Polisi Periksa 13 Saksi Aksi Anarki di Medan

Hingga pukul 23.00 Kepolisian Kota Besar Medan memeriksa 13 orang yang diduga menjadi otak dan pelaku unjuk rasa anarkis. Polisi sudah menetapkan sejumlah tersangka, dan pemeriksaan di Markas Poltabes berlangsung dalam penjagaan ekstra ketat.

Pemeriksaan atas 13 orang itu, menyusul insiden meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut) Abdul Azis Angkat (51) meninggal dunia, menyusul aksi demonstrasi disertasi aksi pengeroyokan oleh massa pengunjuk rasa yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli di Kantor DPRD Sumut, Medan, Selasa (3/2) sekitar pukul 11.00. Massa juga merusak Kantor DPR dan melukai seorang penjual rokok.

Pemeriksaan dilakukan setelah polisi menangkap tujuh orang pelaku unjuk rasa di lapangan, empat orang di sebuah Hotel Grand Antares, dan dua orang di sebuah rumah kos di Medan.

Di antara mereka yang diperiksa adalah Ketua Panitia Pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) GM Chandra Panggabean, anggota DPRD Sumut Eron Lumbangaol, anggota panitia Burhanuddin Rajagukguk, anggota panitia Datumira Simanjuntak, pengunjuk rasa Viktor Siahaan, dan koordinator unjuk rasa RM Simanjuntak.

Golkar dan keluarga

”Kami meminta persoalan ini diusut secara hukum. Mereka yang di lapangan maupun yang jadi aktor intelektual harus bertanggungjawab atas kejadian ini, termasuk panitia pembentukan Provinsi Tapanuli,” tutur Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Sumut, Amas Muda Siregar sesaat setelah kejadian.

Ia meminta agar polisi mengusut kasus ini sesuai proses hukum. Ia juga berharap persoalan ini tidak menyebar ke masalah lain. Situasi politik di Sumut sekarang ini meningkat eskalasenya diharapkan tidak menjadi lebih panas lantaran persoalan ini.

Pihak keluarga, melalui anak sulung Azis, Anugraha Maulidin Angkat (23), meminta kematian ayahnya diusut sesuai proses hukum yang berlaku. Ia juga meminta penyebab kematiannya diusut. ”Kematian ini terkesan karena sudah main hakim sendiri,” katanya.

Di tempat terpisah Kepala Kepolisian Daerah Sumut Inspektur Jenderal Nanan Sukarna mengatakan Azis meninggal dunia karena serangan jantung.

Hal ini berdasarkan keterangan sementara tim dokter yang memeriksa almarhum.

”Meski sudah ada keterangan dokter, kami perlu mendapatkan kepastian penyebab kematiannya dengan melakukan otopsi,” kata Nanan Sukarna.

Nanan mengatakan kepolisian telah menetapkan tersangka, namun Nanan belum bersedia merinci siapa saja mereka. Mereka sebagian besar merupakan penanggungjawab demonstrasi. Dia meminta kepada aktor intelektual yang belum diperiksa polisi agar menyerahkan diri.

Dari Jakarta, Kepala Divisi Humas Markas Besar (Mabes) Polri, Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, semalam mengatakan belum ada seorang pun yang melihat ada orang atau beberapa orang yang memukul Abdul Aziz menjelang meninggal. ”Hasil visum, hanya menyebutkan bahwa Abdul Aziz meninggal karena serangan jantung. Tidak ada tanda penganiayaan apa pun di tubuhnya. Oleh karena ini, sesuai hasil visum, Abdul Aziz diduga meninggal karena serangan jantung. Bukan karena pengeroyokan, pemukulan atau penganiayaan di tengah unjuk rasa yang berakhir ricuh itu,” paparnya.

Kronologi insiden

Insiden kerusuhan Selasa siang berawal ketika DPRD Sumut menggelar sidang paripurna dengan tiga agenda yaitu pergantian antar waktu, pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Ranperda Penyertaan Modal Bank Sumut. Massa kecewa lantaran pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) tak masuk agenda sidang.

Di tengah sidang, sekitar pukul 11.00 massa merangsek masuk ke ruang paripurna dan menuntut pimpinan sidang merekomendasikan pembentukan Protap. Massa lalu melemparkan gelas, dan apa saja ke ruang sidang. Petugas keamanan DPRD Sumut mengamankan Azis ke ruang khusus.

Ketua Dewan Kehormatan DPRD Sumut H Mutawali Ginting dari Partai Demokrat mengaku berada di dekat korban saat peristiwa terjadi. Mutawali mengatakan massa memang sudah tak terkendali siang itu.

”Pak Ketua baru menutup sidang pertama, kemudian membuka sidang kedua ketika ratusan massa masuk ke ruang sidang,” tutur Mutawali. Ratusan orang lainnya berada di luar gedung.

”Saya, Sekda (RE Nainggolan), Japorman (Japorman Saragih-PDIP) dan beberapa anggota diungsikan polisi ke ruangan di belakang ruang sidang,” tutur Mutawali.

Sekitar satu jam kemudian petugas membawa Azis keluar dari ruang paripurna. Massa mengejar dan sempat melancarkan pukulan ke tubuh Azis. Mobil Azis sempat dihalangi oleh massa dalam perjalanan menuju ke rumah sakit terdekat yaitu Rumah Sakit Internasional Gleni di Jalan Listrik, Medan.

Azis sempat mendapat perawatan serius. Gubernur Sumut Syamsul Arifin menyatakan sekitar pukul 13.00 Azis meninggal dunia. Almarhum Azis Angkat merupakan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumut. Pria kelahiran Sidikalang 10 Januari 1958 meninggalkan seorang istri dan empat anak. Azis menduduki jabatan Ketua DPRD Sumut pada 27 November 2008 menggantikan Abdul Wahab Dalimunthe yang berpindah dari Partai Golkar ke Partai Demokrat.

Demonstrasi yang berakhir anarkis ini juga melukai Edward Tampubolon (27) seorang penjual rokok. Edward pingsan setelah terkena lemparan batu di kepalanya hingga berdarah. Edward yang tidak sadar diri lalu dibawa petugas keamanan DPRD Sumut ke RS Malahayati, Medan. Edward membayar sendiri pengobatannya. ”Uang yang tersisa Rp 52.000 di kantong saya habis. Lima bungkus rokok saya juga hilang,” katanya.

Unjuk rasa juga merusak sejumlah fasilitas DPRD Sumut. Pintu gerbang utama DPRD Sumut rusak, begitupun dengan pintu gerbang bagian dalam sebelah selatan. Tidak hanya itu, kaca bagian selatan gedung pecah. Sejumlah kursi rusak.

Sementara itu, Anggota Dewan Ahli Nurcholish Madjid Society Yudi Latif mengatakan kekerasan politik yang membuat tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat menunjukkan masih kuatnya ekspresi-ekspresi antidemorkasi yang muncul dalam proses demokratisasi di Indonesia. (NDY/WSI/WIN/MZW)

KOMPAS

1 Comment

  1. ANARKISME DEMOKRASI TAPANULI

    Betapa sombongnya kamu… Betapa angkuhnya kamu… meniti titian demokrasi berlumurkan anarkisme dan kemurkaan.

    Tapanuli, 3 februari 2009. Ribuan demonstran merangsik masuk gedung dewan. Merusak, anarkisme. Ketua DPRD, Abdul Aziz Angkat tewas dalam kejadian tersebut.

    Mendengar berita itu, aku langsung terkulai lemas. Seolah tak percaya. Semua bayangan indah demokrasi, telah lenyap dari alam fikiranku. Anarkisme kaum bar-bar bersembunyi di balik kata-kata kebebasan berpendapat.

    Batinku merintih perih, penuh luka, karena kepentingan sekelompok golongan, mengakibatkan luka hati yang dalam, dalam sekali dan sukar di pulihkan. Awan hitam sedang menyelubungi jalan demokasiku.

    Tapanuli, 6 februari 2009.

    Tiga hari setelah nya, dengan berkeras faham, kucoba kembali menata setiap kepingan yang tersisa, puing-puing sisa kekerasan masih melekat disana. Satu demi satu ku bersihkan. Dengan tujuan manjadi jalan kedepan bagi kebebasan demokrasi negeriku.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Liga Eropa - Hasil dan klasemen Grup B, Apoel juara grup
      Apoel FC, berhasil menjuarai Grup B Liga Europa setelah mengalahkan wakil Yunani, Olympiakos, dengan skor 2-0 dalam laga pamungkas penyisihan di Stadion GSP, Siprus, Jumat dini hari WIB.Kemenangan yang diraih berkat gol dari ...
    • Liga Europa - Hasil dan klasemen Grup A, Fenerbahce-MU lolos
      Fenerbahce dan Manchester United lolos ke babak 32 besar Liga Europa selepas rangkaian pertandingan pamungkas penyisihan Grup A, Jumat dini hari WIB.Fenerbahce memastikan satu tiket ke babak 32 besar setelah tim asal Turki itu ...
    • Ngobrol dengan BJ Habibie di Belanda
      Nonton film berlanjut dengan ngobrol-ngobrol santai tapi serius terjadi di Belanda, antara anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan masyarakat Indonesia di Belanda, dengan Presiden Baharuddin Jusuf ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: