Unjuk Rasa dalam Bentuk Terorisme

Isu pemekaran kabupaten atau provinsi mengundang 1001 macam tafsir. Salah satu tafsir ialah bahwa dengan pemekaran akan terbukalah posisi-posisi struktural bagi kelompok elite yang berada di balik isu. 

Kaum elite minoritas inilah yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, yaitu pemekaran wilayah yang akan semakin otonom, mandiri, maju, dan sejahtera sebagai aspirasi rakyat, untuk meraih jabatan struktural tertentu di kabupaten atau provinsi baru. 

Tafsir demikian seharusnya tak akan muncul, andaikata tuntutan pemekaran itu dilakukan secara berbudaya, beradab, dan bertata krama. Namun, apa yang dilakukan oleh ribuan pengunjuk rasa di Medan yang menuntut pemekaran provinsi Tapanuli jauh dari nilai budaya, adab, dan adat sopan santun yang dihayati dan dihidupi oleh berbagai komunitas nusantara yang majemuk karena berbeda-beda. 

Seharusnya, dapat dinyatakan dengan bangga, betapa indahnya ungkapan aspirasi rakyat melalui tata cara unjuk rasa atau cara komunikasi berdialog yang digelar secara berbudaya dan beradab. Sebaliknya, patut disesalkan, betapa buas dan meradangnya unjuk rasa oleh ribuan massa yang dikendalikan oleh nafsu amarah, benci, dan dendam kepada kekuatan anonim yang akhirnya diwujudkan pada Ketua DPRD Sumut bersama anggotanya yang hadir. 

Tewasnya Ketua DPRD, Abdul Azis Angkat, dan hancur berantakannya isi kantor DPRD Sumut adalah bukti sangat nyata tentang keberingasan massa yang dengan mudah jelma menjadi kekuatan terorisme yang anarkis, biadab, dan hampa nilai kemanusiaan yang merasuk jauh ke dalam hati para pengunjuk rasa. 

Terorisme yang menjadi momok bagi demokrasi, keadilan, dan harmoninya kehidupan yang damai telah dipraktikkan dengan sempurna oleh unjuk rasa massa yang telah menewaskan Abdul Azis Angkat. 

Masyarakat pun sangat menyesalkan polisi yang tak berdaya menghadapi massa brutal yang sudah diketahui jumlahnya sebelum berlangsungnya unjuk rasa di lapangan. 

Bayangkan, bagaimana terorisme sungguhan yang muncul tiba-tiba dengan jumlah dan daya penghancur yang tak terduga. Jika kebuasan nyata di depan batang hidug sulit ditangkal bagaimana pula “underground terrorism” yang sulit ditebak dan dideteksi keberadaannya. Namun, kita yakin bahwa polisi kita selama ini sudah berbuat maksimal dan optimal menghadapi gerakan-gerakan teroris di tanah air. 

Kepercayaan masyarakat terhadap polisi harus tetap terjaga jika kinerjanya menghadapi berbagai tindak kekerasan, termasuk tindak kekerasan dalam sejumlah besar unjuk rasa di tanah air, dapat mencegah potensi kekerasan atau mengatasi kekerasan yang terjadi secara efektif tanpa jatuh korban jiwa dan kerusakan harta benda. Pembunuhan telah terjadi karena untuk rasa di Medan. 

Janganlah peristiwa demikian terulang kapan dan dimanapun. Jadikanlah peristiwa unjuk rasa di Medan sebagai bahan pelajaran berharga menghadapai kekerasan, termasuk kekerasan unjuk rasa di masa depan. Dengan berpegang teguh pada prinsip supremasi hukum, kiranya unjuk rasa di masa depan lebih bermartabat dan lebih dihargai oleh masyarakat, karena tidak menjadi sumber peradangan buas serta garang yang berwujud terorisme.

Ishak Ngeljaratan – FAJAR

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • KPK sita satu unit apartemen Rita Widyasari
      Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita satu unit apartemen senilai Rp3,6 miliar di Balikpapan milik Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari yang telah ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana korupsi menerima gratifikasi. ...
    • Presiden Jokowi dijadwalkan buka rakernas APDESI di Medan
      Presiden Joko Widodo dijadwalkan membuka Rapat Kerja Nasional atau Rakernas Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia di Medan, Jumat. "Ribuan kepala desa se Sumatera Utara dan 350 pengurus APDESI (Asosiasi Pemerintah ...
    • IBL targetkan penerapan "salary cap"
      Pihak Liga Bola Basket Indonesia (IBL) menargetkan aturan tentang batas gaji atau "salary cap" bisa diterapkan mulai musim 2019-2020 agar kekuatan setiap tim semakin seimbang. Hal itu karena, seperti disebutkan Direktur ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: