Setelah Imlek Berlalu

imlekHari raya Imlek untuk menyongsong Tahun Kerbau dirayakan dengan sangat meriah. Para anggota masyarakat etnis Cina di seluruh dunia menyambut salah satu hari besar dalam budaya Cina itu dengan ingar-bingar. Masyarakat Indonesia keturunan Cina juga tak ketinggalan merayakan hari yang bisa dianggap sebagai peristiwa tradisi budaya dan sebagai agama itu.

Kelenteng-kelenteng di seluruh Indonesia penuh oleh para pengunjung yang membakar hio untuk menyatakan terima kasih kepada Thian atas rezeki yang dilimpahkan selama Tahun Tikus yang baru saja berlalu. Tak lupa mereka memohon berkah, kesejahteraan, dan keselamatan untuk Tahun Kerbau yang tengah dijalani.

Semua stasiun TV berlomba merayakan Imlek ini dengan siaran bertema budaya Cina. Mal-mal dan pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh negeri menyelenggarakan pertunjukan budaya Cina. Sementara itu, ledakan petasan terdengar di segala penjuru kota. Kesibukan masyarakat Tionghoa sendiri masih belum selesai karena dalam waktu sekitar dua minggu usai perayaan utama, masih ada rangkaian ritus lain yang baru akan berakhir pada perayaan Capgomeh, 15 hari setelah Imlek.

Di Indonesia, kemeriahan hari besar yang di Cina dirayakan untuk menyongsong musim semi itu tak lain akibat perubahan politik sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru yang memerintah negeri ini selama 31 tahun. Selama masa tiga dasawarsa itu, kaum etnis Tionghoa menjadi salah satu golongan termarjinalkan setelah tragedi September 1965. Tapi sebenarnya, menjelang terjadinya tragedi September 1965, komunitas Cina di negeri ini memang sudah terbelah.

Dua arus utama mendominasi masyarakat Tionghoa di Indonesia pada masa itu. Yang pertama adalah kaum asimilasionis. Golongan ini berpendapat bahwa untuk diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kebinekaan Indonesia, jalan satu-satunya bagi orang Tionghoa (dulu disebut non-pribumi atau nonpri) adalah dengan menanggalkan semua identitas kecinaan dan membaur dengan arus besar masyarakat Indonesia (dulu dinamakan pribumi atau pri). Harapannya, dengan menanggalkan identitas kecinaan, segala perlakuan diskriminatif akan lenyap.

Sayap lebih radikal dari kaum asimilasionis itu malah berpikiran lebih jauh. Untuk melebur lebih sempurna dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat pri, jalan terbaik unuk masyarakat Tionghoa adalah dengan memeluk agama Islam. Yang disebut belakangan ini berargumentasi, untuk sepenuhnya menjadi orang Indonesia, tak ada jalan lain kecuali memeluk agama Islam. Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa lebih dari 90% rakyat Indonesia beragama Islam. Mereka melanjutkan syiar Islam yang dipelopori Haji Karim Oey, pelopor Islamisasi di kalangan etnis Tionghoa. Tokoh terkemuka gerakan ini adalah Junus Jahja.

Kaum integrasionis menentang posisi kaum asimilasionis itu. Golongan ini berpendapat bahwa kaum Tionghoa sebagai kelompok unik harus diberi kebebasan untuk mempertahankan identitas mereka dan diperlakukan sebagai salah satu suku bangsa Indonesia di bawah atap Bhinneka Tunggal Ika. Tokoh integrasionis, Siaw Giok Tjan, yang Ketua Baperki, punya gagasan lebih radikal. Ia berpendapat, perlakuan diskriminatif terhadap etnis Cina akan lenyap kalau masyarakat Indonesia sudah menjadi masyarakat sosialis. Lalu Siaw dan Baperki lebih condong dan malah menjadi mantel organisasi PKI.

Kedekatan Baperki dengan PKI itulah yang membawa prahara terhadap golongan etnis Tionghoa. PKI dituduh sebagai dalang Gerakan 30 September (G-30-S). RRC juga ditutuh turut campur urusan domestik Indonesia dengan mendukung gerakan itu. PKI dilarang dan Baperki dimasukkan dalam kategori organisasi terlarang. Karenanya. Begitu G-30-S digagalkan, Orde Baru ”ngamuk”: semua hal yang berbau Cina, mulai bahasa, agama, sampai kegiatan budaya, diharamkan. Komunisme dan Cina dianggap sebagai ”bahaya laten”. Bahkan orang Tionghoa setengah dipaksa untuk mengganti nama.

Label yang memang sejak masa kolonial dipaksa ditempelkan kepada mereka menjadi semakin kentara dan semakin kental. Misalnya tuduhan bahwa mereka tidak patriotis dan tidak nasionalistis, selalu berorientasi ke ”negeri leluhur” (baca: Cina), oportunis, cuma mau jadi pedagang, eksklusif, dan sebutan negatif lain yang memojokkan. Atas dasar itu, segala kebijakan diskriminatif terhadap mereka seolah-olah dihalalkan, walaupun hampir semua secara legal telah menjadi warga negara Indonesia.

Tapi ternyata kebijakan asimilasi itu tidak banyak membawa hasil. Malah, akibat politik diskriminatif itu, beberapa kali terjadi kerusuhan anti-Cina, yang mencapai puncaknya dengan meletusnya kerusuhan 1998 yang menelan banyak korban. Ciri paling mencolok kerusuhan itu adalah kekerasan yang dilakukan terhadap golongan etnis Cina, terutama kaum perempuannya.

Berakhirnya pemerintahan Orde Baru dan dimulainya era reformasi membawa angin baru bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Empat presiden yang berkuasa pasca-Orde Baru dengan bijaksana menghapuskan segala pembatasan dan kendali yang mengekang golongan etnis Cina dalam memamerkan citra budayanya. Bahasa dan aksara Cina kini menjadi barang yang bukan tabu lagi. Malah, sejalan dengan bangkitnya RRC sebagai salah satu kekuatan global, belajar bahasa Cina (bahasa Mandarin) kini menjadi tren di kalangan kaum muda tidak saja yang berlatar etnis Tionghoa, melainkan juga di kalangan pemuda-pemudi yang berlatar ”asli”.

Empat presiden pasca-Orde Baru juga bertindak lebih jauh. Ajaran Konghucu diakui sebagai salah satu agama resmi. Imlek, yang pada masa Orde Baru hanya boleh dirayakan di kalangan keluarga, sekarang bisa dan sah dirayakan secara terbuka. Pemerintah dan DPR telah mengesahkan Undang Undang Anti-Diskriminasi, yang menjamin semua warga negara Indonesia, tanpa melihat latar belakang suku, ras, dan agama, memiliki hak sama. Keharusan membawa dan memperlihatkan surat bukti kewarganegaraan Indonesia ketika berurusan dengan birokrasi dihapuskan.

Pendek kata, banyak hasil yang diperoleh masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini. Kini banyak dari mereka yang terjun dalam kegiatan-kegiatan yang dulu dianggap tabu untuk mereka. Makin banyak saja anggota masyarakat etnik Cina yang terjun ke dunia politik dengan menjadi calon legislator, aktif dalam kegiatan LSM, perjuangan untuk melindungi HAM, agama, dan aktivitas nirlaba lainnya. Namun tak berarti pekerjaan semuanya telah selesai dengan menguntungkan semua orang. Masih banyak ”pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan, baik oleh pemerintah dan DPR maupun masyarakat Tionghoa sendiri.

Tugas utama pemerintah dan aparatnya, dengan diawasi DPR, adalah menjamin agar di lapangan, segala peraturan dan perundangan yang dibuat dijalankan dengan konsekuen dan mengikuti aturan yang berlaku. Itu juga berarti menindak aparat pemerintah di level mana pun yang melakukan penyelewengan. Itulah yang dinamakan law enforcement. Ini penting, mengingat salah satu kelemahan birokrasi di negeri kita adalah operasionalisasi peraturan dan perundangan di kalangan bawah.

Masyarakat Tionghoa juga punya beban yang tak kurang beratnya. Mereka dituntut untuk membuktikan bahwa segala label negatif dan tuduhan miring yang selama masa kolonial dan diteruskan oleh pemerintah-pemerintah pasca-kolonial adalah omong kosong yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka adalah manusia dari masyarakat yang tak kurang bersifat terbuka, cinta negara, punya hati nurani yang menyayangi sesama tanpa melihat latar belakang agama, etnis, dan adat istiadat.

Ini juga sangat penting, mengingat Indonesia tengah menghadapi ancaman resesi yang menjadi gejala global. Untuk itu, seluruh warga negara Indonesia dituntut untuk bekerja keras menghadapi krisis. Jangan lupa pula, Tahun Kerbau, sesuai dengan sifatnya, menuntut segenap penghuni bumi untuk bekerja keras demi meraih sukses.

A. Dahana, Guru besar studi Cina Universitas Indonesia
[
KolomGatra Nomor 12 Beredar Kamis, 29 Januari 2009] 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: