Obama di Timur Tengah

Tahun 1980, hanya beberapa waktu menjelang penyerahan tongkat kepemimpinan Amerika Serikat dari tangan Presiden Jimmy Carter ke Presiden Ronald Reagan. Iran tiba-tiba mengangetkan dunia. Setelah beberapa bulan dunia heboh dan Amerika Serikat panik, Iran akhirnya melepaskan para diplomat Amerika Serikat yang disanderanya.

Dunia pun bertanya, mengapa Iran tiba-tiba berubah pikiran pada saat itu? Salah satu kalkulasi politiknya, Iran tahu betul, sebentar lagi seorang Ronald Reagan akan memimpin Amerika Serikat. Seorang aktor yang terbiasa dengan pola mainan koboi ala Hollywood. Daripada dor sana dor sini, ada baiknya sandera dilepas. Toh, Amerika sudah dipermalukan dan dipermainkan.

Beberapa waktu lalu, Israel kembali mengguncang dunia dengan serangan membabi buta di Jalur Gaza. Resolusi PBB dikencinginya. Imbauan dan kutukan dunia dianggap angin lalu. Anak-anak, wanita, dan orang tua yang tak berdosa dan tak berdaya diterjangnya. Fasilitas publik, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan milik PBB sekalipun, dihancurkan. Hukum humaniter yang mengatur tentang tata cara perang ditampiknya. Maka, tak ada satu ukuran apa pun yang bisa dipakai untuk mengukur kebiadaban tersebut.

Hanya beberapa hari menjelang pergantian kepemimpinan Amerika Serikat dari Presiden George W. Bush ke Presiden Barack Obama, sama dengan Iran pada 1980, tak dinyana, Israel tiba-tiba secara sepihak menyatakan cease fire, bahkan menarik seluruh pasukan penggempurnya dari wilayah Jalur Gaza yang didudukinya selama hampir tiga minggu.

Orang pun mulai bertanya, mengapa Israel tiba-tiba mengambil langkah drastis seperti itu? Ada yang menilai, Israel memang hanya ingin memberi pelajaran agar Hamas berhenti meneror. Dengan serangan di Jalur Gaza, Israel sudah mencapai targetnya, menggentarkan Hamas. Tetapi kalkulasi ini belum menjawab, mengapa Israel tiba-tiba melakukan itu hanya menjelang pergantian kepemimpinan di Gedung Putih?

Israel paham betul, pendekatan Obama tentang Timur Tengah akan berlainan dengan pendahulunya. Israel tahu bahwa Obama akan memberi perhatian serius terhadap upaya penyelesaian Timur Tengah secara permanen, dan karena itu, pola-pola tabiat kekerasan yang selama ini ditunjukkan Israel akan menjadi agenda utama Obama.

Kalkulasi ini muncul karena adanya variabel Hillary Rodham Clinton dalam kabinet Obama kelak. Hillary akan menduduki jabatan Menteri Luar Negeri dalam kabinet Obama. Sebuah jabatan yang memang amat menentukan pola kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Pola, strategi, pendekatan, dan warna politik luar negeri “Paman Sam” kelak banyak ditentukan Senator Hillary Clinton.

Dalam perspektif ini, kita masih ingat ikhtiar Presiden Bill Clinton untuk mendamaikan Timur Tengah. Untuk kali awal, pemimpin tertinggi Palestina pada saat itu, Yasser Arafat, berjabat tangan dengan pemimpin tertinggi Israel, Yitzak Rabin. Setelah berbagai ikhtiar ditempuh, pada September 1993 di Gedung Putih, Presiden Clinton menarik tangan Yasser Arafat, lalu mempertemukannya dengan tangan Perdana Menteri Israel, Yitzak Rabin. Di sana hadir juga mendiang Raja Yordania, Hussein. Sebuah langkah maju yang kongkret menciptakan damai di Timur Tengah mulai dicapai.

Sayang, hanya beberapa tahun setelah itu, Yitzak Rabin ditembak seorang fundamentalis Israel anti-perdamaian. Ia roboh dan meninggal. Ikhtiar dan harapan terciptanya perdamaian Timur Tengah pun ikut roboh bersama kepergian Yitzak Rabin. Sebagai pemegang kendali kebijakan luar negeri Amerika Serikat, obsesi sang suami tentu saja menjadi obsesi sang istri. Karena itu, desain perdamaian yang dicanangkan Bill Clinton akan diteruskan sang istri.

Amerika Serikat pasti tidak akan memihak kepada Palestina karena tekanan lobi Yahudi yang amat kuat dalam politik domestik Amerika Serikat. Tetapi pola kekerasan yang acapkali ditampilkan Israel selama ini akan ditampik pemerintahan Obama, yang khusus menyangkut kebijakan luar negeri dimotori Hillary Rodham Clinton.

Pelajaran berharga lain yang patut kita catat adalah kecenderungan pola kepemimpinan dan kebijakan orang-orang Demokrat di Gedung Putih berkaitan dengan Timur Tengah. Pada saat Presiden Jimmy Carter memegang jabatan tertinggi Amerika Serikat, lewat pertemuan Camp David, Presiden Jimmy Carter juga mempertemukan tangan mendiang Presiden Mesir, Anwar Sadat, dengan tangan mendiang Perdana Menteri Israel, Menachin Begin. Peristiwa itu menggemparkan, karena baru ada kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang bisa mempertemukan dua seteru dalam sebuah meja perundingan dan sukses mendamaikan Mesir dengan Israel.

Namun nasib Anwar Sadat sama dengan Yitzak Rabin, jadi korban pembunuhan seorang tentaranya yang juga amat fundamental. Tapi, sebelum ajal menjemputnya, Sadat dan Begin dianugerahi Nobel Perdamaian, sebagaimana Yitzak Rabin.

Kita tunggu nasib Timur Tengah berikutnya di tangan orang Demokrat yang memimpin Amerika Serikat sekarang.

Hamid Awaludin Duta Besar RI untuk Rusia [PerspektifGatra Nomor 12 Beredar Kamis, 29 Januari 2009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Kepergian Mar'ie Muhammad kehilangan bagi Indonesia
      Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menyebut almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, sebagai sosok yang bersih dan jujur semasa menjabat. "Kita kehilangan sosok yang dahulu pada saat menjabat sebagai menteri keuangan ...
    • Hampir semua korban bom Istanbul adalah polisi
      Dua bom meledak di luar stadion sepakbola di Istanbul, Turki, pada Sabtu malam waktu setempat, menyebabkan 29 orang tewas, yang terdiri atas 27 polisi dan dua warga sipil.Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu mengatakan ledakan ...
    • Sejumlah tokoh melayat ke kediaman Mar'ie Muhammad
      Sejumlah tokoh mendatangi kediaman almarhum mantan Menteri Keuangan, Mar'ie Muhammad, di Jalan Taman Brawijaya III Nomor 139, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu. Di antara mereka adalah Wakil Presiden, Jusuf Kalla dan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: