“Bongkar Tiga Si”

Serdadu-serdadu Portugal yang berlayar ke Asia Tenggara tahun 1500-an terkesima menyaksikan orang-orang Melayu marah. Mereka melampiaskan kemarahan dengan cara destruktif, anarkis, dan fatalistis.

Mereka menjulukinya dengan ”amuco”. Duarte Barbosa dalam buku Amuco [1518] menulis, ”Orang-orang ’amuco’ berlarian ke seluruh penjuru merusak semua benda dan membunuhi tiap orang yang ditemui.”

Dua dekade kemudian, para pendatang Inggris menyaksikan fenomena ”amock”. Di kamus mereka, ”to run amock” artinya orang membunuhi siapa pun untuk balas dendam yang didahului ritual mabuk-mabukan.

”Setelah mabuk mereka berhamburan keluar rumah untuk membunuh. Bahkan, orang yang coba mencegah ikut dibunuh pula,” tulis seorang kapten bernama Cook. Kata ”amock” itu lalu berubah jadi ”amok”.

Dari telaah psikologis, amuk ditafsirkan sebagai ”bentuk ganjil dari ketidaknalaran akal”. Tafsiran lain mengatakan ”perilaku sangat destruktif yang diikuti amnesia, rasa lelah, bahkan bunuh diri”.

Tak mudah mengira-ngira sejak kapan amuk massa menjadi bagian dari kultur bangsa yang dikenal ramah ini? Sukar juga menebak mengapa di negeri yang alamnya indah ini masih saja ada orang yang dengan mudah menginjak-injak aturan yang dibuatnya sendiri?

Amuk massa terakhir memakan korban Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat yang tewas akibat pengeroyokan di Medan, pekan ini. Amuk massa dalam sistem demokrasi namanya ”mobocracy” (rule by the mob).

Kerumunan atau demonstran anarkis bertindak sebagai elite yang berkuasa. Jika memakan korban nyawa, ”mobocracy” berubah menjadi ”mobocrazy” alias demonstrasi yang menghalalkan anarki.

”Mobocrazy” di Medan meletus karena para demonstran yang tak puas merasa demokrasi sudah tak adil, telah dicuri, bahkan diinjak-injak sampai mati. ”Mobocrazy” di Medan meletus karena ambisi keliru segelintir orang yang bertekat membentuk Provinsi Tapanuli.

Pelaku-pelaku ”mobocrazy” pandai bela diri. Sebagian melarikan diri, sebagian menyalahkan polisi, dan sebagian lagi mengarang teori konspirasi.

Tidak mengherankan ”mobocrazy” justru semakin meningkatkan apatisme masyarakat terhadap demokrasi. Sebagian kalangan bahkan menyimpulkan bangsa ini sesungguhnya kurang compatible dengan sistem demokrasi.

Anda tentu tahu fakta yang menunjukkan hasil pemilihan gubernur di sejumlah provinsi besar dimenangi golput (golongan putih). Tak mustahil kelak terbukti lagi pada Pemilu-Pilpres 2009 bahwa mayoritas rakyat makin ogah menggunakan hak pilih.

Apalagi konstitusi UUD ’45 menjamin setiap warga untuk tidak menggunakan hak pilih masing-masing. Bisa dipahami gejala kurang sehat ini membuat kepala pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif republik ini jadi pening.

Soalnya, mereka telanjur memasang target untuk menyukseskan Pemilu-Pilpres 2009 sebagai, seperti biasanya, ”pesta demokrasi”. Salah satu cara kontroversial untuk meningkatkan partisipasi rakyat dengan mengintrodusir fatwa ”golput haram” melalui MUI.

Apakah cara ini efektif, tentu belum terbukti. Saya menduga sebagian masyarakat yang sadar politik malah mengernyitkan dahi karena mengherani fatwa MUI dan makin menjauh dari ingar-bingar pesta demokrasi.

Pembengkakan jumlah golput merupakan penyakit klasik dalam sistem demokrasi. Ia harus dikikis habis karena merugikan konsolidasi demokrasi.

Salah satu penyebab penyakit adalah kegagalan politisi memenuhi janji-janji. Mungkin jika satu atau dua janji saja yang tak dipenuhi, itu masih dianggap manusiawi.

Namun, kalau hampir semua janji akhirnya terbukti kosong, rakyat otomatis merasa bahwa dunia politik tidak memiliki daya tarik lagi. Nah, itulah yang terjadi selama 11 tahun terakhir ini sejak Reformasi.

Hasil dua pemilu dan dua kali pilpres 1999 dan 2004 memperlihatkan grafik peningkatan apatisme pemilih. Rakyat apatis benar, yang keliru adalah politisi.

Anggap saja apatisme tahun ini sebagai hukuman untuk politisi. Harapannya pada periode 2009-2014 para capres, cawapres, partai, dan politisi agar bekerja lebih serius lagi.

Namun, mengharapkan politisi yang bekerja serius bak mencari jarum di tumpukan jerami. Padahal, kalau kerja serius tanpa kampanye pun, sang politisi pasti terpilih kembali.

Saya khawatir ”ancaman golput” ini bisa merangsang pihak-pihak yang tak bertanggung jawab melancarkan gerilya ”Tiga Si” (Korupsi, Intimidasi, dan Manipulasi) sebagai tiga langkah penangkalan. Apalagi, sebagian besar calon pemilih adalah rakyat jelata yang hidup di pedesaan.

”Si” pertama, Korupsi, mengandalkan politik uang dalam kampanye yang dibungkus dengan metode-metode persuasif. ”Si” kedua, Intimidasi, bisa dilancarkan melalui berbagai bentuk ancaman yang agresif.

”Si” ketiga, Manipulasi, dilakukan secara tersembunyi dengan memanfaatkan berbagai saluran resmi. Misalnya, menyulap hasil penghitungan suara melalui berbagai cara, termasuk mengganggu proses tabulasi manual maupun yang dikomputerisasi.

Untuk melawan ancaman terhadap demokrasi ini, kami membentuk KSP (Koalisi untuk Suara Perubahan) yang terdiri dari sejumlah wartawan, aktivis, LSM, dan musisi. Tema kampanye kami: ”Bongkar Tiga Si”.

BUDIARTO SHAMBAZY – KOMPAS

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Pengumuman Seleksi Bakal Caleg PSI
      Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie (kedua kanan) beradu tangan dengan politikus PSI Giring Ganesha disaksikan Ketua panelis independen yang juga Mantan Menteri Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif Mari ...
    • Megawati Soekarnoputri ingatkan semangat gotong-royong
      Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengingatkan pentingnya semangat gotong royong yang juga diusung Presiden Soekarno. "Melalui gotong royong pembangunan di Indonesia dapat dilaksanakan," kata Megawati, ...
    • Atasi KLB Difteri
      Petugas Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyuntikan vaksin difteri kepada anak di Posyandu Cirengas, Serang, Banten, Sabtu (16/12/2017). Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat saat ini terdapat 91 kasus penyakit yang sangat ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: