Mimpi Berwarna

Tak ada yang keliru dengan prakarsa PSSI mencalonkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022. Tentu berat bersaing dengan Inggris, Jepang, Qatar, dan Spanyol-Portugal.

FIFA minta tuan rumah serius menyiapkan infrastruktur dan fasilitas. ”Sekitar 12 stadion berkapasitas 40.000-80.000 kursi, media teve berstandar tertinggi, teknologi informasi dan telekomunikasi, transportasi dan akomodasi, merupakan syarat mutlak,” tulis FIFA.

PSSI punya tenggat 16 Maret 2009 untuk melengkapi pendaftaran pencalonan. Setelah itu PSSI harus meneken perjanjian pencalonan akhir tahun ini.

Saya kebetulan lima kali meliput Piala Dunia Meksiko (1986), Italia (1990), Amerika Serikat (1994), Korea-Jepang (2002), dan Jerman (2006). Jadi tuan rumah lebih banyak untungnya daripada ruginya.

Meksiko sudah pernah jadi tuan rumah Piala Dunia 1970 dan juga Olimpiade 1968. Italia dan Jerman, dua raksasa sepak bola, masing-masing empat dan tiga kali jadi juara dunia.

Beberapa kota di AS langganan jadi ajang pesta olahraga berbagai cabang berkelas dunia. Tujuh kota menyelenggarakan olimpiade musim panas dan dingin, termasuk dua kali di Los Angeles.

Korea Selatan dan Jepang, dua negara Asia pertama yang menuanrumahi Piala Dunia dalam 72 tahun. Jangan lupa, Tokyo dan Seoul pernah menyelenggarakan olimpiade, masing- masing tahun 1964 dan 1988.

Hanya beberapa pekan sebelum dimulai, Mexico City diguncang gempa bumi besar. Walau kalang kabut karena tak sedikit infrastruktur roboh, Piala Dunia 1986 sukses.

Sebagaimana di Amerika Latin, fiesta di Meksiko meriah. Pendukung fanatik dari Brasil, Argentina, Uruguay, Peru, dan negara-negara tetangga lain datang berduyun-duyun karena jarak ke Meksiko dekat.

Jarak antarkota di AS jauh, dibutuhkan transportasi udara yang memadai. Semua wartawan terbang bolak-balik New York-Los Angeles atau Miami-San Francisco yang makan waktu rata-rata lima jam.

Piala Dunia di Eropa–termasuk di Jerman dan Italia–pasti berisik persaingan sengit timnas dan bangsa. Jarak antarnegara dan kota di Eropa ”selemparan batu” alias hanya beberapa jam perjalanan kereta api DB di Jerman atau TGV di Perancis.

Ketika meliput di delapan kota di Jepang, saya tak pernah khawatir berjalan sendirian lewat tengah malam. Kereta api peluru Shinkansen tersedia dari mana saja, ke mana saja, dan kapan saja.

Pengunjung mancanegara yang datang ke tiap Piala Dunia 1,5 juta sampai 2 juta orang. Panitia mesti menyiapkan pula puluhan ribu kamar hotel di sedikitnya delapan kota.

Panitia di Meksiko, Italia, AS, Korea-Jepang, dan Jerman menyiapkan ratusan juta dollar AS untuk membangun infrastruktur dan fasilitas. Kualitas timnas mereka memadai untuk bertarung di ajang dunia.

Tiap pemerintah menyingsingkan lengan baju karena Piala Dunia hajat nasional yang dimanfaatkan untuk mendongkrak citra bangsa. Selama sebulan perhatian miliaran penduduk dunia tertuju ke tuan rumah.

Banyak yang takjub mengetahui PSSI ”nekat” mencalonkan diri. Kenapa tak jauh-jauh hari dilakukan sosialisasi dulu ke berbagai pihak agar langkah ke depan mulus?

Muncul sinisme karena semua tahu amburadulnya kondisi internal PSSI. Tak sedikit mengernyitkan dahi karena heran PSSI serius atau main-main?

Jakarta jadi tuan rumah Asian Games 1962 dan Ganefo 1963, juga SEA Games beberapa kali. Akhir 1990-an, FIA tertarik membahas penyelenggaraan lomba F-1 di Pulau Dewata.

Tak mustahil Piala Dunia 2018 atau 2022 berlangsung di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Pembangunan 12 stadion bak membalikkan telapak tangan selama ada fulusnya.

Penggemar dari 31 negara peserta pasti berdatangan. Siapa yang tak kenal negeri yang teramat indah dengan beragam budaya ini?

Jakarta belum tentu kalah modern dibandingkan dengan Mexico City, Roma, Washington DC, Seoul, Tokyo, atau Berlin. Kalau gubernurnya becus, subway di Ibu Kota bisa selesai tahun 2018 atau 2022.

Puebla (Meksiko), Napoli (Italia), Boston (AS), Saitama (Jepang), Suwon (Korea Selatan), atau Leipzig (Jerman) tak lebih modern dibandingkan dengan Surabaya, Bandung, Medan, atau Makassar. Jumlah penggemar di sini sama banyaknya dengan penggemar di Eropa.

Aneka infrastruktur dan beragam fasilitas cuma benda-benda mati saja. Tak sulit menyiapkan stadion, hotel, sistem telekomunikasi, rute pesawat, subway, atau perlengkapan komputer supercanggih.

Namun, Piala Dunia sukses karena manusia-manusia yang menyelenggarakannya. Apakah manusia-manusia Indonesia siap tahun 2018 atau 2022?

Mari mengilas balik penyelenggaraan Piala Asia 2007. Pemimpinnya berebut nonton final, timnasnya mencetak rekor diganjar kartu kuning terbanyak, dan pengurusnya mengerahkan demo ke hotel wasit yang dianggap kurang adil.

Presiden kirim surat protes, penonton melempari dengan air seni, dan PSSI menjual kaos timnas tanpa celana. Oh ya, tahun lalu timnas akhirnya jadi juara turnamen kecil hanya karena Libya mogok main setelah pelatihnya dipukuli.

Sekali lagi, tak keliru PSSI mencalonkan Indonesia jadi tuan rumah–sebuah prakarsa yang didukung Mennegpora Adhyaksa Dault. Andalah yang keliru karena enggak pernah tidur pulas dengan mimpi berwarna.

BUDIARTO SHAMBAZY – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: