Sang Guru

”Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” (Mrk. 1:27). Demikianlah respons umat dalam rumah ibadah di Kapernaum. Mereka terperanjat kala melihat Yesus mengusir roh jahat. 

Itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, mereka takjub kala mendengarkan ajaran Yesus. Cara Yesus mengajar terasa berbeda. Dia tidak bertindak sebagai sumber kedua atau sumber ketiga, melainkan sumber pertama. Yesus adalah narasumber sejati.

Ahli Taurat mengajarkan sesuatu yang dipelajari dan dipahami. Yesus berbeda. Dia tak perlu mempelajari bahan ajar karena Dialah sumber ajaran itu sendiri. Yesus tidak mengajarkan Firman. Dialah Sang Firman. 

Pribadi Berwibawa 
Berbeda dengan ahli Taurat yang mengulang, menafsir, dan memberikan pendapat orang lain, Yesus berbicara atas nama-Nya sendiri. Dia sungguh Pribadi berwibawa.

Dalam dunia pendidikan, manusia normal pastilah senang diajar guru yang memiliki wibawa akademis. Di sini akreditasi menjadi sangat beralasan. Kita mungkin tak enak hati sendiri menyaksikan guru yang mencari-cari dan menegakkan wibawa di hadapan naradidik.

Sejatinya, wibawa intrinsik pada diri manusia. Guru memang perlu menguasai bahan ajar. Namun, wibawa tak melulu soal nalar. Wibawa tak cuma soal otak, tetapi juga sikap dan tingkah laku. Wibawa tak hanya kena-mengena dengan cara pikir, tetapi juga cara sikap dan tindak seseorang.

Bagi pengkhotbah, wibawa itu berasal dari apa yang dikhotbahkan. Yang penting bukan sejauh mana dia menguasai Firman, tetapi sejauh mana dia dikuasai Firman. Bukan seberapa fasih dia bicara, namun apakah Firman Allah itu menguasainya. Itulah dasar hidup pemberita Firman.

Yesus menjadi sangat berwibawa di hadapan para pendengarnya karena hidup-Nya merupakan perwujudan kata-kata-Nya. Kalimat-kalimat Yesus merupakan rumus verbal dari perbuatan-Nya. Ada keselarasan antara omongan dan tindakan; antara kata dan karya. Itulah yang dinamakan integritas. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”integritas” diartikan sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Kewibawaan luntur tatkala kata-kata seseorang berbeda, lebih gawat lagi bertolak belakang, dengan sikap dan tindakannya. 

Tak hanya berkait dengan profesi guru atau pendeta. Dalam segala lini kehidupan setiap orang dituntut memiliki integritas. Sebab, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Karena itu, kita perlu menyatukan pembicaraan dan perbuatan. 

Itulah yang dilakukan Yesus. Sang Guru mempraktikkan ajaran-Nya. Dia tidak hanya bicara soal Kerajaan Allah, namun langsung mengamalkan nilai-nilai Kerajaan Allah itu. Itu tampak dalam peristiwa pengusiran roh jahat.

Mendengarkan Dia 
Manusia yang dirasuki roh jahat bukanlah manusia merdeka. Mereka bertindak bukan atas kemauannya sendiri, melainkan seturut kemauan roh jahat. Roh jahat itu menggunakan manusia sebagai alat. Yesus tak suka dengan situasi macam begini. 

Atas semua komentar roh jahat itu, Guru dari Nazaret hanya punya satu keputusan: ”Diam, keluarlah dari padanya!” (Mrk. 1:25). Roh jahat itu pun pergi. Dia mendengarkan perkataan Yesus dan menaati-Nya. 

Yesus hadir untuk membebaskan manusia dari belenggu yang mengikatnya. Dalam Yesus, manusia merdeka di hadapan Allah. Manusia menjadi dirinya sendiri. Semuanya itu terjadi kala manusia tunduk kepada Yesus. Dan ketundukan itu dimulai dengan mendengarkan-Nya.

Itu jugalah yang dilakukan para pengunjung rumah ibadah di Kapernaum. Mereka memberi kesempatan kepada Yesus untuk mengajar. Tentunya, mendengarkan saja tidaklah cukup. Namun, pendengaran yang baik akan menolong seseorang mendapatkan yang terpenting dalam hidup.

Pemazmur bermadah: ”Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.” (Mzm. 111:10). Kebijaksanaan utama dalam diri manusia ialah menghormati Allah—Sang Pencipta. Penghormatan itu tampak kala kita bersedia mendengarkan dan menaati-Nya.

Semasa hidup, Musa menubuatkan seorang nabi, yang akan mengatakan apa yang seharusnya dilakukan umat Allah. Dengan tegas Musa berkata, ”Dialah yang harus kamu dengarkan.” (Ul. 18:15). Dan nubuat itu genap dalam diri Yesus: Sang Guru dari Nazaret. Masalahnya: maukah kita mendengarkan-Nya?

Kalau kita menyebut diri murid Yesus, mendengarkan Dia bukanlah pilihan, tetapi keniscayaan. Aneh rasanya menyebut diri murid, namun enggan mendengarkan Sang Guru! Roh jahat saja mendengarkan, bahkan menaati, Yesus yang bukan gurunya; masak kita kagak?

Lagi pula, Yesus tak sekadar guru. Paulus dengan tegas menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (I Kor. 8:6). Karena itu, kita mesti mendengarkan suara-Nya.

Suara Tuhan kadang tercampur dengan suara diri. Untuk itu, kita perlu bertanya: ”Suara siapakah yang kita dengar? Suara Tuhan atau nurani kita?” Jangan cepat mengklaim, itu pastilah suara Tuhan—betapa pun baik, benar, dan tepat kedengarannya. 

Kepekaan menjadi kebutuhan dasar dalam membedakan suara Tuhan dan suara hati kita. Kepekaan meningkat kala hubungan dengan Tuhan makin erat, yang membuat kita makin mampu mengenali suara-Nya!

Di atas semuanya itu, kita perlu memohon, ”Berbicaralah Tuhan, kami—hamba-hamba-Mu—siap mendengarkan!”

Yoel M Indrasmoro – SinarHarapan

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Pogba kembali, Manchester United gebuk Newcastle 4-1
      Manchester United mengalahkan Newcastle United dengan skor 4-1 pada laga yang ditandai dengan kembalinya dua pemain kunci, Paul Pogba dan Zlatan Ibrahimovic seusai pulih dari cedera, pada Liga Inggris pekan ke-12 di Old ...
    • Menteri PPPA ajak pemda proaktif lindungi perempuan-anak
      Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yambise, mengajak para kepala daerah dan pemerintah daerah (pemda) di Indonesia untuk lebih proaktif dalam melindungi perempuan dan anak-anak, karena di tangan ...
    • Dua penalti warnai kemenangan Roma atas Lazio
      AS Roma memenangkan laga Derby della Capitale alias derby ibu kota Italia atas Lazio dengan skor 2-1 berkat gol Diego Perotti dan Radja Nainggolan pada pertandingan Liga Italia pekan ke-12 di Stadion Olimpico, Sabtu.Laga ini ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: