Refleksi Politik Pandawa-Kurawa

Merespons sinyalemen adanya upaya menjadikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai “lawan bersama”, fungsionaris Partai Demokrat yang juga juru bicara presiden, Andi Mallarangeng, berkomentar, “Yang main keroyok itu hanya Kurawa. Kita mau menjadi Pandawa saja.” (Tempo Interaktif, 23 Januari 2009) Komentar tersebut menarik, justru karena Andi telah mengajak untuk membandingkan politik kita dengan politik dunia pewayangan yang lazim menjadi wacana “orang Jawa”. Saya tak hendak ikut larut dalam perdebatan mana Pandawa dan mana pula Kurawa dalam kaitannya dengan Bharatayuda politik 2009. Tetapi, atas inspirasi Pandawa-Kurawa, saya hendak berefleksi, apakah pesan filsafat pewayangan (terutama versi kisah Mahabharata, Bharatayuda, dan Ramayana yang dikenal di Indonesia, khususnya Jawa) masih dianggap relevan?

Tentu saja komentar Andi Mallarangeng itu segera memperoleh respons dari berbagai kalangan, terutama dari pihak “oposisi” dan pengamat politik. Betul bahwa dalam epos Mahabharata dan Bharatayuda, Kurawa (suatu entitas politik yang diasumsikan jahat, serakah, suka memfitnah dan merebut takhta yang bukan haknya) suka “main keroyok”. Jumlah Kurawa lebih banyak ketimbang Pandawa (entitas politik yang diasumsikan baik, kesatria, suka menolong, dan yang haknya atas takhta kerajaan direbut pihak Kurawa dengan berbagai trik jahat mereka). Kurawa berjumlah seratus, sedangkan Pandawa hanya lima (makanya sering disebut Pandawa Lima). Tapi, apakah dalam hal ini SBY dan elite pendukungnya (pihak incumbent) tepat dikatakan sebagai Pandawa, sementara musuh-musuh politiknya yang menganggap perlu untuk “mengeroyok” SBY adalah Kurawa? Pertanyaan ini bisa berujung pada perdebatan bertele-tele, di mana masing-masing “pendukung” saling menegasikan yang lain–saling mengaku pihaknya yang paling representatif disebut Pandawa, sebab persoalan Pandawa-Kurawa tak akan berhenti pada urusan “keroyok-mengeroyok”.

Untung dalam epos Mahabharata dan Bharatayuda tidak ada demokrasi, sehingga walaupun suka “main keroyok” Pandawa tetap menang, dalam konflik-konflik kecil secara fisik sebelum perang besar Bharatayuda. Pandawa Lima memang lebih sakti ketimbang para anggota Kurawa. Dalam suatu episode, Bima (Werkudara) pernah mengobrak-abrik para Kurawa yang “mengeroyok”, hingga dipisahkan oleh Patih Haryo Sengkuni (Sakuni atau Sangkuni). Dalam belajar dan mengasah diri dalam ilmu kanuragan, Pandawa lebih serius ketimbang Kurawa, sehingga murid yang dianggap paling jenius oleh Resi Durna (Durno) adalah Arjuna (Janaka). Tetapi, karena kelicikannya, dan juga hasutan jitu paman mereka, yakni Patih Haryo Sengkuni, Pandawa pun dijebak dalam suatu permainan dadu. Dalam babak “dadu malapetaka”, Yudhistira dijebak dan kalah dalam permainan dadu, sehingga harus kehilangan martabat (harga diri), kerajaannya, serta berakibat terusirnya Pandawa Lima dari kerajaan, dan harus mengelana di hutan.

Kisah Pandawa memang bak sinetron. Efek penzaliman terhadap pihak Pandawa oleh Kurawa memang luar biasa, sehingga penonton menjadi sangat bersimpati tanpa “reserve” kepada Pandawa. Dalam satu kisah menjelang perang Bharatayuda yang “zero sum game” itu, Arjuna sempat “ngambek”, tak mau ikut terlibat dalam memerangi Kurawa yang notabene adalah saudara-saudara Pandawa sendiri. Tapi Kresna, filsuf dan sang ahli strategi, membujuknya, menasihatinya panjang-lebar, bahwa perang tak dapat dicegah dan sudah ditakdirkan, dan Pandawa harus maju laiknya memerangi kejahatan. Maka Arjuna harus cancut taliwandha. Dan, akhirnya, Padang Kurusetra, tempat dendam Pandawa terlampiaskan, pun membara. Perang besar terjadi, dan ceceran darah tumpah di mana-mana. Para kesatria kedua kubu berguguran. Dan, kelompok musik God Bless telah merekamnya dalam laguPanggung Sandiwara, bahwa dunia diwarnai dengan tangis dan juga tawa. 

Politik kesatria 
Namun, pelajaran apa yang secara umum tertinggal dari kisah-kisah yang menggelegar di dunia pewayangan itu, dalam kaitannya dengan dunia politik kita? Secara normatif, para penonton wayang diharapkan sadar akan adanya nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kemanusiaan, berani membela yang benar (prinsip), dan berani pula mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Itulah sifat-sifat kesatria. Di seberang itu ada sesuatu yang diametral sifatnya: ada simbol-simbol dan wujud-wujud kejahatan dalam hal-ihwal kekuasaan. Simbol dan wujud kejahatan itu dicontohkan dalam merebut takhta yang bukan haknya, melakukan pembenaran atas hal tersebut, bak Zionis Israel melahap Palestina. Kejahatan selalu bertumpu pada merebut sesuatu yang bukan haknya, dan menempatkan yang sejatinya punya hak sebagai orang-orang tertindas.
 
Dalam logika Bharatayuda, Padang Kurusetra adalah arena “permainan politik yang sesungguhnya”, perang tanding secara fair antar-kesatria kedua belah pihak. Mereka bertempur habis-habisan, dengan segala taktik dan strategi, tapi tetap ada aturannya. Dalam Bharatayuda jelas: siapa kawan siapa lawan. Tidak ada yang lari meninggalkan perang (tinggal glanggang colong playu), kecuali Aswatama (satu-satunya putra Resi Durna), yang segera dinilai “bernyali kecil”. Aswatama diceritakan sangat tidak kesatria karena selain meninggalkan arena perang, menyusup ke tenda lawan (pihak Pandawa) di suatu malam dan menghabisi mereka yang tengah tertidur. “Demokrasi Kurusetra” tidak mentoleransi para kesatria yang culas, walaupun Yudhistira telah “berbohong” kepada Resi Durna hingga menyebabkan kematiannya (dengan mengatakan Aswatama telah mati, dan secara lirih menambahkan Aswatama yang dimaksud adalah nama seekor gajah).

Apakah prinsip kesatria masih diutamakan dalam politik kita? Kalau mentalitas takut kalah masih menonjol, maka lenyaplah prinsip kesatria. Kesatria tak takut kalah dalam mempertahankan dan membela prinsip yang diyakininya. Buat apa menang, kalau kemenangan itu dilakukan secara culas dan licik? Kalau mentalitas “yang penting menang” masih dominan, prinsip kesatria terpinggirkan, sebab yang diutamakan adalah penghalalan segala cara. Kita tidak menginginkan perang habis-habisan ala Bharatayuda. Politik kita mestinya tidak boleh ekstrem “zero sum game“. Politik kita harus rasional dan manusiawi untuk menggapai kepentingan yang lebih besar.

Cara-cara manipulasi simbolis dan klaim-klaim palsu ala politik Kurawa bisa saja terjadi di pihak yang mengklaim berpolitik Pandawa. Istilah Kurawa memang telah mengerucut sedemikian negatifnya, sebagai simbol kejahatan yang akhirnya dapat “dimusnahkan” oleh Pandawa, sang simbol kebenaran. Dalam dunia nyata, kejahatan bisa ada di setiap kelompok sosial, apalagi politik, mengingat setiap manusia berpotensi gagal mengendalikan hawa nafsu dan melampiaskannya dalam berbagai bentuk kejahatan yang kasar hingga yang halus. Dan awas, mereka yang “baik” bisa menjadi “jahat” dalam berebut kekuasaan.

M. ALFAN ALFIAN, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta – TempoInteraktif

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: