa pentingnya menyoalkan angka 44 atau bukan 44? Toh, Obama tetap presiden. Dia punya tugas banyak dan akan dinilai dari darma dan pengabdian yang terbaik untuk negerinya. Terserah mau ke 44, ke 43, ke 45. Tidak terlalu penting. Tapi sejarah tetap sejarah. Harus diperbaiki bila keliru. Ditulis ulang jika alpa. Bila tak peduli Obama sebagai presiden keberapa, apakah berarti kita bisa menyebutnya sebagai presiden pertama AS? Atau presiden keberapa, terserah kita?

Hal ini juga dialami oleh Indonesia, sewaktu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilantik sebagai presiden RI tahun 2004. Semua orang menyebut SBY sebagai presiden RI ke-6. Namun sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam, menyebutnya sebagai presiden ke-8, dengan alasan sejarah yang kuat dan sangat logis. Satu berarti dua, tiga… Bila dihitung jumlah presiden AS, memang bukan menghasilkan angka 44, seperti yang disandang Obama. Ada 43 orang yang pernah menjabatnya. Jadi Obama bukan orang ke 44 yang menjadi presiden AS.

Lalu kemana yang satu? Yang satu itu, karena ada seorang presiden yang menjabat 2 kali tanpa masa jabatan yang berturut (non-consecutive term). Artinya, ada selingannya. Orang itu adalah Grover Cleveland. Dia menjadi presiden AS ke 22 (1885-1889). Lalu diselingi oleh penggantinya, Benjamin Harrison jadi presiden AS ke 23 (1889-1893). Harrison digantikan lagi oleh Cleveland (orang yang sama, juga pendahulu Harrison), sehingga Cleveland menjabat lagi sebagai presiden AS ke 24, bukan ke 22 meski dia pernah menjabat sebelumnya. Pengganti Cleveland akan menjadi presiden AS ke 25, 26, 27,…hingga berturut-turut sampai yang ke 44, yaitu Barack Hussein Obama.

Jadi, hanya karena diselang, seseorang bisa dihitung berkali-kali sebagai presiden AS, meski orangnya itu-itu juga. Contohnya seperti Grover Cleveland itu. Kalau tak diselang bagaimana? Ya tetap satu dihitungnya. Seperti kasus Franklin Roosevelt. Dalam catatan sejarah dia adalah presiden AS ke 32. Padahal dia terpilih sampai 4 kali (4 kali dilantik, yaitu 1933, 1937, 1941 dan 1945) berturut-turut tanpa diselang. Jadi tak mungkin disebut Franklin Roosevelt sebagai presiden AS ke 32, ke 33, ke 34 dan ke 35. Begitu juga dengan George Bush muda, presiden AS ke 43. Dia dipilih 2 kali dan tidak akan disebut sebagai presiden AS ke 43 dan ke 44. Lalu Obama yang ke 45. Tidak. Sebenarnya ini hanya masalah sistem bagaimana cara melihatnya.

Di AS, siapapun yang jadi presiden akan dihitung satu kali, meski dia dua kali menjabat dan orangnya itu-itu juga. Asal tidak diselingi. Konstitusi AS memang akhirnya hanya membatasi seseorang menjabat sampai dua kali saja. Presiden AS ”cuma sehari” Namun tetap ada kealpaan dalam sejarah kepresidenan AS, yang berakibat bisa menyebut Obama sebagai presiden AS ke 45, bukan ke 44.

Kejadiannya terjadi sekitar lebih 150 tahun lalu. Pada pemilu tanggal 7 November 1848, Zachary Taylor terpilih sebagai presiden AS ke 12. Secara konstitusional, dia akan dilantik tepat tengah hari tanggal 4 Maret 1849 hari Minggu, bersamaan Millard Fillmore yang juga terpilih sebagai wakil presiden baru. Namun karena tanggal itu jatuh pada hari libur, yaitu Minggu, Taylor dan Fillmore tidak diambil sumpahnya. Dia baru dilantik pada hari berikutnya, yaitu Senin, tanggal 5 Maret 1849. Sedangkan pendahulunya, yaitu Presiden AS ke 11 James Polk (dan wakilnya) berakhir masa jabatannya pada tengah hari tanggal 4 Maret 1849. Berarti dari tengah hari tanggal 4 Maret 1849 hingga tengah hari tanggal 5 Maret 1849, negara AS tidak punya presiden!

Lalu siapa yang berkuasa di AS sebagai presiden selama 24 jam itu?

Secara konstitusional saat itu, bila presiden dan wakil presiden wafat, berhalangan atau dipecat, maka ada urutan orang yang harus menggantikannya yaitu President of the Senate, yang otomatis dijabat oleh seorang wakil presiden. Orang yang seharusnya berkuasa cuma sehari itu adalah George Dallas. Dia Wakil Presiden AS dibawah Presiden AS ke 11 James Polk. Polk (juga Dallas) mengakhiri masa jabatannya tanggal 4 Maret 1849. Tapi Dallas sudah mengundurkan diri jabatan President of the Senate tanggal 2 Maret 1849. Berarti posisi no.1 (presiden), no. 2 (wakil presiden) dan no. 3 (President of the Senate) kosong. Urutan tahta suksesi di AS pada tahun itu selanjutnya adalah urutan no. 4 (President pro tempore of the Senate).

Siapa dia? Dia adalah Senator David Atchinson dari negara bagian Missouri, yang diangkat sebagai President pro tempore of the Senat tanggal 2 Maret 1849, yang bertugas keesokan harinya hingga larut malam. Setelah itu jabatannya berakhir. Namun tanggal 5 Maret 1849, dia dipilih lagi untuk memangku jabatan itu, supaya dia bisa melantik dan mengambil sumpah para senator baru yang terpilih pada pemilu 1848.

Nah, secara konstitusional, David Atchinson adalah Presiden AS ”cuma sehari”, yaitu dari 4 Maret sampai 5 Maret 1849. Dia tak pernah tinggal di Gedung Putih. Dia tak pernah menandatangani undang-undang secuil pun. Tetapi secara konstitusi AS ketika itu, dia adalah presiden AS. Meski cuma satu hari. Ketika dia wafat tahun 1886, negara bagian tempat asalnya Missouri, membangun sebuah monumen untuk mengenangnya. Di tugu peringatan itu, tertulis ”DAVID RICE ATCHINSON, 1807-1886, PRESIDENT OF U.S. ONE DAY”.

Kalau Atchinson dihitung sebagai presiden AS, maka Obama jelas bukan presiden AS ke 44. Itulah yang terjadi di AS. Sebuah negara paling tertib, paling rapih dan paling jelas dalam bidang konstitusional. Namun antara konstitusi dan sejarah, tak pernah ada kata sepakat. Sejarah AS tidak memasukkan dia sebagai daftar orang yang pernah menjabat presiden AS, meskipun secara konstitusional menyatakan yang sebaliknya. Hari libur pelantikan tidak ada Amerika Serikat adalah negera sangat konstitusional. Mereka sudah mengatur segalanya untuk setiap sendi kehidupan bernegara. Pemilu sudah diatur harinya, tiap hari Selasa pada minggu pertama bulan November (empat tahun sekali). Presiden pasti dilantik pada tepat tengah hari (pukul 12 siang) tiap tanggal 20 Januari (tiap empat tahun). Terserah keadaannya, mau ada badai, ada gempa bumi, pokoknya presiden baru harus ada dan dilantik saat yang ditetapkan. Tidak boleh ada sedetikpun terjadi kekosongan kekuasaan.

Bagaimana kalau hari pelantikan jatuh pada hari Minggu atau hari libur?

Pelantikan resminya digeser berikutnya hari Senin. Sedangkan hari Minggu pelantikan dilangsungkan dalam sebuah upacara pribadi. Pokoknya presiden baru harus ada. Jangan aneh, bila ada beberapa presiden AS dilantik dua kali, karena hari pelantikkan kebetulan jatuh pada hari Minggu. Seperti Dwight Eisenhower. Dia terpilih kembali sebagai presiden AS tahun 1956 dan harus tanggal 20 Januari 1957. Namun hari itu jatuh hari Minggu. Terpaksa dia dilantik sebagai presiden dalam suasana sepi-sepi saja. Baru keesokan harinya, 21 Januari 1956, dia dilantik dengan upacara publik, mirip pelantikan Obama yang kita baru saksikan.

Ronald Reagan pun begitu. Dia harus dilantik untuk masa jabatan kedua pada 20 Januari 1985, yang bertepatan hari Minggu. Reagan pun dilantik dalam upacara sangat sederhana dalam ruangan. Saat itu cuaca buruk di luar. Baru tanggal 21 Januari 1985, Reagan dilantik kembali dalam upacara megah. Jadi Reagan dilantik di dalam ruangan, bukan karena cuaca buruk seperti yang ditulis di harian Kompas, tapi karena hari libur.

Pelantikan hari Minggu memang menyebab seseorang akan dilantik dua kali. Ini akan berulang lagi pada tahun 2013 dan 2041. Tak boleh lowong Kekosongan kekuasaan sangat tidak dibolehkan di AS. Jadi tak dibiarkan negeri itu lowong tanpa supir sedetikpun. Apalagi untuk masa modern ini. Bila ada kekosongan 30 menit saja, tiba-tiba ada serangan nuklir dari musuh. Siapa yang akan menekan tombol-tombol nuklir untuk membalas? Ya tentunya presiden AS. Orang nomor satu. Jadi jabatan itu tidak boleh kosong. Kalau bisa sedetikpun.

Dalam film ”Air Force One” yang dibintangi Harrison Ford, kasus seperti ini diceritakan dengan rinci dan cantik. Akibatnya, banyak pelantikan presiden AS yang aneh-aneh dan tidak bisa diterima oleh akal sehat orang Indonesia. Lihat saja, ketika Presiden AS ke 29 Warren Harding tiba-tiba wafat ditengah masa jabatannya tanggal 2 Agustus 1923 di San Francisco, California. Otomatis wakilnya harus segera dilantik.

Dimana wakilnya?

Kebetulan Wakil Presiden Calvin Coolidge sedang mudik di rumah orang tuanya di Plymouth, Vermont. Jauh sekali jaraknya dari San Francisco. Analoginya, Presiden Harding mendadak meninggal dunia di Sabang, sedang wakilnya yang harus dilantik segera berada di Merauke. Dua kota yang saling berjauhan. Akhirnya Coolidge dilantik tanggal 3 Agustus 1923, dini hari di ruang tamu rumah keluarga oleh ayah sendiri, yang juga seorang notaris. Pelantikannya hanya disaksikan oleh istrinya, seorang senator, seorang stenografer dan supirnya, dibawah sinar lampu templok. Dia dilantik kembali tanggal 21 Agustus 1923 secara resmi, agar kelihatan sebagai ”pelantikan beneran”. Itupun dilakukan di kamar hotelnya di Washington, DC!

Begitupun ketika Presiden AS ke 35 John Kennedy ditembak dan dinyatakan wafat di rumah sakit tanggal 22 November 1963 pukul 01.30 siang waktu setempat. Wakil Presiden Lyndon Johnson harus buru-buru dilantik, meski ”terlambat” 68 menit setelah kematian Kennedy. Ketika jenasah Kennedy mau diterbangkan ke Washington, Johnson diambil sumpahnya sebagai presiden AS ke 36 dalam pesawat Air Force One yang mau lepas landas! Pelantikan disaksikan istrinya, Jackie Kennedy (istri Presiden Kennedy) yang masih mengenakan pakaian pink yang ia pakai saat suaminya ditembak, serta beberpa staf terdekat.

Bagaimana di Indonesia?

Lebih kacau lagi dan semrawut dibanding AS yang sudah jauh lebih tertib. SBY saja masih banyak yang bimbang, apakah dia sebagai presiden RI ke 6 (ini yang resmi diakui karena menang cuma 6 orang yang sudah menjabat) atau presiden ke 8 (ini kenyataan secara konstitusi, yang digaungkan oleh sejarawan LIPI Asvi Warman Adam?

SBY presiden RI ke 10

Menurut sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, SBY bukan presiden RI ke 6, tapi ke 8. Alasannya, ada dua orang lagi yang dilupakan (atau sengaja tak mau diingat) sebagai presiden RI. Orang itu Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Mereka tak diakui sebagai presiden oleh pemerintah. Jangankan diakui, diberi gelar pahlawan nasional pun tidak, seperti usul Asvi W. Adam. Waktu ibukota Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda tanggal 19 Desember 1948, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta beberapa anggota kabinet, ditangkap dan diasingkan beberapa bulan. Hari itu kekuasaan sudah diserahkan kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara. Ini untuk menampik pernyataan Belanda, ”Republik sudah tidak ada lagi”. Ada koq! Yaitu yang dipimpin Prawiranegara yang dinamankan Pemerintah Darurat RI (PDRI) di belantara hutan Sumatera. Dia kemudian menyerahkan kembali kekuasaannya kepada Soekarno tanggal 13 Juli 1949.

Dalam Konferensi Meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949 diputuskan, bahwa Belanda hanya mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk RIS (Republik Indonesia Serikat). Presiden RIS adalah Soekarno yang dilantik tanggal 17 Desember 1949 di kraton Jogjakarta. Berarti secara hukum Soekarno bukan presiden RI lagi. RIS terdiri dari beberapa negara bagian, yang di dalamnya terdapat RI (yang diproklamasikan 17 Agustus 1945) dengan ibukota Jogjakarta.

Lalu siapa yang memimpin RI?

RI dipimpin untuk sementara oleh Mr. Assaat. Artinya sejak Soekarno tidak jadi presiden RI lagi tanggal 17 Desember 1949, maka presiden RI adalah Mr. Assaat. Dia hanya ”pemangku sementara presiden RI”. Apapun namanya, secara konstitusi, Mr. Assaat adalah presiden RI. Lalu RIS akhirnya melebur kedalam RI sejak tanggal 15 Agustus 1950. Berarti Soekarno bukan presiden RIS lagi. Sejak tanggal itu dia menjadi presiden RI kembali, hingga diturunkan pada tanggal 22 Februari 1967. Dia digantikan Soeharto. Berarti, presiden RI bukan berjumlah 6 orang seperti yang diakui sekarang. Tetapi 8 orang.

Logika ini tidak serta merta menyatakan bahwa SBY sebagai presiden RI ke 8, seperti pendapat sejarawan Asvi Warman Adam. Dan menganggap Sjarifuddin Prawiranegara dan Mr. Assaat hanya sebagai ”selingan”. Presiden AS pun dari Washington sampai Obama jumlahnya 43 orang. Namun kita tak bisa mengatakan Obama sebagai presiden AS ke 43. Jadi secara konstitusional Soekarno tiga kali menjadi presiden RI, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945 (dipilih secara aklamasi oleh sebuah badan persiapan kemerdekaan bikinan Jepang), lalu 13 Juli 1949 (ketika Sjafruddin Prawiranegara menyerahkan mandatnya kembali sebagai pemimpin PDRI di hutan Sumatera), kemudian 15 Agustus 1950 (waktu Mr. Assaat menyerahkan kembali jabatan sementara presiden RI ke Soekarno). Berarti Soekarno tiga kali menjadi presiden RI dengan masa jabatan yang diselang (non consecutive term).

Dengan demikian SBY bukan presiden RI ke 8, tapi ke 10. Urutan presiden-presiden RI Jadi jika diurutkan presiden-presiden RI adalah sebagai berikut: 1. Presiden ke 1 Soekarno [18 Agustus 1945-19 Desember 1948] 2, Presiden ke 2 Sjafruddin Prawiranegara (19 Desember 1948–13 Juli 1949). 3. Presiden ke 3 Soekarno (13 Juli 1949-17 Desember 1949). 4. Presiden ke 4 Mr. Assaat (17 Desember 1949-15 Agustus 1950). 5. Presiden ke 5 Soekarno (15 Agustus 1950-22 Februari 1967) 6. Presiden ke 6 Soeharto (22 Februari 1967-21 Mei 1998). 7. Presiden ke 7 BJ Habibie (21 Mei 1998-20 Oktober 1999). 8. Presiden ke 8 A. Wahid (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). 9. Presiden ke 9 Megawati Soekarnoputri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004) 10. Presiden ke 10 SBY (sejak 20 Oktober 2004).

Urutan diatas secara langsung mengatakan, bahwa tidak ada kekosongan kekuasaan sejak RI berdiri hingga detik ini. Republik Indonesia selalu ada. Tak pernah mati. Dan Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat bukan hanya ”selingan” dalam masa jabatan kepresidenan Soekarno. Mereka benar-benar menjalankan masa kepresidenan dengan keringat, darah dan nyawa. Meskipun negara tidak mengakuinya…

Iwan Kamah, Jakarta – KoKi

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: