Akbar Tanjung: “…saya ingin Partai Golkar mengadakan konvensi…”

Politisi ulung ini bicara tentang nepotisme di tubuh Golkar, akan turunnya perolehan partai itu dalam pemilu, dan kesiapannya menjadi capres. 

Akbar Tanjung memiliki ketenangan yang penting dimiliki seorang politisi. Dia sangat tenang ketika harus kalah dari Wiranto dalam proses konvensi Partai Golkar tahun 2004. Konvensi yang dia sebut sebagai inovasi politik penting di republik ini, yang berhasil mengangkat citra Partai Golkar yang buram sebelum menghadapi Pemilu 2004. Juga tidak ada ekspresi yang luar biasa ketika akhirnya Mahkamah Agung memvonis dia bebas dari tuduhan kasus dana non bujeter Bulog 40 miliar rupiah. 

Dia juga masih saja tenang ketika harus tergeser dari kursi ketua umum Partai Golkar. Sejak saat itu, Akbar tidak lagi berpolitik praktis. Sampai kemudian menjelang Pemilu 2009, nama Akbar berbicara lagi. Terutama karena Partai Golkar sebagai pionir tidak lagi menggelar konvensi. Padahal metode itu ditiru oleh beberapa partai gurem, sementara partai-partai besar tetap setia dengan satu calon. Hanya Golkar partai besar yang belum tegas menelurkan nama calon presiden, yang menurut Akbar akan merugikan perolehan suara partai berlambang beringin itu. Ditemui di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Pusat, Akbar tampak lebih tua dan kurus daripada masa-masa ketika wajahnya masih sering muncul di media massa. Namun sikap ramah dan hangatnya masih sama. Berikut petikan wawancara oleh Alfred Ginting, Nanik Ismawati, dan Selo Cahyo:

Bagaimana Anda melihat Golkar yang sampai saat ini belum memunculkan nama capres, sementara partai lain sudah jelas?

Golkar adalah partai besar, pemenang pemilu 2004. Sudah punya pengalaman politik, ikut Pemilu mulai tahun 1971 sampai 2004, sudah delapan kali. Partai yang punya infrastruktur sampai ke basis masyarakat, juga mempunyai sumber finansial yang bisa diandalkan, bahkan orang-orang Golkar banyak yang punya kualifasi sebagai tokoh nasional. Atas dasar itu wajar kalau Golkar punya calon presiden. Golkar sudah punya pengalaman rekruitmen calon presiden melalui konvensi, yang merupakan inovasi politik yang memperkaya khasanah sistem politik kita. 

Seharusnya dalam menghadapi Pemilu 2009, Golkar juga mempersiapkan proses penetapan capres. Dan saya selalu mengatakan konvensi dapat dilanjutkan oleh kepengurusan sekarang. Karena terbukti mampu mengangkat citra Partai Golkar, mendorong dinamika dalam partai, yang pada gilirannya meningkatkan optimisme partai sehingga bisa menjadi pemenang dalam pemilu 2004. Itulah beberapa alasan yang saya ungkapkan. 

Tapi Jusuf kalla berpendapat tidak perlu konvensi, bahkan dia pernah mengatakan tidak ada positifnya, tidak ada untungnya bagi Golkar. Bagi saya itu suatu pernyataan yang sangat naif bagi seorang pemimpin partai besar. Masyarakat saja merespon positif soal konvensi sebagai partai modern yang pro terhadap reformasi. Dia selalu mengatakan nanti saja kita menetapkan capres setelah pemilu legislatif. Padahal penetapan capres yang terbuka sebelum pemilu presiden sangat baik meningkatkan dinamika dan motivasi dalam partai. Penetapan capres finalnya setelah pemilu legislatif bisa saja .

Jadi memunculkan nama-nama saja sudah cukup?

Itu sudah cukup, daripada sama sekali tidak jelas. Setelah Pemilu legislatif, tapi bagaimana prosedur dan polanya tidak jelas. Lebih baik kalau sebelumnya sudah diproses dan muncul 7 atau 5 nama, seperti diamanatkan Rapim Golkar, selanjutnya mereka diputuskan setelah pemilu legislatif.

Karena Golkar tidak kunjung memunculkan nama itu akhirnya yang membuat para elit Golkar bermanuver sendiri-sendiri? 

Saya kira itu ada benarnya. Karena tidak ada kejelasan pola rekrutmen, maka tokoh-tokoh yang merasa terpanggil menjadi capres mencari mekanisme lain. Seperti Sultan menyatakan sebagai capres didukung partai republik. Tokoh lain seperti Marwah Daud Ibrahim, Yudi Chrisnandi mengikuti konvensi yang diadakan Dewan Integritas Bangsa. Saya yakin kalau diadakan konvensi seperti dulu, mereka lebih fokus ke Golkar.

Ini agar ada peluang politik dagang sapi, tawar-menawar atau koalisi dilakukan setelah jelas konstelasi politik hasil pemilu legislatif?

Itulah yang sekarang terjadi. Kira-kira arahnya ke sana. Dan lebih dari itu, Pak JK pun kelihatannya tidak memiliki minat atau kepercayaan diri sebagai capres. Dia mungkin merasa lebih aman atau cukup dalam posisi wapres. Kalau dia melihat dari perspektif pribadinya, mungkin dia cukup happy sebagai wapres. Tapi kalau dari perspektif kepentingan partai, harusnya partai memperlihatkan pada publik bahwa partai mempunyai kepercayaan diri untuk ikut dalam pemilihan presiden. Partai lain kan jelas, PDIP memajukan Megawati, Demokrat sudah jelas Pak SBY. Golkar partai besar tapi menunggu. Ini bisa mengakibatkan Golkar tidak diapresiasi lagi oleh publik.

Bila Kalla kurang percaya diri, lantas perlukah memajukan calon alternatif?

Tapi elit Golkar terutama Pak JK sebagai ketua umum, tidak punya keinginan untuk memproses penetapan capres dengan berbagai alasan, nanti menimbulkan perpecahan kalau diadakan konvensi. Tapi politik itu pasti ada kompetisi, yang penting kan sistem yang kita bangun. Dia cenderung tetap pada posisinya sekarang, tapi di mata publik citranya turun, Golkar kok tidak berani. Bahkan di kalangan internal, senior-senior Golkar, juga beranggapan begitu.

Jadi ini lebih banyak karena pertimbangan Pak JK. Selalu dia mengatakan: kalau mau jadi presiden, bukan orang Jawa tidak bisa. Bercanda atau tidak, itu sebetulnya tidak perlu diucapkan oleh pemimpin yang berwawasan kebangsaan, apalagi tokoh partai besar yang mempunyai basis luas tidak hanya di Jawa. 

Kompetisi itu wajar. Kalau ada konvensi, saya sudah katakan saya akan ikut konvensi itu. Dan marilah kita berkompetisi secara sehat, secara terbuka, demokratis, biarlah nanti kader-kader partai memutuskan siapa yang mewakili partai dalam pilpres. Itu akan mendorong jajaran partai dan kader semakin proaktif memenangkan pemilu. Karena ada syarat ketentuan untuk capres minimal perolehan 20 persen kursi di DPR. Bila ada konvensi, capres-capres akan terdorong dalam upaya pemenangan pemilu. Seperti yang lalu, ke-5 capres konvensi ditugaskan aktif berkampanye keliling di berbagai wilayah tanah air.

Golkar sudah menutup pintu konvensi, mekanismenya sekarang DPP meminta DPD untuk menyerahkan nama-nama capres. Setelah ditabulasi di pusat, DPP akan merilis 7 sampai 10 nama, lalu lembaga survey yang akan memproses tingkat elektabilitas mereka. Seandainya nanti nama Anda muncul?

Langkah yang diproses DPP ini, saya kira cukup baik. Andai nanti nama saya muncul tentu saya akan mengikuti proses itu, dengan harapan pada penentuan final para kandidat diberi kesempatan menyampaikan visi dan misinya. Barulah setelah itu DPD seluruh Indonesia memberikan putusan siapa capres yang paling tepat mewakili partai Golkar.

Saya berkali-kali mengatakan saya punya niat dan keinginan ikut pemilihan pilpres dan wapres. Tetapi yang menjadi fokus perhatian saya adalah Partai Golkar. Kalau tidak dengan konvensi, tapi seperti sistem yang sekarang, saya juga siap.

Kesiapan Anda menyangkut sumber daya, jaringan, dan dana?

Tentu saya akan mempersiapkan diri, orang-orang yang akan mendukung saya, dan jaringan yang saya miliki sendiri, juga jaringan formal partai. Kalau partai sudah memutuskan si A yang menjadi calon, partai harus mendayagunakan seluruh infrastruktur partai untuk mendukung calon itu. Seperti tahun 2004, karena Pak Wiranto pemenang konvensi saya memerintahkan seluruh jajaran partai dari tingkat pusat sampai kecamatan untuk tidak ragu-ragu memberikan dukungan pada Pak wiranto. Orang yang terpilih nanti juga bisa menggunakan jaringannya sendirinya, misalnya Sultan jaringannya juga kuat. Atau Pak JK jaringan dunia usahanya juga bisa digunakan..Saya selain partai, juga punya jaringan sendiri. Dulu saya memimpin organisasi kepemudaan, jaringan organisasi mahasiswa HMI, juga jaringan eksponen 66 saya juga aktif di sana. Saya juga pernah menjadi menteri perumahan, saya punya jaringan di dunia usaha. Jaringan di masyarakat juga tentu ada, semua akan saya coba. Dari sisi pendanaan saya akan mengajak orang-orang yang bersimpati pada saya untuk memberikan dukungan.

Burhanudin Napitpulu pernah melontarkan kalau ada calon ingin maju, misalnya Sultan diberi bagian di Jawa untuk membuktikan, Anda di Sumatera, atau JK di Sulawesi. Bagaimana?

Kalau diminta bantuan menyukseskan Golkar dalam kampanye tentu saya selalu siap. Tapi tidak boleh dipatok-patok begitu. Kami tokoh nasional, konstituennya juga nasional. Walau saya dari Sumatera konstituen saya tidak hanya di Sumatera, begitu juga Sultan di Jawa, atau Pak JK di kawasan Indonesia timur. Tidak bisa dipatok-patok seperti itu, sepertinya orang diadu satu sama lain. Kalau diminta turun, saya siap untuk kampanye di seluruh Indonesia. 

Jadi Anda tidak akan menerima tawaran partai lain sebagai kendaraan ke kursi presiden?

Saya pernah ditawari PBR. Saudara Bursah Zarnubi mengatakan: “kami mengadakan konvensi dan saya ingin Bang Akbar bisa ikut.” Lalu saya katakan terima kasih, dengan tidak mengurangi penghormatan untuk ikut konvensi, saya ingin tetap fokus untuk Partai Golkar. Karena saya ingin Partai Golkar mengadakan konvensi seperti tahun 2004 lalu. Kalau saya ikut di tempat lain, nanti tidak mungkin lagi ikut konvensi di Golkar..

Kalau tawaran Megawati?

Kalau dengan PDI-P, terus terang proses itu saya betul-betul tidak ikut campur tangan. Pertemuan-pertemuan dengan Ibu Mega tidak ada, pertemuan politik seperti dia dengan Sultan, Prabowo, atau Sutiyoso. Kalaupun bertemu yang kebetulan saja seperti misalnya ada pernikahan kita sama-sama datang. Kira-kira 10 hari sebelum Rakernas PDI-P di solo, saya betemu dengan Taufik Kemas, dalam suatu acara akad nikah. Waktu itu TK bilang akan Rakernas akan mengundang tokoh nasional, “Abang juga kami undang.” Beberapa hari kemudian undangannya datang, lalu saya datang di acaranya, tapi tidak ada pembicaraan khusus. Semua proses alamiah saja. 

Anda siap disandingkan dengan Megawati? 

Kalau dengan Ibu Mega saya tidak ada masalah. Kami punya kedekatan sebelumnya. Tapi selalu saya katakan fokus saya pada Partai Golkar. Bukan berarti saya mengabaikan yang lain, tentu tidak. Nanti kita lihatlah perkembangannya..

Kenapa Kalla seperti merasa cukup aman pada posisi RI 2?

Pak JK kan latar belakangnya pengusaha, tentunya hitung-hitungannya tidak bisa lepas dari latar belakang itu. Tetapi tentu tidak bisa kita selalu menggunakan mindset pengusaha dalam berpolitik. Pemimpin harus selalu mengutamakan kepentingan yang lebih besar, organisasi daripada pribadi. Di sinilah diuji kepemimpinan kita. Sama seperti yang saya alami, dalam konvensi saya tidak menang, tapi Pak Wiranto. Tapi saya yakin konvensi itulah yang mengangkat citra Partai Golkar yang mendapat coverage begitu luas. Konvensi kita mulai Juli 2003 , dan berakhir pada tingkat nasional April 2004. Antara waktu itu, tokoh-tokoh konvensi berkeliling seluruh Indonesia. Itu kan menjadi obyek pemberitaan yang intens. 

Walaupun saya tidak menang tidak apa-apa, saya merasa cukup puas karena Golkar naik. Apalagi dalam situasi yang cukup kritis, sangat menentukan, dengan adanya tekanan-tekanan, hujatan, bahkan teror. Kami bisa melewati itu. Pada pemilu 1999 kami masih nomor 1, dan berikutnya kami nomor 1. Itu suatu fakta yang tidak bisa diingkari. Itu kepuasan saya sebagai pemimpin. Secara pribadi saya tidak dapat apa-apa. Saya merasa cukup puas menjadi menteri sekian lama, menjadi ketua DPR, memimpin Golkar pada saat yang sangat kritis, dan saya bisa melewati itu dan Golkar menjadi pemenang. Itu suatu kepuasan tersendiri sebagi pemimpin.

Mungkin Kalla sudah merasa aman dengan persoalan citra Golkar, sehingga tidak perlu mangadakan konvensi? 

Ya dia selalu mengatakan dia optimis Golkar akan mencapai minimal 25 persen suara. Di DPR, Golkar kan tetap bertahan persyaratan 30 persen untuk memajukan capres. Dia (Kalla) katakan pada zaman berat saja, di bawah tekanan, Golkar bisa memperoleh 22 persen, sekarang kan sudah tenang dan aman, masa’ tidak bisa menaikkan sampai 25 persen. Itu cara berpikir yang terlalu menyederhanakan persoalan, khas cara berpikir pengusaha. Dia tidak membaca bagaimana kenyataan sosial masyarakat. Dan harus dilihat apakah pemilih Golkar tetap solid?

Apalagi dua tokoh konvensi dulu, Wiranto dan Prabowo juga jalan dengan partai sendiri, yang berarti mengambil konstituen Golkar?

Iya, sudah banyak yang pindah partai. Hanura dipimpin Wiranto yang dianggap tokoh Golkar. Gerindra oleh Prabowo, juga tokoh golkar. Bisa saja banyak tokoh Golkar lain yang pindah ke situ. Bahkan dalam kepengurusan Hanura dan Gerindra pun mulai nampak tokoh-tokoh Golkar. Belum lagi pindah ke tempat lain, seperti ke Partai Demokrat. Itu juga harus diperhitungkan. Basi Golkar, pemilih senior sudah banyak yang passed away, apakah pemilih baru sudah muncul? Itu kan harus dibaca, baru kita bisa melihat apakah pemilih itu berkurang atau bertambah. Mungkin dia melihatnya hanya di atas kertas saja.

Di sini seperti tiket satu arah, banyak yang pergi dari Golkar, tapi tidak ada yang datang? 

Ya kedengarannya memang tidak ada tokoh baru ke Golkar. Saya lihat tidak ada pola rekrutmen untuk tokoh-tokoh muda, mantan aktifis, seperti saya dulu. Di caleg Golkar juga tidak terlihat. Yang sekarang ini kan nepotismenya saja. Liat saja caleg-calegnya. Kalau artis, harusnya ya seperti Nurul Arifin, sudah melalui proses persiapan sejak lima tahun lalu. Coba teliti caleg-caleg muda itu, pasti sebagian besar memiliki afiliasi dengan orang di DPP. Anaknya Pak Theo (Sambuaga), menantu Fahmi (Idris), menantu Muladi, anak Agung (Laksono), adik JK, dan banyak lagi.

Anda melihat perolehan Golkar akan susut? 

Menurut analisa saya, kalau tidak dilakukan usaha-usaha khusus suara Golkar akan turun. Dengan berbagai pertimbangan tadi, ada partai-partai baru yang konstituennya juga Golkar. Ini bisa menjadi faktor menyerap pemilih baru, apalagi masyarakat kita paternalistiknya masih tinggi, melihat ke atas. Apalagi di Golkar tidak kelihatan solid, tidak nampak usaha-usaha yang intensif. Yang selalu kedengaran itu di Golkar ada perbedaan-perbedaan. Ini kan bisa mengganggu soliditas partai. Jadi saya lihat Golkar akan turun, ini juga diperkuat oleh survey. Nomor 1 sekarang PDIP, Golkar nomor 2 kadang nomer 3, terkadang Demokrat nomor 1, terlepas dari ketidakpercayan kita pada survey. 

Dan pada pilkada-pilkada calon Golkar banyak kalah? 

Ya itulah faktanya. Pada pemilihan di provinsi kemenangan Golkar yang benar-benar murni itu di Gorontalo. Di Banten atau Kepulauan Riau, yang menang memang tokoh Golkar, tapi dia calon dari banyak partai. Itu yang saya ingat. Yang lain kalah. Ada yang tadinya orang Golkar, misalnya (Barnabas) Suaebu di Papua, kan tidak dicalonkan Golkar tapi oleh PDIP, juga seperti di Sulawesi Selatan. Di Bali, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Kalimantan Timur, Golkar kalah. Kalimantan Selatan juga kalah meskipun yang menang itu dulu tokoh Golkar. Bahkan di Sulawesi, hanya di Sulbar saja Golkar menang

Ada salah urus di Golkar sekarang?

Bukan salah urus, tapi tidak bisa membaca secara persis situasi politik yang ada, dan kurang pas menempatkan orang-orangnya. Karena memimpin partai lebih banyak dengan perspektif kepentingan orang-orang. Partai perlu sistem rekrutmen kader yang jelas, tokoh-tokoh mudah harus dipantau. Dulu banyak aktivis-aktivis dari GMNI, HMI, PMKRI, PMII aktif di Golkar. Tapi setelah mereka lihat suasana yang sekarang beda, suasana yang tidak memberi peluang, mereka keluar.

Anda cukup dekat dengan Almarhum Abdul Azis Angkat, sebagai orang yang berasal dari Tapanuli bagaimana Anda melihat masalah pembentukan provinsi Tapanuli?

Saya sudah pernah bicara dengan beberapa tokoh Tapanuli, sebaiknya sekarang kita perkuat dulu kabupaten-kabupaten baru di sana, supaya dengan demikian nampak ada perubahan, setidak-tidaknya pelayanan kepada masyarakat semakin baik. Bekas kabupaten Tapanuli Utara sudah menjadi empat kabupaten; Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Samosir. Setelah kabupaten kuat, kalau berpikir ingin membentuk provinsi, silakan bentuk. 

Dalam pandangan saya, kalau dibentuk provinsi, apalagi namanya provinsi Tapanuli, hendaknya meliputi eks Karesidenan Tapanuli, yaitu Tapanuli utara, selatan, tengah dan Sibolga. Kalau diperjuangkan menjadi provinsi, itu mempunyai nilai historis. Karena secara historis kawasan eks Karesidenan itu mempunyai arti penting dalam pergerakan kemerdekaan. Salah seorang tokohnya dr Ferdinand Lumban Tobing kan dari sana, menjadi tokoh nasional. Tapi rupanya Tapanuli Selatan secara tegas mengatakan tidak mau. Tapanuli Tengah tadinya mau, Sibolga juga, tapi kemudian keluar. Apalagi kemudian belum apa-apa sudah menguat suara yang mengatakan ibukotanya bukan di Sibolga, tapi di Siborong-borong. 

Sebenarnya apa yang terjadi secara geopolitik di sana, kenapa pembentukan provinsi itu sangat menguat? 

Tentu obyektifnya ada keinginan mempercepat pembangunan untuk mengatasi kemiskinan. Memang kalau kita lihat daerah Tapanuli cukup tertinggal. Atas dasar itulah aspirasi menguat. Kita sudah cukup puas sudah bisa terjadi pemekaran menjadi beberapa kabupaten, perkuat dululah kabupaten itu. Tapi kemudian para tokoh berpendapat, kabupaten sudah terbentuk, kenapa tidak sekalian provinsi..

Anda setuju pembentukan provinsi itu?

Kalau Eks Karisidenan Tapanuli untuk dibentuk menjadi satu provinsi saya setuju. Tapi suasana sudah begini. Belum sama persepsinya. Walaupun semua dari daerah Tapanuli dan semua suku batak, tetapi tetap ada perbedaan antara utara, selatan, dan tengah. Ada perbedaan, kita harus akui itu. Harus dibangun dulu kebersamaan kita, menyamakan dulu persepsi. Kalau seandainya nanti jadi satu provinsi, bagaimana mengatasi perbedaan itu. Harus dibicarakan dulu. Kalau semuanya sudah sepakat atau sudah ada kesamaan, mari kita sama-sama perjuangkan. Tapi kenyataannya tidak begitu.

Masih ada masa depan untuk pembentukan provinsi ini?

Kita serahkan saja pada pemerintah. Saya pikir memang pemerintah yang menentukan. Kalau menuruti aspirasi masyarakat, bisa kita pahamilah pasti ada kepentingan. Semua orang juga menginginkan daerahnya cepat maju. Aspirasi politik tentu ada. Tetapi kalau dilihat secara objektif, kalau belum tepat atau belum saatnya ya tahan dulu. Kan pemerintah yang mampu melihat itu..

Ada yang mengusulkan PP no 78 tahun 2007 soal pemekaran daerah dicabut. Perlu begitu?

Sebaiknya dievaluasi dahulu..dibicarakan dengan baik oleh pemerintah dan semua pihak, lalu dievaluasi. Kalau perlu ya dicabut, kalau sebaliknya ya tidak usah.

BIODATA 

Nama Ir. Akbar Tanjung 
Tempat,Tanggal Lahir Sibolga, 14 Agustus 1945 
Agama Islam 
Istri Krisnina Maharani 
Anak Empat Orang 
Pendidikan 
SD Muhammadiyah, Sibolga, Sumatra Utara 
SMP 3, Bandung (1962-1963) 
SMP Kanisius, Cikini, Jakarta 
SMA Kanisius, Cikini, Jakarta 
Sarjana Teknik Universitas Indonesia 
Karier 
Ketua HMI Cabang Jakarta 
Ketua Umum Pengurus Besar HMI 
Ketua KNPI 
Wakil Sekjen Golkar 
Anggota DPR RI tiga periode (1977-1988) 
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (1988-1993) 
Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993-1998) 
Ketua Umum Partai Golongan Karya (1998-2003) 
Menteri Sekretaris Negara (23 Mei 1998-11 Mei 1999) 
Ketua DPR RI (1999-2004)

KoranJakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • 7 cara manfaatkan tabir surya kedaluwarsa
      Coba periksa tanggal kedaluwarsa tabir surya Anda untuk memastikan apakah masih berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari.Tabir surya punya masa kedaluwarsa selama enam bulan setelah dibuka, kata perlindungan konsumen ...
    • Klasemen Liga Spanyol, Real Madrid tinggalkan Barcelona
      Berikut hasil pertandingan dan klasemen liga Spanyol pada Minggu waktu setempat. Pertandingan Minggu 4 Desember: Alaves 1 Las Palmas 1 Athletic Club 3 Eibar 1 Real Betis 3 Celta Vigo 3 Sporting ...
    • Beberapa mayat ditemukan lagi setelah gudang terbakar di Oakland
      Beberapa mayat ditemukan lagi pada Ahad (4/12), setelah petugas pencarian memasuki dua daerah lain di gudang yang terbakar 36 jam sebelumnya. Namun Sersan Ray Kelly dalam taklimat kedua pada Ahad, tak bersedia menyebutkan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: