Ikan Dicuri, BBM Disubsidi

Imlek kali ini bisa jadi terasa hambar bagi para anak buah kapal motor (KM) Haturessy. Tak ada suasana pesta kembang api yang meriah atau sajian kue keranjang manis yang kerap dinikmati sebagai pertanda keberuntungan. Sepekan menjelang Imlek, para anak buah kapal (ABK) yang berasal dari Cina itu justru harus menerima nasib, dijadikan pesakitan di atas kapal mereka, di Pelabuhan ASTB Tulehu, Ambon, Maluku, Ahad pekan lalu.

Kapolda Maluku, Brigadir Jenderal Polisi Mudji Waluyo, SH, MM, menyebutkan tiga hal yang membuat para nelayan asing itu harus berhadapan dengan aparat hukum. Pertama, bersama tujuh kapal penangkap ikan lainnya, KM Haturessy melakukan praktek illegal fishing di perairan Arafura, Maluku Tenggara. Kedua, kapal-kapal itu membuang sauh di perairan pelabuhan dan memindahkan muatannya dari kapal ke kapal atau transshipment. Ketiga, kapal-kapal itu diduga melakukan praktek illegal oil.

Terbongkarnya aksi minus kapal-kapal eks Cina itu, menurut Mudji, berkat kecurigaan polisi melihat aktivitas bongkar muat ikan di tengah laut, awal Januari lalu. Pada saat itu, KM Matoa 01, yang merupakan jenis kapal penangkap ikan, sedang memindahkan muatannya ke atas KM Haturessy, yang merupakan kapal jenis tramper atau penampung. Mereka tak menurunkan muatan berupa ikan ke pelabuhan terlebih dahulu, sebagaimana seharusnya. Padahal, di sekitar lokasi itu terdapat fasilitas penyimpanan atau cold storage yang memadai.

Melihat aktivitas nyeleneh itu, tanpa ragu aparat Polda Maluku langsung menggerebek dua kapal tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan, praktek transshipment tak hanya dilakukan KM Matoa 01. KM Haturessy yang berbobot mati 1.835 gross ton ternyata menampung pula hasil tangkapan ikan dari enam kapal lainnya, yang kebetulan berderet membuang sauh di dekat lambung KM Haturessy.

Kapal-kapal itu adalah KM Matoa 03, KM Matoa 05, KM Gandaria 1, KM Gandaria 2, KM Langsa 01, dan KM Langsa 02. “Kami menyita 600 ton ikan dari atas kapal Haturessy, yang diduga akan diekspor langsung ke Cina,” ujar Mudji Waluyo kepada Gatra.

Selain menyita isi muatan kapal, polisi juga memeriksa 249 ABK kapal ikan itu yang seluruhnya berasal dari Cina. Polisi kemudian menetapkan 17 orang di antaranya sebagai tersangka. Mereka adalah kepala kamar mesin, nakhoda, dan juru mudi. Kepada Cavin R. Manuputty dari Gatra, Mudji Waluyo menyakatan bahwa polisi sedang menyelidiki sejauh mana keterlibatan pemilik atau penyewa kapal-kapal tersebut.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, kapal-kapal itu dioperasikan PT Alsum Kampar Sejahtera yang berkedudukan di Jakarta. “Sebenarnya mereka sudah lam menjadi target operasi pihak Polda Maluku. Tapi kelompok ini diduga sempat pulang ke Cina dan kembali beroperasi sejak Oktober lalu,” kata Mudji Waluyo.

Menurut sumber Gatra yang dekat dengan pihak kepolisian, dua kapal –satu kapal penangkap ikan dan satu tramper, yang termasuk dalam bagian kelompok kapal ikan KM Haturessy dan diduga milik seorang mafia illegal fishing asal Cina bernama Chu Lung Tzu– itu sempat ditangkap aparat Departemen Kelautan dan Perikanan di perairan Timika, Papua, beberapa waktu lalu. Namun sebagian dari mereka berhasil lolos, kemudian berulah lagi sejak Oktober lalu.

Usaha mengendus mereka, menurut Mudji, tak henti-hentinya dilakukan polisi. Tidak tanggung-tanggung, polisi mengerahkan alat utama sistem kesenjataan terbaiknya untuk mendeteksi kelompok penjarah laut itu. Sebuah pesawat patroli jenis Skytruck milik Polri bahkan diterbangkan ke kawasan Arafura untuk mengamati gerak-gerik para penangkap ikan ilegal itu. “Sepak terjang mereka sangat merugikan negara, sehingga kami perlu menjerat mereka dengan tindak pidana illegal fishing sesuai dengan Undang-Undang Perikanan,” kata Mudji.

Seorang pengusaha perikanan nasional yang tak ingin disebutkan namanya juga membenarkan pendapat Kapolda itu. Menurut dia, aksi para penjarah laut asal Cina sangat merugikan negara. Dalam sekali beraksi, diperkirakan para pelaku illegal fishing itu mampu menangkap ikan hingga 150 ton per bulan.

Ikan-ikan itu langsung diekspor ke Cina tanpa diolah terlebih dahulu di dalam negeri. Dengan jumlah kapal tramper yang diperkirakan mencapai 10 unit saja, setiap bulan para pelaku illegal fishing bisa mengekspor 1.500 ton ikan ke Cina atau senilai US$ 1.650.000 (dengan asumsi, harga ikan di Cina US$ 1.100 per ton). Jika dirupiahkan, pendapatan nelayan asing asal Cina mencapai Rp 16,5 milyar.

Menurut dia, praktek illegal fishing juga kerap dilakukan dengan memanipulasi dokumen hasil ekspor ikan mentah, yaitu dengan mencantumkan jenis ikan yang berbeda dari hasil tangkapannya. Tujuannya, agar jumlah retribusi atas ikan yang harus dibayar jadi lebih rendah.

Ia mengambil contoh soal jenis ikan. Para pelaku illegal fishing mencantumkan hasil ikan yang nilainya sangat murah, sehingga retribusinya juga rendah atau hanya Rp 10-Rp 15 per kg. Normalnya, retribusi ikan tertentu, seperti kakap dan kerapu, bisa mencapai Rp 400 per kg. “Dengan jumlah tangkapan yang mencapai 150 ton di atas kapal, bisa dibayangkan bagaimana rumitnya pengawasan, dan ini dimanfaatkan betul oleh mereka,” ujarnya.

Selain minimnya retribusi, hal yang merugikan lainnya dari aktivitas haram para nelayan asing itu adalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tidak tepat sasaran. Sesuai dengan aturan, kapal-kapal ikan yang berganti bendera berhak memperoleh BBM bersubsidi sebanyak 25.000 liter per bulan. Sementara itu, pada saat ini diperkirakan jumlah kapal eks asing yang beroperasi di Indonesia mencapai puluhan bahkan ratusan unit. Maklum, izin yang diterbitkan bagi kapal eks asing yang beroperasi di wilayah timur Indonesia saja diperkirakan mencapai 1.800 unit.

Jadi, jika dihitung secara keseluruhan, betapa besar BBM bersubsidi yang disalurkan kepada kapal-kapal eks asing itu. “Ini kan artinya sama saja pemerintah membiayai nelayan dan pemerintah asing,” kata sang pengusaha nasional itu.

Ironis. Ikan-ikan di perairan Indonesia dicuri dengan kapal-kapal yang BBM-nya disubsidi pula!

Hendri Firzani [Hukum, Gatra Nomor 13 Beredar Kamis, 5 Februari 2009] 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Aparat gabungan sita bambu runcing dan bom molotov di Kediri
      Aparat gabungan dari Kepolisian Resor Kediri Kota dan TNI merazia kawasan bekas lokalisasi Semampir di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, dan menyita sejumlah barang seperti bambu runcing serta bom molotov."Kami sudah ...
    • Persipura tanpa Bio dan Ricardinho hadapi Gresik United
      Tim Persipura Jayapura tanpa Bio Paulin Pierre dan Ricardinho da Silva saat melawan tuan rumah Gresik United dalam laga lanjutan Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 di stadion Petrokimia Gresik, Jawa Timur, Minggu (11/12). ...
    • Pencarian korban pesawat Polri libatkan 19 kapal
      Polri mengerahkan 19 kapal dan tiga pesawat untuk mencari korban pesawat Polri M-28 Sky Truck yang jatuh pada Sabtu (3/12) di perairan Kabupaten Lingga, Kepri. "Sembilan belas kapal dan tiga unsur udara dikerahkan pada ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: