Percaya kepada Kekuatan Doa

Ada satu hal yang bisa membuat kita terbangun di pagi-pagi subuh, padahal mungkin kita tidak terbiasa bangun sepagi itu: permasalahan hidup. Akibat didera masalah yang mungkin saja sangat berat, pikiran kita menjadi tidak tenang, hati juga tidak merasakan kenyamanan. Ketika kegundahan itu terbawa di dalam tidur malam, keheningan yang kita ciptakan kadang harus terusik dan kita pun terbangun dari tidur sebelum waktunya.

Lalu, apa yang mesti kita lakukan bila situasi yang tidak menyenangkan dan sedang kita alami mengganggu kenyamanan tidur kita, mendorong kita untuk gelisah dan terus-menerus bertanya, “Tuhan, kapan selesai?” Tentu saja akan lebih bijak bila kita kembali ke dalam doa dan percaya akan kekuatannya. Doa menjadi salah satu cara kita menenangkan hati dan pikiran di saat kita benar-benar “tidak berdaya” akan kekuatan kita sebagai manusia.

Memang, setiap hari setiap saat kita berdoa sambil terus berusaha dan berkarya. Namun, doa kita akan semakin fokus, semakin luar biasa hening ketika kita terjebak pada persoalan yang rumit. Doa bagaikan benteng terakhir di saat jalan keluar terasa sangat sulit. Kita memanjatkan doa lebih khusyuk dari biasanya. Kita mengajukan segala permohonan lebih dalam ketika kita berada di tepi jurang kekalahan.

Berharap Ada Jalan Keluar 
Kita memang percaya ada jalan keluar untuk setiap persoalan yang kita hadapi. Kita juga percaya pada masalah hidup yang “diberikan” kepada kita sudah sesuai dengan kemampuan kita mengatasinya. Namun, “teori” itu bisa saja mental dan kita menjadi seakan tidak memercayainya karena kita sedang mengalami cobaan berat, yang saat ini kita belum menemukan jalan keluarnya. Kita belum mampu mengatasinya. Oleh sebab itu, doa menjadi “pelarian dalam sunyi” agar batin kita tidak keluyuran ke mana-mana tanpa arah yang jelas.

Percaya saja kepada kekuatan doa dan tetap berharap ada jalan keluar; itulah langkah yang paling bijaksana di saat kita memang sedang kepentok persoalan yang berat dan kita belum mampu memecahkannya. Terus, terus, dan terus berdoa. Tanpa henti. Jika kita menghentikan doa kita lalu menyerah, bukankah kita menjadi stres dua kali atau kalah untuk kesekian kalinya?

Kita yang mengimani Tuhan, tentu tidak akan mungkin memutuskan doa, menghentikan permintaan kepada-Nya. Kita yang percaya akan kehadiran Tuhan di dalam setiap langkah dan tindakan, bukankah tidak mungkin melepaskan diri dari kuasa-Nya. Bahkan sebaliknya, bukankah lebih bermakna dan lebih membawa kesejukan di sela kesesakan hidup bila kita mempercayakan Tuhan bekerja atas diri kita?

Doa menghubungkan batin dan permintaan kita kepada-Nya. Doa mengajarkan kita akan makna hidup dan kehidupan yang mengandung misteri, dan kita tidak akan mungkin menjawab setiap makna yang diberikan untuk kita, tanpa kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Setiap persoalan memang kemudian akan lebih bijak bila kita pasrahkan kepada kuasa-Nya, agar Dia senantiasa mau menyentuh hati dan pikiran kita, memberi inspirasi untuk setiap jalan keluar yang seharusnya kita mampu melakukannya.

Memohon Ampun atas Keluh Kesah yang Kita Lakukan 
Persoalan hidup yang berat membuka peluang kita untuk berkeluh kesah, mengumpat, marah-marah, dan kemudian tidak percaya akan kehadiran Tuhan di dalam langkah kita. Kita seakan menjadi sendirian dalam menghadapi permasalahan yang berat. Doa seakan tidak terjawab dan kita merasa Tuhan berada di tempat yang paling jauh. Kita bahkan menangis karena tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan. 

Untuk segala keluh kesah itu, di dalam doa kita memohon ampun kepada-Nya. Kita tetap harus percaya ada kuasa Tuhan yang akan menyentuh hati dan pikiran sehingga kita bisa menghadapi persoalan menjadi lebih tenang. Pengampunan yang Dia berikan atas kelemahan-kelemahan kita juga akan semakin menguatkan hati kita untuk melanjutkan hidup dengan semua karunia-Nya yang sering kali kita lupakan bila kita sedang tertimpa masalah.

Mohon ampun di dalam doa juga akan menjadikan hidup kita lebih memiliki daya karena kita menyadari kekurangan kita dan segera memiliki tekad untuk memperbaikinya. Dengan kesadaran seperti ini, kita tidak akan mudah menyerah, bahkan “nggak akan pernah menyerah” sebab batin kita selalu diberi kekuatan, dalam doa. Kita kemudian menjadi kuat dan tetap berharap akan ada pemecahan untuk setiap masalah karena kuasa Tuhan senantiasa hidup di dalam hati dan pikiran kita.

Herry Pasetyo – SinarHarapan

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Nabila Syakieb buka warung di Kuta
      Artis sinetron Nabila Syakieb membuka kedai makanan khas Indonesia yang dinamai Warsiix di kawasan Kuta, Bali. Di sela acara pembukaan Warsiix, Senin, Nabila berharap kedainya bisa menjadi pilihan warga dan wisatawan untuk ...
    • Pusat Kajian Maritim: perlu evaluasi terkait lolosnya kapal asing
      Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) perlu melakukan evaluasi terkait lolosnya kapal asing berukuran besar yang diduga sedang melakukan aktivitas ilegal mengambil barang muatan kapal tenggelam di perairan Riau, beberapa ...
    • DPR undang KPU-Bawaslu bahas persiapan Pilkada 2018
      Komisi II DPR akan mengundang Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Selasa (25/4) untuk membahas persiapan Pilkada 2018, yang tahapannya akan dimulai September 2017. "Rapat dengan KPU dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: